
"Namboruuuuuu!" Seru Butet saat melihat nyak Tatik yang sedang menyapu di teras rumahnya.
"Eh, udah pulang lu Tet." Ucap Nyak Tatik.
"Udahlah, kalok gak kek mana aku sampek sini Nyak." Ucap Butet sambil mencium tangan Nyak Tatik.
"Pegimane kabar Nyak Babe lu disana?"
"Baik-baik Nyak. Ini aku ada oleh-oleh untuk Nyak Tatik." Ucap Butet sambil menyerahkan kardus mie instan yang sedang ia tenteng.
"Et dah, makasih banyak ye Tet, lu baek bener dah." Ucap Nyak Tatik sambil menyambut kardus mie instan itu.
"Oh iya Nyak, kawan-kawan ku kemana mereka?" Tanya Butet.
"Si Sri ada noh di dalam. Kalo Cempaka di kampus dia." Ucap Nyak Tatik.
"Oiyalah, aku masok dulu ya Nyak."
"Gi dah, makasih ye oleh-oleh nye."
"Iya Nyak." Ucap Butet sambil tersenyum dan beranjak ke paviliun.
"Sriiiii ooooo.. Sriiiii, dimana kau..?" Panggil Butet saat ia membuka sepatunya di depan pintu paviliun.
Sri yang sedang tidur-tiduran sambil membaca buku, langsung beranjak dari ranjangnya dan berjalan menghampiri pintu depan saat mendengar suara Butet.
"Butet, is that you?"
Butet menatap Sri yang berbahasa Inggris kepada dirinya.
"Bah! sok kali kau! Pakek bahasa inggres-ingresan kau sama aku?" Ucap Butet sambil tertawa geli.
Sri ikut tertawa saat melihat ekspresi Butet.
"Aku tuh kangen sama kamu Butet." Ucap Sri sambil menghampiri dan memeluk Butet.
"Sama la. Ini ada oleh-oleh untuk kau sama Cempaka." Butet menaruh dua kardus mie instan di atas meja.
"Kok banyak Tet? kamu gak cepek bawa banyak begitu?" Tanya Sri.
"Eeeee... demi kelen ini." Ucap Butet sambil tersenyum manis.
"Matur suwun Tet."
"Matur suwun?" Tanya Butet dengan wajah yang bingung.
"Iya Matur suwun itu artinya terima kasih Butet.." Jelas Sri.
"Oooooo, baru tau aku. Iya, sama-sama. Eh, qku mandi lah dulu. Panas kali di Jakarta ini." Ucap Butet sambil beranjak ke kamarnya untuk mengambil handuk di dalam lemarinya.
Lalu, tak lama kemudian ia beranjak ke kamar mandi, sedangkan Sri asik mengunyah cemilan oleh-oleh dari Butet.
Dreeettt..! Dreeeettt..!
Sri beranjak dari duduknya saat mendengar ponselnya berbunyi di dalam kamar. Lalu, ia melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya.
"Hhhhh..! Telpon krang kring ket mau kok ra ono liyo, koweeeeee terus.." (Red- Dari tadi kok kamu terus yang nelpon.) Batin Sri.
__ADS_1
Sri mengabaikan panggilan dari Dewa. Dirinya masih marah dan terus terngiang kata-kata yang di lontarkan Santi kepadanya.
Dari kemarin, Dewa ingin bertemu dengan Sri. Sedangkan untuk ke kost-kost-an kekasihnya itu, ia tidak bisa. Karena Dewa beberapa hari ini selalu pulang malam.
Di kost-kost-an Nyak Tatik, tidak boleh ada tamu di atas jam 9 malam. Tetapi, bila pulang malam, tidak apa-apa. Asalkan jangan di atas jam 12 malam. Maka, Dewa meminta bertemu dengan Sri, walau hanya di depan komplek perumahan itu.
Tetapi, Sri masih bersikeras untuk tidak mau menemui Dewa. Sri merasa di khianati dan sakit hati. Terlebih, menurut Cempaka, gadis bernama Santi memang benar pernah mempunyai hubungan dengan Dewa dan bisa jadi sekarang mereka bersatu kembali.
Sri memijat kepalanya yang berdenyut karena memikirkan masalah dirinya dan Dewa. Satu sisi, ia masih mencintai Dewa. Apa lagi, hubungan mereka belum genap 1 bulan. Seharusnya saat ini, mereka sedang bahagia-bahagianya. Tetapi, tidak dengan hubungan Dewa dan Sri.
Sri mematikan ponselnya dan menaruhnya di dalam laci meja belajarnya.
"Tak pateni wae lah HP ne, ben ora berisik." (Red- Aku matikan saja lah ponselnya, biar gak berisik.) Gumam Sri. Lalu, ia kembali menuju ruang tamu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh Cem, kamu sudah pulang." Ucap Sri sambil menatap Cempaka yang tampak lesu pada sore hari ini.
"Sudah." Sahut Cempaka sambil duduk dan menyenderkan punggungnya di sandaran kursi ruang tamu.
"Kok banyak cemilan? kamu teh beli?" Tanya Cempaka.
"Ndak, itu si Butet sudah pulang."
"Oh ya? Butet nya teh mana Sri?"
"Ada, lagi adus." Sahut Sri. (Red-adus-mandi)
Sri menatap Cempaka dengan tatapan yang bingung.
"Adus, duduk kardus Cem."
"Astaghfirullah..! Butet teh habis melakukan nya dengan siapa Sri?"
Cempaka salah paham, karena di dalam bahasa yang ia pahami, adus adalah mandi junub.
Sri berhenti mengunyah dan kembali menatap Cempaka dengan wajah yang bingung.
Butet yang sedang mengeringkan rambutnya berdiri di ambang pintu antara ruang tamu dan dapur.
"Ada apa kelen kok bereng kali nengok aku?" Tanya Butet. (Red- Bereng- melirik dengan tajam)
"Ti-tidak apa-apa Tet." Sahut Cempaka.
Sri menggelengkan kepalanya dengan malas, lalu ia kembali mengunyah cemilan.
Cempaka terus menatap Butet dengan curiga. Terlebih, Butet yang sedang mengeringkan rambutnya karena habis keramas.
"Kenapa kau nengok aku kek gitu? Rindu kau? Sini pelok dulu."
Dengan ragu, Cempaka tersenyum kikuk.
Butet menghampiri Cempaka dan memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Tet, kamu teh Adus?" Tanya Cempaka.
__ADS_1
"Apa lagi lah yang kau tanyak. Gak ngerti aku." Ucap Butet.
"Kata Sri teh kamu Adus."
Sri menghela napasnya dan menatap dua sahabatnya itu.
"Pening pulak kepala ku liat klean!" Ucap Sri yang menirukan bahasa Medan.
Cempaka menatap Sri dengan bingung.
Sri beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamarnya.
"Kenapa pulak dia." Ucap Butet.
"Kamu teh adus Tet?" Tanya Cempaka lagi.
"Ih.. stress aku lama-lama di kosan ini..!" Ucap Butet, lalu ia beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamar.
Tinggal Cempaka sendiri di ruang tamu. Ia mengangkat kedua alisnya dan menatap cemilan di atas meja.
"Lebih baik saya makan saja." Ucapnya.
...
Tepat pukul 6 sore, Rozi pulang dari kantor. Cempaka yang mendengar bunyi sepeda motor Rozi pun bergegas keluar dari kamarnya. Cempaka sudah terbiasa selama menyandang status sebagai istri Rozi, ia selalu menyambut lelaki itu bila baru saja pulang dari kantor.
Saat Cempaka keluar kamar, ia melihat Sri dan Butet yang sedang duduk di ruang tamu.
"Mau kemana kau?" Tanya Butet.
Cempaka terdiam sejenak, lalu ia terlihat bingung akan membuat alasan apa.
"Gak kemana-mana." Sahut Cempaka setelah beberapa saat ia terdiam mencoba mencari alasan yang tak kunjung ia temukan.
Lalu, Cempaka kembali masuk kedalam kamarnya.
Rozi masuk kedalam kamarnya dan terduduk lesu di atas ranjang. Ia melihat kesekeliling kamar dan menghela napas panjang.
Sejak kepulangan Sri, Cempaka tak lagi dekat dengannya. Bahkan, Cempaka sudah tak lagi tidur di kamarnya. Cempaka cenderung menghindari dirinya.
Nyak Tatik juga sudah mulai mengeluh, walaupun keluhannya itu hanya disampaikan kepada Rozi.
Rozi pun berusaha terus membela istrinya. Rozi terus memberikan Nyak Tatik pengertian agar memberikan Cempaka ruang dan waktu.
Kini, Nyak Tatik sudah mulai memahami. Tetapi, entah mengapa sekarang malah Rozi lah yang menjadi habis kesabaran.
Ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengerti Cempaka. Tetapi Cempaka terus menganggap dirinya tidak ada.
"Cempakaaaaa...! Argghhhh..!" Keluh Rozi.
Rozi membanting tasnya di lantai dan meringkuk di atas ranjangnya.
Rasanya ia ingin marah dengan Cempaka. Tetapi, rasa sayangnya kepada gadis itu, membuat dirinya terus menerus berusaha memadamkan api amarahnya.
Rozi yang sudah siap menikah, pasti mempunyai harapan besar dari suatu pernikahan. Tetapi, Cempaka yang masih bisa di bilang belum mau menikah, tidak akan pernah paham apa mau suaminya. Karena Cempaka masih menganggap dirinya dan Rozi hanya sebatas berpacaran saja.
"Bawa ke Sholat, biar adem hati gue." Gumam Rozi. Lalu, ia beranjak dari ranjang dan menunaikan Sholat Maghrib.
__ADS_1