Kost Putri

Kost Putri
09# Kamu?


__ADS_3

"Assalamualaikum."


Cempaka, Butet dan Sri menoleh ke arah pintu. Terlihat seorang lelaki tampan, tinggi dan bertubuh atletis berdiri di ambang pintu.


Lelaki itu tampak semakin gagah dengan. celana jeans panjang dan kemeja flanel berwarna cokelat susu bermotif kotak-kotak. Lelaki itu tersenyum kepada Cempaka.


"A' Dewa!" Seru Cempaka.


Gadis cantik itu pun langsung berlari kearah Dewa dan menyambut kedatangan Kakak nya itu dengan antusias.


"A' Dewa tumben mampir, tidak malam mingguan A'?" Tanya Cempaka.


"Tidak, A'a tidak punya pacar. Mendingan ngapelin adik sendiri atuh." Ucap Dewa sambil menyerahkan buah tangan nya untuk Cempaka.


Dewa menatap Butet dan tersenyum ramah kepada Butet. Sedangkan Salah satu teman Cempaka yang duduk membelakangi pintu tidak dapat di lihat wajah nya oleh Dewa.


"A' Sini masuk, Neng kenalkan sama teman-teman kost nya Neng." Ucap Cempaka sambil menarik lengan Kakak nya. Dewa pun, mengikuti adik nya sambil tersenyum pasrah.


"Ini namanya Butet, dia dari Toba A'.." Cempaka memperkenalkan Butet kepada Kakak nya.


"Halo, saya Dewa. A'a nya Cempaka." Ucap Dewa sambil mengulurkan tangannya.


"Omakkkkk, ganteng kali Abang kau Cem..!" Ucap Butet sambil menyambut tangan Dewa.


"Aku Butet, marga ku Aritonang!" Ucap Butet dengan logat Batak nya.


"Senang berkenalan dengan kamu." Ucap Dewa.


"Nah, yang ini namanya Sri. Dia dari Yogyakarta." Ucap Cempaka sambil menunjuk Sri yang sedang menutupi wajahnya.


Dewa mengeryitkan dahinya sambil memandang gadis yang sedang menyembunyikan wajahnya di balik buku-buku tangannya.


"Hai, saya Dewa." Ucap Dewa.


"Aku Sri." Ucap Sri yang langsung berdiri dan berlari ke kamar nya.


"Eh Sri..! Kenapa kau? liat cowok ganteng, kek nengok setan ku tengok kau..!" Ucap Butet.


Sri yang berlari terbirit-birit pun, terjegal kaki nya sendiri.


Brakkkkkkkkk!


Sri tertelungkup di atas lantai.


"Aduhhhhh..! Biyunggggg.. loroneeeeee..! (Red- Aduh! emakkkkk! sakit nyaaaa!)" Keluh Sri sambil berusaha untuk bangkit.


Dewa, Butet dan Cempaka, langsung menghampiri Sri yang masih tertelungkup di atas lantai. Dewa pun, bergegas membantu Sri untuk duduk.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Dewa sambil menatap wajah Sri yang sedang menahan sakit.


"Kamu?"


Dewa terkejut saat melihat gadis yang pernah bertemu dengan nya di stasiun dan halte.


"Duh, loroneeee... nganti ra iso ngadek iki. (Red- Aduh sakit nya, aku gak bisa berdiri ini.)"


Dewa memapah Sri untuk kembali duduk di atas bangku.


"Mana yang sakit?" Tanya Dewa.

__ADS_1


Dewa menatap Sri dengan seksama. Mata mereka saling berpandangan. Lalu, Sri menundukkan wajahnya karena malu kepada Dewa.


"Terima kasih sudah membantu." Ucap Sri malu-malu.


Dewa tersenyum kikuk.


"Woii...! Ada apa ini? Berisik amat lu pade!"


Nyak Tatik buru-buru menghampiri Dewa, Butet, Cempaka dan Sri.


"Lu ngapain di dalam Dewa!" Tanya Nyak Tatik lagi.


"Ini Nyak, Mbak ini tadi terjatuh di lantai. Saya hanya membantunya." Ucap Dewa.


Butet dan Cempaka pun mengangguk saat Nyak Tatik menatap mereka satu persatu.


"Lu lagi Sri? kenapa lu bisa jatoh?" Tanya Nyak Tatik lagi.


"Anu Nya, anu, saya keserimpet." Ucap Sri.


"Makanya lu punya mata di pake! Tapi, ada yang luka kaga?" Tanya Nyak Tatik.


"Ndak ada Nyak. Cuma memar dengkul saya." Ucap Sri.


"Oh, ya udeh, laen kali hati-hati yak."


"Iya Nyak." Sahut Sri.


"Ya udeh lu keluar gih, kalau mau ngobrol sama Adik lu, di teras aje yak. Kaga enak kalau di liat orang lu ada di dalem." Ucap Nyak Tatik kepada Dewa.


"I-iya Nyak." Ucap Dewa.


Sedangkan Sri di papah oleh Butet dan Cempaka ke dalam kamarnya.


Setelah mengantar Sri kembali ke kamar. Cempaka pun menyusul Dewa ke teras. Sedangkan Butet membantu Sri membalurkan minyak gosok, agar kaki Sri cepat membaik.


"A'a kenal Sri?" Tanya Cempaka, saat ia baru saja duduk di kursi beranda.


"Tidak kenal sih, hanya saja pernah bertemu Neng." Ucap Dewa.


"Oh, Neng kira kenal." Ucap Cempaka.


"Enggak kok Neng. Oh iya, dia kuliah di kampus nya Neng?" Tanya Dewa.


"Iya A', tetapi beda gedung Fakultas A'. Dia anak Sastra." Terang Cempaka.


"Oh."


Dewa mengangguk paham.


"Memang gimana cerita na, A'a bisa bertemu dengan Sri?"


"Ah, enggak, ketemu begitu saja." Ucap Dewa yang enggan menceritakan secara detail kepada Adik nya, masalah pertemuan dirinya dengan Sri.


Lalu, tiba-tiba Dewa tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa A'?" Tanya Cempaka.


"Ah, tidak apa-apa. Ya sudah, A'a mampir kesini hanya mengantarkan makanan kecil sama sarden dan susu untuk mu Neng. Jangan lupa makan Neng, jangan sampai sakit ya. A'a mau kembali ke kost-kost-an A'a." Ucap Dewa.

__ADS_1


"Yah... Kok cuma sebentar sih A'?" Tanya Cempaka dengan raut wajah kecewanya.


"Iya, gak enak di lihat orang. Nanti takut nya kamu di fitnah dan di omongin." Ucap Dewa.


Cempaka mengangguk paham.


"Eh, Bang ganteng, mau kemana?" Tanya Butet yang baru saja menyusul ke beranda.


"Saya pulang dulu ya. Titip Cempaka." Ucap Dewa.


"Mau di titip selamanya, mau jadi adek ipar pun tak papa." Seloroh Butet.


Dewa tersenyum kepada Butet.


"Eh Bang ganteng, rajin-rajin kesini ya. Biar kami anak kos jomblo ini bisa cuci mata." Ucap Butet.


"Butet, apa sih kamu." Ucap Cempaka sambil menatap Butet dengan tajam.


"Eh adek ipar jan kau marah." Ucap Butet sambil tertawa lebar.


"Ya sudah, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Sahut Cempaka dan Butet.


Dewa pun bergegas menuju sepeda motornya di antar oleh Cempaka. Sedangkan Butet terus menatap Dewa dari belakang sambil beranjak duduk di atas kursi beranda.


Setelah Dewa pergi, Cempaka pun kembali ke beranda dan duduk di depan Butet.


"Cemana pulak kau Cem..! Gak kau bilang kalo kau punya Abang ganteng." Ucap Butet.


"Kamu tidak bertanya. Ngapain saya cerita." Ucap Cempaka sambil kembali beranjak dari duduk nya.


"Eh, mau kemana kau Cem?" Tanya Butet.


"Ambil jajanan." Ucap Cempaka sambil meraih sepelastik makanan yang di bawakan Dewa untuk nya. Lalu, ia kembali ke beranda dan menaruh pelastik itu di atas meja.


"Apa ini?" Tanya Butet.


"Makanan." Ucap Cempaka sambil membuka pelastik tersebut.


"Ish perhatian kali Abang kau ya. Cocok kali jadi suami ku." Seloroh Butet.


"Butet! Apa sih!" Ucap Cempaka sambil cemberut kepada Butet.


"Gak mau rupanya kau punya Kakak ipar yang cantek kek aku ini?" Seloroh Butet.


Cempaka memiringkan bibirnya.


Butet pun tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Cempaka.


"Selo lah, orang Batak sukak kali becanda. Jan pulak ko ambel ati. (Red- Santai lah, orang Batak suka banget bercanda. Jangan kau ambil hati.)" Ucap Butet masih sambil terkekeh.


Lalu, Butet menyambar sebungkus biscuit dari dalam pelastik dan membuka nya.


"Ayo, ayo di makan, jangan malu-malu. Aku lagi baek." Ucap Butet.


"Gak terbalik? Ini kan makanan saya Tet." Ucap Cempaka.


"Anggap aja lah makanan aku. Mau kau? makan lah." Ucap Butet sambil mengunyah biscuit yang ia ambil tadi.

__ADS_1


Cempaka menghela napasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


__ADS_2