
"Gus, ikut saya ke kantor." Ucap Boss pemilik showroom mobil tempat Agus berkerja.
"Iya Boss." Sahut Agus. Lalu, ia bersiap-siap menyusul Boss nya ke rungan.
"Ini gaji kamu bulan ini."
Agus pun semringah saat menerima gaji nya. Tetapi, ia merasa amplop itu terasa lebih ringan dari biasanya.
Lalu, ia bergegas mengecek jumlah gajinya.
"Kok hanya segini Pak?" Tanya Agus.
"Maaf Gus, kamu sudah dua minggu tidak menjual apa pun. Jadi, kamu kena denda. Oh iya, besok kamu tidak usah bekerja. Karena, saya rasa saya akan menggantikan dengan sales girl yang lebih menarik." Ucap Boss Itu.
Agus menatap Boss nya dengan tak percaya.
"Tapi, saya butuh pekerjaan Boss." Ucap Agus.
"Tetapi, saya sudah tidak membutuhkan kamu Gus. Mohon pengertiannya." Ucap Boss itu.
Agus pun terdiam. Ia pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan Boss nya.
Dengan perasaan yang sedih, Agus pun mengambil tas nya dan pergi meninggalkan showroom mobil itu.
Saat tiba di Kost-kost-an nya, Agus kembali menghitung pendapatan nya bulan ini. Kini ia pengangguran, ia tidak mungkin bisa membayar kost-kost-an dan makan untuk dirinya sendiri.
Agus kembali menyesali, mengapa ia berhenti kuliah. Sehingga Papa nya lepas tangan dengan dirinya. Papanya kecewa saat Agus berhenti kuliah dan pergi ke Semarang.
Jutaan penyesalan mulai menyerang dirinya. Andaikan dulu ia menjadi anak yang baik, mungkin dia sudah kuliah dan dapat pekerjaan yang baik juga.
Agus menangis di tepi ranjangnya. Lalu, ia pun mengemasi barang-barang nya dan berniat kembali ke Jakarta dan tinggal bersama Papanya.
...
Risa tampak malu-malu saat Matt menjemputnya di cafe saat dirinya baru saja selesai bekerja.
Matt yang tampak bersemangat pun membukakan pintu mobilnya untuk Risa.
"Silahkan." Ucap Matt.
"Terima kasih." Sahut Risa.
"Maaf, saya belum mandi dan baru saja habis bekerja." Ucap Risa.
Matt tersenyum dan menatap Risa yang duduk di sampingnya.
"No problem." Ucap Matt sambil mulai menjalankan mobilnya.
Teman-teman Risa, Butet, Siti dan Sri menatap kepergian Risa yang di jemput oleh mobil mewah. Mereka pun berdecak kagum saat melihat mobil dan sosok Matt yang begitu menggoda iman para gadis-gadis.
"Dapat kakap si Risa ya wee." Ucap Butet.
"Mantap kan?" Tanya Siti yang merasa bangga Adik iparnya mulai move on dan mendapatkan lelaki yang kaya raya dan tampan.
"Semoga aja lelaki itu baik dan mau menerima Arkha. Aamiin." Ucap Sri sambil mengadahkan kedua tangannya seperti orang yang sedang berdo'a.
"Aamiin." Sahut Butet dan Siti.
__ADS_1
"Tapi kok jadi iri aku ya." Ucap Butet.
"Manga kau iri?" Tanya Siti.
"Iri aja aku, mantap aja dapat yang udah kaya. Kalok aku kan berjuang dari bawah sama si Moan. Udah kek gitu, banyak kali tingkah si Moan itu." Ucap Butet.
"Bersyukur kamu Tet, setidaknya Moan itu orang baik dan setia." Timpal Siti.
"Dari mana kau tau dia baek?" Tanya Butet.
"Kalau dia gak baik, gak mungkin dia memperkerjakan kami semua. Bantu kami nan jauah dari orang tua. Samo kami aja dia baik Tet, apa lagi samo waang.." Ucap Siti.
Halomoan pun keluar dari dalam cafe dan bergegas mengunci cafe itu. Setelah nya, ia pun menghampiri Butet, Sri dan Siti.
"Hay ladies, ayok kita pulang. Biar bang Moan yang mengantarkan klean." Ucap Halomoan.
"Kan, dia baik Tet." Ucap Sri dengan polos nya.
"Memangnya si Butet bilang apa?" Tanya Halomoan dengan menyelidik.
"Dia bilang Bang Moan banyak tingkah." Celetuk Siti.
Butet pun melotot kepada Siti. Sedangkan Sri tertawa geli.
"Jan sampek kami perang dunia gara-gara kelen ya..!" Ucap Butet.
"Kok kek gitu cakap mu Tet." Tanya Halomoan.
"Gadak aku cakap kek gitu." Ucap Butet sambil bersungut-sungut.
"Bohong kamu Tet." Celetuk Sri.
"Mau Bang...!" Ucap Sri dan Siti.
"Mentang-mentang lakik ku baek, kelen manfaatin ya..!" Ucap Butet.
"Kan Bang Moan yang ajak toh Tet.." Ucap Sri.
Butet diam saja sambil melirik kedua teman nya dengan kesal.
"Nasik goreng kambeng mau kelen?" Tanya Halomoan lagi.
"Mauuuuuuu..!" Seru Siti dan Sri dengan semringah.
"Ayok lah kita makan, biar gak mati." Ucap Halomoan.
Siti dan Sri pun tertawa mendengar ucapan Halomoan yang kocak dan mereka berempat pun pergi untuk makan malam.
..
"Kita makan malam?" Tanya Matt.
"Boleh." Sahut Risa sambil mengangguk.
Matt melirik Risa yang masih memakai seragam kerja. Lalu, ia tersenyum dan kembali memperhatikan jalanan di depannya.
"Kamu sudah lama kerja di sana?" Tanya Matt.
__ADS_1
"Belum ada satu tahun." Ucap Risa.
"Owh...."
Mereka pun tiba disalah satu cafe mewah yang buka selama 24 jam. Risa pun terperangah dan menatap Matt dengan tak percaya.
"Saya pakai baju begini, saya malu." Ucap Risa.
"Saya tidak." Sahut Matt sambil tersenyum.
"Tapiiii.. saya malu." Ucap Risa lagi.
Matt menghela napas dan menatap Risa yang memang benar-benar tidak mau dan tak nyaman bila harus makan di restoran itu.
"Ok, sekarang kamu pilih mau makan dimana. Saya menuruti kamu." Ucap Matt.
Risa menatap mata biru lelaki itu dengan mata yang berbinar.
"Sungguh?" Tanya Risa.
Matt tersenyum manis, lalu mengangguk.
Mereka pun pergi dari restoran mewah itu dan makan di warung tenda di pinggir jalan.
Matt tampak tidak keberatan. Ia tetap meras enjoy dengan tempat makan pilihan Risa.
"Tidak apa-apa kan?" Tanya Risa.
Matt tersenyum dan mengangkat kedua jempolnya.
Merek pun memesan nasi dan lele penyet. Matt yang sudah biasa makan masakan Indonesia pun merasa tidak masalah.
Lelaki itu duduk di depan Risa yang wajahnya tampak lelah. Bagaimana tidak lelah. Terkadang Risa hanya tidur selama tiga jam dalam sehari.
Risa bangun Subuh. Setelah sholat Subuh, ia mengurus Arkha. Setelah jam tujuh pagi, ia pun berangkat kuliah. Baru saja selesai kuliah, Risa ke cafe Halomoan untuk bekerja dan pulang setelah jam sebelas malam.
"Are you ok?" Tanya Matt saat melihat lingkar hitam di bawah mata Risa.
"Iya. Aku baik-baik saja." Ucap Risa sambil memperhatikan jam di tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
"Seseorang menunggu mu? your husband?" Tanya Matt.
"Oh, bukan. Bila saya punya Husband, saya tidak mungkin jalan dengan mu." Ucap Risa.
Matt mengangguk dan menatap Risa begitu dalam.
"Ceritakan aku tentang mu." Pinta Matt.
Risa menggigit bibirnya dan menatap Matt dengan seksama.
Matt tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tidak masalah seperti apa kamu. Saya akan mendengar ceritamu." Ucap Matt.
Risa tersenyum dan ia pun mulai berceritakan tentang dirinya kepada Matt. Mereka pun saling bertukar cerita. Tentang Matt, Negara Matt, pekerjaan mereka dan tentang Indonesia yang begitu banyak ragam dan Budaya.
Matt pun terpana saat berbicara dengan Risa. Selain cantik, Risa adalah wanita yang cerdas menurut nya. Risa juga wanita yang sangat asik di ajak berbicara. Matt pun semakin menyukai Risa. Hingga benih-benih cinta pun muncul di hati Matt.
__ADS_1
Matt tidak perduli dengan masa lalu Risa. Juga tentang adanya Arkha di hidup Risa. Bagi Matt, pertemuan dengan Risa adalah anugerah bagi dirinya yang merasa kesepian di Negara yang asing baginya.