
Pagi-pagi sekali, Cempaka sudah bangun dan sholat berjamaah dengan Rozi. Setelah selesai sholat subuh. Cempaka mencium tangan Rozi. Rozi pun tersenyum senang, karena ia merasakan juga dapat sholat berjamaah dengan gadis yang ia dambakan itu.
Nyak Tatik yang sejak pagi mondar mandir di depan kamar Rozi. Menghampiri Cempaka saat gadis itu membuka pintu kamar Rozi. Nyak Tatik tampak kecewa saat melihat Cempaka tidak keramas pagi ini.
Tetapi, Nyak Tatik tidak mau bertanya dan mengurusi kehidupan rumah tangga anak dan menantunya itu. Nyak Tatik berusaha biasa saja, walaupun dirinya kecewa.
Cempaka langsung membantu Nyak Tatik beres-beres rumah. Rasa kecewa Nyak Tatik sirna saat melihat menantunya yang rajin, membantunya beberes rumah. Setelah rumah rapi, Cempaka pun beranjak ke kamar, sedangkan Rozi sedang mandi.
Cempaka membuka pintu lemari Rozi dan melihat deretan kemeja yang tertata rapi di gantungan baju di lemari itu. Cempaka berusaha melaksanakan tugas nya sebagai istri yang baik untuk Rozi. Walaupun ia belum mengizinkan Rozi untuk menyentuh dirinya.
Cempaka menyiapkan pakaian yang akan Rozi pakai untuk bekerja. Lalu, Cempaka juga membereskan tempat tempat tidur dan seprainya. Setelah itu, Cempaka menaruh pakaian Rozi di atas tempat tidur itu.
Tiba-tiba saja, Rozi membuka pintu kamarnya dan masuk kedalam kamar, Rozi hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya.
Cempaka yang sedang membelakangi pintu, langsung menoleh ke arah Rozi.
"Astaghfirullah!" Pekik Cempaka.
Rozi pun ikut terkejut saat Cempaka memekik saat melihat dirinya yang hanya terbalut handuk. Rozi buru-buru menutupi tubuhnya. Rozi lupa bila sekarang ada Cempaka yang bebas keluar masuk kedalam kamarnya.
"Ma-maaf." Ucap Rozi.
Cempaka berlari keluar kamar dengan nafas yang terengah-engah. Sedangkan Rozi menutup pintu kamar dengan jantung yang berdebar-debar.
Rozi menatap pakaian miliknya yang sudah di sediakan oleh Cempaka tergeletak di atas ranjang. Lalu, Rozi pun tersenyum dan merasa bersyukur karena Cempaka perhatian kepadanya. Rozi bergegas memakai bajunya dan keluar dari kamarnya untuk mencari Cempaka.
Rozi mencari Cempaka dari ruang tamu hingga dapur. Tetapi, gadis itu tak berada disana.
"Nyak, liat Cempaka gak?" Tanya Rozi kepada Nyak Tatik yang sedang menyiangi sayur.
"Die lagi mandi di paviliun. Katenye mau berangkat ke kampus." Ucap Nyak Tatik.
Rozi mengangguk paham. Lalu, ia bersiap-siap untuk menyusul Cempaka ke paviliun.
"Nyak, Rozi ke paviliun dulu ya, mau nyusulin Cempaka." Ucap Rozi.
"Iyeee, suseh emang manten baru, bawaan nye deketan muluk" Ucap Nyak Tatik.
Rozi tersipu malu saat mendengar ucapan Nyak Tatik.
Rozi pun beranjak ke paviliun dan menunggu Cempaka di beranda paviliun.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Cempaka keluar dan mendapati Rozi yang sedang duduk menunggunya di bangku branda.
"A', A'a teh belum berangkat?" Tanya Cempaka.
"Saya nunggu kamu, kamu kan istri saya, saya mau antar kamu ke kampus." Ucap Rozi.
Cempaka tersenyum mendengar ucapan Rozi.
"Sudah siap?" Tanya Rozi.
Cempaka mengangguk dan menunduk malu.
"Ayo, aku antar." Ucap Rozi sambil mengulurkan tangannya. Dengan ragu, Cempaka menyambut tangan Rozi. Dan mereka berdua pun beranjak ke parkiran motor. Sebelum berangkat, tak lupa Cempaka berpamitan dengan Nyak Tatik yang kini sudah menjadi mertuanya itu.
Nyak Tatik melepas anak dan menantunya pada pagi ini dengan hati yang bahagia. Ia merasa Rozi kini lebih bersemangat bekerja dan dirinya pun merasa terbantu adanya menantu yang baik dan sangat rajin seperti Cempaka.
"Kaga salah si Komariah ngelaporin ke Rt. Akhirnya gue gue juga yang untung." Ucap Nyak Tatik sambil tersenyum bahagia.
Dari depan teras Nyak Komariah menatap Nyak Tatik yang tampak bahagia pada pagi ini.
"Dih, kagak tau malu. Die senyum-senyum liat anak mantu hasil zina." Ucap Nyak Komariah sambil memiringkan bibirnya.
"Ntu orang.. ckckckckck. Sirikkkk mulu ama gue." Gumam Nyak Tatik. Lalu, Nyak Tatik beranjak masuk dan menutup pintu rumahnya rapat-rapat.
Cempaka yang duduk di boncengan Rozi, mendapatkan tatapan yang kurang mengenakan dari beberapa warga yang berpapasan dengan mereka. Rata-rata dari mereka menatap Cempaka dengan tatapan yang menghakimi. Cempaka hanya mampu menundukkan wajahnya saat menghadapi tatapan menghakimi tersebut.
Rozi yang menyadari ekspresi tidak suka para warga pun memegang tangan istrinya yang sedang melingkar di pinggangnya.
"Sabar." Ucap Rozi. Sambil mengusap punggung tangan Cempaka.
"Iya A'."
"Lambat laun, semua akan biasa saja. Untuk sementara kita harus sabar. Ini semua salahku." Ucap Rozi lagi.
Cempaka begitu terharu dengan ucapan Rozi. Rozi begitu peka dengan perasaannya dan tahu apa yang sedang menjadi pikirannya. Cempaka pun mempererat pelukan nya di pinggang Rozi. Dan merebahkan kepalanya di bahu lelaki itu.
"Terima kasih dukungan nya A'." Ucap Cempaka.
Rozi tersenyum dan kembali mengusap punggung tangan Cempaka.
Mereka berdua sampai di kampus Cempaka. Tak lupa Rozi mengecup kening istrinya itu sebelum ia pergi menuju kantornya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik ya. Kalau pulang hati-hati." Pesan Rozi.
Cempaka hanya mengangguk tanpa berani menatap suami nya.
"I love you." Ucap Rozi.
Cempaka hanya tersenyum malu dan beranjak pergi dari hadapan Rozi.
Rozi memandangi punggung istrinya yang melangkah memasuki gedung fakultas. Setelah Cempaka sudah tidak terlihat lagi, barulah Rozi pergi meninggalkan kampus itu.
Cempaka tidak tahu akan senang atau sedih. Yang ia rasakan saat ini benar-benar membingungkan. Satu sisi ia sangat bahagia, satu sisi lagi ia benar-benar belum siap untuk menyandang status sebagai istri. Tetapi, mau tidak mau ini semua harus ia lewati.
Apa yang dikatakan Rozi benar, saat ini, lebih baik mereka bersikap layaknya orang yang sedang berpacaran. mengenal satu dengan yang lain nya. Menilai sikap dan sifat masing-masing.
Sepanjang jalan menuju kantor, Rozi terus berpikir bagaimana caranya meluluhkan hati Cempaka. Ia harus berusaha lebih keras lagi untuk membahagiakan Cempaka, agar istrinya itu semakin yakin untuk hidup selamanya dengan dirinya.
Rozi pernah membaca artikel. Untuk mendapatkan cinta, kita harus memberikan cinta. Untuk mendapatkan kasih sayang, kita harus menanamkan kasih sayang. Hal itulah yang diyakini Rozi. Dan dia yakin, suatu saat, Cempaka akan menjadi istri yang seutuhnya untuk dirinya.
...
"Risaaaaa..! Bangun lu!" Teriak Nyak Komariah sambil membuka pintu kamar anak gadis nya itu.
Terlihat Risa yang masih meringkuk di atas tempat tidurnya.
"Anak gadis bangun siang benerrrrr...! Emak lu, lu anggap pembokat apa?" Tanya Nyak Komariah.
Risa menatap Nyak Komariah. Terlihat mata Risa yang sembab seperti habis menangis.
"Eh, elu kenape?" Tanya Nyak Komariah.
"Gak ape-ape Nyak. Cuma agak pusing ama meriang." Ucap Risa.
"Oh, ya udeh lu molor lagi dah. Jangan lupa lu minum obat, noh ada di kotak obat." Ucap Nyak Komariah sambil menutup kembali pintu kamar Risa.
"Risa kembali menangis, saat ia berbohong kepada Enyak nya. Risa tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini.
Risa benar-benar tidak menyangka, pengalaman pertamanya jatuh kepada Agus. Lelaki yang hampir 4 tahun ini menyewa kamar kost-kost-an milik Enyak nya.
Risa benar-benar takut apa yang akan terjadi di kemudian hari. Risa pun tidak bisa menuduh Agus telah memperk*sanya. Kejadian semalam, murni suka sama suka. Karena Risa masih bisa mengingat betapa ia sangat menginginkan Agus menyentuh dirinya.
"Semoga tidak terjadi apa-apa. Dan Bang Agus akan menjadi kekasih dan suami yang baik kelak." Gumam Risa.
__ADS_1