
Seminggu kemudian..
"Nyak, si Matt mau ke rumah kita nanti malam." Ucap Risa setelah ia baru saja menerima telepon dari Matt.
Matt memang berencana akan datang Senin depan, tetapi rencananya berubah. Karena Sabtu nanti, Risa akan menghadiri pernikahan Sri di Yogyakarta dan baru akan pulang pada hari Selasa. Maka Matt pun mempercepat rencananya dan akan datang pada malam ini.
"Ntar malam? Mau ngapain si Mamat?" Tanya Nyak Komariah.
"Dia katanya sudah siap."
"Siap apaan? nikahin elu?" Tanya Nyak Komariah lagi.
"Siap menjawab tantangan Bang Rozi." Ucap Risa.
Nyak Komariah menatap Risa dengan tak percaya.
"Yakin lu? Emang die udeh bisa baca Al-Qur'an?" Tanya Nyak Komariah.
"Ya mana Risa tau Nyak. Dia mau datang baek-baek ya udeh sih." Ucap Risa.
"Lu ngarep ye?" Tanya Nyak Komariah.
Risa hanya tersenyum dan kembali masuk ke kamarnya.
"Hubungi Abang lu. Kalau memang die mau dateng. Yang mutusin semuanya kan sekarang Abang lu. Kalo Nyak sih, nurut ape kate Abang lu aje dah Ris." Ucap Nyak Komariah.
"Iya Nyak." Sahut Risa dari dalam kamarnya.
Risa pun bergegas menghubungi Rozi.
..
Selepas Maghrib, Matt sudah bersiap-siap untuk berangkat kerumah Risa. Ia tampak tampan dengan celana jeans berwarna dongker dan baju koko berwarna putih bersih. Tak lupa ia memakai kopiah dan membawa hadiah untuk Risa dan anaknya, Arkha.
Agus yang baru saja selesai sholat Maghrib memandang Matt yang semakin terlihat keren di matanya.
"Mau saya antar?" Tanya Agus.
"Tidak usah, kamu jaga rumah saja dan beristirahatlah." Ucap Matt sambil meraih kunci mobilnya.
"Yakin?" Tanya Agus lagi.
"Ya, do'akan aku lulus dalam ujian ini. Agar aku bisa menikahi wanita impianku." Ucap Matt.
Agus tersenyum dan mengucapkan "Aamiin."
"Ya sudah, saya berangkat dulu ya." Ucap Matt.
"Mari saya bantu bawakan." Ucap Agus sambil meraih bungkusan-bungkusan kado yang berada di kedua tangan Matt.
"Terima kasih." Ucap Matt.
Lalu, mereka berdua beranjak ke mobil Matt.
Agus menaruh barang-barang bawaan Matt ke bagasi. Lalu, ia menjabat tangan Matt dan memeluk lelaki yang kini menjadi sahabatnya itu.
"Semoga keberuntungan berpihak kepadamu. Semoga wanita itu memang jodohmu. Aamiin." Ucap Agus.
"Aamiin." Sahut Matt. Lalu, ia pun beranjak masuk kedalam mobilnya.
Mobil Matt bergerak meninggalkan rumahnya. Agus melambaikan tangannya dan setelah itu ia menutup pagar rumah Matt.
"Boss mau kemana Bang?" Tanya satpam rumah Matt.
"Mau ngelamar cewek. Do'ain ya.." Ucap Agus.
__ADS_1
"Wah, Aamiin semoga di terima." Ucap satpam tersebut.
.
Empat puluh menit kemudian, Matt sudah tiba di depan rumah Risa. Matt menarik napas panjang, lalu menghembuskan nya dengan perlahan.
"Bismillahirrahmanirrahim." Ucapnya, sebelum turun daei mobilnya.
Pintu rumah Risa terbuka lebar. Matt pun melangkah masuk ke pekarangan rumah Risa.
Terlihat Rozi keluar dari rumah Risa saat mendengar suara pagar terbuka.
Rozi menatap Matt dengan tatapan yang dingin. Sedangkan Matt mencoba tersenyum kepada Rozi, untuk mengusir rasa groginya.
"Assalamualaikum." Sapa Matt.
"Waalaikumsalam." Sahut Rozi.
Mereka berdua pun saling berjabat tangan. Rozi mempersilahkan Matt untuk masuk kedalam rumah Ibu tiri nya itu.
Matt di persilahkan duduk oleh Nyak Komariah setelah lelaki itu menyalami Nyak Komariah. Lalu, Matt melirik Risa yang tampak cantik malam ini.
Risa menggunakan Kerudung berwarna soft pink dan baju gamis berwarna putih. Terlihat sangat cocok dan senada dengan baju koko yang sedang di pakai oleh Matt.
Risa tidak berani menatap Matt. Ia terus menundukkan pandangannya.
"Saya datang, bermaksud untuk menebus janji saya atas tantangan dari Bang Rozi." Ucap Matt.
Rozi menatap Matt dengan tenang. Antara yakin dan tidak yakin, Rozi mencoba untuk memberikan Matt kesempatan. Sebagai seorang lelaki, ia tidak boleh ingkar janji tanpa harus menguji Matt sebelumnya.
"Lu sudah muslim?" Tanya Rozi.
"Alhamdulillah." Sahut Matt sambil menyerahkan sertifikatnya.
"Oh, berarti sebulan lu dari sini, lu langsung jadi Muslim?" Ucap Rozi.
Matt pun mengangguk.
"Udah bisa baca Al-Qur'an? ape masih iqro'?" Tanya Rozi sambil tersenyum meledek.
"Alhamdulillah sudah Al-Qur'an." Ucap Matt.
"Wuihhh cepet bener? bisak lu emang nye?"
Rozi menatap Matt dengan tak percaya.
"Insyaallah." Sahut Matt.
"Lu bawa Al-Qur'an nya?" Tanya Rozi.
"Astaghfirullah, saya lupa." Ucap Matt.
Rozi menggelengkan kepalanya.
"Ambil Al-Qur'an nya," Ucap Rozi kepada Risa.
Risa mengangguk dan beranjak dari duduknya.
"Lu mau ujian, tapi lu kaga bawa buku nya. Ibarat nye kan gitu. Lu kaga niat atau gimane?" Tanya Rozi.
"Bu-bukan begitu." Ucap Matt.
Rozi menatap Matt dengan wajah masam.
Lalu, Risa datang dan membawa Al-Qur'an di tangannya.
__ADS_1
"Nih, lu baca jangan berhenti sebelum gue bilang berhenti." Ucap Rozi.
Dengan Ragu, Matt mengambil kitab itu dari tangan Rozi.
Lalu, ia mulai membuka kitab suci Al-Qur'an dan menatap Rozi dengan cemas.
Rozi membalas tatapan Matt masih dengan tatapan yang dingin.
"Lu bisa kaga? nunggu apaan lu? Buruan." Ucap Rozi.
"I-iya Bang." Sahut Matt.
Lalu, ia memulai basmalah nya dan lanjut membaca Al-Qur'an.
Awalnya Rozi acuh saat Matt membaca surah Al-Fatihah. Karena bagi Rozi anak TK pun bisa membaca surah itu dengan fasih. Tetapi, saat Matt memulai membaca surah kedua dalam kitab suci Al-Qur'an, Rozi mulai terpana.
Alunan ayat-ayat yang keluar dari bibir lelaki itu terdengar indah. Walaupun, terkadang ia berhenti karena gugup. Matt sudah cukup lancar membaca, walaupun belum begitu terlalu sempurna. Tetapi, itu cukup membuat Risa, Nyak Komariah dan Rozi terenyuh hatinya.
Peluh mulai membasahi dahi Matt, sudah berlembar-lembar ia membaca, tetapi Rozi belum juga menyuruhnya berhenti. Bibirnya sudah mulai kering, keringat bercucuran hingga membasahi baju koko nya.
Nyak Komariah mencolek Rozi sambil menunjuk Matt yang sudah banjir keringat dan tampak kehausan. Rozi pun tak tega. Lalu, ia menyuruh Matt menyudahinya.
Matt mengakhirinya dan menatap Rozi dengan tatapan penuh harapan. Kini Rozi yang menundukkan pandangannya. Rozi akui, ia merasa salut dengan Matt yang begitu serius dengan Risa, hingga Matt bisa belajar dengan cepat.
Risa pun beranjak dari duduknya dan membuatkan minuman untuk Matt.
"Satu lagi, apa lu tau apa hak dan kewajiban suami?" Tanya Rozi.
Dengan cepat Matt menggguk dan mengatakan apa saja yang menjadi hak dan kewajiban bila dirinya menjadi suami Risa.
Risa yang mendengarkan Matt dari dapur pun, tersenyum saat ia membuat minuman untuk Matt.
"Gimana Ji?" Tanya Nyak Komariah.
Saat itu juga Risa muncul dari dapur dan menghidangkan minuman untuk Matt.
"Risa, lu cinta sama laki-laki ini?" Tanya Rozi.
Risa menundukkan kepalanya dan lalu melirik Matt sesaat.
"Iya," Ucap Risa.
Matt tampak bahagia dengan jawaban Risa.
Sedangkan Rozi menghela napasnya dengan berat.
"Lu sudah sunat?" Tanya Rozi.
Matt tersenyum malu dan menggunakan kepalanya.
"Ya sudah, nikahin Adek gue. Urus semua surat-surat yang di butuhkan." Ucap Rozi.
Matt menatap Rozi dengan tak percaya.
"Alhamdulillah....!" Serunya.
"Gue salut sama lu. Lu memang pantas untuk Adek gue." Ucap Rozi sambil menepuk pundak Matt.
Matt menahan air matanya, ia menatap Risa yang tampak sangat bahagia.
"Iya Bang, saya akan segera mengurusnya." Janji Matt.
Rozi tersenyum ikhlas, lalu ia memeluk Matt dengan erat.
"Terima kasih sudah berjuang." Bisik nya.
__ADS_1