
"Permisiiiii..."
"Eh elu Moan, ngapain lu kesini?" Tanya Nyak Komariah.
"Mau delivery bantal sama guling Nyak buat si Butet."
"Nape emang bantal ame guling yang ada?" Tanya Nyak Komariah.
"Gak tau aku. Mintak bantal baru dia."
"Ah, gue tau... mungkin die liat bagian dalem itu bantal bekas lu. Jijik die pasti. Gue aje jijik waktu ganti sarung bantal bekas elu Moan."
Halomoan bersungut-sungut mendengar ucapan Nyak Komariah.
"Moan ke atas dulu ye Nyak." Ucap Halomoan sambil berjalan menuju tangga.
"Eeeeetttt... Kagak boleh..! Ntar lu macem-macem!" Ucap Nyak Komariah sambil menarik kerah baju Halomoan.
"Mana ada aku mau macam-macam, Kalok aku mau dari dulu aja. Gak berani aku sama si Butet. Barbar kali kek singa betina." Ucap Halomoan.
"Pokok nye kagak boleh! ntar di contoh ame penghuni laen nye." Ucap Nyak Komariah.
"Buteeeeeettttttttt...! si Moan datangggggg..!" Teriak Nyak Komariah dari lantai bawah.
Butet melongok dari beranda lantai atas dan menatap Halomoan yang datang menenteng bantal dan guling. Butet tersenyum melihat calon suaminya itu.
"Bentar ya," Ucap Butet. Lalu, dia bergegas turun.
"Butetttt.. cinta Abang." Ucap Halomoan sambil berjalan akan memeluk Butet.
"Moan! kelakuan lu.!" Nyak Komariah melotot.
"Ya Tuhan." Keluh Halomoan.
"Makasih ya Bang. Memang lah kau calon suami yang baek kali." Puji Butet sambil meraih bantal yang di bawa Halomoan.
"Ciom lah."
"Moan..!"
"Ah payah disini, Nyak Komariah udah kek satpam komplek." Ucap Moan.
"Lu itu kebangetan ye Moan." Ucap Nyak Komariah sambil memukul kaki Halomoan dengan gagang sapu.
Halomoan terkekeh, lalu ia beranjak menghampiri Nyak Komariah. Ia merangkul Nyak Komariah dengan erat.
"Nyak, mintak makan aku Nyak. Nyak masak apa? rindu kali aku masakan Nyak Komariah." Ucap Halomoan bermanja-manja dengan Nyak Komariah.
"Teri kacang di sambelin ame sayur bayem. Sono ambil sendiri."
"Betol ya."
"Iya, jangan lu abisin..! lu pikirin gue ame Adek-adek elu..!"
"Mantap lah." Ucap Halomoan sambil beranjak masuk kedalam rumah Nyak Komariah. Sedangkan Butet hanya tersenyum dan beranjak ke atas dengan membawa bantal-bantal itu.
..
Mobil Matt masuk kedalam komplek perumahan Kost-kost-an nya dulu. Agus sempat celingukan melihat komplek perumahan itu, lalu ia menatap Matt yang tampak bahagia sambil memandangi map berisikan dokumen dirinya.
__ADS_1
"Calon istri Matt tinggal di komplek sini?" Tanya Agus di dalam hatinya.
Lalu, ia melirik GPS yang berada di layar kecil di mobil itu.
"Hah!" Agus terkejut hingga ia mengerem mendadak.
"Ada apa?" Tanya Matt.
Keringat jagung mulai meleleh di dahi Agus.
"Ti-tidak apa-apa." Ucap Agus.
Matt hanya mengangkat kedua alisnya dan mengangguk sambil tersenyum.
"Ka-kalau boleh tahu, siapa nama calon istri mu Matt." Tanya Agus sambil kembali mengendarai mobil itu dengan pelan.
"Risa. Dia wanita tersulit yang pernah aku sukai dan akan aku dapatkan." Ucap Matt dengan bangga.
Agus kembali mengerem mobil itu dengan mendadak. Lalu ia menatap Matt dengan tak percaya.
"What's wrong? " Tanya Matt.
"Ti-tidak apa-apa." Ucap Agus sambil mengusap wajahnya dengan panik.
Agus kembali mengendarai mobil itu hingga sampai di depan rumah Risa.
"Ayo turun, akan aku kenalkan dengan Risa, calon istri ku." Ucap Matt.
"A-a-aku disini saja." Ucap Agus terbata-bata.
"Kenapa?" Tanya Matt.
"Aku tidak ingin mengganggu." Ucap Agus.
"A-aku disini saja Matt. Aku sedikit pusing." Ucap Agus.
"Oh, baiklah. Aku kedalam dulu ya." Ucap Matt.
Agus pun mengangguk dan menundukkan kepalanya. Matt membuka pintu mobilnya dan beranjak ke rumah Risa.
"Matt dan Risa? bagaimana bisa?" Ucap Agus dengan suara yang bergetar.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Sahut Nyak Komariah yang sedang berbincang dengan Halomoan.
"Eh, elu Mamat. Tumben lu kesini."
"Nyak apa kabar?" Ucap Matt sambil mencium tangan calon mertuanya.
"Baek." Sahut Nyak Komariah.
Matt juga mengalami Halomoan yang sudah di kenalnya.
"Ini Nyak, saya mau menyerahkan dokumen saya." Ucap Matt.
"Oh, udah jadi."
"Sudah Nyak." Sahut Matt.
__ADS_1
"Jadi juga lu ama si Risa." Ucap Halomoan.
"Iya Bang." Sahut Matt sambil tersenyum.
Risa keluar bersama Arkha. Lalu, Risa hanya tersenyum kepada calon suaminya itu. Arkha yang sudah bisa berjalan, langsung menghampiri Matt dan mencium tangan Matt.
"Pa-pa-pa." Ucap Arkha.
Matt tertawa bahagia, lalu ia menggendong Arkha sambil menciumi bocah laki-laki itu.
"Hai mate, how are you?" Sapa Matt sambil tersenyum melihat lucunya polah bocah itu.
"Aku datang hanya mengantarkan dokumen. Tolong sampaikan kepada Bang Rozi ya." Ucap Matt kepada Risa.
Risa mengangguk dan tersenyum kepada Matt.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya."
"Iya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Matt pun berpamitan juga kepada Nyak Komariah dan Halomoan. Lalu, ia beranjak keluar di antarkan Risa dan Arkha.
Dari dalam mobil, Agus menatap Matt dan Risa yang tampak saling tersenyum bahagia. Sedangkan Matt menggendong Arkha dan menciumi bocah laki-laki itu.
"Baik-baik sama Mama ya, Papa pulang dulu." Ucap Matt, lalu ia menyerahkan Arkha kepada Risa.
Tetapi, bocah laki-laki itu tak mau berpisah dengan Matt. Arkha langsung menangis saat Matt menyerahkan nya kepada Mamanya.
"Huaaaaaaa...!" Arkha menangis sekencang-kencangnya.
Melihat hal itu Agus merasa pilu. Ia benar-benar merasa cemburu. Arkha lebih ingin bersama Matt, dari pada bersama dirinya saat bertemu dengan Arkha.
"Ya Allah." Gumam Agus.
Terlihat Matt tertawa dan kembali menimang-nimang Arkha. Arkha tampak tertawa saat berada di dekapan Matt.
Hati Agus hancur lebur. Tak terasa air mata mengalir di pipinya. Ia juga melihat Risa yang tersenyum bahagia. Agus tidak pernah melihat Risa sebahagia itu. Agus pun, semakin terpukul.
Setelah di bujuk-bujuk, akhirnya Arkha mau berpisah dengan Matt. Matt melambaikan tangannya saat beranjak ke arah mobilnya.
Risa tampak mencoba mencari tahu siapa yang ada di dalam mobil Matt saat melihat ada bayangan seseorang yang ada di dalam mobil Matt. Tetapi, Agus langsung memakai topinya dan menundukkan kepalanya.
Matt masuk kedalam mobil. Lalu, ia tersenyum dengan lega.
"Maaf kalau lama." Ucap Matt.
"No problem." Sahut Agus.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Matt.
"Ya," Ucap Agus.
"Oh, ok."
Agus langsung menyalakan dan menjalankan mobil itu.
__ADS_1
Agus mengendarai mobil dengan perasaan yang hancur. Ia benar-benar merasa hancur saat mengetahui Risa lah yang menjadi calon istri Matt.
Agus diam seribu bahasa saat Matt bercerita impiannya setelah menikah dengan Risa. Matt tampak begitu bersemangat dan bahagia. Sedangkan Agus menahan perasaan lukanya dan berusaha terlihat baik-baik saja.