Kost Putri

Kost Putri
89# Ayo kita keluar malam ini


__ADS_3

"Nak ku, Mamak pulang dulu ya. Mamak siapkan acara Marhori-hori dinding dulu di Kampung. Kau urus lah dulu pindah rumah mu." Ucap Mamak saat akan berpisah dengan Halomoan dan Butet di Bandara, setelah beberapa hari mereka berada di Jakarta.


"Iya Mamak." Ucap Halomon.


"Untuk kau Boru. Akur-akur klean ya. Mamak yakin kau yang terbaik untu Moan. Karena kau anak ku yang malas ini lulus dengan baek, mau punya usah kayak Amang nya. Mamak bangga dengan klean bedua."


Butet tersenyum, lalu ia memeluk Mamak dengan erat.


"Terima kasih Nang, sudah mengizinkan aku bersama Bang Moan." Ucap Butet.


Mamak tersenyum dan membelai rambut Butet.


"Kami boleh langsong tinggal bedua di rumah baru Mak?" Tanya Halomoan.


"Eh apa nya kau..! Kenak parang kau nantik sama Amang si Butet. Tau kau? Amang si Butet preman dia di Toba." Seloroh Mamak.


Butet tersenyum, sedangkan Halomoan bersungut-sungut.


"Jangan lah nak ku, sabar Marhori-hori dinding akan di gelar. Sampek siap semester si Butet baru siap acara adat." Ucap Mamak.


"Panjang kali pun prosesnya." Keluh Halomoan.


"Kel gitu lah orang Batak. Siapa suruh kau jadi orang Batak." Timpal Amang.


Mereka tertawa bersama-sama. Lalu, mereka pun berpisah di pintu masuk terminal domestik keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta, Tanggerang, Banten.


Butet dan Halomoan pun kembali ke cafe dengan menumpang sebuah taksi.


..


"Ris, di cari Matt." Ucap Siti yang datang ke dapur untuk menyampaikan pesan Matt.


Risa yang sedang makan di dapur menatap Siti dengan seksama. Lalu, ia tersenyum malu.


"Temui lah. Lamo nyo menunggu beko Babang Matt nan tampan." Seloroh Siti.


"Apaan sih, bilang aje gue lagi makan." Ucap Risa.


"Iyo, tapi capek yo."


"Iyeee.." Ucap Risa.


Sri yang sedang makan di samping Risa menatap Risa dengan seksama.


"Mamat sopo toh?" Tanya Sri.


"Bukan Mamat, Sri... Matt..... bacanya pake lidah Inggris.. Ok..!" Ucap Risa.


"Oh, jadi orang bule toh?" Tanya Sri lagi.


Risa pun mengulum senyumnya.


"Dadi penasaran aku, ganteng gak?" Tanya Sri lagi sambil menaruh Piringnya ke dalam wastafel. Lalu, ia beranjak ke luar dapur dan menyapukan pandangannya ke seluruh pengunjung.


Sri melihat seorang lelaki bermata biru dengan rambut berwarna ash brown. Lelaki itu terlihat semakin tampan dengan menggunakan kemeja berwarna kopi susu yang beberapa anak kancing nya di biarkan terbuka.


Sri kembali ke dalam dapur dan mendekati Risa dengan bersemangat.


"Guanteng neeeee puoooolll Ris..!" Seru Sri.


"Itu pacar kamu?" Tanya Sri.

__ADS_1


"Bukan, temenan aja." Ucap Risa sambil beranjak menaruh piring bekas nya.


"Dia orang mana toh?" Tanya Sri penasaran.


"Swiss." Ucap Risa sambil meraih botol minumannya.


"Ganteng puoooolll Ris..! Jadikan pacar Ris.." Ucap Sri dengan bersemangat.


"Apaan sih, mana ada yang mau sama perempuan yang jadi Ibu tunggal."


Sri terdiam. Sri sadar, Risa tidak percaya diri dengan masa lalunya.


"Udeh ah, gue nemuin die dulu." Ucap Risa.


Lalu, gadis itu pun beranjak ke luar dapur. Sedangkan Sri menatap Risa dengan tatapan bersalah.


Risa melangkahkan kakinya menuju meja Matt. Terlihat lelaki itu sangat bahagia saat melihat Risa datang menghampiri dirinya.


"Hai matt, ada apa?" Tanya Risa.


"Hai, aku datang untuk melihatmu." Ucap Matt.


Risa tersenyum malu sambil menundukkan pandangannya.


"Risa, today hari Sabtu. Bagaimana bila kita jalan-jalan?" Tanya Matt.


Risa menatap Matt dengan seksama. Ingin sekali ia mengatakan "Iya". Tetapi, Risa teringat akan Arkha yang sudah menunggunya dirumah. Risa juga mengingat Nyak Komariah yang sudah mulai sering merasa encok karena menggendong dan mengurus Arkha yang sudah beranjak besar.


"Sorry Matt, saya tidak bisa." Ucap Risa.


"Why?"


"Saya memiliki baby yang harus saya urus." Ucap Risa dengan wajah yang tampak tegang saat mengukur reaksi Matt yang belum pernah tahu, bila Risa sudah memiliki seorang anak.


"Kamu sudah mempunyai suami dan anak?" Tanya Matt.


Risa terdiam. Risa tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kepada Matt bahwa dirinya hamil dan di tinggal oleh kekasihnya.


Sebenarnya hal itu lumrah bagi orang asing. Tetapi, sebagai orang Indonesia, hal tersebut tetap memalukan bagi Risa.


"Saya bekerja dulu ya." Ucap Risa sambil beranjak dari hadapan Risa.


Siti dan Sri yang memantau Risa dari meja kasir, saling berpandangan saat melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan sikap dan wajah Risa yang terlihat sedih.


Risa kembali ke dapur cafe. Ia terduduk di atas lantai sambil menekuk kedua kakinya.


"Eh, Sri. Ang jaga dulu kasir yo. Aden ka mancaliak si Risa." Ucap Siti.


Sebagai Kakak ipar, jiwa melindungi dan rasa khawatir Siti pun hadir.


Sri mengangguk, lalu Siti pun berjalan ke arah dapur.


"Manga ang Ris?" Tanya Siti saat melihat Risa menenggelamkan wajahnya di atas dengkul kakinya.


Risa menoleh ke arah Siti dan tersenyum dengan hambar. Lalu, ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan.


"Manga? cerito jo den Ris." Ucap Siti lagi.


"Gue baik-baik aja " Ucap Risa.


"Aden Kakak ipar kau Ris. Carito jo den Ris, indak baa doh." Desak Siti.

__ADS_1


Risa meluruskan kakinya dan menyenderkan punggungnya di dinding dapur. Ia menatap Siti dengan seksama. Siti memang sangat perhatian semenjak jadi Kakak iparnya. Bahkan, Siti jauh lebih perhatian dibandingkan Rita saudara kembarnya sendiri.


"Dia ngajak gue ngedate." Ucap Risa.


"Bagus lah..!" Seru Siti dengan wajah yang berbinar-binar.


"Gue bilang kalau gue sudah punya anak. Dia malah nyangkain gue udah berkeluarga dan punya suami." Ucap Risa dengan suara yang tercekat.


Siti pun terdiam. Lalu, ia ikut duduk di samping Risa.


" Kenapo indak ang kecek an sajo nan sabatuanyo?" ( Red- mengapa tidak kau katakan saja yang sebenarnya.)


"Gue malu, gue punya anak di luar nikah." Ucap Risa.


Siti menatap Risa dengan tatapan yang iba.


Mereka berdua pun terdiam.


"Ris, aden ka bacarito saketek." (Red- Ris, aku mau bercerita sedikit.)


"Apa?" Tanya Risa.


"Di kampung den, walaupun Adat dan Agama sangat di junjung di sana. Tetapi, namanya urang hidup, pasti ado nan babuek kesalahan." Ucap Siti mengawali ceritanya.


Risa menatap Siti dengan seksama.


"Aden punya kawan nan kisah hiduik nya samo jo ang Ris. Tetapi, kesalahan cukuplah sekali sajo di buek. Setelah itu usahakan hidup dengan elok. Dia awalnya menutup diri. Karena merasa lelaki nan mendekati nyo, samo semua seperti mantan pacarnyo nan kabua karena indak mau tanggung jawab."


Risa terus menatap Siti dengan seksama.


"Terus?" Tanya Risa.


"Terus, namanyo kita hidup. Itu harus move on. Justru, dengan jujur ang dapat menyeleksi lelaki yang benar-benar tulus samo waang." Ucap Siti.


Risa pun terdiam.


"Ris, kesalahan nan alah berlalu, biarlah berlalu. Kini, bahagialah dengan hidup ang nan baru. Ang berhak bahagia." Ucap Siti.


Kini air mata Risa mulai menetes di pipinya.


"Tapi, gue malu bilang kalau gue punya anak tanpa suami." Ucap Risa.


Siti tersenyum kecil, lalu ia mengusap bahu Risa.


"Ris, bagi bule, dak do nan memalukan. Bagi mereka wajar-wajar sajo sadonyo. Asal ang jangan bersendawa di depan nyo." Ucap Siti sambil tersenyum.


"Kenapa gitu?" Tanya Risa.


"Bagi mereka bersendawa gak sopan. Tapi, yang lainnya biasa saja. Gak ada aib, semua orang bebas dengan pilihan hidup nyo." Ucap Siti.


Risa tersenyum, lalu ia menundukkan wajahnya.


"Ayo move on. Lupakan sadonyo. Mulai hidup baru. Ang berhak bahagia." Ucap Siti.


Risa memandang Kakak ipar nya itu. Lalu, ia mengangguk dengan pasti.


Risa dan Siti pun keluar dari dapur. Risa menyapukan pandangannya mencari sosok Matt. Tetapi, lelaki itu sudah tidak berada di sana.


Risa pun panik, lalu ia mencoba menghubungi Matt.


"Halo," Sapa Matt.

__ADS_1


"Saya mau cerita. Ayo kita keluar malam ini." Ucap Risa.


__ADS_2