
Cempaka terlihat berdiri di depan rumah Ibu Bidan di komplek seberang perumahan. Ia berdiri sudah beberapa menit di sana. Hatinya ragu, tetapi ia benar-benar tidak mau hamil untuk saat ini. Maka, ia bertekad untuk suntik KB, agar mencegah terjadinya kehamilan pada dirinya.
Dengan ragu, Cempaka menekan tombol bell yang berada di dinding pagar rumah Ibu Bidan.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya keluar dari dalam, dan membukakan pagar untuk Cempaka.
"Silahkan masuk." Ucapnya.
Cempaka melangkah dengan pasti. Lalu, ia memasuki ruangan praktik Ibu Bidan itu.
"Ibu mau periksa apa?" Tanya Ibu Bidan.
"Sa-sa-saya teh belum Ibu-Ibu Bu," Ucap Cempaka.
Bu Bidan mengeryitkan dahinya sambil menatap Cempaka. Lalu, Ibu Bidan tersenyum.
"Ya sudah, Mbak mau periksa apa?" Tanya Ibu Bidan lagi.
"Sa-sa-saya teh mau KB Bu." Ucap Cempaka.
"Mbak sudah menikah?" Tanya Ibu Bidan dengan tatapan menyelidik.
"Sudah Bu." Ucap Cempaka.
"Saya cek tensinya dulu ya." Ucap Bu Bidan.
Cempaka mengangguk, lalu ia memperhatikan Bu Bidan yang sedang mengecek tensi darahnya.
"Tinggal dimana Mbak?" Tanya Bu Bidan.
"Di komplek seberang Bu."
"Mau KB apa Mbak? Ada suntik sebulan sekali, suntik tiga bulan sekali dan lain-lain. Bisa di lihat di brosur ini." Bu Bidan menyerahkan panduan Keluarga Berencana.
Cempaka membaca brosur itu dan mulai memahami jenis-jenis KB.
"Saya teh yang ini saja Ibu." Ucap Cempaka sambil menunjuk salah satu jenis KB.
"Oh, baik. Terakhir kali haid kapan Mbak?" Tanya Ibu Bidan.
"Saya teh, terakhir haid....... hmmmmm... kapan ya? Hmmmm.. saya teh lupa Ibu. Selama ini saya teh gak memperhatikan." Ucap Cempaka.
Karena selama ini dirinya masih gadis, Cempaka cuek dengan tanggal menstruasinya. Ia sama sekali tidak memperhatikan dan mencatat tanggal datang bulannya.
"Oh begitu."
"Tapi bulan kemarin dan bulan ini aktif berhubungan?" Tanya Ibu Bidan.
"Maaf Bu, berhubungan apa ya?" Tanya Cempaka dengan polosnya.
"Berhubungan suami istri Mbak."
Wajah Cempaka mulai memerah, ia malu bila harus mengatakan rahasia itu.
"Mbak nya baru nikah ya?" Tanya Ibu Bidan.
__ADS_1
Cempaka mengangguk.
"Menikahnya kapan?" Tanya Bu Bidan lagi.
"Sudah hampir empat bulan Bu." Ucap Cempaka.
"Oh, jadi benar-benar tidak ingat kapan terakhir haid?"
Cempaka menggelengkan kepalanya.
"Kalau bulan kemarin haid tidak?" Tanya Bu Bidan lagi.
Cempaka tampak berpikir, lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, sesuai dengan prosedur kami, Mbaknya harus periksa kehamilan dulu ya."
Cempaka gemetar saat ia diminta untuk test kehamilan.
"Caranya Bu?" Tanya Cempaka.
"Mbaknya tinggal buang air kecil, terus di tampung di wadah ini ya."
Bu Bidan menyerahkan cawan plastik kepada Cempaka.
Dengan ragu, Cempaka menerima cawan itu dan bergegas ke kamar kecil yang tersedia di ruangan tersebut.
Tak lama kemudian, Cempaka pun keluar dengan membawa urine nya yang ia tampung di dalam cawan.
"Sudah?"
Bu bidan menyambut cawan plastik itu dan menaruhnya di atas meja kerjanya. Lalu, ia mencelupkan ujung testpack kedalam air seni Cempaka.
"Kita tunggu beberapa saat ya Mbak." Ucap Bu Bidan.
Jantung Cempaka berdebar-debar. Ia sangat takut dengan kenyataan, bila dirinya sedang mengandung.
Tak lama kemudian, Bu Bidan tersenyum dan menunjukkan dua garis merah di tubuh testpack itu.
"Mbak, Mbak nya sedang hamil. Selamat ya. Jadi, Mbak nya tidak bisa KB. Saya akan memeriksa kehamilan Mbak saja ya, sama memberikan Mbak vitamin yang bagus untuk tumbuh kembang bayinya.
Bagaikan tersambar petir, Cempaka terdiam dan mulai menangis.
"Loh, kok menangis Mbak?" Tanya Bu Bidan.
"Mbak nya senang ya? terharu? Sama, saya juga dulu pertama kali tahu kalau saya sedang mengandung saya menangis. Sepuluh tahun saya menanti buah hati Mbak. Suliiiit sekali saya hamil. Ini semua karena saya selalu menunda-nunda kehamilan karena saya saat itu masih kuliah. Sempat putus asa saya Mbak. Tetapi, Allah begitu baik, akhirnya saya di berikan buah hati."
Ucapan Bu Bidan membuat Cempaka terdiam.
"Bersyukurlah Mbak, mbak baru menikah, sudah di kasih kepercayaan. Allah maha baik Mbak, di kasih di waktu yang tepat. Suami pasti makin sayang deh. Oh, iya suami nya mana? gak di temenin?"
"Su-su-suami, sedang kerja Bu." Ucap Cempaka terbata.
"Ini, simpan Mbak. Buat kasih surprise untuk suami."
Bu Bidan menyerahkan testpack itu kepada Cempaka.
__ADS_1
Dengan ragu, Cempaka menerima testpack itu, dan memasukkan nya kedalam tasnya.
Cempaka pulang dengan gontai. Ucapan Bu Bidan terus terngiang di telinganya. Betapa susahnya orang-orang berjuang untuk mendapatkan buah hati. Tetapi, dirinya diberikan kepercayaan itu dengan cepat tanpa harus berusaha kesana kemari. Harusnya dirinya bersyukur, bukan malah bersedih. Cempaka mengusap air matanya yang kembali bergulir di pipinya.
"Astaghfirullah, Ya Allah, maafkan hamba." Gumamnya.
...
"Butet...!" Panggil Halomoan saat melihat Butet yang berjalan ke luar dari gedung Fakultasnya.
Butet menghentikan langkah kakinya dan menatap Halomoan dengan tajam.
"Adoohh, maaf ya hasian ku. Tadi lama kali aku bicara sama si Agus." (Red-hasian-sayang, kesayangan)
"Kalo kek gitu, ngapain ko suruh aku nunggu kau!" Ucap Butet kesal.
"Gak nyangka aku lama kami cakap-cakapnya." Ucap Halomoan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Teros, mau apa kau sekarang. Tengoklah mukak mu itu, bengkak-bengkak. Apa lagi bibermu yang suka ngences itu. Tebal kali ku tengok gara-gara bengkak." Ucap Butet.
"Tet, sakit kali biber ku." Rengek Halomoan.
"Teros? mau kau ku tepok muncong mu itu biar tambah saket?" (Red-muncong-bibir)
"Ish kok kek gitu, orang saket malah mau di tambah-tambahin. Cium lah biar semboh." Ucap Halomoan sambil tersenyum nakal.
"Eeeee... bentok kau lagi Moan..!" Ucap Butet.
"Eeee..eee..ee..., Tadi udah manggel aku Abang, sekarang manggel kau kau lagi." Ucap Halomoan sambil bersungut-sungut.
Butet cemberut dan menatap Halomoan dengan manja.
"Ih, cantek kali lah Boru Aritonang ini ya. Biken jantong ku jadi mau meledak." Gombal Halomoan.
Butet tersipu malu,
"Jalan kita Tet, apa pulang sama kita Tet." Ucap Halomoan.
"Kau yang maksa ya." Ucap Butet, masih menjaga gengsinya.
"Iya, aku yang maksa, walaupun aku gak maksa." Ucap Halomoan sambil tersenyum geli.
"Ish, gak jadi lah. Paksa lah aku. Biar mau aku ikut sama mu." Ucap Butet.
"Yodahlah, Tet, pulang sama kita ya tet, ku mohon Tet. Ada yang mau ku cakapkan sama mu Tet. Pleaseeeee..."
"Ha, kek gitu lah." Ucap Butet sambil berjalan mendahului Halomoan.
Halomoan tersenyum geli.
"Betol-betol tinggi kali gengsi Boru Aritonang ini lah. Karena itu jugak aku jadi gilak sama dia." Gumam Halomoan sambil tersenyum girang.
"Jadi gak ni? banyak kali cakapmu!"
"Jadi lah Tet." Ucap Halomoan sambil berlari mengambil sepeda motornya.
__ADS_1