Kost Putri

Kost Putri
20# Sri pulang Kampung


__ADS_3

"A'a Dewa? kan Neng sudah bilang, Neng belum bisa pulang." Ucap Cempaka saat membuka pintu rumah Kost nya dan mendapati Kakak nya berdiri disana.


"Enggak, A'a cuma mau berpamitan dengan Neng, sama mau bilang, Neng hati-hati ya nanti pulangnya." Ucap Dewa.


"Oh begitu, iya A'. Titip salam buat Ambu dan Abah ya A'." Ucap Cempaka.


Sri yang mendengar suara Dewa pun, keluar dari kamarnya sambil membawa koper kecil miliknya.


Dewa tersenyum saat melihat gadis pujaannya sudah siap untuk berangkat ke stasiun kereta.


"Sri, kamu mau kemana?" Tanya Dewa, berpura-pura tidak tahu.


"Ini Mas, aku mau pulang kampung." Ucap Sri, yang memang sudah janjian dengan Dewa yang ingin mengantarkan dirinya ke stasiun kereta.


"Oh, mau saya antar?" Ucap Dewa.


Sri yang malu-malu pun mengangguk dengan cepat.


Butet mengeryitkan dahinya menatap Dewa dan Sri.


"Ya sudah, A'a pergi dulu ya. Sekalian antarkan Sri ke stasiun kereta. Kasihan kalau sendirian." Ucap Dewa.


Cempaka yang polos hanya mengangguk dan mencium tangan Dewa. Sedangkan Sri berpamitan dengan Butet dan lalu dengan Cempaka..


"Aku pulang dulu ya. Kalian baik-baik disini." Ucap Sri.


Lalu ia melangkah keluar dari paviliun itu.


Dewa tersenyum kepada Sri dan mereka pun beranjak ke Sepeda motor Dewa yang terparkir di halaman rumah Nyak Tatik.


"Hati-hati A', Sri." Ucap Cempaka.


"Iya." Sahut Dewa dan Sri.


Setelah Dewa dan Sri pergi. Butet pun menghampiri Cempaka yang akan masuk ke dalam kamarnya.


"Eh, Cem." Panggil Butet.


"Apa Tet?" Tanya Cempaka.


"Ko gak curiga sama Abang kau dan Sri?" Tanya Butet.


"Curiga apa?" Tanya Cempaka dengan polos.


"Kayak nya orang itu pacaran lah." Ucap Butet.


"Gelo maneh ih.. Gak mungkin lah Tet!" (Red- Gelo maneh- gila kamu!"


"Apa itu gelo maneh?" Tanya Butet.


"Ah pokok nya kamu gila Tet." Ucap Cempaka.


"Eh Cem, jadi orang jangan ko polos kali." Ucap Butet.


"Gak mungkin atuh Tet."


"Is.. masak ko gak bisa nengok tatapan orang itu. Mesra kali pon!" Ucap Butet.

__ADS_1


Cempaka mengingat-ingat sikap Dewa kepada Sri.


"Enggak ah." Ucap Cempaka.


"is..! Bandal kali. Cok lah tengok nantik. Pasti udah jadian orang itu." Ucap Butet.


"Pikiran mu negatif Tet. Gak mungkin Sri sama A'a saya atuh. Masa iya?"


Cempaka masih saja ngeyel.


"Ah, payah lah cakap sama orang paok." Ucap Butet sambil beranjak ke kamar nya.


Cempaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil terus berpikir.


"Ah, gak mungkin atuh. Kan A'a Dewa memang kesini untuk pamit. Tidak mungkin mau menjemput Sri. Kebetulan saja ituh mah." Gumam Cempaka.


Butet beranjak ke lemarinya dan mengeluarkan beberapa pakaian yang akan ia bawa pulang ke Kampung halamannya.


Setelah ia kira cukup, Butet pun menurunkan kopernya dari atas lemari. Lalu, menyusun semua pakaian yang akan ia bawa ke dalam kopernya.


Beberapa oleh-oleh yang sudah ia beli dan akan ia bawa untuk keluarganya juga ia masukan kedalam kopernya.


Setelah selesai semuanya. Ia pun menaruh koper itu di sudut kamarnya.


"Udah siap semuanya. Tinggal piginya aja." Ucap Butet.


Butet pun beranjak keatas ranjangnya dan merebahkan tubuhnya dengan nyaman.


"Tidor siang dulu aku lah." Ucap nya sambil menyalakan kipas angin yang berdiri di samping ranjangnya.


Bambang sudah berangkat ke Kampung nya tadi malam. Sekarang di kost-kost-an Pria milik Nyak Komariah tinggal Agus dan Halomoan.


Agus yang sedang bermain gitar di kamar Halomoan, menemani Halomoan yang sedang memasukan pakaiannya ke dalam kopernya.


"Sedikit banget lu bawa baju?" Tanya Agus.


"Iya, ngapain banyak-banyak. Yang penting sama Mamak ku yang pulang oleh-oleh nya, bukan aku nya." Seloroh Halomoan.


Agus tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


Agus mulai memetik gitar memainkan lagu favoritnya. Sedangkan Halomoan mulai menata oleh-oleh yang akan ia bawa kedalam kopernya.


Risa yang baru saja datang, berdiri di ambang pintu kamar Halomoan. Risa terlihat cantik dengan tanktop berwarna kuning dan celana pendek berwarna cokelat tua. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih dan mulus.


"Sttt.. Moan." Panggil Agus, sambil memonyongkan bibirnya kearah Risa.


Halomoan menoleh kearah Agus, lalu menoleh ke ambang arah pintunya.


Halomoan melihat Risa tersenyum manis kepadanya.


"Bang, besok mau pulang Kampung ya?" Tanya Risa.


"Iya Dek." Sahut Halomoan dengan datar.


"Abang balik lagi kesini kan?" Tanya Risa.


Halomoan mengangguk sambil tersenyum canggung dengan Risa.

__ADS_1


"Bang Agus gak pulang?" Tanya Risa.


Agus menghentikan petikan gitar nya dan menatap Risa.


"Abang disini saja dengan Risa." Ucap Agus sambil tersenyum manis.


Risa mengulum senyumnya dan menundukkan pandangannya. Sedangkan Halomoan menatap Agus dengan tatapan yang tajam.


Halomoan sangat mengenal Agus si playboy cap kampak. Agus kerap berganti-ganti pacar sesuka hatinya. Agus memang tampan. Tetapi, Agus sedikit tidak menghormati para gadis yang polos dan belum mengerti gombalan-gombalan Agus.


Agus menatap Risa dari ujung rambut hingga ke ujung kaki gadis itu.


"Eh..! Mata kau!" Tegur Halomoan.


Agus hanya tersenyum sambil kembali memetik gitarnya.


"Bang, nanti bawa oleh-oleh ya dari sana." Ucap Risa.


"Iya Ris." Ucap Halomoan sambil menaruh kopernya di dekat lemari pakaiannya.


"Ya sudah deh, Risa kebawah dulu ya." Ucap Risa sambil tersenyum manis kepada Halomoan dan Agus.


"Iya." Ucap Halomoan.


Risa beranjak pergi meninggalkan kamar Halomoan.


Setelah Risa pergi, Agus pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Body nyaaaaaaa, Ckckckckck!" Ucap Agus dengan mata yang berbinar-binar.


"Jangan mikir yang aneh-aneh kau!" Ucap Halomoan.


"Asli kagak normal lu Moan!" Ucap Agus sambil tertawa dan menaruh gitar di atas ranjang Halomoan.


Pikiran Agus mulai melanglang buana entah kemana-mana saat mengingat Risa. Agus tak habis pikir mengapa gadis secantik Risa di tolak oleh Halomoan.


"Asli lu gak tertarik sama sekali sama si Risa?" Tanya Agus.


"Bukan gitu Gus, aku kalau gak minat, aku gak mau merusak." Ucap Halomoan.


"Terus? kalau lu minat?" Tanya Agus.


"Ya ingat dosa lah aku Gus."


"Alah gaya lu Moan. Guling aja udah lu hamilin tuh. Di kamar ini udah berapa banyak anak lu yang terbuang sia-sia. Terus dikamar mandi juga." Ucap Agus.


"Apa pulak." Ucap Halomoan sambil menahan tawanya.


"Setiap aku masuk kamar mandi. Pasti ada yang teriak-teriak. Om...Om...Papa Moan mana Om.. Gitu Moan." Ucap Agus sambil tertawa terbahak-bahak.


"Bah..! berhalusinasi kau!" Ucap Halomoan sambil melemparkan kaos kaki bekasnya kearah Agus.


"Jorok lu!" Ucap Agus sambil menghindari kaos kaki bekas Halomoan.


Sambil tertawa, diam-diam Agus mempunyai rencana untuk Risa. Entah mengapa, sejak Halomoan bercerita tentang agresif nya Risa, otak kotor Agus pun mulai bekerja. Diam-diam ia mulai memerhatikan Risa yang sering berpakaian minim saat naik ke kost-kost-an mereka.


"Risa oh Risa." Gumam Agus.

__ADS_1


__ADS_2