Kost Putri

Kost Putri
48# Kecurigaan Butet dan Sri


__ADS_3

Kegiatan belajar mengajar di kampus sudah kembali. Pagi ini terlihat Butet dan Sri sudah siap untuk berangkat ke kampus. Mereka yang sedang menunggu Cempaka pun mengetuk-ngetuk pintu kamar Cempaka.


"Belom bangun kek nya dia." Ucap Butet.


"Nanti kalau telat bagaimana Tet?" Tanya Sri.


"Apa udah keluar dia?" Tanya Butet sambil berjalan menghampiri kamar Cempaka. Lalu, ia membuka pintu kamar Cempaka yang ternyata tidak terkunci.


Cklekkk!


"Iyah! kemana anak ini?" Tanya Butet.


"Eh, Cempaka iku, sering menghilang sekarang Tet, waktu aku sampai disini, dia pagi-pagi juga ndak ada di kamarnya." Terang Sri.


"Eh, serius kau?"


"Serius Tet." Ucap Sri.


Butet dan Sri saling bertatapan. Mereka merasa aneh. Cempaka itu tidak pernah keluar tanpa mereka.


"Apa jangan-jangan anak itu salah pergaulan? Jangan-jangan pas kita tidor dia keluar. Dugem gak dia itu?" Ucap Butet.


"Ojok sampe lah Tet." Ucap Sri.


Butet melirik jam tangannya. Jam sudah menunjukan pukul 6 pagi. Sedangkan mereka ada kelas pukul setengah 8 pagi.


Perjalanan ke kampus mereka, bila tidak macet akan memakan waktu 40 menit.


Butet duduk di kursi ruang tamu sambil berpikir keras. Kemana Cempaka sampai-sampai gadis itu belum pulang sepagi ini.


"Masa harus aku bilang sama Mas Dewa." Ucap Sri.


"Ah gila kau! kalau Dewa datang terus marah-marah sama Adek nya kek mana?" Tanya Butet.


"Ya udahlah, kita berangkat aja. Nanti pulang nya kita sidang si Cempaka. Kalok iya dia bergaul yang gak jelas, kita lapor sama Nyak Tatik, sama si Dewa juga." Ucap Butet.


"Yo wes. Yuk berangkat." Ucap Sri.


Lalu, mereka beranjak keluar paviliun dan mengunci pintu mereka.


Butet dan Sri berjalan menuju pagar rumah Nyak Tatik. Terlihat Rozi yang sedang memanasi sepeda motornya.


"Bang, kami berangkat ya." Ucap Butet.


"Iya Tet, hati-hati." Ucap Rozi yang terlihat bersemangat pagi ini.


"Wajah Mas Rozi seger yo, koyok manten anyar." Ucap Sri.


"Apa itu manten anyar?" Tanya Butet.


"Pengantin baru Tet." Terang Sri.


"Hahahaha, ada-ada aja kau." Ucap Butet sambil berjalan di samping Sri.


Butet sempat melirik ke kost-kost-an Pria. Biasanya pagi-pagi begini, anak kost Nyak Komariah sudah siap untuk berangkat ke kampus. Tetap, tidak kali ini. Kost-kost-an Pria terlihat sepi.

__ADS_1


"Eh, ingat aku Kost-kost-an depan kok sepi kali?" Ucap Butet.


"Oh, mereka semua kan udah semester 6 sekarang. Jadi, sudah KKN toh?" Ucap Sri.


"Oh iya, lupa aku." Ucap Butet yang terlihat sedikit kecewa, karena ia tidak bisa melihat Halo Halomoan lagi. Anak-anak semester akhir pasti tidak ada waktu untuk bermain-main. Mereka pasti sangat sibuk. Mereka akan berangkat pagi-pagi sekali dan pulang di tengah malam.


"Kenapa toh? kamu kangen sama Bang Moan?" Tanya Sri.


"Hah? cok ko cakap lagi?"


"Kamu kangen sama Bang Moan?" Tanya Sri lagi.


"Ihhhhhhh.. jijik kali aku sama pertanyaan mu!" Ucap Butet sambil menghentikan angkot yang baru saja tiba.


Sri tertawa geli, lalu mereka berdua naik ke atas angkot.


Kebetulan sekali angkot itu sedang kosong. Jadi Butet dan Sri duduk di paling belakang angkot itu dengan berhadapan.


Angkot mulai beranjak jalan, tiba-tiba saja, Sri mencolek dengkul Butet.


"Ssttt! sssttttt!..." Ucap Sri.


Butet menatap Sri sambil mengangkat dagunya.


"Apa!"


"Itu..!" Seru Sri sambil menunjuk ke belakang angkot itu.


Butet dan Sri menatap seorang pengendara sepeda motor yang sedang membonceng Cempaka.


"Itu Cempaka!" Seru Butet.


"Iya, kok bisa sama Bang Rozi?" Tanya Butet.


"Apa semalam Cempaka dan Bang Rozi......."


Butet dan Sri saling berpandangan dan membesarkan bola matanya.


Sepeda motor Rozi menyalip angkot yang berjalan dengan santai itu. Terlihat dari samping angkot, bila Cempaka sedang memeluk pinggang Rozi dengan mesra. Terlihat juga mereka sedang berbincang sambil tertawa bersama.


"Eh, pacaran mereka kek nya." Ucap Butet.


"Iya kayaknya ya." Ucap Sri.


"Pulang dari sini kita wawancarai si Cempaka!" Ucap Butet.


Sri pun mengangguk sambil meremas kedua tangannya. Bagaimana pun, Sri merasa bertanggung jawab dengan Cempaka. Walaupun kini ia sudah putus dengan Dewa, tetapi Sri sudah terlanjur menganggap Cempaka sebagai Adik ipar nya.


"Jangan-jangan semalam Cempaka tidor di kamar Bang Rozi." Celetuk Butet.


"Hust..! jangan berpikir begitu Butet. Fitnah!" Ucap Sri.


"Tapi tah kenapa aku yakin kali." Ucap Butet.


"Kalau mereka tidur bersama apa kata Nyak Tatik Tet!"

__ADS_1


"Iya jugak ya." Batin Butet.


Lalu mereka larut dengan pikiran mereka masing-masing.


..


Halomoan tampak tidak bersemangat saat KKN. Ia terlihat hanya duduk di post ronda salah satu kampung yang sedang ia kunjungi.


"Kenapa lu Moan?" Tanya Bambang, yang kebagian KKN dengan Halomoan.


"Gak papa, gak semangat aja aku." Keluh Halomoan.


"Mikirin Butet lu ya?"


Halomoan menatap Bambang sesaat, lalu ia tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.


"Terus? lu kenapa toh?" Tanya Bambang lagi.


"Butet bohong dia sama aku. Katanya gak pacaran sama si Batra. Tapi, jumpa sama aku orang tu jalan sama." Ucap Halomoan.


Bambang tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Halomoan.


"Moan... Moan.. gue tanya, lu mikirin Butet apa enggak. Jawaban lu enggak. Tapi, lu mikirin Butet." Ucap Bambang.


"Ya aku gak mikirin dia. Tapi, aku di bohongin sama dia." Ucap Halomoan.


"Sama aja lu mikirin dia itu. Sudah yuk, kerja!" Ucap Bambang.


Mau tidak mau, Halomoan pun bergerak dan bergabung dengan mahasiswa kelompok nya.


Halomoan tampak tidak konsentrasi sama sekali saat bertugas di lapangan. Berkali-kali Bambang mengingatkan Halomoan untuk sedikit lebih aktif.


"Eh, si Agus KKN dimana dia?" Tanya Halomoan.


"Ndak tau gue." Ucap Bambang.


"Dia gak pernah nampak sama aku di kost-kost-an." Ucap Halomoan.


"Sudah pergi duluan mungkin. Kabarnya sih kelompok dia ke Jawa Timur." Ucap Bambang.


"Oh, sukurlah kalok kek gitu. Asal jangan pindah kost aja dia." Gumam Halomoan.


"Memang kenapa toh?" Tanya Bambang dengan polosnya.


"Ah, gadak apa-apa loh. Udah lah, kerja lagi kita." Ucap Halomoan yang berusaha sebisa mungkin menutupi aib sahabatnya itu.


Walaupun sebenarnya pada malam itu, ingin sekali Halomoan menghajar Agus. Tetapi, demi persahabatan dia dan Agus, Halomoan hanya berusaha mengingatkan Agus saja.


Tetapi, bila sesuatu terjadi dengan Risa, jangan harap Agus akan lolos dari tanggung jawabnya. Halomoan lah orang pertama yang akan mencari lelaki br*ngsek itu.


Halomoan mempunyai firasat buruk tentang Risa. Maka ia sudah mewanti-wanti Agus, agar bertanggung jawab sebagai lelaki.


Tetapi, Halomoan berusaha mengusir perasaan khawatirnya. Ia berharap, Agus memanglah lelaki gentle yang gak akan lari dari masalah.


"Semoga saja." Gumam Halomoan.

__ADS_1


__ADS_2