
Cklekkk..!
Sri membuka pintu rumah kost-kost-an nya. Dengan kasar ia membanting kopernya ke lantai. Sri terduduk dengan lemas di kursi ruang tamu. Sri menatap kamar Cempaka, lalu ia beranjak dari duduknya dan menghampiri kamar cempaka.
Tok! Tok! Tok! Sri mengetuk kamar Cempaka berkali-kali. Tetapi, tidak ada jawaban dari Cempaka.
"Cempaka sek turu po yo?" Gumamnya. (Red- turu- tidur)
Lalu, Sri mencoba untuk membuka kamar Cempaka.
Cklekkk!
Sri terdiam saat melihat kamar Cempaka kosong tanpa adanya Cempaka disana.
"Cempaka ki nang ngendi toh?" Gumam Sri.
Sri beranjak ke kamar mandi, lalu ia memanggil-manggil Cempaka.
"Cemmmm!" Panggilnya di depan pintu kamar mandi. Tetapi, tetap tidak ada jawaban.
Sri pun merasa bingung, lalu ia mencoba membuka pintu kamar mandi. Tetapi, Cempaka juga tak berada disana.
"Subuh-subuh ngene mosok Cempaka wes metu. Ojok-ojok Cempaka muleh Kampung. Ah, ora mungken, wong jarene Mas Dewa, Cempaka ora muleh Kampung kok." (Red- Subuh-subuh begini masa Cempaka sudah keluar. Jangan-jangan Cempaka pulang Kampung. Ah, gak mungkin, orang katanya Mas Dewa, Cempaka gak pulang Kampung kok.) Gumam Sri.
Sri kembali ke depan, Lalu duduk menunggu Cempaka di ruang tamu. Tetapi, hatinya tak tenang. Lalu, ia pun memutuskan untuk mengunjungi rumah Nyak Tatik.
Tok! Tok! Tok!
Sri mengetuk rumah Nyak Tatik.
Rozi dan Cempaka yang baru saja sholat berjamaah, mendengar bunyi ketukan di luar pintu rumahnya.
"Siapa ya A'? Sepagi ini ada tamu?" Tanya Cempaka sambil melipat mukenanya.
"Biar saya lihat dulu." Ucap Rozi sambil melangkah keluar kamarnya.
Lalu, Rozi menghampiri pintu depan rumahnya dan membuka pintu.
Terlihat Sri berdiri di depan pintu rumah dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.
"Mas Rozi!" Seru Sri.
"Ada apa Sri? Kamu sudah pulang?" Ucap Rozi.
"Sudah Mas, ini, anu.. Ng... Cempaka menghilang! Dia ndak ada di kamarnya Mas!" Ucap Sri dengan sangat khawatir.
"Hmmmm... anu.."
"Mas! Cari Cempaka Mas!" Desak Sri.
Cempaka yang hendak keluar dari kamar Rozi mendadak menghentikan langkahnya saat mendengar suara Sri.
"Itu teh Sri?" Gumam Cempaka.
Lalu, ia mengintip dari balik pintu kamar Rozi.
"Astaga! iya Sri teh sudah pulang!" Gumamnya.
"Mas! Kok diam aja sih? itu Cempaka bagaimana Mas?"
Rozi menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil sesekali melihat kedalam rumahnya.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu tunggu di paviliun saja ya. Biar saya yang mencari Cempaka."
"Tenan loh Mas!" (Red-Tenan-beneran)
"I-iya."
"Yo wes, aku tunggu di kost-kost-an." Ucap Sri sambil beranjak pergi menuju paviliun.
Setelah Sri pergi, Rozi pun buru-buru menutup pintu rumahnya dan berlari menuju kamar. Tak sengaja, saat Rozi akan masuk ke kamarnya, ia menabrak tubuh Cempaka yang sedang termenung di ambang pintu kamarnya.
Brakkkkkkkkk!
Mereka berdua terjatuh di atas karpet yang biasa di pakai Rozi untuk tidur. Tubuh Rozi menimpa Cempaka. Cempaka yang terjatuh terlentang mengeluh kesakitan, sedangkan Rozi terpana menatap wajah istrinya yang begitu dekat dengan wajahnya.
Mereka saling berpandangan tanpa berkata apa-apa.
Rozi menatap mata indah Cempaka, begitupun Cempaka yang terhipnotis dengan wajah tampan suaminya.
Perlahan, Rozi mendekatkan bibirnya ke bibir Cempaka. Lalu, ia mengecup bibir istrinya itu.
Cempaka membeku, ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Merekapun berciuman di atas karpet dengan pintu yang terbuka lebar.
Nyak Tatik yang baru saja pulang dari Mushola memergoki mereka yang sedang berciuman.
"Astaghfirullah!" Seru Nyak Tatik.
Cempaka yang trauma dengan penggerebekan yang terjadi beberapa hari yang lalu pun, mendorong tubuh Rozi hingga suaminya itu terbentur di pintu lemari.
Dugggg!
"Aduh!" Keluh Rozi.
"Nyakkk." Ucap Cempaka dengan pipi yang memerah.
Lalu, Nyak Tatik langsung menutup pintu kamar Rozi.
Cempaka tampak memejamkan matanya saat Nyak Tatik menutup pintu dengan kasar.
"Ya Allah, sepertinya saya teh sudah mulai gila." Batin Cempaka sambil beranjak dari atas karpet.
Rozi yang masih duduk di atas karpet, mengusap kepalanya yang terasa berdenyut karena terbentur pintu lemari.
"A', saya ke paviliun dulu." Ucap Cempaka.
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Cempaka langsung bergegas keluar kamar dan berlari menuju paviliun.
"Alaaaaahhhh...! Nyaaaaakkkkk! pake nongol!" Keluh Rozi yang tampak kesal karena upaya nya untuk meluluhkan Cempaka lagi-lagi gagal.
Rozi menyambar handuknya dan beranjak menuju kamar mandi.
Di dapur, Rozi berpapasan dengan Nyak Tatik. Rozi tampak kesal dengan Nyak Tatik. Sedangkan Nyak Tatik hanya diam saja mengingat ia memergoki Rozi dan Cempaka yang sedang bermesraan di atas karpet.
Rozi melangkah masuk kedalam kamar mandi. Lalu, ia membanting pintu kamar mandi.
"Lah, nape die ngamuk." Batin Nyak Tatik.
..
Cempaka membuka pintu paviliun dengan napas yang terengah-engah. Sri yang tampak sangat mengkhawatirkan Cempaka, langsung menghampiri gadis itu.
"Ceeemmmmmmm.. kamu kemana saja?" Tanya Sri.
__ADS_1
"Ng...anu..ng...
"Kamu lari pagi?" Tanya Sri saat melihat napas Cempaka yang tersengal.
"I-iya."
"Sepagi ini? kok aneh yo?" Ucap Sri.
"Apa nya yang aneh? Kok kamu teh sudah pulang?" Tanya Cempaka.
"Iya." Sahut Sri dengan wajah yang cemberut.
"Kamu teh kenapa Sri?" Tanya Cempaka sambil menatap wajah Sri yang tampak kesal.
"Ndak apa-apa." Sahut Sri. Lalu, ia meraih gelas teh nya yang baru saja ia buat dan meniup teh tersebut dan menyeruputnya dengan perlahan.
"Kamu teh kayak orang sedang galau Sri."
"Ndak kok." Ucap Sri sambil menaruh gelas teh nya.
"Terus? Kamu teh bertengkar dengan orangtuamu?" Tanya Cempaka lagi.
"Ndakkkkkk." Ucap Sri, kesal.
Cempaka mengerutkan dagunya dan beranjak dari duduknya.
"Ya sudah, saya mau mandi dulu. Mau ke kampus." Ucap Cempaka.
"Eh, Cem."
"Apa?"
"Aku mau tanya. Sini duduk dulu." Ucap Sri sambil tersenyum membujuk Cempaka.
Dengan ragu, Cempaka menuruti keinginan sahabatnya itu.
"Ada apa?"
"Kamu kenal Santi?" Tanya Sri penasaran.
"Santi teh siapa? Santi yang mana Sri?"
"Santi, pacarnya Mas Dewa." Ucap Sri.
Cempaka mengerutkan keningnya dan menatap Sri dengan seksama.
"Kamu kok kenal Santi?" Tanya Cempaka.
"Hmmmm, itu, aku kenalan dengan Santi. Katanya dia pacarnya Mas Dewa ya?" Tanya Sri penasaran.
Cempaka terdiam sejenak, sambil menatap Sri lekat-lekat.
"Iya, Santi teh pacarnya A' Dewa. Tetapi, mereka sudah putus. Sekarang saya teh gak tahu, sudah balikan atau belum."
Sri menghela napasnya dan menyenderkan punggungnya di sandaran kursi.
"Memangnya Teh Santi bilang apa sama kamu Sri?" Tanya Cempaka penasaran.
"Ah, ndak, dia cuma bilang kalau dia pacarnya Mas Dewa."
"Oh begitu, mungkin saja mereka sudah balikan. Ya sudah saya mandi dulu ya Sri."
__ADS_1
Sri tersenyum getir, lalu ia mengangguk dan Cempaka pun beranjak ke kamar mandi.
"Dadi bener sing di omongke wedhok kui mau." ( Red- Jadi benar yang di bilang perempuan itu tadi.) Gumam Sri yang kembali merasakan sakit di hatinya.