Kost Putri

Kost Putri
53# Rindu yang tak terbendung


__ADS_3

Tangan Sri masih gemetar saat kedua orangtua Dewa kembali ke rumah Nyak Tatik. Sri masih menundukkan wajahnya saat Dewa yang masih tinggal di sana terus menatap dirinya.


"Saya minta maaf. Saya bingung harus membuktikan cinta saya bagaimana lagi kepadamu Sri." Ucap Dewa.


Sri masih diam membisu.


"Sri, saya sudah tidak memperdulikan Santi. Mau dia bunuh diri atau tidak, saya yakin itu hanya ancaman saja. Saya minta maaf bila saya tidak tegas. Tetapi, saya sudah memutuskan hubungan dengan Santi." Ucap Dewa.


Sri mengangkat wajahnya dan menatap Dewa dengan lekat. Ia mencari kejujuran di wajah Dewa.


"Kenapa Mas memilih saya?" Tanya Sri.


"Karena saya cinta." Ucap Dewa.


"Tapi Mas sudah berkhianat. Mas gak jujur sama saya toh." Ucap Sri.


"Saya tahu. Saya minta maaf. Apa lagi yang harus saya buktikan. Saya benar-benar tidak mau kehilangan kamu Sri." Ucap Dewa.


Sri terdiam membisu.


Sri menyadari, Dewa tidak pernah berkhianat darinya. Justru, Santi lah yang di khianati Dewa. Posisi Sri itu adalah selingkuhan Dewa. Tetapi, cara Dewa lah yang salah. Dewa mencintai Sri saat dirinya masih berhubungan dengan wanita yang sering mengancam Dewa bila akan di tinggalkan oleh Dewa.


"Nanti si Santi bagaimana Mas?" Tanya Sri.


"Saya tidak peduli. Perasaan saya tidak bisa di bohongi Sri. Saya sangat mencintai kamu." Ucap Dewa yang terus mencoba meyakinkan Sri.


"Sri maafkan saya." Sambung Dewa. Kali ini lelaki itu bertekuk lutut di depan Sri yang duduk di bangku ruang tamu itu.


"Mas Dewa apa-apaan sih?" Tanya Sri saat melihat Dewa bertekuk lutut dan memohon maaf kepadanya.


Butet yang mengintip dari celah pintu kamarnya hanya mampu mencebikkan bibirnya saat melihat kisah asmara Sri dan Dewa.


"Lebay! Lemah!" Gumam Butet.


"Iya, saya maafkan, tetapi jangan begini juga toh! Gak enak kalau di lihat Butet Mas." Ucap Sri.


"Biarin, biar dikata lebay atau lemah gak papa." Ucap Dewa.


"Eh, kok tau dia aku bilang dia lebay dan lemah. Kek dukun si Dewa ini lah." Gumam Butet sambil bergidik ngeri.


"Iya saya maafkan. Ayo bangun!" Ucap Sri sambil membantu Dewa untuk bangun dari lantai.


Dewa langsung memeluk Sri dengan erat.


"Sri maafkan saya." Ucapnya lagi.


Sri hanya diam dan pasrah saat Dewa memeluk dirinya.


Dewa melepaskan pelukannya dan menatap Sri dengan seksama. Sri yang salah tingkah mencoba membuang pandangannya ke arah pintu keluar paviliun.


"Sri, ikhlaskan memaafkan saya?" Tanya Dewa.


"Iya." Ucap Sri.

__ADS_1


"Terima kasih ya Sri."


"Iya." Sahut Sri lagi.


"Masih marah ya?" Tanya Dewa.


"Enggak." Sahut Sri.


"Sayang.... I love you." Ucap Dewa.


Sri menatap Dewa dengan tatapan sendunya.


Butet yang terus mengintip kedua insan itu menahan muntahnya.


"Bucin kali. najis!" Gumam Butet.


"Maksudnya apa coba langsung bawa orang tua?" Tanya Sri.


Dewa tersenyum geli, memamerkan lesung pipinya yang terlihat manis di pipi lelaki itu.


"Kok malah ketawa toh?" Ucap Sri, kesal.


"Kalau Rozi bisa menjebak jodohnya, kenapa saya tidak bisa menjebak jodoh saya? Kalau begini kan kamu tidak bisa menolak." Ucap Rozi sambil tertawa terbahak-bahak.


"Jahat kamu Mas!" Ucap Sri sambil cemberut.


"Ya gak lah, asal di nikahi. Nikah yuk." Ucap Dewa.


Sri tersipu malu. Lalu, ia mulai tersenyum.


Sri mengulum senyumnya dan menatap Dewa.


Dewa mendekati bibirnya ke bibir Sri.


"Maafkan aku, aku menjebak kamu." Ucap lelaki itu, lalu ia mengecup bibir Sri dengan lembut.


"Woiiiiiiii....! Panas kali udara di kost-kost-an ini ya...! Sampek bekeringat aku lah! Kek mana ini?" Ucap Butet sambil beranjak keluar dari kamarnya.


"Eh, Bang Dewa. Masih disini rupanya. Gak takot kau Bang, kenak grebek sama Rt?" Sindir Butet.


Sri dan Dewa terkejut dan melepaskan pelukan mereka.


"Tidak apa-apa Tet, biar langsung di nikahi." Jawab Dewa.


"Oh kek gitu, inspiratif kali rupanya ya si Rozi sama si Cempaka." Sindir Butet.


Dewa dan Sri tersenyum geli melihat Butet yang merasa kesal dengan mereka.


...


Butet menatap langit-langit kamarnya pada malam itu. Semua sahabatnya, sudah menemukan tambatan hati. Kini tinggal dirinya sendiri yang masih jomblo.


Butet memeluk guling dan memasang wajah cemberut.

__ADS_1


"Kemana lah kau Halomoan. Entah diiiiii manaaaaaa dirimuuuu beeeeradaaaaa, hampaaaaa terasaaaa hiduppp ku tanpaaaa dirimu." ( Song by- Ari Lasso)


Butet bernyanyi sambil berteriak frustasi.


Sudah hampir 3 minggu ia tidak bertemu dengan Halomoan. Perasaan Butet kian tersiksa.


Butet mendengus kesal. Lalu, ia beranjak dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya.


Saat ia keluar kamar. Ia melihat Cempaka dan Rozi yang baru saja masuk kedalam rumah kost itu.


"Adoooohhh... perbucinan lagi yang ku tengok!" Ucap Butet kesal. Lalu, ia kembali masuk kedalam kamarnya.


"Butet teh kenapa ya A'?" Tanya Cempaka.


Rozi hanya mengangkat kedua bahunya.


Rozi dan Cempaka masuk kedalam kamar Cempaka. Rozi membantu Cempaka untuk membereskan semua barang-barang istrinya yang akan pindah ke kamarnya.


Cempaka mempersiapkan kopernya untuk mengangkat barang-barang pribadinya.


Rozi menatap Cempaka yang terlihat sangat cantik pada malam itu. Lalu, Rozi memeluk istrinya itu dari belakang.


"A', ayo beres-beres dulu." Ucap Cempaka dengan malu-malu.


"Bawaannya saya pengen nempel terus Cem." Bisik Rozi.


"Ih, A'a teh genit." Ucap Cempaka sambil tersenyum malu.


"Rasanya lega sudah sah dimata hukum. Kita bulan madu yuk!" Ucap Rozi.


"Kemana A'?" Tanya Cempaka.


"Yang deket aja, Bali." Ucap Rozi.


Cempaka tersipu malu.


"Terserah A'a saja. Saya teh nurut saja sebagai istri." Pipi Cempaka memerah.


"Saya siapkan ya." Ucap Rozi sambil membuka aplikasi untuk membooking tiket penerbangan dan tiket hotel di Bali.


"Tapi, saya teh gak bisa libur lama-lama. Takut nya teh pelajaran saya tertinggal jauh A'."


"Iya, 4 hari saja ya. Saya juga harus bekerja."


"Iya A'."


Cempaka kembali membereskan barang-barangnya. Sedangkan Rozi mencari tiket untuk mereka berbulan madu.


Dewa dan Sri sedang keluar menikmati malam minggu mereka. Dua insan yang baru saja menjalin kembali hubungan mereka terlihat sangat bahagia saat mereka duduk berdua di salah satu cafe tempat kongkow para anak muda.


Sedangkan Butet, ia hanya bisa menahan rindu yang hampir meledak di hatinya. Butet tidak menyangka begitu beratnya menahan rindu. Baru kali ini ia merasakan perasaan yang begitu menyiksa tatkala merindukan seseorang.


"Moaaaannnn... pulang lah kau Moaaaan. " Butet meratap di dalam hatinya.

__ADS_1


"Pulang kau Moan, langsung ku pelok ku cium kau sampek sariawan bibir mu itu." Ucap Butet lagi.


Lama-lama Butet menangis. Ia sudah tak tahan lagi. Ia hanya ingin menangis, menangisi lelaki yang sangat ia benci, tetapi di waktu yang sama, ia sangat mencintai lelaki itu. Lelaki itu adalah Halomoan Pangaribuan.


__ADS_2