
Sebuah taksi berhenti di depan rumah Nyak Tatik. Nyak Tatik yang sedang menyiram tanaman pada sore hari ini melihat taksi tersebut. Tak lama kemudian Cempaka dan Rozi turun dari taksi tersebut.
"Eh, anak mantu Enyak....! Udeh pulang dari bulan madu!" Sambut Nyak Tatik dengan semringah.
"Nyak," Cempaka menghampiri Nyak Tatik dan mencium tangan mertuanya itu.
"Gimane lu Cem? senang lu bulan madu nye?" Tanya Nyak Tatik.
"Alhamdulillah." Sahut Cempaka dengan wajah yang berseri-seri.
Rozi masih menuruni koper dan beberapa kardus oleh-oleh yang ia beli di Bali.
Tiba-tiba saja, Rozi melihat Risa di boncengan Halomoan yang baru saja sampai di rumah Nyak Komariah. Sebagai seorang saudara sekandung, Rozi pun menghampiri Halomoan dan Risa.
"Sorry, lu pacaran sama Adek gue?" Tanya Rozi kepada Halomoan.
Halomoan yang tidak siap dengan pertanyaan dari Rozi, tampak gugup dan melirik Risa.
"Bu-bu-bukan Bang." Sahut Halomoan.
"Iya Ris? Kalian tidak berpacaran?" Tanya Rozi.
Nyak Tatik dan Cempaka hanya memandangi Rozi yang sedang berbicara dengan Halomoan dan Risa.
"Eh..! Rozi!" Panggil Nyak Komariah dari teras rumahnya.
"Urusan lu ape? mau anak gue pacaran kek sama si Moan, enggak kek! urusan lu ape?" Tanya Nyak Komariah.
Rozi menghela napasnya dan menatap Nyak Komariah.
"Nyak, gimane pun, si Risa Adek nye Rozi Nyak!" Ucap Rozi, kesal.
"Adek lu bilang? kagak die bukan Adek lu..! Gue gak anggap elu anak gue kok. Jadi jangan sok ikut campur menggurui anak gue. Anak gue anak baek-baek..! Gak kayak elu, Enyak lu ngajarin lu kaga bener, makanya lu zina mulu kerjaan lu..!"
"Astaghfirullah!" Ucap Rozi.
Cempaka yang mendengar ucapan Nyak Komariah pun merasa malu dan tersinggung. Nyak Tatik pun meradang.
"Eh, Komariah! anak gue begitu karena perhatian ame anak elu! Lu sombong amat jadi orang!" Ucap Nyak Tatik.
"Kagak perlu gue perhatian! Nyatanya anak gue baek-baek aje. Gak kayak anak lu yang pendosa ini..!"
Rozi menahan kesabarannya saat mendengar ucapan Ibu tirinya itu.
"Ya sudahlah, kalau memang tidak pacaran. Jangan dekat-dekat dengan Adik gue. Takut nya di fitnah, dan kalian di nikahkan seperti gue." Sindir Rozi sambil beranjak ke rumahnya dengan membawa kardus dan koper yang ia turunkan dari taksi.
Halomoan menghela napasnya. Ada benarnya, bila ia terlalu dekat dengan Risa, bisa jadi dia yang di tuduh telah menghamili gadis itu.
"Nyak apaan sih." Ucap Risa.
__ADS_1
"Lu lagi! mane motor elu! Kok bisa lu ama si Moan?" Tanya Nyak Komariah.
"Tadi Risa pingsan Nyak. Jadi dia gak bisa lah bawak motornya pulang." Ucap Halomoan.
Risa sempat melotot kepada Halomoan saat lelaki itu mengatakan bahwa dirinya pingsan.
"Hah? pingsan? lu kaga pernah pingsan, kok sekarang lu pingsan Ris? lu kaga sarapan tadi pagi?" Tanya Nyak Komariah dengan khawatir.
"Iya Nyak, lupa." Sahut Risa.
"Ada-ada aje lu ah! Sono masup, istirahat." Ucap Nyak Komariah.
"Moan, makasih ye, udeh bawa Risa pulang."
"Iya Nyak. Oh iya Nyak,"
"Ade ape?" Tanya Nyak Komariah.
"Si Agus betol-betol udah pindah?" Tanya Halomoan.
"Kok lu tau?" Tanya Nyak Komariah.
"Si Risa yang bilang sama aku Nyak." Ucapnya.
"Iye, kamarnye kosong. Terus kunci nye tinggal di dalem." Ucap Nyak Komariah.
"Malah nunggak lagi sebulan belom bayar." Sambungnya lagi.
"Aku harus menemui keberadaan Agus." Batinnya.
"Ya udeh, gue masup dulu ye." Ucap Nyak Komariah sambil beranjak kedalam rumahnya.
Halomoan masih terdiam. Ingin sekali ia mengatakan yang sebenarnya kepada Nyak Komariah. Tetapi, ia tahu, Risa tidak akan setuju bila ia mengatakannya kepada Nyak Komariah.
Lalu, Halomoan menatap rumah Nyak Tatik. Bagaimana pun, harus ada keluarga yang tahu, bila Risa sedang mengandung. Karena, Halomoan takut sekali bila Risa melakukan hal-hal yang tidak baik.
Halomoan melangkah menuju depan pagar Nyak Tatik. Tetapi, langkah kaki nya tertahan saat melihat Nyak Tatik keluar dengan wajah yang sangar.
"Omakjanggggg, ngeri Nyak-Nyak jaman now." Gumam Halomoan.
Lalu, ia kembali melangkah menuju rumah Nyak Komariah.
"Nape tuh bocah, kayak nye mau kesini. Tapi kok kagak jadi?" Gumam Nyak Tatik.
...
"Gimana? kamu senang? kamu bahagia?" Tanya Rozi sambil memeluk pinggang Cempaka yang sedang mengeluarkan pakaian dari koper.
Cempaka tersenyum dan menoleh ke Rozi.
__ADS_1
"Terima kasih ya A', saya teh bahagia pisan." Ucap Cempaka malu-malu.
"Alhamdulillah." Ucap Rozi sambil tersenyum bahagia.
"Oh iya, bagaimana kalau kita pindah ke rumah kita?" Tanya Rozi.
"Rumah? Rumah yang mana A'?" Tanya Cempaka.
"Loh, oh iya. Kamu belum tahu ya."
Rozi memutar tubuh istrinya hingga kini mereka berdiri saling berhadapan.
"Saya sudah punya rumah. Sementara ini rumah itu di kontrakan. Kalau kamu mau, kita bisa tempati rumah itu. Rumah saya kan rumah kamu juga. Karena kamu itu istri saya. Bagaimana? Dari pada tinggal sama Enyak. Rasanya kok seperti belum menikah." Terang Rozi.
Cempaka terdiam beberapa saat. Sebenarnya Cempaka senang bahwa ternyata Rozi sudah mapan dan sudah mempunyai rumah. Tetapi, satu sisi ia merasa kasihan bila harus meninggalkan Nyak Tatik dan sahabat-sahabatnya.
"Bagaimana?" Tanya Rozi.
"A', saya teh senang A'a mengajak saya pindah. Tapi......"
"Tapi apa Cem?"
"Saya teh kasihan sama Nyak. Nanti Nyak kecapek-an mengurus semuanya sendiri." Ucap Cempaka.
"Tapi kan Nyak sudah terbiasa dan ada dua Adik saya si Batra dan Anca, juga anak-anak kost Cem." Ucap Rozi.
Cempaka mulai memutar otak untuk memikirkan jawaban yang tidak akan membuat Rozi marah.
"Hmmm, A', bagaimana kalau setelah punya anak saja kita pindah nya A'?" Ucap Cempaka.
Rozi menatap Cempaka dengan seksama.
Jantung Cempaka mulai berdetak kencang. Ia takut sekali penolakannya itu membuat Rozi menjadi marah.
Tiba-tiba saja raut wajah Rozi terlihat bahagia.
"Kamu memangnya sudah siap hamil dalam waktu dekat?" Tanya Rozi.
Cempaka tersenyum malu dan mengangguk pelan.
"Ok lah kalau begitu!" Ucap Rozi sambil mengangkat tubuh istrinya dan menaruhnya di atas ranjang.
"Aku harap kamu hamil dan kita segera punya anak." Ucap Rozi.
Cempaka tersenyum canggung. Sebenarnya ia belum siap untuk hamil dan mempunyai anak dalam waktu dekat. Kuliah sambil menjadi Ibu rumah tangga sangatlah sulit dalam bayangan Cempaka yang baru akan berusia 20 tahun dalam beberapa bulan yang akan datang.
Tetapi, apa boleh buat. Ia memilih untuk "mengiyakan" Pertanyaan Rozi.
"Nanti teh lebih baik diam-diam saya KB saja, dari pada saya hamil." Batin Cempaka.
__ADS_1
Rozi mulai menc*mbu istrinya. Ia ingin sekali segera mempunyai anak dari rahim Cempaka. Rozi berniat dan sangat berharap bila setiap berhubungan dengan Cempaka, akan membuahkan hasil di bulan depan. Tanpa ia sadari, ternyata istrinya belum siap untuk menjadi seorang Ibu.