
Siang ini Cempaka sedang bersiap-siap untuk pulang dari kampusnya. Ia membereskan buku-bukunya dan menaruhnya di dalam tas miliknya.
Sebenarnya masih ada satu mata pelajaran kuliah lagi. Tetapi, karena dosen nya sedang tidak berada di Jakarta, ia mendapat tugas yang harus segera ia kerjakan. Dan Cempaka memilih mengerjakannya di rumah. Karena hari ini gadis itu tidak membawa laptop ke kampusnya.
Cempaka melangkahkan kakinya keluar kampus. Dan menunggu angkot di depan halte kampusnya. Tiba-tiba saja sebuah sepeda motor berhenti di depan nya. Cempaka sudah langsung tahu bila itu adalah Rozi.
"A' Rozi?"
Rozi membuka kaca helm nya dan tersenyum kepada Cempaka.
"Cempaka, buruan naik. Nih helm nya. Saya mau bicara." Ucap Rozi.
"Bicara apa A'?" Tanya Cempaka.
"Naik dulu yuk.. kita makan siang." Ucap Rozi.
Cempaka melihat kesekeliling nya. Lalu, ia mengangguk dengan ragu.
Cempaka menerima helm yang di berikan Rozi kepadanya. Lalu, ia memakai helm tersebut dan beranjak naik ke atas sepeda motor Rozi.
"A'a tidak kerja?" Tanya Cempaka.
"Saya libur hari ini. Dari pada bosan di rumah, Saya main-main ke kampus kamu Cem." Ucap Rozi sambil bersiap-siap untuk menjalankan sepeda motornya.
"Oh begitu." Gumam Cempaka.
Rozi melajukan sepeda motornya di tengah teriknya sengatan sinar matahari di kota Jakarta, pada siang itu. Lelaki itu terlihat sangat bersemangat saat Cempaka naik keatas boncengan sepeda motornya.
Rozi melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Hingga sepeda motor sport itu pun, menepi di salah satu cafe anak muda yang sedang nge-hitz di Jakarta.
"Ayo turun, kita makan disini ya." Ucap Rozi sambil melepas helmnya.
Dengan ragu, Cempaka turun dari sepeda motor Rozi dan melepas helm nya.
Rambut Cempaka tampak berantakan karena memakai helm. Rozi yang melihat rambut wanita idaman nya itu berantakan pun, dengan cepat langsung mencoba untuk merapikan rambut Cempaka.
Cempaka terdiam dan kikuk dengan perlakuan Rozi. Lalu, Rozi meraih tangan Cempaka dan membawanya ke dalam cafe.
Cempaka masih bingung dengan perlakuan Rozi kepadanya. Walaupun hatinya berbunga-bunga karena perlakuan lelaki itu, tetapi tetap saja ia merasa bingung. Karena Rozi memperlakukan dirinya layaknya seorang kekasih bagi Rozi.
Rozi dan Cempaka duduk di sudut cafe itu, dengan pemandangan jalan raya yang terlihat lancar pada siang ini.
Setelah memesan beberapa menu untuk makan siang dan minuman, Rozi menatap Cempaka yang terlihat salah tingkah.
"Ada apa A'? A'a katanya mau ngomong apa?" Tanya Cempaka.
Rozi tersenyum dan terus menatap gadis yang kini berusia 19 tahun itu.
"Cempaka sudah punya kekasih?" Tanya Rozi.
Cempaka tersenyum ragu dan menggelengkan kepalanya.
"Belum?" Tanya Rozi lagi.
Cempaka kembali menggelengkan kepalanya.
"Kenapa ya A'a?" Tanya Cempaka.
"Saya... hmmm..."
"Permisi minuman nya." Ucap seorang waiter yang mengantarkan minuman pesanan Rozi dan Cempaka.
"Oh iya." Ucap Rozi sambil menepikan kotak tissu yang ada di atas meja itu.
__ADS_1
Setelah waiter itu pergi, Rozi kembali menatap Cempaka yang terlihat grogi kepadanya.
"Sampai mana tadi?" Tanya Rozi.
"Apanya A'?" Tanya Cempaka.
Rozi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mempersilahkan Cempaka untuk meminum segelas orange juice pesanan gadis itu.
Cempaka meraih gelas juice nya dan meminum orange juice itu beberapa teguk. Lalu, ia kembali menatap Rozi.
"Cempaka, saya...."
"Ya?" Tanya Cempaka.
"Permisi... pesanan nya." Ucap waiter yang mengantarkan pesanan Rozi dan Cempaka.
"Ah iya." Ucap Rozi sambil menggeser gelasnya.
"Jadi saya..."
"Semua pesanan nya sudah ya Mas." Ucap waiter itu.
"Iya." Ucap Rozi sambil kembali menggaruk kepalanya lagi.
Lalu waiter itu meninggalkan mereka berdua.
"Jadi... aku.."
"A'a saya makan dulu ya. Laper saya A'." Ucap Cempaka.
"Ah, iya. Silahkan." Ucap Rozi.
"Duh, mau ngomong suka aja susah nya minta ampun. Ya sudahlah, nanti aja." Batin Rozi.
Setelah makan, Rozi bersiap-siap untuk mengungkapkan perasaan nya kepada Cempaka. Tetapi, gadis itu beranjak dari duduk nya dan meminta izin akan ke toilet.
Lagi-lagi Rozi mengurungkan niat nya untuk mengungkapkan perasaan nya.
"Ya elah, ribet amat ya." Ucap Rozi sambil menepuk dahi nya, pelan.
Beberapa menit kemudian, Cempaka datang dan meminta maaf kepada Rozi karena toilet nya mengantri. Rozi yang tampak bersemangat dengan cepat mengangguk dan kembali menatap Cempaka yang masih terlihat canggung dengan nya.
"Cem...."
"A', A'a dulu kuliah dimana?" Potong Cempaka.
Rozi menelan salivanya dan mengerjapkan matanya.
"Ngggg.. saya kuliah di UI." Ucap Rozi.
"Keren A'a mah." Ucap Cempaka dengan bersemangat.
"Ambil jurusan apa A'?" Tanya Cempaka lagi.
"Tehnik sipil." Ucap Rozi.
"Oh begitu."
Cempaka mengangguk paham.
"Cem..."
"A'..."
__ADS_1
Lalu mereka saling bertatapan, lalu masing-masing tersenyum malu.
"Kamu duluan." Ucap Rozi.
"A'a saja yang duluan." Ucap Cempaka.
"Kamu saja."
"A'a saja."
Lalu hening.
"Ya sudah saya duluan." Ucap Rozi.
Cempaka terdiam dan menundukkan pandangannya.
"Kamu punya kekasih?" Tanya Rozi.
Cempaka menatap Rozi dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau menjadi kekasih saya?" Tanya Rozi yang terlihat berkeringat saat mengungkapkan perasaan kepada Cempaka.
Cempaka terdiam dan kembali menundukkan pandangan.
"Saya suka sama kamu Cem." Ucap Rozi berterus-terang.
Cempaka meremas ujung bajunya. Ia takut sekali menerima cinta Rozi. Bukan karena ia tidak menyukai Rozi. Tetapi, ia lebih memilih menjaga perasaan Butet yang juga mencintai Rozi.
"Bagaimana Cem?" Tanya Rozi yang menunggu sekian menit, jawaban dari Cempaka.
"A'.. saya..." Cempaka terlihat bingung akan menjawab apa.
"Kamu tidak menyukai saya?" Tanya Rozi.
"A'.. Lebih baik kita berteman saja ya A'." Ucap Cempaka.
Rozi terdiam dan menundukkan wajahnya.
Rozi tidak mengira bila ia mendapatkan penolakan dari Cempaka. Selama ini gelagat gadis itu menunjukan bila gadis itu mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya.
"Beri saya kesempatan Cem." Ucap Rozi.
"A'a.. Cempaka mau fokus kuliah dulu ya." Ucap Cempaka.
Rozi menghela napasnya dan mengangguk pelan.
"Kalau jodoh tidak akan kemana-mana A'." Sambung Cempaka lagi.
Rozi tersenyum dan mengangguk paham.
"Bila jodoh A'a bukan saya, saya do'a kan A'a mendapatkan jodoh yang terbaik ya A'." Ujar Cempaka.
Patah hati, itulah yang dirasakan Rozi. Tetapi, ia tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada gadis yang ia cintai.
Mencintai bukan berarti harus memiliki. Rozi sadar betul siapa dirinya. Gadis secantik Cempaka mungkin saja banyak yang mendekati. Dan Cempaka berhak untuk memilih lelaki yang pantas untuk dirinya.
Dengan tabah, Rozi tersenyum dan menatap Cempaka yang tampak terluka.
"Saya yakin kamu jodoh saya, semoga saja." Ucap Rozi.
Cempaka menahan tangis nya dengan berusaha tersenyum kepada Rozi.
Mereka pun, memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang, mereka berdua diam tanpa kata.
__ADS_1