Kost Putri

Kost Putri
63# Kesedihan Rozi


__ADS_3

Rozi dan Halomoan duduk berhadapan di salah satu warung kopi, tak jauh dari komplek mereka. Rozi terlihat terus menatap Halomoan. Sedangkan Halomoan terlihat sedikit ragu untuk berbicara.


"Ada apaan sih? Kek nye penting amat, gue jadi penasaran juga nih."


Halomoan mencoba mengumpulkan keberanian untuk berbicara hal yang sensitif itu kepada Rozi.


"Jadi begini Bang, sebelum aku cakap sama Abang, aku mohon sama Abang. Abang jangan emosi sama aku, jangan marah sama Risa."


Halomoan mengajukan persyaratan sebelum ia bercerita tentang kehamilan Risa.


Rozi mengeryitkan dahinya dan menatap Halomoan dengan wajah yang serius.


"Janji ya Bang. Aku cuma mau kita berunding sebagai laki-laki dewasa, demi Risa. Jujur aku Bang, aku anggap si Risa sebagai Adek ku sendiri. Jadi anggaplah sekarang ini, aku sama Abang sama-sama lagi bejuang untok Adek kita Bang." Ucap Halomoan.


"I-iya udah, lu cerita dah. Kelamaan lu." Ucap Rozi.


"Aaa, ok lah."


Halomoan menarik kursinya lebih dekat ke arah meja. Lalu, ia mendekatkan wajahnya di hadapan Rozi.


Rozi tampak tidak nyaman dan sedikit menjauhi Halomoan.


"Eeee... jangan jaoh-jaoh Bang. Aku mau cakap serius."


"Ya udah lu tinggal ngomong, subhanallah..!" Keluh Rozi.


"Bang, jadi kek gini. Saat ini si Risa itu... hmmmm.... dia..."


"Apaan buruan..!" Desak Rozi.


"Dia hamil Bang," Ucap Halomoan.


Lalu hening.


Beberapa saat kemudian, Rozi berdiri dari duduknya dan menarik kerah kaos Halomoan.


"Ngomong apa lu! Siapa yang hamilin Adek gue? Elu? gue hajar lu ya.!"


Rozi terlihat shock sekali. Ia tidak menyangka apa yang dia khawatirkan benar-benar terjadi.


"Opppp...! Sabar lah Bang, aku udah bilang, jan emosi. Bukan aku pelakunya, lepas lah jangan kek gini Abang. Aku cuma mau bantu lah. Niat ku baek....."


Halomoan menatap dan mencengkram tangan Rozi yang sedang menarik kerah kaos nya.


Rozi tampak sangat emosi. Lalu, ia melepaskan tangannya dari kerah kaos Halomoan. Rozi kembali duduk dan meraih gelas kopinya. Lalu, ia menyeruput kopinya agar ia sedikit tenang.


"Jadi siapa pelakunya?" Tanya Rozi.


"Pelakunya si Agus Bang. Dia anak kost kami jugak. Dia diam-diam udah pindah kost. Gak tau aku si Agus udah tau si Risa hamil apa belom. Yang jelas, tadi itu aku antarkan si Risa pulang sama aku, karena si Risa itu pingsan di kampus ku. Dia nyarik si Agus, sampek panas-panasan dia. Gak tahan dia kan, karena dia hamil. Untung aku liat dia. Jadi aku antarkan dia pulang." Terang Halomoan.


Rozi menghela nafasnya dengan berat. Lalu, ia menatap Halomoan dengan tajam.

__ADS_1


"Bukan elu kan pelakunya?" Rozi kembali memastikan kepada Halomoan.


"Ih bukanlah, udah ku bilang. Aku masik perjaka ini..!" Ucap Halomoan.


Rozi terdiam membisu.


"Jadi kek gini Bang, dari pada nanti fitnah, aku pulak yang di tuduh sama Abang. Ayok sama-sama kita carik si Agus. Aku tadi keluar mau nyarik si Agus. Teros jumpa sama Abang. Makanya aku piker, bagos aku cerita sama Abang, Abang kan Abang kandong nya si Risa. Abang berhak tau. Tapi aku mohon sama Abang, jan Abang marah pulak sama si Risa. Ish, kasian kali aku nengok si Risa Bang. Linglung dia Bang."


Rozi masih terdiam membisu. Hatinya sangat kacau dan benar-benar khawatir dengan Adik perempuannya itu.


"Aku kek mana ya Bang, aku udah tau siapa Agus itu. Dia memang playboy Bang. Jadi awalnya aku jugak khawatir gara-gara si Risa sering naek ke atas kamar kami. Aku udah peringatkan si Agus itu. Tapi di makannya jugak si Risa. Aku pun palak kali sama dia."


Rozi benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Adik perempuannya dengan baik seperti wasiat Babe nya.


"Dimana kita bisa menemukan Agus?" Tanya Rozi dengan suara yang bergetar.


"Itu dia Bang, aku pun lagi nyarik si Agus. Apa kita ke tongkrongan dia aja ya. Nanyak sama kawan-kawannya di sanan." Tanya Halomoan.


Rozi hanya mengangguk dan mengusap wajahnya dengan gusar.


"Tapi ngopi dulu kita Bang. Biar agak santai kita." Ucap Halomoan sambil meraih gelas kopinya.


Rozi kembali mengangguk dan ikut meraih gelas kopinya.


"Eh, tapi kau kan punya nomor si Agus kan?" Tanya Rozi saat ia baru saja selesai menyeruput kopinya.


"Si Agus kek nya mau hilang jejak Bang. Dia ganti nya itu nomor hape nya." Ucap Halomoan.


"Kalau ketemu, gue habisin lu..!" Gumamnya.


...


Dreeeeettt..! Dreeeeettt..!


Bunyi ponsel berdering di iringi suara kepuasan Agus yang sedang di atas seorang gadis di kamar kost nya.


Agus merebahkan tubuhnya di samping gadis yang berbeda lagi pada malam itu. Ia tersenyum puas, lalu mengecup kening gadis itu dan lalu meraih ponselnya yang ia taruh di atas meja di samping ranjangnya.


Agus menatap layar ponselnya dan membaca sebuah pesan yang baru saja ia terima.


Gus, ada yang nyari elu di tongkrongan. Namanya Halomoan, katanya dia nanya nomor elu. Gue bilang kaga tau. Lu lagi dimana? Dia ama teman nya, katanya pengen banget ketemu elu. Gue kasih nomor lu atau gimane?


Agus terdiam sejenak, lalu, ia beranjak duduk di atas ranjangnya.


"Siapa itu sayang?" Tanya gadis yang sedang bersama Agus.


"Teman." Jawab Agus.


Gak usah lu kasih, udah bener lu bilang kaga tau.


Balas Agus.

__ADS_1


Lalu, ia beranjak ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Gadis itupun menyusul Agus ke kamar mandi dan memeluk Agus dari belakang.


"Sayang, jangan pernah tinggalkan aku ya." Bisik gadis itu.


Agus menoleh kebelakang dan tersenyum kepada gadis itu.


"Gak akan aku tinggalkan kamu. Kamu tenang aja." Ucap Agus.


Entah sudah ke berapa gadis yang ia suguhkan janji palsu seperti ini. Tanpa Agus pikirkan konsekuensi dari sebuah janji yang sudah ia ucapkan.


"Setelah ini aku antar pulang ya." Ucap Agus lagi.


Gadis itu mengangguk dan tersenyum manis kepadanya.


...


Setelah mencari dari tempat ke tempat, namun hasilnya nihil. Halomoan dan Rozi pun merasa sudah cukup untuk malam ini.


"Memangnya dia gak pernah ke kampus lagi?" Tanya Rozi.


"Aku beda kelas sama dia Bang, jadwal kami pun beda. Tapi, aku udah cari dia di kampus, kayaknya dia memang belum ke kampus sejak habes KKN." Ucap Halomoan.


"Ya udahlah, besok kita cari lagi. Aku besok ke kampus kalian." Ucap Rozi.


Halomoan mengangguk setuju. Lalu, mereka pun memacu sepeda motor mereka masing-masing, menuju rumah.


Beberapa menit kemudian, mereka berdua tiba di depan rumah. Halomoan membuka pagar rumah Nyak Komariah, sedangkan Rozi membuka pagar Nyak Tatik.


"Moan!" Panggil Rozi, sebelum Halomoan memasuki sepeda motornya.


"Ya Bang,"


Halomoan menghampiri Rozi sampai di depan pagar rumah lelaki itu.


"Terima kasih." Ucap Rozi sambil menepuk bahu Halomoan.


Halomoan tersenyum dan mengangguk dengan tulus. Setelah itu, Rozi berjalan menuju pintu rumahnya dengan gontai.


Kini, hancur sudah harapan dan wasiat yang telah Babenya taruh di pundaknya.


Sejak Babe Rojali meninggal dunia, Rozi mulai mendekatkan diri kepada Nyak Komariah dan anak-anaknya. Karena ia merasa, dirinyalah yang kini menjadi tulang punggung dan yang dituakan di dalam keluarganya.


Segala hal telah Rozi coba, mulai mencoba singgah ke rumah Nyak Komariah, hingga memberikan perhatiannya kepada adik-adiknya. Tetapi, semua itu di tolak oleh Nyak Komariah dan juga Adik-adiknya.


Tak pantang menyerah, Rozi mulai membantu kebutuhan sehari-hari Nyak Komariah dan Adik-adiknya. Karena Rozi paham betul, Nyak Komariah hanya mengandalkan uang bulanan dari tiga kamar kost untuk biaya makan setiap bulannya. Dan uang kontrakan tahunan sebanyak lima pintu untuk biaya kuliah Adik-adiknya.


Tiga pintu kamar kost bulanan tidaklah cukup, karena biaya hidup di Jakarta terus mencekik. Rozi yang mempunya usaha dan kontrakan juga pun, dengan senang hati membantu Ibu tiri dan Adik-adiknya itu.


Tetapi apa yang ia dapat? Penolakan yang terus menerus kecuali uang bulanan yang di berikan nya kepada Nyak Komariah. Nyak Komariah hanya membutuhkan bantuan uang nya, tetapi tidak mau menghargai niat baik dirinya.

__ADS_1


Sebelum masuk kedalam rumah, Rozi duduk di bangku beranda rumahnya. Ia menatap kosong ke arah rumah Nyak Komariah. Ia mulai menangis, karena merasa gagal menjadi pengganti Babe Rojali.


__ADS_2