Kost Putri

Kost Putri
60# Pengakuan Dan Salah Paham


__ADS_3

Sejak pagi, Risa sudah berdiri di depan Fakultas MIPA. Dimana Agus menempuh pendidikan tingginya disana. Risa hanya ingin membuktikan bila pikirannya salah. Masalah Agus yang sudah pulang dari KKN. Tetapi, sengaja menghindari Risa.


Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang sedang lalu lalang pun, tak luput dari pertanyaan Risa tentang Agus. Tetapi, tidak seorangpun yang tahu Agus sedang berada dimana saat ini.


Waktu beranjak siang. Tetapi, Risa tetap bertahan di depan gedung Fakultas itu. Risa tampak mulai lemas dan dehidrasi karena udara siang ini yang sangat panas menyengat.


Risa hampir saja terjatuh, namun kebetulan sekali Halomoan yang sedang lewat dengan sepeda motornya, melihat Risa yang berdiri di depan gedung di dekat parkiran sepeda motor.


Dengan cepat, Halomoan pun turun dari sepeda motornya dan menyambut tubuh Risa yang terkulai lemas. Halomoan berteriak kepada siapa saja untuk membantu dirinya membawa Risa ke ruang kesehatan mahasiswa.


Di ruang kesehatan mahasiswa, Risa terbaring lemas. Gadis itu masih tak sadarkan diri. Sedangkan di sampingnya, Halomoan dengan sabar menunggu gadis itu.


Hampir setengah jam kemudian, Risa pun sadar. Ia diberikan teh hangat yang sudah di sediakan oleh mahasiswa yang sedang piket di ruang kesehatan itu.


"Bang Moan." Ucap Risa dengan suara yang lemah.


Moan menatap Risa dengan wajah yang khawatir.


"Kau ini kenapa Ris? ngapain kau di depan Fakultas MIPA?" Tanya Halomoan.


Risa mulai menitikkan air matanya.


"Kok nanges kau Ris? ada apa?" Tanya Halomoan lagi.


"Aku mencari Bang Agus, Bang." Ucap Risa di sela tangisannya.


Halomoan menghela napasnya dengan berat. Lalu, ia menatap Risa dengan seksama.


"Ada apa memangnya?" Tanya Halomoan.


"Abang gak tau kalau Bang Agus sudah pindah Kost?" Tanya Risa.


Halomoan tersentak dan menatap Risa dengan tak percaya.


"Pindah? kapan?" Tanya Halomoan.


"Semalam Enyak ngomong sama Risa, kalau kamar Bang Agus sudah kosong dan kuncinya tergantung di sisi dalam pintu." Terang Risa.


Halomoan mengusap wajahnya. Ia tak menyangka bila Agus pindah tanpa pamit kepada dirinya dan semua orang yang berada di kost-kost-an itu.

__ADS_1


"Teros, kenapa kau nyarik dia?" Tanya Halomoan.


Risa tertunduk dalam. Ia tak mampu menatap bola mata lelaki yang pernah ia cintai itu.


"Risa hanya ingin bicara sama dia." Ucap Risa.


"Yakin kau hanya mau bicara?" Tanya Halomoan.


Risa hanya mengangguk pelan dan menatap Halomoan dengan mata yang sembab.


"Ris, aku udah tau semuanya tentang kau dan Agus. Aku juga pernah tau kau sama Agus.........."


Halomoan menghentikan ucapannya.


"Risa sama Agus kenapa Bang?" Tanya Risa.


"Kau sama Agus melakukannya." Ucap Halomoan dengan suara yang tercekat.


Risa terkejut bukan kepalang. Ia tidak menyangka Halomoan mengetahui rahasia yang paling memalukan di dalam hidupnya.


"Bukan si Agus yang bilang, tetapi aku yang memergoki kalian. Cuma aku diam aja." Terang Halomoan.


Risa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tak mampu berkata-kata ataupun membantah apa yang di katakan Halomoan.


Risa masih diam membisu.


"Ris, kau percaya sama Abang kan? Mana tau Abang bisa jumpa si Agus nantik. Biar abang yang bilang sama dia, atau abang ajak dia jumpa sama mu." Ucap Halomoan lagi.


Risa menatap Halomoan dengan lekat-lekat. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Halomoan.


"Ayo lah Ris. Abang udah anggap kau kek adek sendiri. Kalok bisa ku bantu, ya ku bantu lah." Ucap Halomoan dengan tak sabar.


"Bang......"


"A... cakap lah cepat."


"Ri-Ri-Risa hamil." Ucap Risa.


"Amangoiiiiiiii...! Udah ku cakapkan sama si Agus ini ya. Tuhaaaannn..!" Keluh Halomoan.

__ADS_1


"Teros gadak dia hubungin kau lagi? tau nya dia kau hamil?" Tanya Halomoan.


"Dia belum tau Bang, makanya Risa mau mencari Bang Agus untuk mengatakan hal ini." Ucap Risa.


"Ckckckckc.. itu lah, ada-ada aja kelen. Nafsu ku besar juga nya, tapi jangan lah melakukan hubungan sebelum nikah." Ucap Halomoan dengan kesal.


"Tapi, Bang Agus sudah berjanji akan bertanggung jawab dengan apa pun ya g terjadi Bang." Ucap Risa.


"Eh Ris, Adek ku yang terlalu lugu. Ko dengar dulu ya. Semua laki-laki cakap nya kek gitu kalau ada mau nya. Tapi, belom tau itu keluar dari hati, ginjal sampek hotak-hotak nya. Paham kauuuuuuu?"


Halomoan terlihat gemas dengan Risa yang terlalu lugu.


Risa menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu ia kembali menangis.


"Jadi Risa harus gimana Bang?" Ucap Risa sambil menangis sesenggukan.


"Ya kita carik lah si Agus. Mau kek mana lagi? Ko tenang aja, biar abang yang carik dia. Ha, kau pulang lah sekarang. Apa gak sanggop kau pulang? biar pulang sama Abang. Kereta kau tinggal aja di sini. Nantik ku titepkan sama satpam." (Red- kereta-sepeda motor). Ucap Halomoan.


Risa mengangguk dan beranjak duduk di atas ranjang itu.


"Iya Bang, Risa pulang aja sama Abang." Ucap Risa.


Risa keluar dari ruangan itu bersama Halomoan. Dengan hati-hati, Halomoan menuntun Risa dengan memegang tangan dan pinggang gadis itu.


Butet yang baru saja keluar dari kelasnya, melihat Halomoan yang berjalan beriringan dengan Risa. Terlihat jelas Halomoan merangkul pinggang gadis itu. Halomoan tampak sangat perhatian kepada Risa.


Hati Butet mendadak panas. Rasa cemburu menguasai hatinya. Ingin sekali ia menghampiri Halomoan yang sedang tampak mesra dengan Risa, dan menampar Risa karena sudah berani mendekati lelaki pujaannya.


"Becewek rupanya orang itu ya." Gumam Butet sambil membunyikan giginya, geram.


"Tega kali kau Moan, katanya ko cinta sama aku. Tapi, sikapmu berubahnya. Ternyata kau ada maen sama si Risa. Patut lah kau acuhkan aku." Ucap Butet lagi.


Butet mengikuti Halomoan dan Risa yang berjalan menuju parkiran sepeda motor. Butet sengaja berdiri di atas tangga masuk gedung Fakultas itu.


Saat Halomoan akan mengeluarkan sepeda motornya, ia melihat Butet yang menatap dirinya dengan tatapan yang tajam.


"Eh, ada bidadari awak yang di ambel sama si Batra. Tapi kok kek Mamak-mamak di rebot remot tipi nya kek gitu mukak nya." Gumam Halomoan.


Halomoan naik ke atas sepeda motor dan menyalakan nya. Tanpa di minta, Risa langsung naik di atas boncengan sepeda motor Halomoan. Lalu, gadis itu memeluk pinggang Halomoan dan merebahkan kepalanya yang pusing di bahu Halomoan.

__ADS_1


Butet semakin merasa gila saat melihat pemandangan seperti itu. Terlebih, saat Halomoan dengan acuhnya mengendarai sepeda motornya dan pergi dari kampus itu tanpa menyapa dirinya.


"Ooooo... kek gitu kau ya Moan! Jadian aku betol-betol nantik sama si Batra. Baru tau kau! Kau kira cinta kali aku sama kau Moan! saket hati ku kek gini kau buat!" Gumam Butet.


__ADS_2