Kost Putri

Kost Putri
58# Santi Vs Sri


__ADS_3

Butet termenung dengan hatinya yang risau, di kantin kampusnya pada pagi hari ini. Seperti biasa, sebelum masuk kelas pagi, Butet menyempatkan diri untuk sarapan di kantin kampus.


Dengan malas-malasan, Butet menyendok bubur ayam nya dan memakannya dengan perlahan. Ia merasa tidak nafsu makan. Tetapi, ia sudah berjanji kepada Inang nya di Kampung, untuk selalu menjaga kesehatannya dan jangan pernah telat makan.


Setelah sarapan, Butet bergegas menuju kelasnya. Sekilas, Butet melihat sosok seorang lelaki yang mirip dengan Halomoan, saat ia hendak menaiki tangga di samping ruang Dosen.


"Moan?" Gumam Butet.


Butet menghentikan langkah kakinya dan memperhatikan lelaki itu.


Benar saja, lelaki itu adalah Halomoan yang sudah lama ia rindukan.


"Moan!" Serunya di dalam hati.


Hati Butet berbunga-bunga bagaikan bunga di musim semi.


"Moan, dambaan hatiku. Akhirnya kau pulang juga sayang!" Gumamnya.


Bambang yang sedang berbincang dengan Halomoan, melihat Butet yang berdiri di dekat tangga sambil tersenyum-senyum sendiri. Bambang pun, mencolek lengan Halomoan sambil menunjuk Butet dengan bibirnya.


"Cewek lu tuh Moan." Ucap Bambang.


Halomoan menoleh ke arah Butet yang sedang tersenyum-senyum sendiri seperti orang yang sedang kesurupan.


Mata Halomoan terlihat berbinar saat melihat pujaan hatinya itu. Rasanya, ingin sekali ia berlari dan memeluk Butet. Tetapi Halomoan mencoba menahan perasaannya itu. Lalu, Halomoan mengabaikan Butet.


"Kok lu cuek toh?" Tanya Bambang.


"Gak enak aku. Cewek si Batra dia itu." Ucap Halomoan dengan raut wajah yang sedih.


Butet yang tadinya senyum-senyum saat melihat Halomoan, mendadak cemberut saat melihat Halomoan yang acuh kepadanya.


"Eh, kok acuh kali dia sama aku? Masak gak cinta lagi dia sama aku? Oh, gak iya ini." Gumam Butet.


Butet sengaja berjalan ke arah Halomoan, untuk memancing perhatian lelaki itu. Tetapi, yang menyapa Butet hanya Bambang saja. Sedangkan Halomoan pura-pura sibuk berbicara dengan temannya yang lain.


Butet pun merasa putus asa. Lalu, Ia kembali lagi dan berjalan menuju tangga. Butet benar-benar tak mengerti mengapa sekarang Halomoan begitu acuh dengannya. Sedangkan untuk bertanya dengan Halomoan secara langsung, Butet merasa gengsi. Karena bagi Butet, secinta apapun dirinya dengan seorang lelaki, harus lelaki itu duluan yang mengejar dirinya.


Butet menghempas tasnya di atas meja kelasnya. Lalu, ia duduk sambil mendengus kesal.


"Masak iya dia marah sama aku gara-gara dia nengok aku sama si Batra? Kan dia tau, aku gak becewek sama si Batra." Gumam Butet.

__ADS_1


"Ish, pening kali aku di buat si kuda laot ini lah!" Gumamnya lagi.


Sepanjang pelajaran, Butet tidak dapat berkonsentrasi. Pikirannya terus tertuju kepada Halomoan. Ia tampak sangat gelisah dan merasa tak sabar agar kelasnya cepat berakhir.


...


Sri yang hanya mengikuti dua kelas pada hari ini, pulang lebih awal. Ia pun, langsung berjalan menuju halte Bus, dimana ia menunggu angkot seperti biasanya.


Kebetulan sekali, saat Sri baru saja tiba di halte, angkot yang akan membawanya pulang, tiba. Sri pun, langsung naik kedalam angkot tersebut.


Sepanjang jalan pulang, Sri terus tersenyum membalas pesan-pesan dari Dewa. Kata-kata romantis dan perhatian lelaki itu, benar-benar membuat Sri mabuk kepayang.


"Aku wis gak sabar mau tunangan sama Mas Dewa." Gumam Sri sambil tersenyum sendiri.


Sri tidak memperdulikan tatapan para penumpang angkot yang sedang menatap dirinya yang tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.


Angan Sri melayang jauh. Betapa bahagianya bila nanti ia menjadi istrinya Dewa. Perhatian dan kebaikan lelaki itu membuat Sri bermimpi tentang rumah tangga yang sangat bahagia bersama lelaki impiannya itu.


Saking asiknya berkhayal, hampir saja Sri melewati komplek perumahan Kost-kost-an nya.


"Wadalah...! Mas, aku turun disini." Ucap Sri kepada supir angkot.


Angkot itu pun, berhenti setelah terlewat seratus meter dari depan gerbang perumahan rumah kost nya Sri.


Sri memasukan ponselnya kedalam saku celananya. Lalu ia berjalan menuju rumah Kost nya dengan santai.


"Heh! kamu yang namanya Sri!" Ucap seseorang kepada Sri, sambil menarik tangannya dari arah belakangnya.


Sri hampir saja terjatuh, saat orang itu menarik tangannya dengan kasar. Sri menoleh dan mencoba melihat siapa yang telah menarik tangannya.


"Kowe sopo toh!" Ucap Sri sambil mengusap-usap lengannya yang tadi di tarik oleh gadis yang berdiri di hadapannya.


Gadis itu tersenyum sinis lalu ia menjambak rambut Sri.


"Kamu teh gak usah pura-pura gak tahu, kamu teh yang sudah merebut Dewa dari saya!"


Sri terbelalak dan mencoba menahan rambutnya yang sedang di jambak oleh Santi.


"Oh iki toh sing jenenge Santi." Gumam Sri.


"Dasar pelakor kamu teh! kurang ajar..! Sudah merebut pacar aing!" Teriak Santi sambil berteriak-teriak mengundang perhatian dari warga sekitar. (red-aing-saya -bukan bahasa halus)

__ADS_1


"Lepasin! Lepasiinnn!" Sri berusaha melepaskan tangan Santi dari rambutnya.


"Jangan harap! kamu teh pelakor, pantes di hajar!" Ucap Santi.


"Ada apa? Ada apa?"


Warga berdatangan, untuk memisahkan Sri dan Santi. Tetapi, Santi tetap menjambak rambut Sri dengan kuat bahkan sesekali ia melayangkan pukulannya ke tubuh Sri.


Sri hanya bisa pasrah. Karena tubuh Sri yang kalah besar dan tinggi dari Santi, membuat gadis itu menjadi bulan-bulanan Santi.


Santi terus menghina dan memaki Sri dengan bahasanya yang sangat kasar. Sedangkan Sri terus memohon agar Santi melepaskan tangannya dari rambutnya yang terlihat sudah mulai banyak yang rontok karena di jambak oleh Santi.


Tiba-tiba saja, seseorang menjambak rambut Santi dengan kasar. Hingga kepala Santi mendongak ke atas. Mau tidak mau, Santu langsung melepaskan tangannya dari rambut Sri, untuk menahan rambut extension nya, agar tidak lepas.


Sri terbelalak saat melihat orang yang sudah menyelamatkan dirinya.


"Siti..!" Seru Sri.


"Hey, manga waang manjambak kawan den! Mancari gara-gara waang yo?" (Red- hey, ngapain lu menjambak teman gue! Cari gara-gara lu ya?)


"Kamu teh siapa? lepasin! nanti rambut saya teh rontok!" Ucap Santi sambil mempertahankan rambut extension nya.


"Aden lapeh an, tapi jan ang babuek gaduah disiko! Dasar baruak!" (Red- Gue lepasin tapi jangan lu buat gaduh disini! Dasar be*ruk!)


Siti melepaskan jambakannya dan mendorong tubuh Santi menjauh dari dirinya dan Sri. Sri mengusap-usap kepalanya yang terasa perih karena di jambak Siti.


"Pai ang! kanciang!" (Red-pergi lu..! *makian*)


"Dasar pelakor! kamu ingat ya, kamu teh tidak akan pernah bahagia dengan Dewa. Dewa teh sangat mencintai saya. Dasar pelakor gak tahu diri." Ucap Santi.


Sri hanya menunduk dan menahan perasaan malunya. Karena Santi sudah mempermalukan dirinya di depan umum.


"Kamu juga! kamu teh sudah membela pelakor. Jangan-jangan kamu teh juga sama dengan dia! Sama-sama pelakor!" Ucap Santi kepada Siti, dengan emosinya.


Siti terdiam dan langsung menatap Sri.


"Aku mau pulang." Ucap Sri. Lalu ia menerobos kerumunan warga dan berjalan dengan cepat.


Saat itu juga Santi juga pergi dan kerumunan warga pun bubar. Siti terpana dan menatap punggung teman satu atap nya itu. Terlihat Sri berjalan sambil terisak. Lalu, Siti berjalan menyusul Sri.


"Sri..!" Panggil Siti.

__ADS_1


Sri mengabaikan Siti. Ia terus berjalan dengan cepat hingga ia sampai di rumah kost dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


__ADS_2