
"Sayang, baru bangun tidur?" Tanya Dewa saat melihat wajah Sri dari sambungan video call.
Sri yang sedang rebahan di atas ranjangnya langsung duduk dan tersenyum kepada Dewa yang muncul dilayar monitor ponselnya.
"Sudah dari subuh Mas. Kenapa?"
"Tidak apa-apa, kok masih rebahan gitu." Ucap Dewa.
"Gak popo Mas, aku cuma rebahan. Mas ada di mana? kok kayak bukan sedang di kost?" Tanya Sri.
"Lagi di luar, mau menjemput kamu." Ucap Dewa sambil tersenyum manis.
"Jemput aku?"
Dewa mengangguk, lalu ia memutar layar ponselnya.
Sri terperangah saat melihat Dewa berdiri di seberang tugu Yogyakarta.
"Mas?" Sri menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Dewa tertawa dan menatap gadis pujaan nya dari layar ponselnya.
"Kok Mas bisa ada di Yogya?" Tanya Sri yang masih tak percaya.
"Karena aku rindu." Ucap Dewa.
Sri tersenyum malu, hingga tak mampu berkata-kata lagi.
"Aku jemput ya." Ucap Dewa.
Sri mengangguk dan segera memberikan alamat rumahnya kepada Dewa.
Dewa sengaja datang menemui Sri di Yogyakarta. Karena ia ingin menjemput kekasihnya itu. Lusa, Sri akan kembali ke Jakarta. Maka Dewa memberikan nya surprise demi hanya ingin menyenangkan kekasihnya itu.
Satu jam berlalu, Dewa sudah duduk di ruang tamu rumah Sri. Rumah Sri rumah yang sangat luas seperti rumah-rumah di kampung-kampung. Pagar rumah Sri hanya terbuat dari tanaman bonsai yang di bentuk seperti pagar. Di depan rumahnya ada pendopo yang lumayan luas dan di halaman rumah Sri terdapat pepohonan yang rindang, serta beberapa tanaman hias yang berwarna-warni.
Bentuk bangunan di rumah Sri, memanjang. Ruang tamu nya terlihat luas dan terdapat kursi tamu yang terbuat dari kayu jati yang terukir dengan indah. Tidak banyak barang-barang disana. Ruang tamu memang sengaja di buat selapang mungkin, agar tidak sempit saat lebaran tiba, dan menampung sanak saudara yang bersilaturahmi di rumah Sri.
Di dinding ruang tamu, terdapat beberapa foto keluarga. Dan terlihat disana bahwa Sri adalah anak satu-satunya yang dimiliki kedua orangtuanya.
Simbok yang tadi menyambut kedatangan Dewa, muncul dari dapur sambil membawa cemilan dan minuman yang akan di suguhkan untuk Dewa. Dewa mengucapkan terima kasih kepada Simbok. Simbok mempersilahkan Dewa untuk mencicipi hidangannya dan duduk di depan lelaki itu.
Simbok memperhatikan Dewa yang tampak sangat sopan saat singgah ke rumahnya.
__ADS_1
"Kamu yang namanya Dewa?" Tanya Simbok.
"Iya Bu." Ucap Dewa.
"Pacarnya Sri?" Tanya Simbok lagi.
Dewa tersenyum kikuk, lalu mengangguk.
"Anakku pancen hebat, oleh pacar gantenge koyok ngene." Gumam Simbok. (Red- Anak ku hebat, dapat pacar ganteng begini.)
Tak lama kemudian Sri muncul dari dalam dan menemui Dewa yang sedang berbincang dengan Simbok.
"Mas." Sapa Sri yang terlihat sangat senang dengan kehadiran Dewa.
"Sri." Dewa tersenyum dan berdiri dari duduknya saat menyambut kekasihnya itu.
Simbok menatap dua insan yang sedang mabuk asmara itu.
"Yo wes, simbok tak njangan sek, kuwi pacarmu kancanono" Ucap Simbok. (Red- Ya sudah, Ibu mau memasak sayur dulu, itu pacarmu temani.)
"Nggih Bu." Ucap Sri.
Simbok pun beranjak dari duduk nya, lalu tersenyum kepada Dewa dan pergi menuju dapur.
Dewa hanya tersenyum dan meraih tangan Sri.
"Tapi kamu senang kan?" Tanya Dewa.
Sri tersipu malu sambil mengangguk dan menatap kekasihnya itu.
"Nanti kita ke Jakarta bareng. Aku sudah membelikan tiket kereta untuk kita." Ucap Dewa. Sambil menunjukkan tiket elektronik yang berada di ponselnya.
Sri kembali tersenyum. Dewa sangat-sangat perhatian dengannya. Walaupun belum genap satu bulan mereka berpacaran, tetapi dewa benar-benar sangat memperhatikan dan selalu mengerti apa yang di butuhkan Sri.
"Aku benar-benar beruntung memiliki mu Mas." Batin Sri.
"Jalan-jalan yuk, kita punya waktu dua hari jalan-jalan di sini." Ucap Dewa dengan wajah yang bersemangat.
"Ayo. Eh, tapi Mas Dewa kapan sampai di sini dan menginap di mana?" Tanya Sri.
"Tadi pagi, jam 2. Aku menginap di Malioboro."
Sri tersenyum dan menundukkan wajahnya. Ia benar-benar tak tahu akan berkata apa. Ia benar-benar sangat tersanjung dengan Dewa menyusulnya ke Kampung halamannya.
__ADS_1
"Yo wis, kita jalan-jalan." Ucap Sri.
Setelah berpamitan dengan Simbok, Sri dan Dewa pun jalan-jalan dengan mengendari sepeda motor milik Sri. Mereka keliling kota Yogyakarta dan mampir ke pantai Parangtritis. Mereka berkencan layak nya muda mudi yang sedang mabuk asmara. Menikmati hari libur mereka berdua dengan cara mereka sendiri.
...
Hari ini Halomoan berangkat kembali ke Jakarta. Halomoan sengaja kembali ke Jakarta lebih dahulu, karena banyak urusan di kampusnya. Mengingat Halomoan yang kini sudah menginjak semester 6. Tentu saja lelaki itu harus mengutamakan kuliahnya agar cepat lulus.
Halomoan tidak sempat menemui Butet. Karena sejak pagi-pagi sekali, Halomoan harus berangkat ke Bandara Kualanamu, Medan. Karena nanti sore, pesawat yang akan di tumpangi Halomoan akan berangkat membawanya kembali ke Jakarta.
Butet termenung di lapaknya. Ada rasa kosong di hatinya. Biasanya, Halomoan akan menggangu dirinya saat berjualan di pasar. Tetapi, kini lelaki itu tidak akan datang untuk mengganggu nya.
Butet pun terlihat tidak bersemangat saat melayani para pelanggannya. Tentu saja sikap Butet menjadi perhatian Inang penjual cabai yang membuka lapak tepat di sebelah lapak Butet.
"Eh Butet, kenapa kau? pacar mu si Halomoan mana dia?" Tanya Inang penjual cabai.
"Balek ke Jakarta dia Nang." Sahut Butet sambil membasuh tangan nya di ember yang berisi air yang memang disediakan untuk membasuh tangan saat Butet selesai melayani para pelanggannya.
"Oooo... patut lah mukak mu itu lesu kali. Kek separuh jiwa mu pergi ya Tet." seloroh Inang penjual cabai.
"Mana ada." Ucap Butet sambil cemberut menatap Inang penjual cabai.
"Alah, kau ini. Gengsi kau sama aku? Akui aja lah, aku kan pernah muda Tet. Kek gitu kita kalok lagi kasmaran!" Ucap Inang penjual cabai.
Butet menghela napasnya dan duduk di bangku plastik miliknya.
"Banyak yang mau jadi menantu Amang Pangaribuan. Tapi si Moan itu pilih-pilih dia. Apa lagi Mamaknya, anti kali dia kalau ada cewek yang dekati si Moan. Tapi, ku tengok semalam Mamak nya baek kali sama mu."
"Iya nya?" Tanya Butet penasaran.
"Ngapain aku nokoh, besukur kau Butet! Besar nantik sinamot mu. Lagi pulak si Moan itu ganteng. Lucu lo orangnya." Ucap Inang penjual cabai. (Red- nokoh-bohong / sinamot-mahar)
Butet diam saja dan tampak sedang berpikir. Bukan masalah sinamot yang besar, tetapi Butet memikirkan betapa kosongnya hari tanpa Halomoan.
"Udahlah..! ko udah dapat lampu ijo itu. Kau gas kan lah si Moan itu. Biar jadi lakik mu." Celetuk Inang penjual cabai lagi.
"Kok Inang pulak yang napsu kali." Ucap Butet.
"Eeeeee... biar jadi nyonya kau Butet. Senang jugak aku kan. Bisa aku pinjam duet sama mu." Seloroh Inang penjual cabai.
"Ujong-ujong nya duet ya Inang." Ucap Butet sambil tergelak.
"Iya lah, apa lagi." Mereka pun tertawa bersama. Tetapi, walaupun Butet tertawa hatinya merasa sedih dan ingin sekali cepat menyusul Halomoan ke Jakarta.
__ADS_1
"Apa aku ke Jakarta cepat-cepat ya?" Gumam nya.