Kost Putri

Kost Putri
37# Gerah!


__ADS_3

Rozi yang baru pulang dari minimarket menatap Cempaka yang sedang duduk di atas ranjang dengan wajah yang memerah. Cempaka juga menatap Rozi yang terlihat berkeringat dan wajah yang memerah.


"Sudah pulang A'." Ucap Cempaka berbasa-basi.


"Sudah." Ucap Rozi sambil menaruh kunci sepeda motornya di atas nakas dan memberikan belanjanya kepada Cempaka.


Cempaka meraih plastik belanjaan yang di serahkan Rozi dan menaruhnya di atas ranjang tepat di sampingnya.


Rozi menghampiri Cempaka dan duduk di samping Cempaka.


"Dimakan cemilan nya. Ini Saya belikan ninuman dingin juga. Tadinya saya mau membuatkan teh. Tapi, udaranya panas, jadi saya belikan minuman dingin saja, tidak apa-apa kan?" Tanya Rozi.


"Tidak apa-apa A'." Ucap Cempaka sambil terus menatap monitor laptop nya.


"Saya buka ya."


Cempaka menatap Rozi dan mengerutkan keningnya.


"Apanya A'?" Tanya Cempaka.


"Minumannya." Ucap Rozi.


"Oh, iya." Ucap Cempaka yang tampak sempat salah paham dengan ucapan Rozi.


Mereka berdua pun menonton di atas ranjang di temani dengan cemilan-cemilan yang di beli Rozi.


Mereka tertawa dan tersenyum sendiri saat melihat adegan-adegan lucu di drama Korea yang mereka tonton.


Cempaka mulai merasa gerah karena efek jamu yang diberikan oleh Nyak Tatik.


Begitupun dengan Rozi yang mulai tampak gelisah.


"A', udaranya teh panas ya. Minta tolong AC nya di kecilin suhunya A'." Pinta Cempaka.


"Iya panas." Sahut Rozi.


Rozi meraih remote AC, lalu, mengecilkan suhu agar udara di kamarnya semakin sejuk.


Wajah mereka tampak memerah. Dua-duanya terlihat sangat gelisah.


"Kenapa Cem?" Tanya Rozi.


"Gak papa A'." Sahut Cempaka.


Lalu hening.


"Duh panas banget ya A'." Ucap Cempaka sambil menguncir rambutnya yang panjang.


Rozi hanya mengangguk dan menelan salivanya saat melihat leher Cempaka yang jenjang.


"Aduh ampun dah kerjaan si Nyak. Pasti si Cempaka juga di kasih jamu nih." Batin Rozi.


"Duh panas." Keluh Cempaka.


Rozi beranjak dari ranjang dan mengambil sebuah buku tulis dan kembali lagi ke atas ranjang.


"Saya kipasin ya." Ucap Rozi.

__ADS_1


"Gak usah A'." Cegah Cempaka.


"Tidak apa-apa." Ucap Rozi.


"Gak usah A'." Ucap Cempaka lagi, sambil menahan tangan Rozi yang sedang memegang buku tulis itu.


Rozi menatap mata Cempaka. Cempaka tampak sangat gelisah dengan tatapan mata Rozi.


"A'a teh kenapa menatap saya seperti itu A'." Tanya Cempaka.


Rozi mengerjapkan matanya dan menundukkan pandangannya.


"Tidak apa-apa Cem." Ucap Rozi.


"Duh Nyakkkkkkkk. Gue kudu ngapain kalau begini." Gumam Rozi yang mulai merasa bernafsu.


Cempaka kembali menatap monitor laptopnya.


"Duh, saya teh kenapa? Kok bawaan nya panas. Bawaan nya teh kepengen buka baju." Batin Cempaka.


Mereka berdua tampak tidak konsentrasi dengan drama yang sedang di putar di laptop Cempaka. Mereka berdua tampak sangat gelisah.


"Cem, saya izin buka baju ya. Soal nya panas." Ucap Rozi yang sudah tidak tahan dengan rasa panas di tubuhnya.


Cempaka menatap Rozi dan mengangguk dengan ragu.


Rozi membuka bajunya dan kembali duduk di samping Cempaka.


Cempaka melirik otot perut Rozi yang berbentuk kotak-kotak yang terukir jelas di perut lelaki itu.


Rozi semakin merasa tidak karu-karuan. Lalu ia mulai merangkul Cempaka.


Cempaka mulai merasa grogi. Lalu, ia melepaskan tangan Rozi dari pundaknya.


"Saya tidur di paviliun saja ya A'." Ucap Cempaka.


Rozi merasa bersalah karena sudah merangkul Cempaka. Sehingga gadis itu meminta tidur di paviliun.


"Ada Nyak di luar." Ucap Rozi.


Cempaka terdiam. Lalu, hening.


Tegangan tinggi sudah tak dapat di tahan Rozi. Ia beranjak dari atas ranjang dan menggelar karpet di lantai.


"Saya tidur dulu ya." Ucap Rozi.


"Tidak jadi nonton A'?."


"Saya mengantuk dan pusing juga." Ucap Rozi.


"Oh iya, saya mau ke kamar mandi dulu." Ucap Rozi. Lalu, ia beranjak keluar kamar.


Setelah Rozi keluar kamar, Cempaka pun mulai berguling-guling di atas ranjang.


"Aduh, saya teh kenapa? kok rasanya aneh." Gumam Cempaka.


Dengan gelisah, Cempaka membuka pintu kamar dan melihat situasi di luar kamar. Tidak ada Nyak Tatik disana. Lalu, ia keluar membawa laptop nya dan pergi menuju paviliun.

__ADS_1


Sedangkan Rozi sedang berjuang di kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya.


Sepuluh menit kemudian, Rozi kembali ke kamarnya. Ia tidak melihat Cempaka disana. Lalu, ia melihat secarik kertas yang terletak di atas ranjang. Lalu, Rozi membacanya.


A', saya teh tidur di paviliun saja ya. Maaf tidak menunggu A'a.


Rozi menghela napasnya. Lalu, ia kembali ke kamar mandi untuk kembali menuntaskan hasratnya.


Cempaka terlihat gelisah di atas ranjangnya. Dengan susah payah ia berusaha memejamkan kedua matanya.


Cempaka bingung akan bagaimana. Ia benar-benar baru kali ini merasakan hal yang kini sedang ia rasakan.


"Duh.. aduh.. Ambuuuu." Keluh Cempaka.


"Mungkin saya teh sudah siap untuk menjadi istri." Gumam nya.


Cempaka beranjak duduk di atas ranjangnya. Lalu, ia mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan perlahan.


"Ok, saya teh sudah siap melayani A'a Rozi." Gumam nya. Lalu, Cempaka keluar dari paviliun dan bergegas menuju kamar Rozi.


Saat Cempaka kembali ke kamar Rozi. Cempaka melihat Rozi sedang tertidur di atas ranjang dengan wajah yang terlihat kelelahan.


"Yah, A' Rozi nya sudah tidur." Gumam Cempaka merasa kecewa.


Lalu, ia kembali menutup pintu kamar Rozi dan beranjak kembali ke paviliun nya.


..


Butet menatap langit-langit kamarnya. Wajah Halomoan tidak mau hilang dari benaknya.


"Ya ampunnn.. kok kek setan kali kau Halomoan." Batin Butet.


Butet tampak gelisah dan beranjak duduk di atas ranjangnya.


"Apa aku udah jatoh cinta sama si Moan ya?" Gumam nya.


"Ah gak mungkin lah Butet. Selera mu tinggi Butet. Gak mungkin kau sukak sama si tukang ngences!"


"Eh, tapi dia ganteng jugak ya." Batin nya lagi.


"Aduh Inangggggg...! Kek mana ini? apa iya aku sukak sama si tukang ngences?" Butet mengacak-acak rambutnya dan mengerutkan dagunya.


"Amangoiiiiiiii..!" Keluh Butet sambil menggigit bantalnya.


"Ko pelet aku ya Halomoan?" Ko dukunin aku kek nya." Ucap Butet dengan gelisah.


Butet kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Lalu, kembali menatap langit-langit kamarnya.


Terbayang di benaknya, Halomoan sedang tersenyum manis kepada dirinya. Malam ini benar-benar membuat Butet menjadi galau. Malam ini Halomoan benar-benar menyita pikiran Butet.


"Apa nya ini!" Keluh Butet lagi.


"Iya iya Moan..! aku sukak sama kau! Tapi gak kek gini jugak..! Bayangan kau aja teros muncol di mata ku Moan. Kek setan memang kau!" Ucap Butet sambil membanting-banting bantal guling nya di atas ranjang.


"Tapi gengsi kali aku sama dia. Ih... walaupun sukak kali aku sama nya, dia harus berjuang mendapatkan aku. Biar di hargainya sikit aku. Jadi cewek jan murah kali lah." Gumam Butet sambil tersenyum sendiri.


"Tapi, betol lah Moan. Lama-lama cinta jugak aku sama kau. Peluk dulu sini Moan." Ucap Butet sambil memeluk guling nya sambil tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


__ADS_2