
Laju sepeda motor Dewa menerobos jalanan Kota Jakarta yang macet. Di depan sepeda motornya, ada koper kecil milik Sri. Sedangkan di boncengannya Sri duduk dengan manis dan memeluk nya dari belakang.
Setiap lampu merah menyala, disitulah kesempatan bagi Dewa untuk memegang tangan Sri yang melingkar di pinggangnya.
"Sri, jangan lama-lama ya di Kampung." Ucap Dewa.
"Iya Mas." Sahut Sri.
"Mas di Bandung rencananya berapa hari?" Tanya Sri.
"Paling gak sampai 2 minggu Sri. Soal nya saya kan mau mempersiapkan KKN juga." Ucap Dewa.
"Oh iya, Mas Dewa sudah naik ke semester 6 ya." Ucap Sri.
"Iya, do'akan ya, biar lulus dengan cepat dan baik. Biar bisa fokus kerja dan melamar kamu." Ucap Dewa.
Sri tersenyum malu dan merebahkan kepalanya di pundak Dewa.
"Aku pasti kangen banget sama Mas." Ucap Sri.
Dewa tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu.
"Aku juga." Ucap Dewa sambil bersiap-siap tancap gas setelah lampu hijau menyala.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di Stasiun kereta. Dewa memarkirkan sepeda motornya di parkiran khusus sepeda motor. Setelah Dewa memarkirkan sepeda motornya, lelaki itu menurunkan koper milik Sri.
"Ayo." Ucap Dewa sambil mengulurkan tangannya.
Sri langsung menyambut tangan Dewa dan menggenggam nya dengan erat.
Dewa mengantarkan Sri sampai di dalam stasiun. Sambil menunggu kereta datang, mereka duduk-duduk di coffe shop di area stasiun.
Masih ada 1 jam untuk mereka bersama sebelum kedatangan kereta yang akan di tumpangi Sri ke Yogyakarta.
Dewa memandang gadis manis yang kini sudah menjadi tambatan hatinya itu.
"Kamu semakin hari semakin cantik, bikin kangen. Sekarang saja rasanya hatiku sudah berteriak rindu. Padahal kamu belum pergi dan masih ada di depanku." Ucap Dewa.
"Gomballl." Ucap Sri sambil tertawa lebar.
"Serius Sri." Ucap Dewa sambil tersenyum malu.
"Ngomong-ngomong, si Butet pulang atau tidak?" Tanya Dewa.
"Pulang Mas."
"Kira-kira aman gak ya, si Cempaka sendirian di kost-kost-an?" Tanya Dewa lagi.
"Insyaallah aman Mas. Soal nya Kost-kost-an nya ketat sekali. Nyak Tatik cereweteeeee ampun aku Mas." Ucap Sri sambil tertawa.
"Syukurlah kalau begitu."
Dewa bernapas lega dan yakin bila Cempaka akan baik-baik saja di kost-kost-an itu.
"Oh iya, Mas Dewa kapan berangkat ke Bandung?" Tanya Sri.
"Setelah kamu pergi, aku pergi juga." Ucap Dewa.
"Naik apa?"
"Naik sepeda motor ku."
"Apa ndak capek toh Mas?" Tanya Sri.
"Sudah biasa kok. Kadang-kadang saya seminggu sekali pulang kalau sedang gak ada kerjaan."
"Memangnya, Mas Dewa kerja opo toh?" Tanya Sri penasaran.
"Freelance." Ucap Dewa.
__ADS_1
Suara klakson kereta api berbunyi. Terlihat kereta jurusan Jakarta-Yogyakarta datang dan terparkir di peron tengah Stasiun itu.
Waktu mereka semakin sempit. Sri menatap Dewa lekat-lekat. Lelaki berlesung pipi itu membalas tatapan Sri.
"I love you." Ucap Dewa.
Sri tersipu malu.
"Jangan gitu dong Mas. Aku kan jadi berat mau perginya." Ucap Sri.
Dewa tersenyum dan mencubit pipi Sri yang tampak memerah.
"Jaga diri baik-baik ya sayang, jangan nakal di sana." Ucap Dewa.
Pipi Sri semakin memerah. Ia tak kuasa menahan rasa sedih saat akan berpisah dengan Dewa. Walaupun hanya sementara waktu, tetapi bagi dua insan yang sedang mabuk asmara terasa sangat berat.
Sri beranjak dari duduknya dan memeluk Dewa yang ikut beranjak dari duduknya.
"Hati-hati di jalan. Tetap waspada, banyak orang jahat. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa di jalan. Oh iya, kabarin ya kalau sudah sampai." Ucap Dewa.
"Iya Mas."
Dewa mengecup kening Sri dan menyerahkan koper gadis itu.
"Salam untuk Ibu dan Bapak mu Sri." Ucap Dewa lagi.
Sri hanya mengangguk dan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Dewa.
"Sampai jumpa lagi Mas." Ucap Sri.
Dewa mengangguk dan terlihat genangan air mata di sudut matanya.
Sri melangkah keluar dari coffe shop itu dan berjalan menuju peron dimana kereta yang akan ia tumpangi terparkir.
Sri sekali lagi menoleh kebelakang. Ia melihat Dewa melambaikan tangannya. Sri pun tersenyum dan membalas lambaian tangan lelaki yang ia cintai itu. Setelah itu, Sri masuk kedalam gerbong kereta dan beranjak mencari tempat duduk nya.
..
Malam ini hanya Butet dan Cempaka di rumah kost. Cempaka yang kesepian pun, mengetuk kamar Butet.
"Masokkkk." Ucap Butet yang sedang asik mencabuti bulu halus di ketiaknya.
"Astaga, kamu ngapain atuh Butet?" Tanya Sri.
"Gak ko tengok rupanya aku ngapain? Aku harus keliatan terawat nanti di kampong. Kalok enggak, Inang ku bisa merepet 3 hari 3 malam." Ucap Butet.
Cempaka tertawa dan duduk di kursi meja belajar Butet.
"Pasti saya teh akan kesepian sendirian." Ucap Cempaka.
"Kan ada si Rozi." Ucap Butet sambil menaruh kaca dan pinset nya.
Cempaka terdiam dan tampak kikuk saat Butet menyebut nama Rozi.
Sejak Rozi menyatakan cintanya kepada Cempaka, sejak saat itu juga Cempaka terus menghindari Rozi. Bukan karena ia tidak menyukai lelaki itu. Cempaka hanya tak ingin bertemu. Pertemuan dengan Rozi hanya membuat Cempaka merasa sakit dan menyesal karena menolak cinta Rozi.
"Eh, kenapa ko diam?" Tanya Butet.
"Gak papa Tet." Ucap Cempaka dengan lesu.
"Kau suka sama Rozi kan?" Tanya Butet.
Cempaka menatap Butet dengan mata yang sendu.
"Cok cerita sama aku Cem. Jangan ko simpan-simpan. Kita disini sodara Cem. Aku cobak mengerti perasaanmu." Ucap Butet.
"Tet, kamu teh juga suka sama A' Rozi?" Tanya Cempaka.
Kali ini Butet yang terdiam.
__ADS_1
"Kita jujur-jujur aja atuh Tet, biar lega." Ucap Cempaka.
Butet beranjak dari ranjang nya dan duduk di tepi ranjang menghadap Cempaka yang sedang duduk di kursi meja belajarnya.
"Iya, aku suka sama Bang Rozi. Tapi, aku tau diri Cem. Dia gak suka sama aku, dan agama kami pun beda kan. Kau sendiri tau itu." Ucap Butet.
Cempaka menatap mata Butet yang kini tampak sendu. Lalu, ia menghela napasnya dengan berat.
"Bang Rozi suka sama kau Cem, kalo kau suka sama dia, kejarlah." Ucap Butet.
Cempaka mencoba mencari kesungguhan dimata Butet.
"Sebenarnya teh, sudah lama Bang Rozi mengucapkan cintanya sama saya Tet."
Butet terbelalak dan menatap Cempaka dengan serius.
"Serius kau?" Tanya Butet.
Cempaka hanya mengangguk dan menundukkan wajahnya.
"Teros, jadian kelen?" Tanya Butet.
"Ng-ng-nggak Tet, saya tolak cintanya A'a Rozi." Ucap Cempaka.
"Ish paok kali..! kenapa rupanya!" Tanya Butet yang tampak kesal karena Cempaka menolak cinta Rozi.
Cempaka diam saja dan terus menundukkan wajahnya.
"Gara-gara galau, makanya saya susah konsentrasi saat ujian kemarin." Ucap Cempaka lagi.
"Aku gak nanyak itu Cem..! Yang aku tanyak, KENAPA KAU NOLAK CINTA SI ROZI...!"
Cempaka mengangkat wajahnya dan menatap Butet dengan seksama.
"Kenapa? Kalau kau cinta kenapa kau tolak!" Ucap Butet yang terlihat gemas dengan Cempaka.
"Saya teh gak mau persahabatan kita hancur Tet. Saya gak mau kita selisih paham hanya gara-gara laki-laki, terus kamu atau saya merasa tidak nyaman dan pindah kost." Ucap Cempaka.
Butet terdiam dan menatap Cempaka dengan tak percaya.
"Cuma itu alasanmu?" Tanya Butet.
Cempaka mengangguk dan mengusap air matanya.
"Saya teh gak mau kehilangan kamu Tet. Sahabat teh bagi saya nomor satu, sedangkan lelaki bisa di seleksi lagi." Ucap Cempaka.
Air mata Butet mengalir di pipinya.
"Sumpah kau terlalu baik Cem! Padahal aku gak papa loh, kalo kau jadian sama Rozi..!" Ucap Butet.
"Saya teh sudah bilang, saya takut kehilangan kamu Tet. Rasanya persahabatan aku, kamu dan Sri sudah sangat cocok di rumah ini." Ucap Cempaka.
"Ya Tuhaaaaannn." Butet tak mampu berkata-kata lagi. Ia memeluk Cempaka dengan erat. Lalu, ia menangis haru di pelukan Cempaka.
"Jadian lah kau sama Rozi. Aku gak mungkin sama dia. Walaupun aku suka sama dia, aku masih ada peternakan buaya diluar sana. percayalah kau Cem. aku buaya betina. Jadi gak masalah sama aku." Ucap Butet sambil melepaskan pelukannya.
Cempaka tertawa sambil menangis mendengar kata-kata Butet.
"Kamu teh ada-ada aja sih Tet." Ucap Cempaka sambil menghapus air matanya.
"Kau yang ada-ada aja. Segitu ngalah nya kau sama aku! padahal aku sering kali jahat sama kau." Ucap Butet.
"Kamu teh tidak pernah jahat sama saya Tet." Ucap Cempaka.
"Jahat aku, sukak kali ambil makanan kau." Ucap Butet sambil terkekeh.
Butet dan Cempaka pun tertawa bersama. Kini Cempaka sudah lega. Begitupun Butet. Pengorbanan Cempaka yang lebih mementingkan perasaan sahabatnya berbuah manis. Butet tidak egois seperti yang ia pikirkan selama ini. Butet orang yang berlapang dada, sama seperti Cempaka.
Mereka adalah orang-orang baik yang di pertemukan dan diizinkan untuk menjalin persahabatan yang tulus.
__ADS_1