
Sri berpamitan dengan Simbok dan Bapak. Dewa yang sejak pagi sudah kerumah Sri pun, ikut berpamitan dengan orangtua kekasihnya itu.
"Mbok, Pak, kulo pamit rumiyin. Nyuwun donganipun supados mboten wonten alangan ing margi." (Red- Ibu, Bapak, saya mohon pamit. Mohon doanya agar tidak ada halangan di jalan.) Ucap Sri kepada Simbok dan Bapak.
"Yo nduk, mugo-mugo selamet ning dalan, Ati-ati. Mas Dewa, Bapak nitip Sri yo." (Red- Iya, nak/anak perempuan, semoga selamat di jalan, hati-hati.) Ucap Bapak.
"Iya Pak." Ucap Dewa sambil menyalami Bapak.
Setelah berpamitan, Sri dan Dewa pun, berangkat ke Stasiun Tugu Yogyakarta. Pada sore itu. Tepat pukul 7 malam, kereta pun, tiba. Sri dan Dewa bergegas masuk ke dalam gerbong kereta dan mencari tempat duduk mereka.
Sri tampak sangat bersemangat dengan perjalanan kali ini ke Jakarta. Karena ada Dewa yang menemani dirinya di jalan.
Perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta memakan waktu 8 jam saja. Tepat pukul 8 malam, kereta beranjak dari Stasiun Tugu menuju Stasiun Senen.
Dewa dan Sri duduk berdampingan di dalam kereta. Sri terus tersenyum dan merebahkan kepalanya di bahu Dewa. Dewa pun terus menggenggam tangan Sri yang sedikit manja kepadanya hari ini.
Hati dua insan yang sedang mabuk asmara itu pun, mengundang tatapan iri dari beberapa penumpang yang duduk disekitar mereka. Tetapi, Dewa dan Sri tampak cuek saja. Seakan-akan Dunia milik mereka berdua.
"Eh, inget ku, kabar Cempaka gimana Mas? Aku sampai lupa bertanya kabarnya. Dia jadi menyusul ke Bandung toh?" Tanya Sri.
Dewa terdiam beberapa saat. Saat Sri bertanya tentang Adiknya.
"Mas, di tanya kok diem aja."
"Ng..Itu, eh, dia gak jadi ke Bandung." Ucap Dewa.
"Knopo toh Mas?" Tanya Sri penasaran.
"Tidak apa-apa, dia hanya sibuk di kampus."
"Oh begitu? Jadi ada Cempaka toh, sekarang di kost-kost-an?" Tanya Sri lagi.
Dewa hanya mengangguk pelan.
Sikap Dewa mengundang pertanyaan bagi Sri yang memang suka menganalisa sikap seseorang.
"Ada yang salah Mas?" Tanya Sri.
"Ah enggak." Ucap Dewa sambil menggelengkan kepalanya.
"Sudah, bobok ya. Kita sampainya pagi loh." Ucap Dewa.
Sri tersenyum dan mengangguk. Lalu, ia kembali merebahkan kepalanya di pundak Dewa. Dewa mengusap rambut Sri dengan lembut dan mengecup puncak kepala gadis itu.
Tepat pukul 12 malam, Sri terbangun karena dering ponsel milik Dewa yang berada di dalam tas lelaki itu. Sedangkan Dewa tidak berada di sebelah Sri. Sri berdiri dari duduknya dan melihat ke sekelilingnya, tetapi tidak ada Dewa di sana.
"Mas Dewa nang ngendi sih? Kok tase di taruh sembarangan?" Gumamnya.
__ADS_1
Karena bunyi ponsel milik Dewa mengganggu penumpang lain, Sri pun memberanikan diri mengambil ponsel milik kekasihnya itu dari dalam tas sandang milik Dewa.
Sri menatap layar ponsel milik Dewa, tertera sebuah nama yang indah yang tertampil di ponsel itu.
"Santi? sopo kui? " Gumam Sri.
Sri mulai merasa gelisah karena Dewa tak kunjung datang. Maka, ia memberanikan diri untuk menerima panggilan telepon tersebut.
"Halo Dewa, kamu teh kemana saja? kok tidak di angkat-angkat sih?" Tanya Suara lembut seorang wanita dari ujung sana.
"Maaf, ini siapa ya?" Tanya Sri yang baru saja mengumpulkan keberanian untuk menjawab telepon yang bukan untuknya.
"Eh, kamu teh siapa? kok bisa pegang-pegang hp Dewa malam-malam begini?" Tanya wanita itu.
"Saya pacarnya Dewa." Ucap Sri.
"Dewa teh punya pacar? gak mungkin atuh. Jangan mengada-ada. Dewa teh gak bakal bisa move on dari saya."
Deggggggg!
Seperti terhantam badai, hati Sri terasa sakit bukan kepalang.
"Kamu siapa?" Tanya Sri dengan napas yang terasa sesak.
"Saya teh Santi, kekasih nya A'a Dewa." Ucap wanita itu.
"Halo! saya peringatkan ya, jangan ganggu Dewa. Dewa teh tidak mencintai kamu. Dewa teh cinta mati dengan saya!" Ucap wanita itu.
Sri tak mampu berkata-kata. Ia langsung mengakhiri sambungan telepon itu dan kembali memasukan ponsel Dewa kembali kedalam tasnya.
Sri hanya diam mematung sambil menatap keluar jendela. Tak terasa air matanya mengalir dari sudut mata indahnya.
"Mas Dewa punya pacar selain aku?" Gumamnya.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Dewa yang baru saja kembali dari toilet.
Sri buru-buru menghapus air matanya dan menatap Dewa. Sri menatap jauh kedalam manik mata lelaki yang ia cintai itu.
"Kamu kenapa?" Tanya Dewa saat melihat mata Sri yang terlihat basah.
"Tidak apa-apa Mas, aku baru saja habis menguap. Sampai air mataku keluar." Ucap Sri memberi alasan.
"Oh, ya sudah bobok lagi." Ucap Dewa sambil beranjak duduk dan mencoba untuk merebahkan kepala Sri ke pundaknya lagi.
Tetapi, Sri buru-buru menghindarinya. Gadis itu terlihat tidak ingin di sentuh oleh Dewa.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Dewa penasaran.
__ADS_1
"Tidak apa-apa." Ucap Sri yang berusaha memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya di jendela kereta.
Dewa mengeryitkan dahinya dan menatap Sri yang berpura-pura terlelap.
"Kenapa sih? Kok Sri aneh begitu." Gumam Dewa.
Tepat pukul 3 dini hari, kereta tiba di Stasiun Senen. Para penumpang pun bergegas turun dari gerbong kereta, termasuk Sri dan Dewa.
Sikap Sri masih mengundang tanya bagi Dewa. Gadis itu lebih banyak diam dan cenderung tidak ingin berinteraksi dengan Dewa.
Sri mengambil tasnya yang sudah di turunkan Dewa dari bagasi penumpang. Lalu, gadis itu langsung bergegas pergi meninggalkan Dewa.
"Sri!" Panggil Dewa.
Sri mengacuhkan Dewa dan terus berjalan dengan cepat.
"Sri!" Panggil Dewa lagi, dan berusaha menyusul kekasihnya itu.
Dewa meraih pergelangan tangan Sri, hingga gadis itu menghentikan langkahnya di tepi peron.
"Kamu kenapa?" Tanya Dewa.
Sri tidak sanggup lagi menahan air matanya. Ia menatap Dewa dengan air matanya yang menggenang.
"Kamu kenapa? Kok aneh, tiba-tiba kamu jadi begini." Ucap Dewa.
"Mas, hubungan kita sampai disini saja." Ucap Sri. Lalu, ia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Dewa. Dewa terpaku saat mendengar ucapan Sri yang begitu mengejutkan baginya.
Selama di Yogyakarta dan setengah perjalanan tadi, Sri masih bermanja-manja dengan dirinya. Tetapi, dengan cepat sikap Sri berubah 180 derajat kepadanya.
Dewa kembali menyusul Sri dan menangkap tangan gadis itu kembali.
"Bisa dijelaskan kenapa kamu bersikap begini?" Tanya Dewa dengan wajah yang benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Aku ndak suka dengan orang yang suka berkhianat Mas. Aku ndak suka di duain!" Ucap Sri sambil melepaskan tangan Dewa dengan kasar.
"Maksudnya apa?" Tanya Dewa yang kembali mengejar Sri.
"Kamu pikir saja sendiri..! Aku sudah tahu kamu mempunyai kekasih yang lain..!" Ucap Sri sambil berlari menuju pintu keluar Stasiun.
Dewa terpaku dan merasa bingung. Lalu, ia mengingat sesuatu. Dengan cepat, Dewa merogoh ponselnya yang berada di tas sandang miliknya. Lalu, ia mencari sesuatu di dalam ponsel tersebut.
Benar saja, ada jejak panggilan Santi yang tadi di terima oleh Sri.
"Astagaaaaa!" Ucap Dewa yang terlihat panik.
"Sriiiii..!" Gumamnya. Tetapi jejak Sri sudah tidak ada lagi di depan Stasiun.
__ADS_1
"Ya Allah...!" Ucap Dewa sambil mengacak-acak rambutnya dengan gusar.