
Malam ini, Butet sengaja berdiri di ujung komplek sambil duduk-duduk di bawah pohon. Ia sengaja duduk disana hanya demi menunggu Halomoan yang sejak kemarin tidak terlihat. Butet ingin sekali bertemu dengan Halomoan. Hingga akal sehatnya tidak bekerja lagi. Butet terlihat gelisah sambil celingukan menatap pintu masuk komplek itu.
Batra yang baru saja pulang dari rumah temannya melihat Butet yang sedang duduk sendirian. Lalu, ia menghentikan mobilnya di depan Butet.
"Tet!"
Butet menatap Batra yang membuka jendela mobilnya.
"Ngapain disitu?"
Butet berdiri dan menghampiri Batra.
"Eh, Bang Batra. Butet dudok-dudok aja nya." Ucap Butet.
"Seperti lagi nunggu seseorang Tet,"
"Gak kok Bang," Sahut Butet yang terlihat salah tingkah.
"Pulang yuk," Ajak Batra.
Butet kembali celingukan. Sudah 2 jam lebih ia duduk di sana. Tetapi, Halomoan tidak kunjung terlihat.
"Nunggu siapa sih?" Tanya Batra lagi.
"Gadak, gak jadi pon. Ya udahlah, aku numpang ya Bang." Ucap Butet sambil membuka pintu mobil Batra.
Dengan senang hati, Batra yang memang sangat menyukai Butet pun, mengangguk dan mempersilahkan gadis itu untuk menumpang di mobilnya.
Saat mobil Batra sampai di depan pagar rumah, Butet pun menawarkan diri untuk turun dan membuka pagar untuk Batra.
Butet membuka pintu mobil Batra, dan hendak beranjak keluar. Terlihat Halomoan yang baru saja tiba dengan sepeda motornya dan menatap Butet.
Raut wajah Halomoan tampak berseri-seri saat melihat gadis pujaannya ternyata sudah tiba di Jakarta. Tetapi, raut wajah itu pun langsung sirna, saat ia menyadari Butet baru saja turun dari mobil Batra.
"Baru aja sampek, langsung jalan dia sama si Batra. Katanya gak becewek orang itu, tapi jalan juga nya." Batin Halomoan.
Begitupun Butet, yang awalnya terlihat senang, kini langsung merasa sedih, saat senyumnya di abaikan oleh Halomoan.
Butet memandangi Halomoan yang sedang memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah Nyak Komariah.
Ingin sekali Butet memanggil Halomoan. Tetapi, apa daya, lelaki itu tidak melihat kearahnya lagi. Halomoan langsung berjalan menuju tangga dan naik ke lantai atas kost-kost-an nya.
"Ih, kok di cuek dia sama aku." Batin Butet.
Butet terdiam, sejurus kemudian, Batra yang baru saja mengunci mobilnya, menghampiri Butet yang masih berdiri terpaku.
__ADS_1
"Kok diam aja? masuk yuk." Ucap Batra.
Butet melirik ke arah beranda kost-kost-an Halomoan. Lalu, ia menatap Batra yang sedang memandangi wajahnya.
"Bang, makasih ya." Ucap Butet.
"Sama-sama," Sahut Batra. Lalu, lelaki itu tersenyum kepada Butet.
Dengan Ragu, Butet membalas senyuman Batra dan beranjak lalu beranjak ke paviliun.
Dari balik jendela yang mengarah ke depan rumah Nyak Tatik, Halomoan memperhatikan sikap Butet dan Batra. Halomoan menghela napasnya dan beranjak ke kamarnya.
Halomoan duduk di atas ranjangnya dan berdiam diri disana. Lalu, ia menatap tumpukan tugas yang ada di atas meja belajarnya.
"Ck, galau kali aku di buat si Butet. Kalo kek gini ceritanya, gak lulus-lulus aku kuliah." Gumamnya.
Lalu Halomoan beranjak dari ranjangnya dan duduk di kursi belajarnya.
"Kalok jodoh gak kemana-mana lah, yang penting ku selese kan dulu kuliahku." Gumamnya lagi.
Baru saja Halomoan mengerjakan tugas kuliahnya, terdengar suara aneh dari sebelah kamar nya. Kamar Halomoan bersebelahan dengan kamar Agus dan Bambang.
Awalnya, Halomoan mencoba untuk mengabaikan suara-suara aneh itu. Tetapi, lama-lama suara itu memancing nya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Halomoan berjalan menuju lorong kamar kost-kost-an nya dan mencari dimana sumber suara aneh itu, tepatnya suara itu seperti derit ranjang dan suara dua insan yang sedang menikmati aktivitas suami istri.
Sudah bisa dipastikan, Agus sedang bersama seorang wanita di dalam kamarnya. Tetapi, yang membuat Halomoan merasa curiga, mengapa wanita bisa masuk kedalam kost-kost-an itu.
Halomoan mengernyitkan dahinya, ingin sekali dia memergoki Agus. Tetapi, sebagai sesama lelaki dan bersahabat dengan Agus, Halomoan mengurungkan niatnya.
Halomoan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali beranjak ke kamarnya.
Saat Halomoan hendak masuk kedalam kamarnya, terdengar pintu kamar Agus terbuka. Halomoan buru-buru masuk ke dalam kamarnya dan mengintip dari celah pintu yang tidak ia tutup dengan rapat.
Mata Halomoan terbelalak saat menyaksikan Risa keluar dari dalam kamar Agus. Terlihat jelas di matanya, pakaian Risa yang belum terpasang dengan rapi.
Halomoan terus mengintip dari celah pintu kamarnya. Sejurus kemudian, ia melihat Agus ikut keluar dari kamar dan memeluk Risa dengan erat.
"Selamat tidur sayang, besok ke atas lagi ya jam 8." Pesan Agus.
Risa tersenyum manja dan mengangguk dengan cepat.
Halomoan juga menyaksikan betapa hangatnya ciuman yang diberikan Risa untuk Agus saat Risa hendak kembali ke bawah.
"Isssss....! gilak si Agus ini ya. Anak lugu kek gitu di makan juga sama dia!" Batin Halomoan yang merasa geram dengan Agus.
__ADS_1
Setelah Risa pergi, Halomoan pun beranjak ke kamar Agus. Dari ambang pintu, Halomoan melihat Agus sedang membereskan jejak perbuatannya kepada Risa.
"Astaga!" Ucap Agus saat menyadari Halomoan berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Lu Moan, gue kira siapa. Udah pulang lu, kok kagak kedengeran suaranya?" Ucap Agus yang tampak gugup dan menyembunyikan tisu bekas di balik punggungnya.
Halomoan menatap Agus dengan tajam, lalu ia beranjak masuk kedalam kamar Agus.
"Aroma-aroma sp*rma ini." Ucap Halomoan sambil mengendus-endus udara kamar Agus.
Agus tersenyum kikuk, lalu ia membuang tisu bekas itu di dalam tempat sampah di kamarnya.
"Sotoy lu Moan." Ucap Agus sambil meraih kotak rokoknya. (Red-Sotoy-sok tahu)
"Bukan sotoy aku, tapi aku liat." Ucap Halomoan sambil menatap Agus dengan tajam.
Agus terdiam, ia mengurungkan niatnya untuk membakar rokok yang sudah terselip di bibirnya.
Halomoan meraih rokok itu dari bibir Agus. Lalu, ia membakar rokok itu dan menyerahkan nya kepada Agus.
Dengan ragu, Agus menerima rokok itu dari tangan Halomoan. Lelaki itu diam membisu, tanpa berani menatap wajah sahabatnya, Halomoan.
"Cinta nya kau sama si Risa?" Tanya Halomoan.
Agus menoleh dan menatap Halomoan dengan wajah yang risau.
"Gus, aku udah pesan sama kau, jangan ko rusak dia. Kalo ko rusak perempuan diluar sana terserah kau lah. Tapi, dia anak Nyak Komariah Gus. Kau tinggal disini, makan disini. Tapi ko hancurkan anaknya." Ucap Halomoan.
Agus terdiam membisu.
"Kalok kau cinta gak papa, ada niatmu untuk kau nikahin dia kalau ada apa-apa. Tapi, kalok buat kau maen-maen aja, cemana Gus?"
Agus masih terdiam membisu.
Karena merasa Agus tak mau berbicara masalah itu dengannya, Halomoan pun beranjak dari duduknya.
"Gus, kalok ada apa-apa, jangan lari ko ya. Aku yang nyarik kau. Risa udah ku anggap kek adek ku sendiri. Gak kasian ko liat Nyak Komariah? dia janda, kek mana nantik kalau anaknya hamil? bisa ko hadapi abang-abang nya di depan sanan?" Tanya Halomoan sambil menunjuk ke arah rumah Nyak Tatik.
Agus tak mampu berkata-kata. Ia hanya menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Tobat lah ko lagi. Kalok memang pingin kali ko nikah, nikahilah si Risa itu." Ucap Halomoan sambil beranjak keluar dari kamar Agus.
Sepeninggalan Halomoan, Agus masih terdiam di atas ranjangnya. Kata-kata Halomoan begitu menusuk hatinya. Tetapi, ia tidak bisa marah kepada sahabatnya itu. Apa yang dikatakan Halomoan benar. Ia tidak mencintai Risa dan tidak pernah berniat untuk serius dengan gadis itu.
Satu hal yang kini menjadi pikiran Agus, bagaimana bila Risa hamil? dia tidak akan pernah sanggup untuk mempunyai komitmen dengan wanita manapun untuk saat ini. Apa lagi harus menafkahi seorang istri dan anak yang tidak di inginkan nya.
__ADS_1
Agus menghisap rokoknya dalam-dalam sebelum ia mematikan dan membuang puntung rokok itu kedalam asbak. Lalu, ia menutup pintu kamarnya.
Agus mulai risau, ia berniat untuk mengakhiri hubungannya dengan Risa dan pergi dari rumah kost tersebut.