Kost Putri

Kost Putri
80# Kembali Meminta Restu


__ADS_3

"Sudah empat hari kita teh di sini A', apa orangtua Siti teh tidak setuju dengan Batra ya?" Tanya Cempaka.


Rozi yang sedang bermain bersama Farraz di atas ranjang hotel hanya bisa terdiam membisu. Pemikiran dirinya dengan Cempaka hampir sama. Dengan tidak menghubungi mereka, sudah pasti keluarga Siti menolak mereka secara halus.


"A', kita harus melakukan sesuatu atuh. Kasihan Nyak dan Batra, mereka teh sudah jauh-jauh ke Padang. Tetapi, gak ada hasilnya A'." Ucap Cempaka.


"Kita harus melakukan apa?" Tanya Rozi.


"Apa harus saya yang berbicara dengan keluarga Siti?" Tanya Cempaka.


Rozi kembali terdiam.


"A', jawab atuh A'. Ini teh demi Batra dan Enyak. Saya teh gak mau ini semua sia-sia atuh. Kasihan atuh sama Batra dan Siti A'. Mereka teh saling mencintai. Kalau mereka kawin lari bagaimana A'a?"


Rozi menghela napasnya. Lalu, ia menganggukkan kepalanya.


"Ayo kita pergi ke rumah Siti. Farraz kita titipkan dulu sama Batra dan Nyak." Ucap Rozi.


"Ayo A', sebelum semuanya terlambat." Ucap Cempaka.


Tok..! Tok..! Tok..!


Terdengar ketukan dari luar pintu kamar hotel Batra dan Nyak Tatik. Batra yang sedang berbaring bermalas-malasan pun, beranjak dari pembaringannya.


"Siape tuh?" Tanya Nyak Tatik.


"Mane tau, makanya ini mau di buka." Ucap Batra.


Batra membuka pintu kamarnya dan menatap Rozi dan Cempaka yang sedang menggendong Farraz.


"Eh Bang," Ucap Batra, lalu ia mempersilahkan Abang dan Kakak ipar nya itu masuk kedalam kamar itu.


"Nyak, nitip si Farraz bentaran ye." Ucap Rozi.


"Emang lu berdua mau kemane? kok kagak ngajak-ngajakin gue..?"


"Mau cari udara segar Nyak, sebentar aje. Masa jauh-jauh kesini kagak bulan madu sekalian. Enyak kepengen kaga punya cucu lagi?" Tanya Rozi.


Nyak Tatik tersenyum menatap anak dan menantunya itu.

__ADS_1


"Gi dah, siniin cucu gue. Bikin yang banyak ye. Biar gue seneng, rumah jadi rame." Ucap Nyak Tatik.


"Ok Nyak... Siappp..!" Ucap Rozi. Sedangkan Cempaka hanya tersenyum malu menanggapi ucapan mertuanya itu.


Gerimis sudah mulai turun, saat Cempaka dan Rozi keluar dari hotel tempat mereka menginap.


Rozi dan Cempaka langsung masuk kedalam sebuah taksi yang memang menunggu penumpang hotel yang akan bepergian.


Mereka berdua pun langsung meminta supir taksi tersebut untuk mengantarkan mereka ke alamat rumah Siti.


Tiga puluh menit kemudian, sampailah mereka di rumah Siti. Rumah itu terlihat sepi. Cempaka dan Rozi memasuki halaman rumah yang terlihat sangat kental nuansa Minangkabau nya.


Cempaka pun memberanikan diri mengetuk pintu rumah tersebut.


Selang beberapa menit kemudian, Ibu Halimah membukakan pintu untuk mereka berdua.


"Oh, kalian. Silahkan masuak." (Red- masuak-masuk) Ucap Ibu Halimah.


"Terima kasih Ibu." Ucap Cempaka.


Suasana pun terasa sedikit kikuk, pemilik rumah pun terlihat dingin tak sehangat waktu pertama kali mereka bertamu ke rumah itu.


Cempaka dan Rozi langsung sadar bila lamaran mereka sudah pasti di tolak oleh keluarga Siti.


"Kami datang untuk membicarakan Siti dan Batra kembali Bu." Ucap Cempaka.


"Oh, ambo raso, indak ado nan paralu di bicarakan lai. Kami sabagai urang tuonyo si Siti, alun mau malapehan anak kami." ( Red- Oh, saya rasa, tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Kami sebagai orangtuanya Siti, belum mau melepaskan anak kami.)


Cempaka yang sudah mengerti bahasa Minang, hanya mampu menghela napas nya dengan berat.


"Bu, sebelumnya saya mohon maaf, bila Ibu berkenan, saya ingin bercerita tentang Siti dan Batra." Ucap Cempaka.


Ibu Halimah hanya menatap Cempaka dengan datar.


"Bu, mereka saling mencintai. Mereka berpacaran dengan sehat. Karena Siti, Batra lebih baik. Karena Siti, Batra berniat akan membahagiakan Siti dan keluarga disini." Ucap Cempaka.


Ibu Halimah terdiam membisu.


"Bu, bila hubungan mereka di tentang, apa iya mereka akan berhenti berhubungan? Terkadang, cinta bisa membuat orang tidak rasional Bu. Dari pada mereka melakukan hal-hal yang di luar kendali. Lebih baik, restuilah mereka Bu." Cempaka memohon kepada Ibu Halimah.

__ADS_1


"Kamu menceramahi ambo?" Tanya Ibu Halimah.


"Mohon maaf Bu, bukan maksud saya seperti itu. Tetapi......"


"Ambo tetap indak setuju..!" Ucap Ibu Halimah.


Cempaka terdiam dan terlihat bersedih.


"Cempaka," Panggil Siti yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Siti.."


Cempaka berdiri menyambut Siti dan memeluk sahabatnya itu.


Siti terlihat kurus dan memiliki kantung mata. Sudah empat hari, sejak lamaran Batra di tolak, Siti tidak mau makan. Ia terus menangisi kisah cintanya yang terancam kandas.


"Kamu teh menangis? Mata mu terlihat sembab." Ucap Cempaka sambil memperhatikan lingkaran hitam di kedua mata Siti.


"Bundo, Siti mohon, restui Siti dan Batra Bundo. Siti yakin, Batra orang yang baik dan yang tepat untuk Siti. Siti mohon..." Siti bersimpuh dan menangis di kaki Ibu Halimah.


"Siti, kau tu masih kuliah, jan kawin pangana kau?" (Red- Pangana- pikiran)


"Kalau tidak boleh menikah terlebih dahulu, izinkan Siti jo Uda Batra bertunangan dulu Bundo. Sambil menunggu Siti lulus kuliah, indak baa doh Bundo." Ucap Siti.


Ibu Halimah tidak bergeming.


"Bu, kami datang jauh-jauh hanya untuk anak Ibu, Siti yang sangat cantik dan baik hati. Kami sekeluarga sangat kagum dengan didikan Ibu dan Bapak yang luar biasa, semua itu tercermin dari keseharian Siti yang sangat rendah hati dan taat beribadah. Ibu saya jatuh cinta dengan Siti sebelum adik saya mencintai Siti. Ibu saya langsung yakin, kalau Siti adalah yang terbaik dari yang baik. Maka dari itu, walaupun jauh, Ibu saya tetap berusaha untuk datang, hanya karena ia tidak ingin kehilangan gadis yang seperti mutiara ini di matanya." Ucap Rozi.


Ibu Halimah terdiam mendengar kata-kata Rozi.


"Bu, saya paham kegelisahan Ibu. Tetapi, saya mohon berikan kesempatan untuk Adik saya Batra. Berikanlah dia waktu untuk membuktikan dirinyalah yang terbaik. Bila dalam waktu yang di tentukan, Batra gagal. Maka, kami cukup tahu diri untuk tidak menggangu Siti dan keluarga lagi." Ucap Batra.


Ibu Halimah menatap mata Rozi lekat-lekat. Lalu, ia menatap Siti yang terlihat pucat karena selama empat hari ini, anak gadisnya itu mogok makan.


"Bundo, Bundo sendiri yang mengajarkan Siti untuk yakin dengan pilihan yang akan Siti jalani. Sekarang, Siti yakin dan Siti juga sudah melakukan shalat istikharah Bundo. Jawabanyo tetap samo Bundo. Siti mencintai Uda Batra. Samo seperti Uda Batra yang mencintai Siti dengan tulus. Bundo hanya alun mengenal Uda Batra dengan Baik. Tapi, Siti sudah mengenalnyo dengan baik, Bundo. Nan amuah menjalani hidup Siti, yo Siti surang, Bundo. Siti berani jamin, bila Uda Batra jauh lebih baik dari pada apo yang ada di pikiran Bundo dan Ayah." Ucap Siti.


Ibu Halimah tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Lalu, ia beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamarnya. Kini, hanya tinggal Siti, Cempaka dan Rozi saja di ruang tamu itu. Cempaka membantu Siti untuk bangun dari atas lantai. Lalu, ia memeluk sahabatnya itu dengan erat, sebelum mereka berpamitan untuk kembali ke hotel.


"Siti, kamu teh yang sabar nya. Saya teh yakin. Kamu akan berjodoh dengan Batra. Jangan putus berdo'a ya Ti. Karena Allah Maha membolak-balikkan hati manusia." Ucap Cempaka.

__ADS_1


Siti mengangguk dan memeluk Cempaka sekali lagi.


__ADS_2