
Sri diam seribu bahasa saat ia duduk berdua dengan Dewa di taman kampusnya. Hari ini Dewa sengaja mendatangi Sri karena cerita Santi yang sudah melabrak Sri. Sedangkan Sri sendiri tidak pernah bercerita kepada Dewa tentang Santi yang menyerangnya di depan komplek perumahan Kost-kost-an nya.
Dewa menatap wajah Sri yang terlihat masih lebam di pelipis nya, serta ada luka cakar di pipi mulus Sri.
"Kenapa kamu tidak cerita? maaf, saya baru saja pulang KKN." Ucap Dewa.
Sri masih diam seribu bahasa. Ia hanya berusaha untuk tenang dan tidak melampiaskan amarahnya kepada Dewa. Apa yang di katakan Siti memang benar, yang salah adalah Santi, toh Dewa sudah memilih dirinya dan Santi tidak terima dengan putusnya hubungan dirinya dengan Dewa.
"Saya minta maaf." Ucap Dewa penuh dengan penyesalan dan mencoba untuk menyentuh pipi Sri yang terlihat memerah karena luka yang belum kering.
Sri mencoba menghindari tangan Dewa, lalu ia menatap lelaki itu dengan tatapan yang datar.
"Mas, kalau Mas ndak bisa membungkam mantan Mas iku. Lebih baik jauhi aku. Aku ndak marah sama Mas Dewa. Tetapi, aku hanya ingin Mas Dewa tau, kalau aku ndak suka kalau mantan Mas terus menggangguku. Kalau Mas memang serius kepadaku, tolong, tolong sekali, aku ingin Mas tegas." Ucap Sri.
Dewa menghela napasnya lalu ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Ok, ayo kita laporkan ke polisi. Itu ada pasalnya." Ucap Dewa.
Sri terdiam dan menatap Dewa dengan tak percaya.
"Yo kasihan toh Mas. Nanti dia di penjara." Ucap Sri.
"Terus aku harus bagaimana? bukannya lebih baik dia di penjara dan tidak menggangu kita lagi? Sri, aku sudah tegas setegas-tegasnya dengan dia. Tetapi, dia makin menggila." Terang Dewa.
Sri kembali terdiam. Ia merasa bingung akan mengatakan apa. Memang benar adanya, Dewa sudah terlalu tegas dengan Santi. Tetapi, apa daya? Santi tetap menginginkan Dewa.
"Kita bisa saja melarang orang lain. Tetapi, apakah kita bisa mencegah ucapan dan perbuatan orang kepada kita, kalau tidak di berikan pelajaran degan mengurungnya di penjara?" Tanya Dewa.
Sri menatap Dewa yang tampak emosi dan tak tahu lagi akan bagaimana dalam menghadapi mantan kekasihnya, Santi.
"Aku sudah bilang, aku serius dengan kamu! Hatiku hanya untuk kamu Sri. Kalau kamu tidak percaya, ayo kita menikah!" Tantang Dewa.
"Aaa, anu anu Mas, aku belum siap toh Mas." Ucap Sri yang merasa ciut nyali saat Dewa mengancamnya untuk segera menikah dengan lelaki itu.
"Terus saya harus bagaimana? apa saya harus memukulnya juga? Saya ingin sekali memukul dia dan membalas semua perlakuannya kepada kamu. Tetapi, apa iya saya harus melakukan itu Sri?"
Sri menundukkan wajahnya.
"Ayo ikut aku." Ucap Dewa sambil menuntun tangan Sri.
"Mas, kita mau kemana toh?" Tanya Sri.
Dewa menuntun Sri menuju parkiran kampus. Lalu, ia mengambil sepeda motornya dan menyuruh Sri naik keatas boncengannya.
"Naik, ayo." Ucap Dewa.
"Kita mau kemana dulu Mas?" Tanya Sri.
"Ikut saja ya, nanti kamu juga tahu." Ucap Dewa.
__ADS_1
"Tapi ndak ke kantor polisi toh?"
"Enggak, santai saja, kita gak akan ke kantor polisi." Ucap Dewa mencoba meyakinkan Sri.
Dengan Ragu, Sri naik ke atas boncengan sepeda motor milik Dewa dan mereka pun pergi meninggalkan kampus itu.
...
Hari sudah beranjak petang, Cempaka terlihat termenung di beranda paviliun rumah Nyak Tatik. Wajahnya terlihat risau dan pucat. Siti yang baru saja menyapu halaman membantu Nyak Tatik, datang menghampiri Cempaka dan duduk di sampingnya.
"Knapo ang Cem?"
Cempaka melirik Siti dan tersenyum kepada gadis itu.
"Gak ada apa-apa kok Ti."
"Kok muko ang mode tu bana?"
"Artinya?" Tanya Cempaka.
"Oh iyo den lupa, ang indak bisa bahasa Minang doh." ( Red- Oh iya aku lupa, kamu tidak bisa bahasa Minang.)
Cempaka mengernyitkan dahinya.
"Eh Siti, kamu teh ajarin saya bahasa Minang. Biar nanti saya ajarkan bahasa Sunda." Ucap Cempaka.
Cempaka tertawa dan terlihat bersemangat.
"Iya Ti. Oh iya, cerita sama saya tentang kampung mu Ti."
"Hmmmm, santa." ( Red- santa-sebentar)
Siti mengeluarkan ponselnya dan menunjukan gambar pemandangan alam di kampungnya.
"Ha, iko, cubo kau caliak." ( Red- ha, ini coba kamu lihat.)
"Caliak?" Tanya Cempaka.
"Iyo, Caliak." Ucap Siti sambil menyerahkan ponselnya.
Cempaka menerima ponsel Siti dan melihat-lihat gambar yang Siti ambil saat ia berada si kampungnya.
"Indah sekali Ti." Ucap Cempaka dengan wajah yang takjub.
"Indah kan? mangkonyo, bilo-bilo kau main lah ka kampuang den."
Cempaka kembali menatap Siti.
"Aduh, saya teh gak ngerti kamu ngomong apa atuh Ti." Ucap Cempaka.
__ADS_1
Siti tertawa, lalu ia mengajarkan Cempaka bahasa Minang. Mereka berdua tampak sesekali tertawa saat mendengar suku kata dan perbedaan kata-kata dari masing-masing daerah mereka.
"Paja-paja tu, kok alun pulang yo? hari lah hampia Maghrib." Ucap Siti. (Red- orang-orang itu kok belum pulang ya? hari sudah hampir Maghrib.)
Cempaka yang sudah mulai mengerti sedikit-sedikit bahasa Minang pun menjawab.
"Antah, kama pai nyo paja-paja tu." ( Red- entah, kemana perginya orang-orang itu) Ucap Cempaka dengan terbata-bata.
Sontak saja Siti tertawa terbahak-bahak mendengar Cempaka berbahasa Minang.
"Ha, lulus ang tu. Santa lai jadi urang Minang ang mah Cem." ( Ha, lulus kamu itu, sebentar lagi jadi orang minang kami Cem.)
Cempaka ikut tertawa terbahak-bahak. Ia merasa geli sendiri saat dirinya berbahasa Minang dengan terbata-bata.
Pagar rumah terbuka, tampak Batra yang sedang membuka pagar untuk memasukan mobilnya. Lelaki itu sempat melirik ke arah Cempaka dan Siti.
"Sia tu yo?" Tanya Siti penasaran.
"Oh dia, dia teh Adik ipar saya." Ucap Cempaka.
"Oh, ganteng yo." Ucap Siti lagi.
Cempaka menatap Siti dengan curiga.
"Jangan bilang kalau kamu teh cinta pada pandangan pertama Ti." Goda Cempaka.
Siti mengangkat kedua alisnya dan menatap Cempaka dengan seksama.
"Indak lah.. indak." Ucap Siti sambil tersenyum malu.
"Dia teh masih kuliah. Sekarang teh semester 6. Kayaknya dia teh cocok sama kamu Ti." Ucap Cempaka.
Siti tersipu malu saat Cempaka mengatakan dirinya cocok dengan Batra.
"Aden lah mancaliak inyo bara hari lalu Cem. Den kiro nyo cuma tamu. Gak tau nya anak Nyak Tatik juga." (Red- aku sudah melihat dia beberapa hari yang lalu Cem. Aku kira dia hanya bertamu.)
"Indak- indak, inyo adiak ipar den." Ucap Cempaka yang kembali berbahasa Minang dengan terbata-bata.
"hahahhahahaa... lucu ang Cem, bahaso Minang nyo." Siti tertawa hingga memegangi perutnya yang terasa kaku.
Tak lama kemudian Rozi pulang. Cempaka pun langsung berpamitan kepada Siti untuk menyambut suaminya yang baru saja pulang dari kantor.
Siti tersenyum dan mempersilahkan Cempaka untuk pulang. Ia terus menatap Cempaka dan Rozi yang begitu mesra saat bertemu.
"Ondeh mandehhhh... Andaikan aden lah nikah, mode tu juo mungkin yo."
"Lah kalam hari mah, kama lah paja-paja tu. Sri jo si Butet ko tukang malala mah, Di tingga-tingga nyo se den surang. Nasib den bana ko jomblo." (Red- Hari sudah gelap, kemana lah orang-orang itu. Sri sama si Butet tukang main, di tinggal-tinggalnya saja aku sendiri. Nasib jomblo) Ucap Siti dengan raut wajah yang sedih.
Lalu, ia masuk kedalam dan menutup semua jendela paviliun.
__ADS_1