
Tok...! Tok..! Tok..!
Terdengar bunyi ketukan dari depan rumah Nyak Komariah. Nyak Komariah yang sedang menggendong Arkha bergegas untuk membukakan pintu untuk tamunya tersebut.
"Iyeeee bentar..!" Ucap Nyak Komariah sambil berjalan menuju pintu depan.
"Assalamualaikum." Sapa Agus, saat Nyak Komariah baru saja membuka pintu rumahnya.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, kehadiran Agus membuat Nyak Komariah terkejut.
"A-Agus..!" Seru Nyak Komariah.
Mendengar nama Agus di sebut, Rita dan Risa pun keluar dari kamar mereka. Risa langsung berlari ke pintu depan dan langsung merebut Arkha dari gendongan Nyak Komariah yang tampak gemetar.
"Ngapain Abang kesini?" Tanya Risa.
Nyak Komariah menatap Risa yang tampak tidak terkejut saat melihat kehadiran Agus.
"Ris, Abang mau minta maaf sama Risa, Arkha dan Nyak." Ucap Agus.
"Maaf? Kami sudah memaafkan Abang dari dulu. Sekarang, pergilah." Ucap Risa.
"Ris, izinkan Abang berbicara sebentar saja." Ucap Agus.
"Bang, lupain semuanya. Kami sudah memaafkan. Tetapi, jangan ganggu Risa dan Arkha lagi. Sekarang pergilah." Ucap Risa.
"Eh Agus..! Kemane aje lu selama ini? Kenape lu baru muncul? Lu kaga tau diri..! Lu emang raja tega lu Gus..! Lu udeh gue anggap anak, tapi lu rusak anak gue..! Lu tinggalin..! Sekarang lu dateng minta maaf? Kebangetan lu Gus..! Anak gue menderita gara-gara elu..! Dasar binatang lu Gus..! Kagak punya hati nurani..!" Hardik Nyak Komariah.
Ribut-ribut di rumah Nyak Komariah tentu saja mengundang perhatian para tetangga yang mendengar. Tak terkecuali Nyak Tatik dan keluarga.
"Itu siape?" Tanya Nyak Tatik saat melihat Agus dari belakang.
Rozi dan Batra memperhatikan lelaki yang berdiri di depan pintu rumah Nyak Komariah. Tampak Nyak Komariah begitu marah kepada laki-laki itu.
"Bang, itu kan Agus..!" Ucap Batra.
Rozi pun meradang. Ia keluar bersama Batra dan berjalan menuju rumah Nyak Komariah.
Cempaka, Nyak Tatik Siti dan Butet pun ikut keluar. Mereka langsung menyusul Rozi, dan mencoba untuk menenangkan Rozi dan Batra.
Rozi menarik bahu Agus dari belakang, lalu ia langsung melayangkan tinju nya di wajah Agus.
Bugggggg...! Bugggggg..!
Buggggggg..!
Di susul oleh Batra yang juga melayangkan tinjunya di perut Agus.
"Bajingan lu ye...! Berani lu kemari..!" Ucap Rozi yang tampak sangat emosi.
Anca, anak bungsu Nyak Tatik pun menyusul dan melayangkan kepalan tangannya ke wajah Agus.
"Bugggggg..!
Darah segar keluar dari lubang hidung Agus.
Agus diam saja menahan rasa sakit di wajahnya.
"Ngapain lu kesini..!" Tanya Anca.
Nyak Komariah terlihat puas, sedangkan Risa terlihat tidak tega. Tetapi, ia todak bisa mencegah saudara lelaki nya yang sedang mengamuk.
__ADS_1
Cempaka, butet, Siti dan Nyak Tatik berteriak-teriak menyuruh Rozi, Batra dan Anca untuk berhenti memukuli Agus.
"Jawab..! Ngapain lu kesini..!" Teriak Rozi sambil melayangkan tinju nya lagi.
Buggggg..!
Kini bibir Agus terlihat pecah dan darah segar pun muncrat dari bibirnya yang sobek.
"Rozi..!" Teriak Nyak Tatik.
Nyak Tatik berdiri di depan Agus. Ia melindungi Agus dengan tubuh nya yang sudah menua.
"Nyak gak pernah mengajarkan kalian menghakimi orang lain sampai seperti ini..!"
Rozi, Batra dan Anca pun terdiam.
"Dia memang bersalah, tetapi beri dia kesempatan untuk mengucapkan apa yang ingin dia sampaikan. Kekerasan bukan solusi..!" Ucap Nyak Tatik dengan lantang.
"Dia sudah cukup menderita dengan penyesalan nya. Untuk datang kesini, dia pasti mengumpulkan keberaniannya. Dengarkan dia dulu. Jangan hakimi dia dengan seperti ini." Sambung Nyak Tatik.
Rozi dan Adik-Adiknya pun tertunduk malu.
"Lu kagak apa-apa kan?" Tanya Nyak Tatik kepada Agus.
Agus mengusap darah yang mengalir di hidung dan dagunya, lalu ia mengangguk dengan perlahan.
"Kom, kasih dia kesempatan untuk bicara. Setidaknya kita tahu apa alasan dia pergi dari tanggung jawabnya." Ucap Nyak Tatik.
Nyak Komariah pun tertunduk malu, ia mengangguk dan mengizinkan Agus untuk masuk kedalam rumah nya.
"Cem, lu ambil kotak obat di kamar Enyak."
Cempaka kembali dengan membawa kotak obat. Lalu, Nyak Tatik mencoba mengobati luka-luka di wajah Agus.
Agus tertunduk malu. Ia benar-benar merasa malu. Dikala semua orang menganggap dirinya penjahat, masih ada satu orang yang begitu baik menerima dan memberikan pembelaan untuk dirinya.
Setelah lukanya di obati, dan di berikan minum. Agus pun beranjak dari duduknya dan ia pun keluar untuk memungut kantong-kantong hadiah yang berserakan di atas lantai teras. Yang ia bawa untuk Arkha.
Lalu, Agus kembali masuk kedalam rumah Nyak Komariah dan ia pun berjalan menghampiri Arkha yang berada di dalam dekapan Risa.
"Halo anak Papa. Ini Papa bawakan hadiah untukmu." Ucap Agus, lalu ia bertekuk lutut dan menangis tersedu-sedu.
Risa dan semua yang berada di sana menahan tangis haru mereka setelah melihat pertemuan pertama antara Ayah dan anak tersebut.
"Pa, pa, pa." Ucap Arkha.
Agus mendongakkan kepalanya dan menatap Arkha yang tersenyum kepadanya.
"Pa, pa, pa." Ucap Arkha sekali lagi.
Tangis Agus semakin kencang. Ia langsung meraih Arkha dari dekapan Risa.
"Astaghfirullah, Astaghfirullah al adzim." Ucap nya penuh penyesalan.
"Maafkan Papa nak.. Maafkan Papa." Ucapnya penuh dengan penyesalan.
Risa tak tahan lagi, ia langsung mengambil Arkha dari pelukan Agus.
"Abang mau ngapain kesini?" Tanya Risa.
"Abang minta maaf Ris, Abang juga minta maaf sama keluarga disini semuanya." Ucap Agus di sela tangisannya.
__ADS_1
"Kami sudah memaafkan, sekarang pergilah." Ucap Risa.
"Ris, berikan Abang kesempatan untuk memperbaiki ini semua." Ucap Agus.
"Risa akan segera menikah." Ucap Rozi.
Agus terdiam, lalu ia menatap Risa yang berdiri di hadapan nya.
"Benarkah? Kamu mau menikah Ris? Sama siapa?" Tanya Agus.
"Sama lelaki yang memperjuangkan aku. Lelaki yang menghargai aku. Lelaki yang menerima kekurangan dan kelebihan ku. Lelaki yang mau menerima Arkha sebagai bagian dari hidupnya."
Deggggggg..!
Ucapan Risa benar-benar menusuk jantung Agus.
" Ris, Abang minta maaf." Ucap Agus sambil bersujud di kaki Risa.
Risa pun melangkah ke belakang, ia menghindari Agus yang menyentuh kakinya.
"Seperti yang Risa bilang Bang, kami sudah memaafkan. Tetapi, untuk memperbaiki ini semua, itu sudah terlambat. Sekarang pulanglah, lupakan semuanya." Ucap Risa.
"Ris..."
"Sudah, Risa gak mau ada kata-kata lagi. Risa akan menikah dan jangan ganggu hidup Risa lagi." Ucap Risa.
Risa pun beranjak masuk kedalam kamarnya dengan Arkha.
Agus menangis tersedu-sedu di atas lantai. Ia menyesali semua kelakuannya dan sikapnya selama ini.
"Gus, gimana pun, Arkha anak lu. Lu cukup bertanggung jawab atas Arkha. Tapi, kalau lu berharap Risa kembali, itu tidak mungkin Gus, udah telat." Ucap Nyak Tatik.
Agus terus menangis penuh dengan penyesalan. Lalu, ia beranjak mendekati Nyak Komariah.
"Nyak, Agus minta maaf. Agus menyesal." Ucap Agus sambil bersujud di bawah kaki Nyak Komariah.
Nyak Komariah hanya diam membisu.
"Udeh, lu apaan sih." Ucap Nyak Tatik sambil membantu Agus untuk kembali berdiri.
Agus meminta maaf kepada semua orang disana. Lalu, ia pun bergegas pulang dengan perasaan kecewa.
"Gus...!" Panggil Nyak Komariah saat Agus sudah berada di depan pagar rumahnya.
Agus menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Ibu Kost terbaik yang pernah ia jumpai.
Nyak Komariah berlari menghampiri Agus.
"Ya Nyak?"
Agus kembali merasa ada harapan bagi dirinya.
"Lu masih hutang uang Kost satu bulan, mane? lu bayar sekarang. Masuk neraka lu, kalo kagak bayar, gue kaga ikhlas." Ucap Nyak Komariah.
"Et dah..!" Ucap Nyak Tatik sambil menepuk dahinya.
Agus tersenyum canggung, lalu ia mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan uang satu juta rupiah kepada Nyak Komariah.
"Utang lu lunas ye. Inget kalo lu lakik, dan lu nyesel lu biayai anak lu. Malu lu ama Rozi. Ratusan juta uang die cuma buat nanggung kelakuan lu doang! Nanggung anak lu ampe segede ini. Lu, telat punya otak jadi lu sadarnye telat dah." Ucap Nyak Komariah sambil berlalu dari hadapan Agus.
Agus mengangguk dan melangkah dengan gontai meninggalkan rumah Nyak Komariah.
__ADS_1