Kost Putri

Kost Putri
83# Restu


__ADS_3

Selepas Maghrib, Siti keluar dari kamarnya dan duduk bersimpuh di depan kedua orangtuanya. Hari ini adalah hari ke enam, Batra berada di Padang. Besok, Batra dan keluarganya akan kembali ke Jakarta.


Siti pun merasa gelisah. Ia benar-benar tidak tahu akan berkata apa kepada Batra dan Nyak Tatik saat nanti bertemu di Jakarta.


Air mata Siti sudah kering. Kini, ia sudah tak mampu lagi mengeluarkan setetes pun air mata. Ia menatap kedua orangtuanya dengan lekat. Yang membuat orangtuanya merasa bersalah kepada Siti.


"Ayah, Bundo, ambo amuah bicara." Ucap Siti.


Ayah dan Ibu Siti hanya terdiam membisu.


"Adat memang harus kita pegang teguh. Tetapi, Agama adalah di atas segala-galanya. Di kala ada niat baik seseorang untuk melamar ambo. Tetapi, terhalang restu dan Adat. Niat baik, untuk menikahi ambo di tolak oleh kedua orangtua dan tersangkut oleh Adat. Apakah, Bundo dan Ayah tahu? Menyegerakan pernikahan disaat dua insan sudah yakin untuk beribadah dan menghindari zina, itu adalah baik menurut Agama kita?" Ucap Siti.


Ayah dan Ibunya Siti terdiam mendengar ucapan Siti.


"Jodoh, bisa siapa saja. Tuhan tidak pernah memandang anak siapa, suku apa, atau bagaimana. Bila orang itu baik dan seagama. Tuhan tidak akan marah. Mengapa kita menjadi manusia lebih-lebih dari Tuhan?" Sambung Siti.


"Yang Bundo jo Ayah takutkan, itu hanya tentang siapa yang akan menjaga harato pusako. Siapa yang menjaga rumah gadang ko. Tetapi, Ayah dan Bundo indak takuik bila ambo dan Batra akan berlaku nekat."


Ayah dan Ibu Siti saling berpandangan.


"Banyak urang nan berjodoh jo nan bukan urang awak. Tetapi, mereka tetap taragak pulang. Bahkan, mereka rela untuk tinggal di kampuang awak. Apo itu pantas di jadikan alasan untuk menolak niat baik ambo jo Batra?" (Red- Tragak- teringat)


"Ambo cuma menyampaikan, mengapa kita selalu mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi? Hal-hal yang di luar pengetahuan kita sebagai manusia. Nanti begini, nanti begitu, kalau begini, kalau begitu, bagaimana begini, bagaimana begitu. Untuk apa?"


"Ambo urang Minang, ambo indak akan lupo jo Kampuang halaman ambo. Dimana ambo di lahirkan dan besarkan. Walaupun ambo menjalajahi nagari. Sejauh apa pun kaki melangkah, ambo adalah urang Minang yang akan memacik harato pusako." ( Red-Memacik-memegang)


"Ayah, Bundo, bila Allah berkehendak Batra tetap menjadi jodoh ambo. Suatu saat bagaimana Ayah jo Bundo bisa menatap mata keluarga Batra? Mereka sudah jauh-jauh kesiko hanya untuk meminang ambo. Di tolak mentah-mentah. Eh, suatu saat ternyata tetap menjadi besan, apa Ayah dan Bundo indak malu?"


"Ayah dan Bundo lupo? Bahwasaanya di dalam al-Qur'an menjelaskan untuk menyegerakan nikah bagi laki-laki dan perempuan yang belum memiliki pasangan karena khawatir akan berbuat zina."


"Batra urang baik, keluarganya orang yang sangat baik. Ambo merasa beruntung mereka memilih ambo. Sayang nyo, keluarga ambo indak bersyukur kalau anak nyo di lamar jo urang dan keluarga yang sangat baik."


"Apakah Bundo jo Ayah bisa menjamin, kelak ambo dapat pengganti yang lebih baik dari Batra dan keluarganya? Kalau Ayah dan Bundo berani, ambo manuruik." Ucap Siti panjang lebar.


"Mohon maaf bila ambo lancang. Besok, Batra jo keluarganya akan kembali ka Jakarta. Bila indak ado kesempatan bagi orang-orang baik itu untuk bertandang lagi ka siko. Ambo siap untuk menurut apo kato Ayah dan Bundo. Ambo akan pindah dari Kost-kost-an Nyak Tatik. Ambo pasrah, ambo menyerah." Ucap Siti. Lalu, Siti beranjak dari hadapan kedua orang tuanya.


"Siti," Panggil Ibu Halimah.


Siti menghentikan langkahnya dan berdiri mematung memunggungi kedua orangtuanya.


"Panggil Batra jo keluarganya." Ucap Bundo.

__ADS_1


...


"Nyak, kok lemes amat?" Tanya Rozi.


Nyak Tatik yang sedang berbaring di atas ranjang bersama dengan Batra terlihat tidak bersemangat. Tumpukan barang-barang seserahan yang di bawa mereka pun teronggok di sudut kamar hotel itu.


"Gimana kagak lemes, kita disini ngapain? nunggu lama bener. Kagak di hubung-hubungin. Emang nye rundingan keluarga selama ini?" Tanya Nyak Tatik sambil mengganti channel televisi.


"Sabar ya Nyak." Ucap Rozi.


"Gimane mau sabar Ji? besok kite udeh pulang kalik." Ucap Nyak Tatik sambil memunggungi Rozi.


"Lu kok diam aja sih Batra, lu samperin sono si Siti." Ucap Rozi.


"Ya elah Bang, ini Kampung Bang. Mau emang nye aye di rajam di sini. Apa di gebukin orang kampung. Karena ngotot nyamperin anak perawan orang." Ucap Batra.


"Ya sudahlah, bukan mau menyerah. Tapi, ya sudahlah. Bingung mau ngomong nya." Ucap Batra yang ikut memunggungi Rozi.


Rozi kehabisan kata-kata. Ia pun duduk dengan lemas di tepi ranjang. Ia menatap Batra dan Nyak Tatik yang merasa sedih dengan perjuangan mereka yang sia-sia.


"Kita yang salah sih, cara kita kagak baek. Harusnya, kita menjalin komunikasi terlebih dahulu dengan keluarga Siti. Jangan seperti ini, siapa yang gak kaget tiba-tiba ada keluarga yang datang mau melamar anak perawan nya?"


"Gue sedih kalau kehilangan mantu yang baek nye kek Siti. Gue tuh pemilih kalo liat-liat calon mantu. Gue bener-bener pelajarin itu sifat ame ketaatan nye dalam beribadah. Biar gue punya mantu yang baik semua, jadi cucu-cucu gue juga baik-baik semua." Sambung Nyak Tatik lagi.


"Ya udeh deh, dari pada galau bener. Mendingan kita jalan-jalan aja yuk. Mumpung ini malam terakhir." Ucap Rozi.


"Males gue udeh jalan-jalan. Kepala gue nyut-nyutan udeh kayak di santet." Ucap Nyak Tatik.


"Lah, emangnya Enyak pernah ape di santet. Sekate-kate aje sih Nyak." Ucap Rozi sambil bersungut-sungut.


Dreeeettt..! Dreeeettt..!


"Batra..! Noh handphone lu bunyi." Ucap Rozi.


Batra tak bergeming. Ia benar-benar tidak bersemangat dan sedang merasa patah hati.


"Gue angkat ye." Ucap Rozi.


Batra tetap tak bergeming.


Rozi beranjak dari duduknya dan menghampiri ponsel Batra yang sedang di cas di samping televisi.

__ADS_1


Rozi terpana saat melihat nama Siti tertera di layar ponsel Batra. Tanpa menunggu lama, ia pun mengangkat panggilan tersebut.


"Halo." Sapa Rozi.


"Halo Uda Batra, Uda boleh datang kerumah malam ini. Bawa keluarga Uda ya." Ucap Siti.


Rozi tersenyum senang. Lalu, ia melirik Nyak Tatik dan Batra yang masih berbaring di atas ranjang.


"Iya Siti." Ucap Rozi.


"Eh, iko bukan Uda Batra ko." Ucap Siti.


"Ya memang bukan." Ucap Rozi sambil tertawa.


Mendengar Rozi tertawa, Batra pun melirik Rozi yang terlihat bersemangat.


"Dari siapa?" Tanya Batra.


"Ada deh." Ucap Rozi.


"Jadi iko siapo?" Tanya Siti lagi.


"Iko Uda Rozi." Ucap Rozi sambil tersenyum jahil.


"Oh, Uda Rozi. Uda, cepat datang ke rumah yo Uda. Ayah dan Bundo sudah merestui Siti dan Batra...!" Ucap Siti.


"Oh sudah di restui. Ok, kami segera kesana." Ucap Rozi.


Mendengar kata "di restui" Batra pun meloncat dari atas ranjang.


"Siapa? Siti ya? Di restui?" Tanya Batra dengan antusias. Lalu, ia merebut ponselnya dari tangan Rozi. Rozi hanya bisa tersenyum melihat Adiknya yang kini sangat bersemangat.


"Halo Siti..! Kita di restui?" Tanya Batra.


"Iyo Uda, kesini lah cepat." Ucap Siti dengan suara yang penuh semangat.


"Alhamdulillah...! Yesssss...! " Batra meloncat-loncat kegirangan.


Nyak Tatik yang mendengar nya pun, ikut bahagia, hingga ia menangis haru. Ia tidak menyangka, secepat itu do'a-do'a nya di dengar Allah.


"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Alhamdulillah.. Ya Allah. Allah maha mendengar, Allah maha pemurah lagi maha penyayang." Ucap Nyak Tatik.

__ADS_1


__ADS_2