Kost Putri

Kost Putri
92# Pertemuan Risa dan Agus


__ADS_3

Satu semester pun terlewati...


Kini Risa mulai mempersiapkan skripsi nya. Ia pun berhenti bekerja dan fokus mengerjakan skripsi nya agar selesai dengan cepat. Sementara Matt terus belajar Agama dengan Kyai yang sengaja ia temui di sebuah mesjid.


Matt yang sempat akan menyerah, karena beratnya syarat dari Rozi pun, kini tidak patah semangat. Karena Matt menyadari bila Risa juga mencintai dirinya dan menginginkan Matt untuk menjadi suaminya.


Risa terus menyemangati Matt lewat pesan-pesan nya, agar Matt lulus dari syarat yang di minta oleh Rozi. Sementara, Rozi melarang Matt bertemu dengan Risa, kecuali lelaki itu sudah siap membuktikan dirinya sudah menguasai syarat dari Rozi.


Flashback on


"Ris, apakah kamu mencintaiku?" Tanya Matt, yang diam-diam menemui Risa di cafe.


Risa menatap Mata Matt yang biru.


"Ris, aku ingin berjuang. Tetapi, izinkan aku tahu isi hatimu." Desak Matt.


Selama ini, Risa tidak pernah menjawab tentang perasaan nya dengan Matt, apa bila lelaki itu bertanya tentang hati Risa.


"Ris,"


"Iya, aku ingin menjadi istri mu. Tetapi, tolong penuhi syarat dari Abang ku." Ucap Risa.


"Benarkah kamu ingin menjadi istri ku? Jadi, kamu mencintai aku juga?" Tanya Matt.


Risa tersenyum dan mengangguk.


Sejak saat itu, Matt pun bersemangat dan mulai mempelajari Agama yang di anut oleh Risa.


Awalnya Matt hanya mempelajari Agama demi akan mendapatkan Risa. Tetapi, lama-lama ia pun mulai jatuh cinta dengan Agama yang di ajarkan kepadanya. Dan Matt pun kini sudah menjadi seorang muslim.


Matt, mulai meyakini adanya Tuhan. Ia mulai tekun belajar Agama dan mulai mempelajari tentang hak dan kewajiban seorang suami kepada Istri.


Mengapa Rozi mengajukan syarat itu? Selain Matt yang tidak mempunyai Agama. Matt juga harus berjuang mendapatkan Risa. Walaupun masa lalu Risa seperti itu, Rozi ingin, Adik nya dapat di hargai dan berharga di mata lelaki yang ingin menikahi Risa.


Dengan perjuangan yang tidak main-main, mendapatkan Risa adalah sebuah anugerah bagi lelaki yang berjuang untuknya.


Rozi tidak ingin, bila Risa hanya menjadi wanita sesaat bagi laki-laki yang salah. Dan bila syaratnya adalah Agama. Lelaki itu akan paham, bagaimana memperlakukan istri dan memimpin sebuah keluarga sesuai dengan ajaran Agama mereka.


Rozi benar-benar tulus menyayangi Adik-adik nya. Rozi selalu memikirkan jauh kedepannya. Ia ingin semua bahagia. Tak terkecuali Risa.


Flashback off


Kost Putri Nyak Tatik, tempat dimana awal mula pertemuan gadis-gadis dari berbagai daerah yang kini menjadi sahabat. Disana juga mereka mendapatkan pasangan yang kini menjadi suami Siti dan Cempaka.


Begitupun dengan Sri yang akan menikah dengan Dewa. Sri sedang mempersiapkan pernikahan nya dengan Dewa. Walaupun ia juga sedang sibuk dengan kuliah nya yang kini sudah semester enam.


Sedangkan Butet, Butet juga sudah resmi bertunangan dengan Halomoan. Waktu dia pulang ke Kampung halaman nya liburan semester kemarin.


Hari ini, Butet, Sri, Cempaka, dan Siti. Sedang bercengkrama di Kost Putri Nyak Tatik. Sambil membuat rujak di siang bolong ini. Mereka pun bercerita tentang cita-cita mereka yang indah.


"Eh, kalok kita udah nikah semua. Teros kita tinggal di rumah masing-masing. Tapi kita tetap bersahabat ya." Ucap Butet.


"Iya tenang saja kamu Tet." Sahut Sri. Siti dan Cempaka pun mengangguk.


"Eh, ngomong-ngomong kamu teh kenapa ngajakin rujak-an siang-siang begini Siti?" Tanya Cempaka.


"Hamil mungkin dia." Celetuk Butet sambil mengunyah mentimun yang baru saja ia cocol di sambal rujak.


"Kamu teh hamil?" Tanya Cempaka sambil menatap Siti dengan semringah. Begitupun dengan Sri yang sudah tak sabar dengan jawaban Siti.


"Belum, cuma lagi kepengen aja." Sahut Siti.

__ADS_1


"Sudah test belum?" Tanya Cempaka.


"Sudah, tapi belum rezeki Cem. Biar lah, jalani sajo." Ucap Siti yang tampak santai saja.


"Ya, semoga cepat hamil yo Ti." Ucap Sri.


"Aamiin." Sahut Siti sambil mengupas kedondong.


"Kamu kata Nyak Tatik mau pindah ya Cem?" Tanya Sri.


"Iya, A'a Rozi teh mau kita pindah ke rumahnya. Tapi, saya teh gak tega mau ninggalin Nyak." Ucap Cempaka.


"Manga indak tega, kan ado aden disiko." Ucap Siti.


"Lagi pula saya teh masih kuliah. Nanti siapa yang menjaga Farraz?"


"Iya sih." Ucap Siti, Butet dan Sri.


"Nanti saja, setelah kita semua lulus, saya pindahnya." Sambung Cempaka.


"Eh, kok kamar bekas Siti gak di sewain sama Nyak Tatik?" Tanya Butet.


"Kata Nyak sih, paviliun ini teh gak di sewakan lagi Tet. Setelah kalian lulus. Paviliun ini teh mau di tempati Batra dan Siti. Iya kan Ti?"


Siti mengangguk dengan cepat.


"Aku tau alasannya yang jelas." Ucap Butet.


"Opo Tet?" Tanya Sri.


"Nyak Tatik takot kalau nambah anak kost lagi, si Anca juga kawen sama anak Kost." Seloroh Butet sambil tertawa terbahak-bahak.


Lalu, tak lama kemudian mereka pun tertawa bersama-sama.


"Di pikir-pikir yo lucu. Mosok iki kan Kost Putri. Kok yo dadi omah perjodohan." Ucap Sri sambil tertawa terpingkal-pingkal.


Cempaka dan Siti hanya tersenyum geli. Mereka menyadari Kost-kost-an ini lah yang mengantarkan mereka bertemu jodoh mereka saat ini.


"Kamu setelah nikah sama Halomoan mau tinggal dimana Tet?"


"Ikut si Moan lah, dia kan udah punya rumah. Jadi di sanan kami nantik tinggalnya." Ucap Butet.


"Kalau kamu Sri?" Tanya Cempaka lagi.


"Aku yo manut Mas mu wae." Ucap Sri.


"Jadi kek mana perasaan kelen mau jadi ipar?" Tanya Butet sambil menahan senyumnya.


"Biasa wae kok Tet. Yo kan Cem." Ucap Sri.


Cempaka pun mengangguk dengan cepat.


"Hahahahah..! lucu ku tengok kalian, asli kali lah. Macam sinetron. Teman kost ku yang sekarang jadi Adik iparku. Tenyata juga kakak ipar dari teman ku. Hahahahhaha!" Butet tertawa terpingkal-pingkal.


"Dari pada kamu Tet, karena ngences mu aku jatuh cinta dan terbucin-bucin." Seloroh Sri.


"Apa nya kau..!" Ucap Butet yang tampak sangat sensitif bila teman-temannya membahas tentang Halomoan dan ngences nya.


"Nyesal aku cerita sama kelen semua..!" Ucap Butet sambil cemberut menatap teman nya satu persatu.


"Makanya jangan lawan kami ipar beripar..!" Celetuk Siti.

__ADS_1


Butet kembali tertawa.


"Cieeee ipar beripar. Cieeee.. lucu kali kelen memang." Ucap Butet.


Mereka tertawa, bercanda dan menghabiskan kebersamaan mereka yang mungkin akan mereka rindukan di masa depan nanti.


..


"Risa."


Seseorang memanggil Risa saat dirinya baru saja keluar dari gedung Fakultas nya setelah bertemu dengan dosen pembimbing nya.


Risa menoleh dan menatap lelaki yang sedang berjalan menghampiri dirinya.


"Ris."


"Bang Agus?"


Risa terkejut saat melihat Agus yang menemui dirinya di kampus pada hari ini.


Risa langsung mempercepat langkahnya untuk menghindari Agus.


"Ris tunggu..!" Ucap Agus, sambil menahan lengan Risa.


"Lepasin aku Bang," Ucap Risa tanpa menatap Agus.


"Ris, bisa kita berbicara sebentar saja..?" Tanya Agus.


"Aku tidak ada waktu." Ucap Risa sambil terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Agus di lengannya.


"Ris, aku tahu aku salah. Tetapi, izinkan aku berbicara sebentar saja." Agus pun memohon di hadapan Risa.


Risa menatap Agus dengan genangan air mata di pelupuk matanya.


"Apa lagi yang mau dibicarakan? Bukankah Abang sudah mencampakkan aku?"


Agus pun tertunduk malu mendengar ucapan Risa.


"Bagaimana kabar anak kita?" Tanya Agus.


"Anak kita? Anak kita yang mana Bang?"


"Arkha." Ucap Agus.


Risa pun terkejut saat Agus tahu tentang Arkha.


"Dia anak ku, bukan anak mu." Ucap Risa sambil menghempaskan tangan Agus dengan kasar.


"Jangan bohong Risa. Dia anak ku, dia begitu mirip denganku." Ucap Agus.


Risa menatap Agus dengan tajam. Lalu, Risa tersenyum dengan bibir yang bergetar.


"Anak mu sudah lama mati, saat kamu suruh gugurkan kandungan ku. Saat kamu lemparkan uang ke wajah ku. Saat kamu lari dari tanggung jawab mu. Apa kamu pikir seorang anak bisa hidup tanpa di biayai?"


Pertanyaan Risa mampu membungkam Agus.


"Jadi, kita tidak memiliki anak. Yang ada, hanya anak ku. ANAK KU SEORANG..!" Ucap Risa dengan derai air mata.


Risa pun berlari ke parkiran dan mengambil sepeda motornya. Lalu, pergi meninggalkan Agus begitu saja.


Agus berdiri tak bergeming. Diam-diam air matanya mulai membanjiri pipinya yang mulai cekung karena kejamnya kehidupan. Agus hanya mampu menatap Risa yang pergi dengan penuh amarah kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2