Kost Putri

Kost Putri
108# End


__ADS_3

"Aaaa... lega kali."


Halomoan keluar dari kamar mandi sambil mengusap-usap perutnya dan tersenyum dengan lebar.


"Yuhuuu, Butet..! Abang datang...!"


Mata Halomoan pun tertuju kepada Butet yang sudah tertidur dengan nyenyak di atas ranjang.


"Yah, tidor pulak dia." Ucap Halomoan sambil berjalan menghampiri Butet.


Halomoan menatap wajah Butet yang sedang tertidur dengan lelap. Terlihat wajah lelah istrinya yang selama acara pernikahan mereka, selalu tersenyum bahagia.


"Capek kali rupanya kau ya istriku." Gumam Halomoan.


Halomoan berjongkok di samping ranjang, lalu ia berdiam diri menatap wajah Butet tanpa mau melepaskan tatapannya sekalipun dari wajah istrinya itu.


"Aku gak pande cakap manis Tet. Tapi, Terima kasih ya Tet, kau hadir di dalam hidup ku. Terima kasih, kau udah buat hidup ku lebih bahagia dan bermakna. Terima kasih kau mau jadi istri ku Tet." Ucap Halomoan sambil mengusap pipi Butet dan mengecup kening Butet dengan lembut.


Halomoan pun tersenyum kecil saat melihat Butet bergerak pelan.


"Semoga kita bahagia selama-lamanya, sampai maut memisahkan kita ya Tet." Ucapnya lagi.


Lalu, Halomoan beranjak untuk membetulkan posisi tidur Butet. Saat itu juga Butet terbangun dan menatap suaminya itu dengan seksama.


"Eh, maaf ya Tet, aku buat kau terbangun." Ucap Halomoan dengan wajah yang merasa bersalah.


Butet tersenyum dan menggeliat, lalu ia kembali menatap Halomoan.


"Udah kau kuras semua isi perot mu itu Bang?" Tanya Butet.


Halomoan tersenyum malu-malu sambil menganggukkan kepalanya.


"Maaf ya, mulas kali tadi."


"Gak papa, dari pada lepas di celana pulak." Seloroh Butet.


Mereka pun tertawa cekikikan berdua.


Sesaat kemudian, Halomoan yang hanya menggunakan celana boxer dan kemeja lengan panjang, terdiam di tepi ranjang sambil menatap Butet. Begitupun Butet yang terbaring di atas ranjang, mulai terlihat salah tingkah.


"Tet,"


"Apa Bang."


"Capek kali kau Tet?"


Butet mengulum senyumnya saat mendengar pertanyaan dari Halomoan.


"Namanya abes acara, ya capek lah Bang." Ucap Butet.


"Abang kusuk kau ya Tet." (Red-kusuk-pijat)

__ADS_1


"Memangnya Abang bisa kusuk?" Tanya Butet.


"Ish Bisa lah, jago nya Abang kusuk-kusuk Tet."


Halomoan tersenyum dan mulai memijat kaki Butet.


"Mana yang saket katanya pas acara tadi?"


"Yang ini Bang, saket kali pakek selop hak tinggi teros kan." Ucap Butet sambil menunjuk betisnya.


Halomoan tersenyum dan memijat betis Butet dengan berhati-hati.


Butet tersenyum mendapat perlakuan itu dari Halomoan.


"Udahlah Bang, Abang pun capek kan." Ucap Butet.


"Enggak, Abang gak capek kok Tet."


"Masak gak capek nokoh kali Abang." (Red-nokoh-berbohong)


"Serius Tet, nikah sama mu itu mimpi ku. Nunggu bertaon-taon gak ada aku capek, apa lagi cuman pesta sehari aja." Ucap Halomoan.


Butet tertegun dan menatap suaminya lekat-lekat.


"Kok ilang konyol mu Bang, kok terasa romantis kali malam ini ku tengok Abang." Ucap Butet.


Halomoan tersenyum sambil terus menatap istrinya itu.


Butet tersenyum dan beranjak duduk di atas ranjang.


"Jadi pen peluk Abang aku jadinya." Ucap Butet.


"Sini."


Halomoan mendekat dan memeluk Butet dengan erat.


Jantung Butet berdegup kencang. Ia benar-benar merasa ada perasaan aneh yang hinggap di benak nya.


Ini adalah malam pertama mereka sekamar berdua. Malam pertama mereka memulai kehidupan rumah tangga mereka. Butet pun mulai merasa gerah dan menunggu Halomoan untuk menyentuh dirinya.


"Bang."


"Ya." Sahut Halomoan sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Butet.


"Udah gak bergelora lagi kau Bang nengok aku?" Tanya Butet.


"Hah?" Tanya Halomoan sambil terlihat salah tingkah.


"Kok gak kau mulai jugak malam pertama nya?" Tanya Butet.


"Aku mau mulai, tapi ternyata grogi kali ya." Ucap Halomoan yang mendadak mati kutu.

__ADS_1


"Ya udah, anggap aja aku guleng mu." Ucap Butet.


"Ish," Halomoan cemberut saat Butet menyinggung bantal guling nya.


Butet tertawa terpingkal-pingkal saat mengingat cerita Bambang lagi.


"Ish ngejek dia, biar kau rasakan ucok ku ya Butet. Pasti gak bisa kau ketawa lagi, mintak ampun kau nantik." Ucap Halomoan sambil melucuti semua yang menempel di tubuh istrinya itu.


Butet terus tertawa geli, hingga akhirnya suara tawa itu pun berganti dengan bahasa cinta yang terus mengisi ruangan itu hingga pagi menjelang.


..


Sinar mentari, pagi ini begitu hangat. Suara burung dan air Danau yang menghempas tepian, terdengar begitu syahdu. Butet pun membuka kedua matanya, lalu ia menatap Halomoan yang masih tertidur di sampingnya.


"Iiihhh jorokkkkk...!" Seru Butet saat melihat air liur Halomoan di atas bantal.


Halomoan tersentak dan menatap Butet dengan seksama.


"Ada apa?" Tanya Halomoan sambil mengusap liur di sudut bibirnya.


"Jorokkkkkk...! Kau ngences teros aja Moan ya..!" Ucap Butet sambil bergidik geli.


Halomoan menatap Butet dan lalu ia pun tersenyum.


"Pelet ini, tau gak kau Tet. Gara-gara aku ngences, makanya kau jatoh cinta sama aku kan? dari di Bus dulu sampek sekarang." Ucap Halomoan sambil tertawa lebar.


"Ish bentok kau lagi Moan. Untung lah kau ganteng, sempat jelek kau udah ku benamkan kau di Danau."


Halomoan tertawa geli, mendengar ucapan Butet. lalu ia memeluk Butet dengan erat.


"Semalam gak ada kau jijik sama aku." Ucap Halomoan.


"Itu kan semalam, sekarang udah basi ludah mu itu Moan." Ucap Butet sambil bergidik.


Halomoan kembali tertawa geli, lalu ia pun membopong tubuh Butet dan menaruhnya di dalam bathtub.


"Mandi sama kita." Ucap nya sambil menyemprotkan air kearah Butet.


Butet pun berteriak sambil mencoba menghalangi wajahnya dari siraman air. Halomoan tertawa jahil dan terus menyemprotkan air ke arah istrinya. Mereka pun benar-benar menikmati awal-awal pernikahan layaknya pasangan pengantin baru lainnya.


Setelah mandi, mereka pun keluar dari cottage mereka untuk menemui teman-teman mereka yang menginap di penginapan yang sama.


Butet, Sri, Cempaka dan Siti beserta pasangan mereka, sarapan bersama. Begitupun dengan Nyak Tatik dan Nyak Komariah yang ikut sarapan bersama di meja makan restoran di penginapan itu, sebelum siang nanti mereka kembali ke Jakarta.


Mereka tertawa, bercanda dan bercerita tentang apa saja yang membuat mereka bahagia. Mereka pun kembali berjanji, mereka akan terus seperti ini hingga tua nanti. Mereka berkomitmen untuk tetap bersaudara, apa pun yang terjadi. Karena mereka merasa berasal dari satu rumah yang sama, yaitu Kost Putri Nyak Tatik. Sebelum mereka harus berpisah karena memulai hidup yang baru.


Rumah Kost, bagaikan rumah masa kecil bagi para penghuninya. Rumah yang mencetak segala cerita yang akan di kenang di masa depan. Tanpa rumah Kost Putri itu, tidak akan pernah ada cerita persaudaraan yang indah ini.


Inilah akhir dari cerita Kost Putri, tentang persaudaraan, kisah cinta, dan kasih sayang yang tulus dari hati para penghuninya. Semoga berkenan, ambil segala yang positif dan buang negatifnya yang ada di dalam Novel Kost Putri ini 🙏🏼


Sampai jumpa di cerita yang lainnya... De'rini. ❤️

__ADS_1


__ADS_2