Kost Putri

Kost Putri
91# Syarat dari Rozi


__ADS_3

Tok..! Tok..! Tok..!


Agus mengetuk pintu rumah Papanya. Dengan cemas, ia menunggu pintu itu terbuka sambil terus memperhatikan keadaan rumah itu. Rumah itu terlihat tidak terawat dan sepi.


Tak lama kemudian, Ibu tiri Agus membukakan pintu rumah itu dan menatap Agus dengan seksama.


"Agus?" Ucapnya saat melihat anak tirinya itu.


"Papanya ada?" Tanya Agus dengan ekspresi wajah yang dingin.


"Ngapain kamu kesini? mau minta uang? Papa mu tidak ada, dia tinggal bersama Adik mu, Nania." Ucap Ibu tiri Agus.


"Tinggal sama Nania?" Tanya Agus.


"Loh, kamu tidak tahu? Saya dan Papa mu itu sudah bercerai beberapa bulan yang lalu."


Agus terperanjat, ia menatap Ibu tirinya dengan tak percaya.


"Bapak mu itu sudah bangkrut...! Sudah tidak ada gunanya lagi. Mulai sakit-sakitan..! Aku tidak mau mengurus lelaki sakit." Ucap Ibu tirinya Agus.


Agus pun, menahan emosinya saat mendengar kata-kata mantan Ibu tirinya itu.


"Lalu, mengapa Papa yang keluar dari rumah ini? Ini kan rumah Papa." Ucap Agus.


"Ini rumah sudah atas nama ku. Papa mu yang memberikannya kepada ku. Saat dia bangkrut ya, dia tidak boleh tinggal disini." Ucap mantan Ibu tirinya Agus.


"Hmmmm.. dasar ular..!" Hardik Agus sambil berjalan keluar dari pekarangan rumah itu.


Nania, adalah Adik perempuan persis di bawah Agus. Nania tidak kuliah, karena ia lebih memilih menikah dengan lelaki pilihannya.


Nania ingin melepaskan diri dari rumah itu. Nania pun tak sanggup tinggal dengan Ibu tirinya. Hal itu lah yang membuat Nania nekat untuk menikah muda. Agar ada lelaki yang bertanggung jawab kepadanya.


Beruntung, hidup Nania cukup baik. Suami Nania adalah seorang pedagang kain di Tanah Abang. Lelaki itu adalah orang India, Boss Nania sendiri saat nania bekerja menjadi pegawai di toko lelaki itu.


Agus pun pergi ke rumah Nania. Saat ia tiba di rumah Nania, Agus melihat Papa nya yang sedang duduk di kursi Roda. Setahun sudah ia tidak melihat lelaki yang ia panggil "Papa" itu.


Agus menghampiri Papa nya dan mulai menangis di pangkuan Papa nya.


Papa Agus terserang stroke, karena shock. Setelah pensiun, ia mengikuti investasi saham yang ternyata ujung-ujungnya berantakan.


Setahun dua tahun, Investasi itu berjalan dengan baik. Tahun ke tiga, investasi itu lenyap begitu saja. Karena orang yang di percaya membawa semua uang yang sudah ia percayakan.


Kini, Agus benar-benar tidak ada tempat untuk berpulang. Agus juga tidak mungkin menumpang hidup dengan Nania yang sudah rela merawat dan membiayai Papa nya. Agus merasa malu, bila harus menambah beban Nania yang dulu sempat ia benci.


"Maafkan Abang selama ini." Ucap Agus kepada Nania.


"Abang pergi dulu. Terima kasih sudah merawat Papa." Sambungnya lagi.


"Abang mau kemana?" Tanya Nania.

__ADS_1


"Abang mau.... Abang.. mau ke......


Agus pun tak tahu ia akan pergi kemana. Ia benar-benar tidak ada tujuan yang jelas.


"Abang tinggal disini saja ya untuk sementara waktu."


Nania yang paham bila Agus tidak punya tujuan pun, menawarkan niat baiknya. Tetapi, Agus langsung menolaknya. Agus benar-benar merasa malu dengan Nania dan suaminya.


Agus pun pergi meninggalkan rumah Nania. Agus pun berencana untuk menemui Bambang. Ia berusaha menghubungi Bambang. Tetapi, telepon darinya tidak kunjung di angkat oleh Bambang. Wajar saja, karena Bambang kini sedang sibuk dengan Band nya.


Agus terdiam di sebuah warung kopi di pinggir jalan. Ia benar-benar tidak tahu akan pergi kemana. Lalu, ia pun teringat akan rumah Kost Nyak Komariah. Rumah Kost itu bagaikan rumah baginya. Dua tahun setengah ia tinggal disana, cukup membuat dia terlalu teringat akan indahnya kekeluargaan disana.


Agus pun mengusap wajahnya dengan gusar.


"Andaikan waktu itu aku bersedia tanggung jawab, mungkin tidak begini nasib ku saat ini." Ucap Agus penuh dengan penyesalan.


...


Setelah sekian minggu mendekati Risa, akhir nya Matt pun berniat untuk datang kerumah Risa.


Matt tampak gugup saat duduk di ruang tamu rumah Nyak Komariah. Lebih gugup lagi saat Nyak Komariah dan Rozi menatap Matt dengan seksama.


"Jadi name lu siape?" Tanya Nyak Komariah.


"Matt, nama saya Matt.


"Risa, ganteng-ganteng begini kok namanya mamat? Kaga ada yang laen ape?" Tanya Nyak Komariah.


"Matt Nyak bukan Mamat." Ucap Risa.


Rozi terus memperhatikan gelagat Matt. Sebagai seorang Abang yang kini bertanggung jawab atas Risa. Ia merasa harus menganalisa sikap, maksud dan sifat lelaki yang duduk tepat di depannya itu.


"Die pacar elu?" Tanya Rozi.


"Bu-bu-bukan Bang." Jawab Risa dengan Grogi.


"Trus? Ngapain lu ngajak dia ke rumah?" Tanya Rozi.


Risa menundukkan kepalanya,


"Dia yang minta Bang." Ucap Risa.


Risa merasa tahu diri, mengapa Rozi bersikap seperti itu kepada lelaki yang akan mendekati dirinya. Karena selama ini Rozi lah yang membiayai Arkha dan keluarganya.


"Maksud kedatangan elu apa ya?" Tanya Rozi kepada Matt.


"Hmmm, saya ingin mengatakan saya suka dengan Adik anda." Ucap Matt.


Rozi mengangguk paham, lalu ia menatap Risa yang masih menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Trus?" Tanya Rozi.


"Kalau di perbolehkan, saya ingin menikahi Risa." Ucap Matt.


Risa pun terperangah dan menatap Matt dengan tak percaya.


Matt, hanya mengatakan bahwa dirinya ingin berkenalan dengan keluarga Risa. Bukan mengatakan akan melamar Risa. Tentu saja Risa terkejut saat apa yang dikatakan Matt tidak sesuai dengan kenyataan.


"Agama lu ape?" Tanya Rozi.


"Sa-saya tidak punya Agama." Ucap Matt.


"Lah...!" Ucap Nyak Komariah sambil menatap Rozi.


Rozi menghela napasnya. Lalu, ia menatap Risa dengan seksama.


"Pegimane mau jadi imam? kalau Agama aje die kagak punya." Ucap Rozi.


Risa kembali menundukkan kepalanya.


"Lu niat bener ye ama Adik gue?" Tanya Rozi.


Matt pun mengangguk dengan pasti.


"Gue kagak izinin elu nikah ama Adik gue, sebelum lu seagama dengan Adik gue. Dan satu lagi, lu kudu lancar baca Al-Qur'an. Cuma itu syarat dari gue." Ucap Rozi.


Lalu, ia pun beranjak dari duduknya.


"Sudah malam, silahkan pulang." Ucap Rozi kepada Matt.


Matt menatap Risa dengan seksama. Lalu, ia pun mengangguk dan tersenyum.


"Saya akan pelajari Islam." Ucapnya. Lalu, ia pun berpamitan pulang.


Setelah Matt pulang, Risa pun mulai di berikan pertanyaan-pertanyaan dari Rozi.


"Lu kenal dimana ama itu bocah?" Tanya Rozi.


"Di cafe Bang." Ucap Risa.


"Cafe... oh... cafe..."


"Tapi, dia lelaki baik Bang, dia sopan." Ucap Risa.


"Baik awalnya. Kita gak tau kedepannya. Kalau kagak ada tantangan, laki-laki kagak akan kelihatan kesungguhannya." Ucap Rozi.


Risa terdiam membisu. Risa merasa apa yang di katakan Rozi pasti menjurus ke masa lalunya. ia pun mulai merasa gelisah.


"Ya Allah, bila memang dia jodohku, dekatkanlah ya Allah. Kalau memang bukan jodohku, jauhkanlah." Ucap Risa di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2