
"Indah yo lampion ne yo Mas." Ucap Sri yang sedang berwisata di salah satu wisata malam di Yogyakarta.
"Iya, seindah mata kamu Sri." Ucap Dewa.
Sri tersenyum malu. Lalu ia menatap dewa dengan yang berjalan di sampingnya.
"Disini romantis yo Mas, walaupun aku orang Yogyakarta asli, tetapi aku belum pernah kesini." Ucap Sri sambil mengulum senyumnya.
"Iya romantis." Ucap Dewa sambil melirik Sri.
"Sri,"
"Ya Mas,"
"Kamu yakin sama aku? Kamu yakin hidup dengan ku nanti?" Tanya Dewa.
Sri menghentikan langkah kakinya dan menatap Dewa dengan seksama.
"Kok Mas Dewa bertanya seperti itu?" Tanya Sri.
"Ya, bertanya saja. Takutnya kamu kurang yakin. Dan mulai hambar mungkin, rasa cinta nya sama aku."
"Ngawur kamu Mas," Ucap Sri sambil kembali berjalan sambil melihat-lihat lampion yang indah.
"Kan barangkali." Seloroh Dewa.
"Mas nya yakin gak sama aku? Justru yang menjadi pertanyaan Mas nya toh, kalo aku orang nya setia Mas." Ucap Sri.
Dewa menghentikan langkahnya tepat di depan lampion berbentuk hati yang besar sekali. Dewa menatap Sri dengan sorot mata yang begitu memuja gadis itu.
"Sri, aku yakin kamu gadis yang tepat untuk ku. Kalau tidak ngapain kita bertunangan." Ucap Dewa.
Sri tersenyum geli dan mencubit lengan Dewa.
"Lah iya, kalau begitu kenapa toh, Mas masih bertanya. Jawaban ku yo sama. Kalau aku ndak serius sama kamu Mas, yo aku gak gelem tunangan sama kamu." Ucap Sri.
Dewa tersenyum dan menatap kedua mata Sri dengan begitu dalam. Tentu saja Sri menjadi grogi dan salah tingkah.
Sekilas, Dewa melirik Arlojinya. Lalu, ia menatap langit yang cerah pada malam itu.
"Lihat deh, itu bintangnya bagus banget." Ucap Dewa sambil menunjuk salah satu bintang yang bersinar terang.
"Mana?" Tanya Sri sambil mendongakkan kepalanya dan menatap bintang di angkasa.
Saat itu juga, sebuah kalung dengan liontin berbentuk bintang terjuntai dari tangan Dewa, yang Dewa angkat setinggi-tingginya di depan Sri.
Sri terkejut saat melihat kalung emas dengan liontin bintang yang bertahta batu kristal yang berkilauan itu. Dengan cepat ia menatap Dewa dengan tak percaya.
"Mas?"
"Happy birthday sayang." Ucap Dewa sambil mengalungi benda itu di leher Sri.
Sri menahan air mata harunya. Ia benar-benar merasa tersanjung dengan perlakuan Dewa kepadanya.
__ADS_1
Setelah selesai mengaitkan kalung itu di leher Sri, Dewa menatap gadis pujaan hatinya itu sambil tersenyum memamerkan lesung pipinya yang terukir jelas di pipinya.
"Mas, ulang tahun ku kan besok." Ucap Sri.
"Iya, sekarang kan sudah jam dua belas malam. Sudah lebih lima menit malah." Ucap Dewa.
"Hah..!" Seru Sri.
"Mas, ayo pulang..! Nanti Bapak marah..!" Seru Sri.
"Tapi.... kita kan lagi romantis-romantisan Sri....."
"Yo wes, pokok ne tunda dulu romantis ne. Lanjut besok yo Mas. Aduh, gak kroso kok yo wes jam rolas sih." ( Red- Rolas- dua belas) Ucap Sri.
"Hhhhhh... ya udah deh." Ucap Dewa sambil mengikuti langkah kaki Sri yang sangat terburu-buru.
..
Agus terdiam di tepi ranjangnya. Sebatang rokok terselip di antara jari manis dan jari tengahnya. Sebotol minuman keras berada di genggaman tangan kirinya. Sesekali ia meneguk minuman itu dan menghisap rokoknya dengan perlahan.
Tadi siang, ia tidak sengaja bertemu dengan Bambang yang sedang manggung di Kota Semarang, tempat dirinya hidup saat ini.
Bambang yang melihat Agus, langsung dapat mengenali Agus. Beruntung, saat itu Rita tidak sedang ikut dengan Bambang.
Rita sudah lebih dahulu pulang, karena kita harus segera mengurus keperluan kuliahnya. Jadi, Rita dan Bambang berpisah di Kuningan beberapa hari yang lalu.
"Gus..!" Panggil Bambang, saat melihat Agus melintas di depannya, di sebuah restoran.
"Wei, ketemu disini kita." Ucap Bambang sambil menepuk pundak Agus.
"Eh, Bang, kok ketemu kita bisa disini." Ucap Agus yang terlihat gugup dan takut bila Bambang akan marah kepadanya seperti Halomoan yang marah kepadanya.
"Gue manggung disini nanti malam. Lu datang ya. Gue kasih tiket deh." Ucap Bambang dengan bersemangat.
Agus hanya tersenyum menatap Bambang dengan lekat.
"Apa kabar lu Bro?" Tanya Bambang.
"Baik." Sahut Agus.
"Lama gak ngobrol-ngobrol kita. Kuliah lu gimana? Anak-anak sudah mau wisuda nih bulan depan." Ucap Bambang.
Agus tampak bersedih. Ia terpaksa putus kuliah karena ia lari dari tanggung jawabnya atas Risa. Ia takut bila tetap berangkat kuliah, ia akan terus di teror oleh Halomoan dan keluarga Risa.
"Oh, selamat ya." Ucap Agus.
"Kerja lu Bro? Atau kuliah di tempat lain?" Tanya Bambang.
Agus hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Gue kerja. Yah, cuma jadi sales mobil Bro." Ucap Agus.
"Oh begitu." Bambang mengangguk paham.
__ADS_1
"Oh iya, gimana kabar si Halomoan?" Tanya Agus.
"Baik, masih Kost di tempat Nyak Komariah kok dia. Sekarang malah lagi merintis usaha cafe dan Gerai ponsel." Ucap Bambang.
"Semua anak Kost di pekerjakan sama dia. Lumayan sukses sih itu anak. Salut gue, dia bantu orang-orang yang kayak kita-kita anak kost yang butuh pemasukan lebih." Sambung Bambang lagi.
"Oh, iya, Si Risa juga kerja sama si Moan." Ucap Bambang.
Agus terdiam membisu, saat Bambang menyinggung tentang Risa.
"Gak kepengen lu Bro, liat anak lu?" Tanya Bambang.
Agus terbelalak dan menatap Bambang dengan tak percaya.
"Maksud lu?" Tanya Agus.
"Anak lu si Arkha. Sekarang usianya sudah sepuluh bulan. Kalau gak salah." Ucap Bambang.
Agus tertawa kecil.
"Ya gak mungkin lah itu anak gue Bang, masa udeh sepuluh bulan aje." Ucap Agus.
"Apa yang gak mungkin, muka nya mirip elu Gus. Mirip banget kaga buang." Ucap Bambang.
"Ah, ngawur lu Bang. Kalau memang itu anak gue. Usianya pasti di bawah sepuluh bulan." Ucap Agus.
"Risa stress dulu. Jadi anak nya lahir prematur. Kasian gue liat Risa. Di bully banyak orang di lingkungan rumah sama di kampusnya."
Agus kembali terdiam mendengar ucapan Bambang.
"Lu mau liat si Arkha? Nih gue ada fotonya." Ucap Bambang sambil mengeluarkan ponselnya.
Lalu, Bambang membuka galeri fotonya dan menyerahkan ponselnya kepada Agus.
Bambang sangat menyukai anak kecil. Maka, ia suka sekali memfoto Arkha yang juga calon keponakannya itu.
Agus menatap layar ponsel milik Bambang. Terlihat foto seorang anak laki-laki yang tampan, dengan senyuman yang sangat manis. Mata yang bulat, juga terlihat sangat sehat dan cerdas.
"Ganteng kan?" Ucap Bambang.
Hati Agus bergetar saat menatap senyuman bayi kecil itu.
"Serius lu si Risa lahiran prematur?" Tanya Agus.
"Ya serius, gue kan calon ipar nya si Risa. Bentar lagi gue mau lamar si Rita." Ucap Bambang.
"Eh, kapan lu jadian sama si Rita?" Tanya Agus.
"Ya gak lama sebelum kita KKN dulu. Cuma gue diam-diam aja." Ucap Bambang.
Agus sekali lagi menatap foto Arkha. Ia tidak dapat mengelak lagi. Bahkan, ia pun mengakui, bila Arkha sangat persis dengan foto dirinya yang masih bayi waktu sebaya dengan Arkha saat ini.
Memang Tuhan maha Adil, di saat seseorang meragukan. Disitulah Tuhan menunjukkan kebenaran. Tuhan ciptakan wajah Arkha, mirip sekali dengan Agus. Agar Agus tidak bisa memungkiri bahwa Arkha adalah darah dagingnya.
__ADS_1