Kost Putri

Kost Putri
73# Ambu, tolong..


__ADS_3

Dringggggg...! Dringgggg..!


Tepat pukul dua belas malam, telepon di rumah Ambu berbunyi. Karena telepon itu terus berdering tidak ada yang mengangkat, akhirnya Sri keluar dari dalam kamar Cempaka. Sri memperhatikan sekitarnya dan melihat lampu ruang tengah sudah dimatikan.


"Opo tak angkat wae yo?" Gumam Sri.


Telepon itu terus berdering seakan-akan ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan oleh orang yang menghubungi nomor telepon rumah itu.


Dengan ragu, akhirnya Sri memberanikan diri untuk mengangkat telepon itu.


"Halo, Assalamualaikum." Sapa seorang wanita di ujung sana.


"Waalaikumsalam." Sahut Sri dengan suara yang tercekat.


Sri takut di kira lancang karena berani mengangkat panggilan telepon yang pasti di tujukan untuk sang pemilik rumah.


"Ini teh siapa? Ini teh bukan suara Ambu."


"Cempaka?" Gumam Sri.


"Waduh.....! bagaimana iki yo." Batin Sri.


"Halo..?" Panggil Cempaka.


Sri buru-buru menaruh gagang telepon itu dan bergegas ke kamar Dewa.


Tok! Tok! Tok!


Karena tidak ada jawaban, Sri pun panik. Lalu, ia membuka kamar dewa dan membangunkan Dewa.


"Mas...! Bangun. Ada Cempaka..! aku kudu piye Mas?" Ucap Sri sambil mengguncang-guncang tubuh Dewa.


"Hmmmm sayang..," Ucap Dewa yang masih mengigau, sambil memeluk tubuh Sri.


"Allahu Akbar..! Mas lepas Mas..!"


Sri berusaha berontak dan melepaskan diri dari pelukan Dewa. Tetapi, apa daya, meskipun Dewa sedang tertidur, tetapi tangan kekarnya terus mengunci tubuh Sri yang mungil.


"Mbooookkk tolong aku..." Gumam Sri sambil terus meronta.


"Saya sayang banget sama kamu Sri." Ucap Dewa yang masih terpejam dan mengigau.


"Mas, nanti ada yang lihat. Mas, lepasssss...!"


"Astaghfirullah..! Dewa...! Sri...!"


Sri terkejut saat melihat Ambu yang sedang menggunakan mukena dan berdiri di ambang pintu kamar Dewa.


"Ambu, tolong.." Ucap Sri sambil mengulurkan tangannya.


"Dewa...! hudang!" Seru Ambu. (Red-Hudang-bangun)


"Hmmmm..." Dewa yang masih mengigau mengunci tubuh Sri dengan kakinya.


"Ambuuuuuu...!" Sri mulai merasa takut.


"Dewaaaaa....!" Seru Ambu sambil menjewer telinga dewa dengan kencang.

__ADS_1


"Aduhhhhh...nyeuri..!" (Red-nyeuri-sakit) Jerit Dewa, lalu ia membuka kedua matanya dan menatap Ambu yang sedang melotot kepadanya. Lalu, sejurus kemudian ia menatap Sri yang juga menatap dirinya di dalam pelukannya.


"Astaghfirullah..!" Seru Dewa sambil melepaskan lingkar tangan dan kaki nya dari tubuh Sri.


"Ma-maaf." Ucap Dewa sambil beranjak duduk di atas ranjangnya.


Pipi Sri merona merah. Sri langsung berdiri di samping Ambu dan menundukkan Wajahnya.


"Nak Sri, kamu kok ada di kamar Dewa atuh?" Tanya Ambu.


"Sa-sa-saya, ma-ma-mau mem-bangun-kan Ma-Mas De-Dewa Ambu." Jelas Sri dengan terbata-bata.


Ambu menghela napasnya.


"Kenapa atuh kamu bangunkan Dewa jam segini?" Tanya Ambu.


"Ta-ta-tadi ada telepon Ambu, ka-karena tidak ada yang me-mengangkat, ma-makanya saya yang angkat."


"Terus? kenapa ke kamar dewa?" Tanya Ambu.


"Maaf Ambu, sa-saya panik karena yang telepon itu Cempaka. Sa-sa-saya takut dan berniat membangunkan Mas Dewa."


"Saya takut Cempaka berpikiran macam-macam." Sambung Sri.


"Kamu teh bisa bangunkan Ambu atuh Sri." Ucap Ambu.


"Saya takut mengganggu Ambu." Ucap Sri.


"Anjeun naha peluk-peluk Sri..!" Tanya Ambu. (Red-Kamu kenapa peluk-peluk Sri)


"Abdi teh gak tahu Ambu." (Red-Abdi-saya) Ucap Dewa.


"Sri, kembali ke kamar." Ucap Ambu.


Sri yang sedang menundukkan kepalanya, mengangguk dan berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Ambu beranjak ke ruang tengah.


Ambu melihat gagang telepon yang terletak di meja. Lalu, ia mengangkatnya dan mencoba mendengarkan suara dari ujung sana.


"Halo," Sapa Ambu.


"Ambu? Tadi teh siapa yang angkat telepon?" Tanya Cempaka yang terdengar panik dan khawatir.


"Berarti teh si Sri jujur." Batin Ambu.


"Ah, itu teh Sri."


"Sri? Sri saha?" (Red- saha- siapa) Tanya Cempaka.


"Sri, teman kost kamu atuh Neng." Ucap Ambu.


"Hah..! Kok ada di sana?" Tanya Cempaka.


"Dia teh menginap, dia teh datang sama A'a kamu Neng." Ucap Ambu.


"Hahhhh..!"


"A'a sama Sri teh pacaran?" Tanya Cempaka.

__ADS_1


"Sudah lama atuh. Masa kamu tidak tahu?" Tanya Ambu.


Cempaka terdiam, selama ini ia tidak tahu bila Sri dan Dewa memiliki hubungan. Selama ini juga Sri tidak pernah bercerita kepada Cempaka. Bila Sri pergi saat malam minggu, Dewa juga tidak pernah menjemputnya di Kost-kost-an. Mereka berdua selalu bertemu di luar. Dan saat Dewa mengantar Sri ke kost-kost-an, Cempaka tidak pernah melihat siapa yang mengantar sahabatnya itu pulang.


"Bangor kamu teh Sri." (Red- Bangor-nakal) Batin Cempaka.


"Aya naon atuh Neng? kok kamu teh telepon malam-malam begini." Tanya Ambu.


"Ng...Neng teh minta maaf sama Ambu, sudah mengganggu malam-malam. Tapi, Neng teh gak sabar atuh Ambu, kepengen langsung bilang ke Ambu saja."


"Neng teh mau bilang apa?"


"Neng teh hamil Ambu." Ucap Cempaka.


"Alhamdulillah....!" Seru Ambu.


Ambu langsung menangis bahagia saat mendengar kabar kehamilan Cempaka.


"Neng, sehat-sehat disana nya', jaga baik-baik calon bayi nya." Ucap Ambu.


"Iya Ambu, salam untuk Abah." Ucap Cempaka.


"Iya, ya sudah kamu istirahat Neng,"


"Iya Ambu, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


...


Sejak pagi, Nyak Tatik sudah berada di rumah Nyam Komariah. Nyak Tatik mengantarkan lauk pauk yang sudah ia masak sejak selepas Subuh tadi.


Beberapa tetangga yang melihat Nyak Tatik masuk kedalam rumah Nyak Komariah pun, merasa bingung. Tentu saja hal itu langsung menjadi bahan ghibah bagi para tetangga yang paham betul tentang perselisihan antara Nyak Tatik dan Nyak Komariah. Mereka merasa heran karena pagi ini tidak ada lagi pertikaian setelah semalam dua keluarga itu berseteru hebat.


"Kom," Panggil Nyak Tatik.


"Tik." Sahut Nyak Komariah yang terbaring lemah, tak ada semangat.


"Lu baek-baek aje kan? Tuh gue bawa lauk pauk buat elu sarapan."


Nyak Komariah menatap Nyak Tatik dengan tatapan haru nya.


"Ya Allah, banyak dosa gue ame elu Tik. Tapi elu baek bener ame gue." Ucap Nyak Komariah.


"Udeh, kagak usah di ungkit-ungkit lagi dah. Sekarang lu makan, ape mau gue suapin?" Tanya Nyak Tatik.


"Gue sendiri aje Tik."


"Ya udeh buru dah."


"Si Rozi mane?" Tanya Nyak Komariah saat dirinya dan Nyak Tatik berjalan menuju ruang makan.


"Dari pagi udeh berangkat ame si Moan ke kampus. Si Rozi ambil cuti die. Moga-moga aje tuh bocah laknat cepet ketangkep."


"Aamiin." Sahut Nyak Komariah.


Nyak Komariah sarapan di temani oleh Nyak Tatik. Nyak Komariah selalu mencuri pandang, menatap wajah madunya itu.

__ADS_1


"Gue malu, gue udeh jahat ame orang baek." Batin Nyak Komariah.


__ADS_2