
Sejak pengakuan Cempaka, kepada kedua sahabatnya, kini tidak ada beban lagi bagi Cempaka untuk terang-terangan tidur dan berangkat bersama dengan Rozi. Tentu saja perubahan status Cempaka membuat kedua sahabatnya merasa waktu Cempaka terbagi. Tetapi, mau dikata apa? pengantin baru itu benar-benar sedang mabuk kepayang.
Waktu Cempaka hanya untuk Rozi, suaminya dan Nyak Tatik, mertuanya. Cempaka kini terlihat enjoy dengan statusnya itu.
Sering kali Butet dan Sri memergoki Rozi keluar dari kamar Cempaka. Begitu pun Cempaka yang tampak pagi-pagi sekali baru pulang ke kost-kost-an.
Kemesraan Cempaka dan Rozi membuat jiwa jomblo Sri dan Butet meronta-ronta. Tak jarang mereka berdua merasa iri dengan Cempaka yang sudah bebas melakukan apa saja dengan Rozi. Tetapi, meskipun merasa iri, Sri dan Butet tetap merasa bahagia karena Cempaka kini sudah bahagia.
Dua minggu berlalu, hari ini adalah hari pernikahan Cempaka dan Rozi secara sah dimata hukum. Dengan bahagia mereka memamerkan buku nikah mereka kepada para tamu undangan yang hadir di acara pesta pernikahan mereka.
Keluarga Cempaka datang, termasuk Dewa. Sri dan Butet yang ikut membantu berjalannya acara duduk di halaman rumah Nyak Tatik. Dewa terus menatap Sri yang acuh kepadanya.
Walaupun Rozi bersanding dengan Cempaka di pelaminan, Sebagai keluarga juga, Nyak Komariah tidak hadir di acara resepsi pernikahan anak tirinya itu. Justru Nyak Komariah terkesan mengganggu acara pernikahan Rozi dan Cempaka. Nyak Komariah melarang ada yang parkir di depan rumahnya, atau melarang musik pengiring pesta pernikahan yang ala Adat Betawi itu, di putar terlalu kencang.
Sepanjang acara resepsi, Nyak Tatik terlihat kesal dengan Nyak Komariah yang selalu complain dengan hal-hal kecil.
"Rusuh amat itu orang!" Ucap Nyak Tatik.
"Sudahlah Nyak, nanti acaranya malah kaga bahagia." Ucap Rozi yang berusaha menenangkan Nyak Tatik.
"Tapi, begini begitu kagak boleh, pake ngelapor-ngelapor ke Rt, sumpah itu orang mau nye ape." Nyak Tatik kesal.
"Sudahlah Nyak, acara ini kan cuma sampai sebelum maghrib aja." Ucap Rozi.
Nyak Tatik manyun dan merasa gregetan melihat anak nya yang selalu membela Nyak Komariah.
"Lu belain aje Nyak tiri lu itu. Heran gue, yang mane sih Nyak elu sebenernya."
"Dua-duanya Nyak nye Rozi Nyak. Nyak sendiri yang ngajarin Rozi agar kagak jadi pembenci." Ucap Rozi.
Nyak Tatik terdiam, ia menatap anak nya dengan bangga.
"Lu bener-bener ye Ji, bangga gue punya anak baek kayak elu." Ucap Nyak Tatik.
Rozi tersenyum dan memeluk Nyak Tatik dengan erat.
Raut bahagia dua pengantin baru itu terlihat jelas dimata semua para undangan. Begitupun mereka yang melihat Cempaka dan Rozi bersanding di pelaminan. Pasangan orang baik itu membuat semua orang merasa bahagia. Terutama para sahabat kedua mempelai.
Acara resepsi selesai. Keluarga Dewa menginap di rumah besan nya. Sedangkan Sri dan Butet membantu beres-beres rumah Nyak Tatik. Nyak Tatik merasa bangga dengan para anak kost nya yang begitu ringan tangan dan ikhlas membantu dirinya. Maklum saja, Nyak Tatik tidak memiliki anak perempuan. Dengan membuka Kost Putri, Nyak Tatik dapat merasakan rasanya memiliki anak perempuan.
Setelah beres semua, Sri dan Butet kembali ke paviliun. Mereka yang merasa capek, langsung merebahkan diri mereka di atas ranjang.
"Acara gak sampek 3 hari 3 malam. Tapi tetap capek ya." Ucap Butet yang merebahkan dirinya di samping Sri.
"Iyo, namanya pesta Tet. Tetap saja capek." Ucap Sri.
"Di kampung ku sanan, mau nikah aja ribet loh. Acara terooss, banyak kali acara Adatnya." Terang Butet.
"Namanya Adat Tet, kalau di ikutin Adat ya ada aja. Tapi, kan namanya mau nikah, pasti senang-senang aja kan." Ucap Sri.
"Iya sih." Sahut Butet yang mulai berkhayal hari pernikahan dirinya dan Halomoan.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri Tet, kamu sedang berkhayal pernikahan mu sama Moan ya?" Goda Sri.
__ADS_1
"Apa pulak!" Ucap Butet dengan pipi yang merona merah.
"Itu loh, pipi mu merah." Goda Sri lagi.
Butet mengulum senyumnya dan beranjak dari kamar Sri.
"Mau kemana kamu Butet?"
"Mandi dulu aku. Lengket kali." Ucap Butet. Lalu, gadis itu beranjak ke kamar mandi.
Sri beranjak ke meja rias nya. Ia menghapus meke-up yang sudah menempel di wajahnya seharian.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba saja terdengar ketukan dari pintu paviliun itu. Dengan malas, Sri beranjak ke pintu depan dan membuka pintu itu. Sri tampak terkejut, saat melihat Dewa dan kedua orangtuanya berdiri di depan pintu itu.
"Mas... Pak.. Bu.." Sapa Sri dengan gugup.
"Saya mau bicara." Ucap Dewa.
"Sri yang merasa tidak enak untuk menolak Dewa karena ada kedua orangtua lelaki itu pun, mempersilahkan keluarga itu untuk masuk.
"Ini teh Sri yang sering di ceritakan Dewa." Ucap Ambu.
"Iya Ambu." Ucap Dewa.
"Geulis pisan." Ucap Ambu sambil tersenyum menatap Sri.
"Mumpung kedua orangtua saya ada disini, saya ingin mengenalkan kedua orangtua saya dengan kamu Sri." Ucap Dewa.
"Eh, iya." Sahut Sri. Lalu, Sri menyalami kedua orangtua Dewa.
"Ambu, Abah, Dewa teh cinta sama Sri. Dewa minta restunya ya Abah, Ambu." Ucap Dewa tanpa basa basi.
Sri terkejut dan menatap Dewa dengan tak percaya.
"Ambu sama Abah teh merestui Dewa. Apa lagi Cempaka sudah cerita, Sri teh gadis baik-baik." Ucap Ambu yang menatap Sri dengan penuh kasih sayang.
Sri tertunduk malu. Ia tidak menyangka Dewa dan kedua orangtuanya mengatakan hal yang diluar dugaannya.
"Kamu teh, sahabat baik nya Cempaka kan Neng?" Tanya Ambu.
Sri mengangkat wajahnya dan mengangguk pelan.
"Duh, geulis pisan kamu Neng. Neng mau kan jadi menantu Ambu?" Tanya Ambu.
Sri benar-benar kaku terpaku.
"Tetapi saya....."
"Masih kuliah? Tidak masalah, Dewa juga masih kuliah. Nanti setelah kalian lulus kalian boleh menikah." Potong Ambu.
"Waduh...!" Batin Sri.
__ADS_1
"Nikah sekarang juga tidak apa-apa Ambu." Ucap Dewa sambil tersenyum manis.
Sri menatap dewa dengan tak percaya.
"Saya teh serius dengan Sri Ambu." Sambung Dewa.
"Iya Neng? hubungan kalian teh sudah serius?" Tanya Ambu.
Sri benar-benar tak mampu berkata-kata.
"Kalau begitu teh, kita lamar saja langsung ya Abah." Ucap Ambu. Sedangkan Abah hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Ambu teh setuju kalau kamu menikah dengan Sri, Dewa." Sambung Ambu lagi.
"Aduh iki piye yo." Batin Sri lagi.
"Lamar dong Ambu. Cantik dan sopan kan kekasih Dewa? Dewa sudah pernah bertemu dengan kedua orangtua Sri Ambu. Dewa juga tahu dimana rumah Sri. Mereka keluarga baik-baik." Ucap Dewa.
"Oh, yang kamu ke Yogyakarta ya?" Tanya Ambu.
Dewa mengangguk dengan bersemangat.
"Neng, Ambu, Abah dan si A'a teh berniat mau melamar si Neng. Neng teh bersedia jadi menantu Ambu dan Abah?" Tanya Ambu.
Sri menelan salivanya. Ia bingung akan berkata apa.
"Tetapi... saya.."
"Jangan khawatir atuh Neng, Cempaka juga masih kuliah. Tetapi teh sudah menikah." Ucap Ambu dengan bersemangat.
"Kamu mau kan jadi istri saya?" Tanya Dewa. Saya hanya mencintai kamu. Belum ada wanita yang saya kenalkan kepada kedua orangtua saya. Hanya kamu seorang. Ini adalah bukti keseriusan saya." Tegas Dewa.
Hati Sri meleleh sampai luber-luber. Rasa bahagia dan banyaknya pikirannya bercampur menjadi satu.
"Aduh aku harus bilang apa?" Gumam Sri.
"Neng." Panggil Ambu, membuyarkan lamunan Sri.
"Udah ko terima aja kalok kau cinta." Celetuk Butet yang sedang berjalan menuju kamarnya.
"Nyambung aja kamu Tet..!" Ucap Sri dengan kesal. Sedangkan kedua orangtua Dewa hanya tersenyum melihat Butet yang baru saja selesai mandi dan beranjak masuk ke kamarnya.
"Kamu mau ya? saya mohon." Ucap Dewa.
Sri terdiam, ia meremas ujung kebayanya.
Rasa amarah dan kesalnya kepada dewa pun luntur saat itu juga. Dengan ragu, Sri pun mengangguk dan tersipu malu.
"Yessss!" Ucap Dewa yang merasa bahagia bukan kepalang.
"Abah, kita siapkan untuk melamar ke Yogyakarta. Biar mereka teh tunangan dulu. Ambu gak mau kehilangan menantu seperti ini." Ucap Ambu.
Sri hanya tersipu malu dan menundukkan wajahnya.
__ADS_1