Kost Putri

Kost Putri
78# Melamar Siti


__ADS_3

Libur semester ini, Butet dan Halomoan tidak pulang ke kampung mereka. Karena mereka harus tetap menjalankan usaha mereka. Sedangkan Sri, pulang bersama Dewa. Ke Bandung dan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Mereka menghabiskan waktu dua minggu liburan ini.


Sedangkan Siti, pulang kampung bersama Batra, Nyak Tatik, Cempaka dan Rozi serta anak mereka Farraz. Mereka bermaksud untuk melamar Siti di kampung gadis itu. Sedangkan Anca, anak terakhir Nyak Tatik tetap tinggal untuk menjaga rumah mereka.


Rita ikut Bambang tour keliling Kota. Sedangkan Risa, tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan bayi nya. Risa cukup tahu diri, walaupun kehidupan anaknya di tanggung oleh Rozi, ia tetap berusaha untuk tidak meminta terlebih dahulu sebelum di berikan uang oleh Rozi. Ia juga bermaksud untuk menabung demi masa depan Arkha, karena tidak mungkin selamanya ia hidup dengan mengadahkan tangan dan memberatkan Rozi terus menerus.


"Pagi sayang," Sapa Risa saat melihat Arkha terbangun dari tidurnya yang lelap.


"Eh..eh..eh..nggg.." Arkha langsung mengoceh dan tersenyum kepada Risa.


"Uhhh.. sayang anak Mama." Risa memeluk Arkha dan menggendongnya.


"Ompol nya banyak ya, sampe Pampers nya penuh. Yuk mandi.." Risa membawa Arkha ke kamar mandi.


"Eh, anak Nyai udeh bangun." Sapa Nyak Komariah yang sedang memasak.


"Udah Nyai." Sahut Risa.


Risa memandikan Arkha sambil sesekali termenung. Semakin hari, wajah Arkha semakin mirip dengan Agus. Semua yang ada di wajah bayi itu bagaikan miniatur Agus Ayah kandung Arkha.


"Dimana sih sekarang kamu Bang." Gumam Risa.


Tidak bisa di pungkiri, Agus pergi di saat Risa benar-benar jatuh cinta kepada Agus. Dan perasaan cinta itu masih bertahta di hati Risa. Walaupun Agus telah memperlakukan dirinya dengan kasar dan meninggalkan dirinya disaat hamil, Risa tetap menanggung rindu kepada lelaki itu.


"Semoga Abang sadar ya Bang. Anak kita sudah besar. Abang gak kepengen lihat apa?" Batin nya lagi.


Byurrrrr..!


"Eh, kok mama disiram?"


Arkha tertawa memamerkan gigi-gigi susu nya yang berderet dengan rapi atas dan bawah.


"Gemesin kamu ya." Ucap Risa sambil menciumi anak nya itu.


Di sisi lain, Nyak Komariah diam-diam pun berpikir yang sama dengan Risa. Ia masih belum ikhlas Agus pergi tanpa bertanggung jawab atas Risa dan Arkha. Dan dia belum percaya, Agus yang sopan dan baik, bahkan sudah di anggap anak sendiri, tega melakukan ini semua kepada Risa dan dirinya.


"Gus, Gus, anak lu udeh gede. Anak lu udeh gede, lu masih aje belom nongol. Emang kaga punya hati elu mah Gus." Gumam Nyak Komariah.


Setelah memandikan Arkha dan menyuapi nya sarapan, Risa pun berangkat bekerja. Jalanan Ibukota menjadi saksi bisu, betapa besar nya harapan Risa untuk hidup lebih baik kedepannya.


...

__ADS_1


"Jadi maksuik kedatangan Ibu jo sanak famili kasiko, karena mau melamar anak ambo, Siti?" Tanya Bapak Dahlan, Bapak kandung Siti. ( Red- Jadi maksud kedatangan Ibu dan sanak famili kesini, karena mau melamar anak saya, Siti?)


"Iya Bapak." Sahut Nyak Tatik.


Bapak Dahlan menatap Siti, lalu ia menatap istrinya, Halimah.


"Bagaimana iko Bundo?" Tanya Bapak Dahlan kepada istrinya.


Ibu Halimah terdiam dan menatap putri keduanya, Siti.


"Tetapi, Udanyo, si Siti alun juo manikah Da." (Red- Tetapi, Uda nya, si Siti belum juga menikah Uda.)


"Saya sangat menyayangi Putri Ibu yang cantik ini. Saya ingin sekali menjadikan dia menantu Bu. Sebentar lagi, anak saya akan wisuda. Lagi pula, Siti dan Batra saling mencintai." Ucap Nyak Tatik.


"Disiko, maminang dan memutuihkan pernikahan bukan hak kami sabagai urang tuonyo, Ibu."


Nyak Tatik menatap Cempaka yang menjadi pendamping Nyak Tatik sebagai penterjemah bahasa.


"Maksud nye apaan Cem?" Tanya Nyak Tatik.


"Maksudnya teh, disini meminang dan memutuskan pernikahan bukan hak orang tua si Siti, Nyak." Ucap Cempaka.


"Lah, pegimane? Die kan ortunye." Bisik Nyak Tatik.


"Adat nya begitu Ibu." Ucap Ibu Halimah.


"Adat?" Gumam Nyak Tatik.


"Oh....." Nyak Tatik mulai mengerti.


"Disini semua harus memakai Adat Bu. Kami sebagai orangtua harus bertanya terlebih dahulu kepada ninik mamak terlebih dahulu. Karena merekalah yang memutuskan sesuatu kepada calon besan dan seluruh permasalahan keluarga." Terang Ibu Halimah.


"Ninik Mamak?"


Nyak Tatik tampak tidak mengerti.


"Ninik Mamak itu pemimpin suku kami Nyak." Terang Siti.


"Oh begitu." Ucap Nyak Tatik.


"Siti, ikuik Bundo ka kamar santa." (Red- Siti, ikut Ibu ke kamar sebentar)

__ADS_1


Siti mengangguk dan mengikuti Ibu Halimah ke kamarnya.


"Siti, iyo bana kau cinto jo paja tu? Manga indak mancari urang awak se Siti..!" (Red- Siti, benar kamu cinta dengan lelaki itu? mengapa tidak mencari orang Minang juga Siti..!) Tanya Ibu Halimah.


Siti menundukkan pandangannya lalu ia mengangguk pelan.


"Iyo Bundo, Siti cinto jo Uda tu." (Red- Iya Ibu, Siti cinta dengan Uda itu)


"Ondeh mandeh Siti, Bundo bukan indak satuju jo paja tu. Tapi, kau masih kuliah. Inyo juo alun karajo. Jo a kau ka di agiah makan? Baa kalau kau baranak beko? Siti, a kecek urang beko, kau kulaih batua apo indak di rantau tu? beko di sangko urang lo kau hamil di luar nikah. Apo jangan-jangan kau alah hamil kini?" (Red- Siti,Ibu bukan tidak setuju dengan lelaki itu. Tetapi, kau masib kuliah. Dia juga belum bekerja. Dengan apa nanti kamu di nafkahi? Gimana kalau kamu punya anak nanti? Siti, apa kata orang nanti? Nanti di sangka orang pula kau hamil di luar nikah. Apa jangan-jangan kau sudah hamil sekarang?)


"Allahu Akbar, astaghfirullah Bundo...! Ambo indak hamil doh Bundo."


"Tu manga capek bana nyo maminang kau?" (Red- Terus, kenapa cepat sekali dia meminang kau?)


"Kuliah indak seperti sekolah doh Bundo. Itu Cempaka kawan ambo juo anak kost di rumah Nyak Tatik. Tu nyo nikah jo Udanyo si Batra. Tapi, nyo lanjuik kuliah, Bundo." (Red- Kuliah tidak seperti sekolah Bu. Itu Cempaka kawan ku juga anak kost Nyak Tatik. Tapi dia menikah dengan Abangnya si Batra. Tapi, dia lanjut kuliah, Bun)


Bu Halimah terdiam dan menatap Siti dengan seksama.


"Bundo, kami lah saling mencintai, izinkan kami manikah yo Bundo. Nyo laki-laki nan elok. Masalah hiduik jo rasaki, alah ado nan mangatua nyo Bundo." ( Red- Bu, kami sudah saling mencintai, izinkan kami menikah ya Bu. Dia lelaki yang baik. Masalah hidup dan rezeki, sudah ada yang mengaturnya Bu.)


Ibu Halimah terdiam, lalu ia beranjak keluar dari kamar Siti.


Siti hanya bisa berdo'a untuk bisa bersatu dengan Batra.


Hampir satu tahun mereka berpacaran, tidak sekalipun Batra pernah macam-macam kepadanya. Batra juga lelaki yang setia. Pulang kuliah, Batra pasti langsung pulang ke rumah, atau menjemput Siti di kampusnya.


Batra juga jujur, ia selalu memperbolehkan Siti untuk melihat ponselnya. Batra juga selalu mengikuti apa maunya Siti. Sejak memiliki hubungan dengan Siti, Batra juga jauh lebih baik, bahkan semakin taat beribadah. Bahkan, karena Siti, Batra pun bisa Khatam Al-Qur'an.


Itulah mengapa Nyak Tatik tidak ingin Siti berpindah ke lain hati. Nyak Tatik benar-benar jatuh cinta dengan Siti. Ia tidak mau kehilangan calon menantu terbaik untuk anak nya, Batra.


"Ya Allah, kalau memang Batra jodoh ambo, bukalah pintu hati ka dua orang tuo ambo." Do'a Siti.


"Kami harus barundiang dulu jo Ninik Mamak Suku kami Bu. Ibu bara hari disiko?" (Red- Kami harus berunding dulu dengan Ninik Mamak Suku kami Bu. Ibu berapa hari disini?) Tanya Ibu Halimah.


"Kami seminggu di sini." Ucap Cempaka.


"Ya, kalau bagitu, bisuak setelah barundiang jo Ninik Mamak, kami akan menghubungi Ibu dan keluarga." Ucap Ibu Halimah.


"Baiklah kalau begitu. Kami permisi dulu."


Nyak Tatik dan keluarga pun pamit dari rumah Siti. Saat ini Nyak Tatik, Batra dan keluarga harus menelan rasa kecewa. Dan mereka berharap esok atau lusa ada keajaiban bagi mereka yang telah jauh-jauh datang ke Padang untuk melamar Siti.

__ADS_1


Semoga saja.......


__ADS_2