
Risa termenung di kantin kampusnya. Pikirannya sangat kacau. Hingga saat ini, Agus belum juga dapat ia hubungi. Minuman yang ia pesan pun, belum terjamah. Pandangannya kosong dan raut wajahnya begitu bersedih.
Rita yang baru saja datang ke kantin, menghampiri Risa, saat melihat saudara kembarnya itu termenung sendirian di kantin.
"Kenapa lu?" Tanya Rita.
Risa yang terkejut dengan kehadiran Rita pun, tersentak dan menatap Risa sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Ngagetin aja sih." Ucap Risa.
"Lagian, diem aje. Nape lu?" Tanya Rita.
"Gak apa-apa. Emang kenapa?" Tanya Risa.
"Dari tadi gue perhatiin lu bengong mulu. Ada masalah apaan?"
"Gak ada masalah." Ucap Risa.
Rita menatap Risa dengan tatapan yang menyelidik.
"Ah, gak percaya gue. Lu tuh gak pernah begini. Inget, gue udeh sama lu sejak di dalam rahim. Jadi gue jauh lebih mengenal elu dari pada Nyak atau orang lain." Terang Rita.
Risa hanya diam dan meraih gelas juice yang ia pesan.
"Kenapa sih? Cerita dong? Lu masih sakit? Kaga enak badan?" Desak Rita.
"Eh, lu punya nomor Bang Moan atau Bang Bambang?" Tanya Risa.
"Bambang gue punya. Tapi Moan gak ada. Gue kan sama Bambang udah jadian." Ucap Rita sambil tersipu malu.
"Hah! lu udah jadian sama Bambang? Sejak kapan?" Tanya Risa.
"Sebelum dia pulang Kampung, dia nembak gue. Emang kenapa?" Tanya Rita.
"Lu kok kagak pernah cerita?" Tanya Risa.
"Dih, ngapain gue norak. Biasa aja lagi." Rita tersenyum penuh arti.
"Ya sudah, siniin nomor handphone si Bambang."
Rita menyerahkan ponselnya kepada Risa. Lalu, Risa menyalin nomor ponsel Bambang ke ponselnya.
"Emang kenapa sih? Kok lu nanya nomor pacar gue?" Desak Rita.
"Gue udeh bilang kaga papa!" Ucap Risa. Lalu, ia buru-buru beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Rita.
"Ris! mau kemana lu?" Tanya Rita.
"Pulang!" Sahut Risa.
..
__ADS_1
Dreeeettt! Dreeeeettt!
Bambang yang baru saja selesai mandi, meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjangnya di sebuah mess yang ia tempati di Desa tempat ia menjalani KKN-nya.
Bambang memperhatikan deretan angka yang tertera di layar ponselnya.
"Iki sopo yo? Kok gak onok jengenge?" Batin Bambang.
Halomoan yang sedang rebahan di atas ranjang miliknya pun, menatap Bambang yang sedang menatap layar ponselnya sambil mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau?" Tanya Halomoan.
"Iki loh, ada yang telpon gue. Tapi gak tau nomor siapa."
"Ya kau angkat lah, biar tau kau dia siapa." Ucap Halomoan.
Bambang menatap Halomoan sesaat, lalu ia menerima panggilan telepon itu.
"Halo." Sapa Bambang.
"Mas Bambang." Panggil suara lembut milik seorang wanita dari seberang sana.
"Iya, saya sendiri."
"Mas, ini Risa."
"Oh... Risa toh, tak kira siapa." Jawab Bambang sambil tersenyum.
Halomoan yang sedang asik dengan gawainya pun, langsung menatap Bambang dengan seksama.
"Agus?" Tanya Bambang.
Halomoan semakin penasaran dan merasa ada yang aneh, mengapa Risa menghubungi Bambang hanya untuk bertanya tentang Agus.
"Cok kau sepiker dulu." Ucap Halomoan.
Bambang mengangguk dan mengaktifkan speaker ponselnya.
"Halo." Panggil Risa.
"Iya Ris, Agus ya? dia gak barengan KKN nya sama kelompok saya." Terang Bambang.
"Lah, terus?" Tanya Risa dengan nada suara yang terdengar khawatir.
"Dia berbeda kelompok sama saya Ris. Memangnya kenapa sih? Kok tanya Agus?" Tanya Bambang.
"Mas Bambang tau gak nomor Agus yang lain?" Tanya Risa.
"Aduh aku ndak tau Ris. Mungkin si Moan tau nih."
Agus menyerahkan ponselnya kepada Halomoan.
__ADS_1
"Eh apa nya ini!" Ucap Halomoan sambil menolak ponsel Bambang.
"Lu tau ndak nomor si Agus yang lain?" Tanya Bambang.
"Gak tau aku. Cuma yang biasa aja." Ucap Halomoan.
"Halo." Panggil Risa lagi.
"Ya Ris?"
"Kalian gak tau ya? ya udah deh."
"Iya kami gak tau." Sahut Bambang.
"Oh iya, kira-kira selesai KKN kapan ya Mas?"
"Minggu depan harusnya sudah pada pulang. Kalau kami malam ini pulang Ris."
"Oh begitu. Ya udah deh. Hati-hati ya kalian." Ucap Risa.
"Iya Terima kasih ya Risa cantik." Ucap Bambang sambil tersenyum manis.
Tut...Tut... Tut...
Panggilan itu pun berakhir.
Halomoan mengernyitkan dahinya dan termenung di atas ranjangnya.
"Pulang dari sini aku mau ngomong ah sama si Risa. Ada apa sebenarnya? Apa hamil pulak anak itu, teros si Agus gak bisa dia hubungi?"
Halomoan mulai berpikir ke arah kemungkinan yang terburuk terjadi kepada Risa. Hingga Risa terpaksa berjuang mencari tahu keberadaan Agus.
..
Agus mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Di boncengannya duduk seorang gadis manis yang tampak masih lugu dengan seragam SMA nya. Gadis manis itu berkaca mata, dengan model rambut yang berponi.
Gadis itu masih tampak malu-malu saat Agus meminta gadis itu untuk memeluk pinggangnya dengan erat.
"Sore-sore begini. Gak tau mau kemana, mendingan ke Kost-kost-an Abang aja ya Dek." Ucap Agus.
Dengan lugu, gadis itu mengangguk malu. Agus yang melirik gadis itu lewat spion sepeda motornya pun tersenyum penuh arti. Lalu, ia mempercepat laju sepeda motornya.
Beberapa menit kemudian, sampailah Agus dan gadis itu di sebuah rumah kost-kost-an. Tentu saja rumah Kost itu bukanlah rumah Kost Nyak Komariah. Ternyata, Agus sudah pindah kost tanpa ada satu orang pun yang tau.
Sejak ia menerima peringatan dari Halomoan. Agus merasa malu dengan sahabatnya itu dan juga merasa takut, apabila apa yang dikatakan Halomoan itu terjadi kepada dirinya dan Risa.
Maka, sejak itu, Agus mencari info rumah Kost yang bebas dari internet dan ia pun menyicil pindah dengan membawa sedikit-sedikit pakaiannya dan barang-barangnya saat ia berangkat ke kampus atau sedang hendak keluar.
Kini, rumah Kost Agus hanya berjarak lima kilometer dari kampusnya. Agus tidak berniat lama untuk tinggal di sana. Karena setelah ia wisuda, ia akan segera pergi dan mencari pekerjaan di luar daerah atau luar Negeri.
Agus juga mengganti nomor ponselnya saat ia hendak pergi KKN yang sebenarnya hanya ia jalani selama satu bulan lebih seminggu. Jadi, sebenarnya Agus sudah berada di Jakarta dua minggu belakangan ini.
__ADS_1
Tidak aktifnya nomor ponsel Agus selama ia KKN, Risa anggap Agus tidak mendapatkan sinyal di daerah KKN nya. Ternyata itu semua adalah salah. Dan belum kembalinya Agus ke rumah kost Nyak Komariah, juga bukan karena Agus masih KKN. Tetapi, karena lelaki itu sudah pindah kost.
Agus mempersilahkan gadis lugu itu masuk kedalam kamarnya. Lalu, dengan tatapan yang penuh arti, Agus menutup pintu kamar kost nya dan tak lama kemudian, terdengar suara kisah asmara yang akan diratapi oleh gadis lugu itu di kemudian hari.