Kost Putri

Kost Putri
88# Wisuda dan kebahagiaan


__ADS_3

Halomoan tertunduk sedih di hari wisudanya. Butet yang ia harapkan datang, belum juga muncul. Tentu saja tidak akan muncul, Butet sedang marah dengan Halomoan. begitulah kira-kira yang ada di pikiran Halomoan.


Hingga acara di mulai pun, Butet belum juga muncul. Halomoan pasrah, ia mencoba untuk tidak banyak berharap. Karena ia sadar, Butet tidak akan pernah datang.


Halomoan tertunduk sedih, saat namanya di panggil ke panggung podium. Ia tampak kurang bersemangat saat menerima gelar Sarjana Sains nya. Bahkan ia terlihat tersenyum hambar saat fotografer mengambil fotonya saat berada di panggung podium.


Kedua orangtua Halomoan tampak sangat bangga keada anaknya. Halomoan memang tidak pernah bermain-main saat kuliah. Hingga ia lulus dengan tepat waktu.


Acara selesai, Halomoan dan kedua orangtuanya pun keluar dari gedung tempat dimana diselenggarakannya acara wisuda angkatan Halomoan.


Amang dan Mamak terus memuji Halomoan yang mendapatkan IPK nyaris sempurna. Di samping kesibukannya mengurus usaha, ia menyempatkan diri untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Ini semua demi Butet. Halomoan memang berniat lulus tepat waktu, agar ia bisa melamar Butet dengan segera.


"Kenapa kau sedih nak ku?" Tanya Mamak.


"Gak apa Mak." Jawab Halomoan sambil menunduk sedih.


"Kemana nya cewek mu itu nak ku?" Tanya Mamak lagi.


Halomoan tersenyum, lalu ia menatap kedua orangtuanya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dia.........


"Bang Moaaaaaaannnn...!" Panggil Butet yang berlari di halaman gedung itu.


"Butet..!" Seru Halomoan.


"Bang Moaaaaaaannnn...!" Butet berlari sekuat tenaga dengan menggunakan kebaya dan kain ulos.


Kedua orangtua Halomoan pun, tampak bahagia melihat kehadiran Butet.


Kreeeeekkkkkkk..!


Kain ulos yang dipakai oleh Butet pun sobek. Tetapi, Butet tidak memperdulikan nya. Ia tetap berlari ke arah Halomoan.


Brukkkkkkk..!


Butet menabrak tubuh Halomoan dan memeluk lelaki itu dengan erat.


"Butet," Halomoan tidak bisa berkata-kata. Saking bahagianya hatinya.


"Maafkan aku Bang." Ucap Butet.


"Aku yang salah Tet, aku cinta kali sama kau hasian. Gak akan aku ulangi kayak gitu hasian ku." Ucap Halomoan.


Butet menangis di pelukan Halomoan.


"Udah jangan nangis, aku yang salah." Ucap Halomoan.


"Aku yang salah Bang." Ucap Butet.


"Aku yang salah Tet."


Butet melepaskan pelukannya dan menatap Halomoan sambil mengernyitkan dahinya.


"Aku Bang,"


"Aku Tet,"


"Aku, ku bilang..!"

__ADS_1


"Aku tet..!"


"Aku Moan..!"


"Aku Butet..!"


"Eeeeeee... apa nya kelen..!" Ucap Mamak.


Butet pun tersadar bila ada Mamak dan Amang nya Halomoan disana.


"Tuhannn kamiiii.. maaf Inang." Ucap Butet sambil mencium tangan kedua calon mertuanya itu.


"Apa kabar kau boru? makin cantek ku tengok kau." Ucap Mamak.


"Baik aku Inang." Ucap Butet.


Mamak tersenyum dan menatap Butet dengan penuh kasih sayang.


"Mak pinjam dulu aku cincin Mamak." Ucap Halomoan.


"Buat apa sama kau?"


"Bukak aja dulu. Pinjam.." Ucap Halomoan sambil mengadahkan tangannya.


Mamak pun tersenyum dan membuka cincin berliannya.


"Ha," Ucap Mamak sambil menyerahkan cincin itu kepada Halomoan.


Halomoan langsung menyambar cincin itu dan bertekuk lutut di hadapan Butet.


"Olo do ho ito muli tu au?" (Red- Maukah kau menikah denganku?) Ucap Halomoan. Di depan kedua orangtuanya dan banyak mata di sana.


"Bang," Butet tak bisa berkata-kata.


"Uang ku udah terkumpol Tet. Aku tepati janjiku. Aku gak mau kehilangan kau Tet. Jadilah istriku Tet." Ucap Halomoan.


Butet menatap Mamak dan Amang yang mengangguk kepadanya.


Air mata Butet pun mengalir dari sudut matanya yang indah.


Butet menghapus air mata haru nya, lalu ia mengangguk dengan pasti.


"Iya aku mau, Rade do au." Ucap Butet. ( Red-Rade do au-aku siap.)


Halomoan menangis memeluk Butet. Sedangkan Amang dan Mamak pun saling berpelukan. Mereka juga terharu, akhirnya Halomoan mendapatkan jodohnya saat wisuda.


"Siap-siap Marhori-hori dinding kita Mak..!" Ucap Halomoan.


Mamak mengangguk dan tersenyum bahagia.


Halomoan mengecup kening Butet, lalu memeluknya sekali lagi. Setelah itu Halomoan pun memeluk kedua orangtuanya.


"Selamat nak ku." Ucap Mamak.


Bambang dan Rita yang juga berada di sana juga ikut merasakan kebahagiaan Butet dan Halomoan. Mereka pun memberikan selamat untuk sepasang kekasih itu.


Halomoan memeluk Bambang. Sekaligus salam perpisahan, karena setelah ini, mereka tidak satu kost lagi. Bambang akan pindah ke rumah baru nya. Sedangkan Halomoan juga akan pindah ke rumah barunya. Hadiah dari Amang yang merasa bersyukur karena Halomoan lulus dengan baik.


..

__ADS_1


Di tempat yang berbeda. Sri juga sedang mendampingi Dewa yang hari ini juga wisuda. Begitupun dengan Siti dan Nyak Tatik yang mendampingi Batra wisuda.


Raut wajah bahagia terukir jelas di wajah semua orangtua yang hadir. Tangis haru pun tak dapat di hindari. Wisuda bukan hanya pencapaian tertinggi dari para mahasiswa. Tetapi, itu juga menjadi salah santu mimpi daei orangtua mereka yang sudah mati-matian untuk menyekolahkan anak-anak mereka.


"Jadi nikah nih." Seloroh Dewa.


Sri tersenyum malu. Lalu, menggandeng tangan tunangannya itu.


"Ayo kita sama-sama bahagia dan meraih masa depan." Ucap Sri.


Dewa tersenyum bahagia. Begitupun Ambu dan Abah yang sudah tidak sabar melihat mereka berdua bersanding di pelaminan.


Sedangkan Batra, merasa wisudanya cukup berbeda. Ia di temani orangtua dan istrinya yang cantik. Mereka berfoto-foto bersama dan tersenyum bahagia.


"Setelah ini, Nyak gak mau ngekosin lagi paviliun Enyak." Ucap Nyak Tatik.


"Kenapa Nyak?" Tanya Batra.


"Abang lu mau pindah ke rumahnya. Nyak kagak mau lu berdua pindah. Paviliun itu buat kalian. Tinggal dah di sono, jangan pindah kek Abang lu. Tetap dekat sama Nyak ye." Ucap Nyak Tatik.


Batra tersenyum dan memeluk Nyak Tatik dengan erat.


"Terima kasih ye Nyak." Ucap Batra.


"Iye tapi ntar aje makasih nye. Masih ade si Sri ame Butet nyang tinggal di sono." Ucap Nyak Tatik.


"Apa pun itu terima kasih Nyak." Ucap Batra.


"Oh iya, Batra udeh di terima kerja Nyak, di perusahaan asing. Batra bakal kerja. Tapi usaha clothing aye tetap jalan Nyak."


Selama ini Batra mempunyai usaha toko clothing yang ia bangun sejak SMA. Oleh karena itu, tidak ada keraguan sedikitpun bagi Batra untuk mempersunting Siti. Karena ia sudah bisa menafkahi bahkan membayar uang kuliah istrinya itu.


Nyak Tatik pun menatap Batra dengan bangga.


"Lu baek-baek kerja ye Tra, lu juga baek-baek ame bini lu. Bini lu orang baek. Dan jangan lupa, buru kasih Enyak cucu." Ucap Nyak Tatik.


"Gampang itu mah, setiap malam usaha Batra Nyak." Seloroh Batra.


Siti tersipu malu saat mendengar suami nya yang terlalu jujur mengatakan hal itu kepada mertuanya.


"Mantep dah, gue demen nih." Ucap Nyak Tatik.


Mereka pun tertawa bahagia. Hari ini tidak ada yang merasa sedih, tidak ada yang merasa kecewa. Termasuk Risa.


Risa mulai bertukar pesan dengan Matt yang menghubungi dirinya sejak Siti memberikan nomor ponsel Risa kepada Matt.


Awalnya, Risa mengacuhkan Matt. Tetapi, karena Matt yang begitu perhatian. Risa pun mulai mau membalas pesan Matt. Saat ini mereka hanya sebatas teman biasa. Karena Risa belum mau membuka hatinya terlalu cepat.


Risa masih trauma dengan lelaki yang lari dari dirinya. Yaitu, Agus.


Kini, Agus pun mulai merasakan penyesalan. Lelaki itu mendengar kabar kalau hari ini teman-temannya sudah wisuda. Yang seharusnya dirinya ikut wisuda. Tetapi, karena dirinya yang pengecut dan lari dari tanggung jawab, semua mimpi-mimpi nya pun hancur. Ia tidak dapat lulus kuliah dan kini penyesalan nya pun bertambah. Saat ia mulai jatuh cinta dengan Arkha, putranya.


Tetapi, Agus belum mempunyai keberanian untuk datang dan meminta maaf kepada Risa dan keluarganya. Terutama, dengan Arkha yang tak pernah ia temui.


Agus mulai merasa berdosa. Tanpa disadari, dirinya menangis tersedu-sedu di kamar kost nya yang sempit. Agus merasa bodoh, agus merasa biadab.


Apa yang di katakan Risa memang benar. Ia adalah lelaki biadab. Yang tega dengan wanita seperti Risa. Tidak hanya Risa, tetapi banyak gadis yang lainnya.


"Astaghfirullah al adzim." Ucap Agus berkali-kali. Menyesali sikap dirinya di masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2