Kost Putri

Kost Putri
30# Perjanjian


__ADS_3

Risa yang baru saja pulang dari rumah temannya berjalan dari depan komplek menuju ke rumahnya. Agus yang baru saja pulang, menghentikan sepeda motornya di samping Risa yang berhenti menatapnya.


"Bang Agus dari mana?" Tanya Risa.


Agus yang memperhatikan Risa dari ujung rambut hingga ke ujung kaki gadis itu pun langsung mengerjapkan matanya saat Risa menatap matanya.


"Eh, anu Ris, Abang habis dari rumah teman. Nagih hutang teman." Ucap Agus.


"Oh.." Ucap Risa sambil tersenyum.


"Ris, mau barengan? kan kita serumah." Ucap Agus.


Risa menatap teriknya matahari, lalu ia mengangguk.


"Boleh deh Bang." Ucap Risa.


Agus menyalakan kembali sepeda motornya saat Risa duduk di boncengan sepeda motornya.


Agus pun merasa bahagia saat Risa duduk menempel di punggungnya.


"Risa sudah punya pacar?" Tanya Agus.


"Belum Bang." Jawab Risa.


"Secantik ini kok belum punya pacar sih?" Gombal Agus.


Risa hanya tersenyum geer saat mendengar pujian Agus.


"Ris, kapan-kapan kita jalan yuk." Ucap Agus yang bergerak cepat untuk mewujudkan niat nya mendekati Risa.


"Hmmmm... Tapi kata bang Moan, Abang Agus banyak pacarnya. Nanti ada yang marah gak?" Tanya Risa.


"Hoax itu si Moan. Abang jomblo Ris." Agus berusaha meyakinkan Risa.


Risa kembali tersenyum geer.


"Jangan di dengar kata-kata si Moan. Dia raja Hoax." Ucap Agus.


Mereka pun sampai di depan rumah Nyak Komariah. Risa turun dari boncengan Agus dan mengucapkan terima kasih kepada lelaki itu. Agus mengangguk dan memarkirkan sepeda motornya sambil terus memperhatikan Risa.


"Gila, kenapa gue baru perhatian sama ini anak." Gumam Agus.


Risa yang memakai baju ketat dengan cutting neck yang rendah serta rok span selutut membuat penampilan gadis itu semakin menarik.


"Astaga..!" Ucap Agus sambil menelan salivanya.


Pikiran Agus sudah melanglang buana entah kemana-mana saat menyadari, Risa kini bukanlah anak kecil seperti yang dulu pertama kali ia lihat.


"Kece banget.. ckckckck." Gumam Agus sambil beranjak ke tangga samping untuk naik ke kamarnya.


..


Keluarga Cempaka berpamitan pulang kepada Nyak Tatik dan keluarganya. Cempaka masih tampak menangis dan terus menundukkan wajahnya.


Para warga dan Pak Rt sudah membubarkan diri setelah pernikahan Cempaka dan Rozi.


"Neng, Eneng teh baik-baik sama mertua ya Neng." Ucap Ambu.


Cempaka hanya mengangguk tanpa kata-kata.


"Saya titip anak saya Bu." Ucap Ambu kepada Nyak Tatik.

__ADS_1


"Udeh tenang aje Bu." Ucap Nyak Tatik yang tampak bersyukur dengan kejadian ini.


"Terima kasih Bu." Ucap Ambu.


"Abah, Ambu, A' Dewa, Neng teh minta maaf dengan kelakuan Neng." Akhirnya Cempaka bersuara.


Abah, Ambu dan Dewa menghela napas mereka. Lalu, mereka berusaha menguatkan Cempaka.


"Ini teh sudah jadi takdirmu Neng. Sekarang teh kamu sudah menikah. Baik-baik sama suami mu ya Neng." Ucap Ambu.


Cempaka mengangguk pelan dan memeluk Ambu.


Tangis dan rasa penyesalan Cempaka mengiringi kepergian keluarganya yang akan kembali ke Bandung.


Dewa tampak menepuk bahu Rozi dengan pelan sambil memberikan pesan sebagai Kakak kandung Cempaka kepada adik iparnya. Tampak Rozi mengangguk paham dengan apa yang di ucapkan Kakak iparnya itu.


Mobil milik keluarga Cempaka pun bergerak meninggalkan halaman rumah Nyak Tatik. Kini, Cempaka adalah menantu di rumah kost-kost-an itu. Cempaka tampak salah tingkah dan hanya duduk di ruang tamu rumah Nyak Tatik.


"Cem, ganti baju dah." Ucap Nyak Tatik.


Cempaka hanya mengangguk dan beranjak ke paviliun rumah itu.


"Eh Cem!" Panggil Nyak Tatik.


"Ya Nyak." Ucap Cempaka.


"Kamar lu sekarang di kamar nye si Rozi ye." Ucap Nyak Tatik.


Cempaka tampak gemetar dan kembali berjalan menghampiri Nyak Tatik.


"Nyak." Ucap Cempaka.


"Ye, apaan..?" Tanya Nyak Tatik.


Nyak Tatik terdiam sambil menatap Cempaka.


Rozi yang baru keluar dari kamarnya bergabung dengan Nyak Tatik dan Cempaka.


"Ada apa Nyak?" Tanya Rozi.


"Bini lu, bilang nye mau tetep di kamar nye. Pan lu bedua udeh nikah nih. Terus pegimane?" Tanya Nyak Tatik.


"Biar Rozi bicara dengan Cempaka ya Nyak." Ucap Rozi.


Nyak Tatik mengangguk dan beranjak dari duduknya. Begitupun Cempaka yang beranjak dari duduknya.


"Cem, mau kemana?" Tanya Rozi.


"Mau ke kost A'." Ucap Cempaka.


"A'a anterin ya, sekalian A'a mau bicara." Ucap Rozi.


Cempaka diam saja dan berjalan keluar dari rumah Nyak Tatik.


Saat di dalam rumah kost. Cempaka langsung masuk kedalam kamarnya. Sedangkan Rozi menunggu Cempaka di ruang tamu paviliun itu.


Setelah mengganti pakaian nya, Cempaka pun beranjak menemui Rozi di ruang tamu.


Cempaka hanya diam tanpa kata. Sedangkan Rozi tampak sangat bersalah dengan kejadian yang menimpa mereka berdua.


"Cem, Saya minta maaf." Ucap Rozi.

__ADS_1


Cempaka mengangkat wajahnya dan menatap Rozi sesaat. Lalu, tanpa kata ia menundukkan kembali wajahnya.


"Saya tahu ini memalukan dan kamu belum siap. Saya terima segala hukuman yang akan kamu lakukan kepada saya." Ucap Rozi sambil tertunduk malu.


Cempaka memandangi Rozi yang kini sudah menjadi suaminya itu. Cempaka paham, Rozi tidak berniat akan melakukan hal yang jahat kepadanya. Hanya saja, tadi malam hal sial menghampiri mereka berdua. Hingga mereka terpaksa menikah dengan rasa malu.


"Tidak apa-apa A'. Saya juga bersalah." Ucap Cempaka.


Lalu hening.


Rozi menatap kedua mata Cempaka yang terlihat dingin kepadanya.


"Saya menyesal. Mohon, maafkanlah saya." Ucap Rozi sambil bertekuk lutut dihadapan Cempaka.


Cempaka pun panik saat melihat Rozi yang bertekuk lutut di hadapan nya.


"A'a teh ngapain?" Tanya Cempaka.


"Saya benar-benar minta maaf." Ucap Rozi yang terus menundukkan wajahnya saat bertekuk lutut di hadapan Cempaka.


"Saya teh tidak marah A'. Hanya saja..."


"Hanya saja apa?" Tanya Rozi.


"Saya teh belum siap menikah A'." Ucap Cempaka, lalu gadis itu menundukkan wajahnya.


Rozi paham bila Cempaka belum siap untuk menikah. Cempaka baru saja naik semester 2. Cempaka masih 19 tahun dan pastinya gadis itu masih sedang menikmati masa-masa dirinya menjadi mahasiswi.


"Saya paham." Ucap Rozi.


Lalu, Rozi kembali duduk di bangku ruang tamu dan menundukkan wajahnya.


"A', kalau teman-teman saya pulang, kalau bisa teh, mereka jangan tahu kita sudah menikah. Saya teh malu, nanti di kira kita menikah gara-gara ketahuan tidur bersama." Ucap Cempaka sambil menahan tangis nya.


Rozi mengangguk dan menggenggam kedua tangan Cempaka.


"Tetapi, saya mohon Cem, untuk saat ini, kita pura-pura menjadi suami istri beneran ya. Kamu tidur di kamar saya. Biar Enyak gak bertanya-tanya." Ucap Rozi.


Rozi tahu betul, kejadian ini memang membuat malu keluarganya. Tetapi, nyak Tatik juga sangat bahagia dengan pernikahannya dengan Cempaka. Hal itu Nyak Tatik katakan sendiri kepada Rozi, sesaat sebelum Akad nikah dimulai.


Flashback on


"Ji, Enyak bahagia, akhirnya lu nikah. Walaupun begini ceritanye." Ucap Nyak Tatik.


"Nyak Harap, lu ama Cempaka akur selalu, awet dan hanya maut yang memisahkan. Nyak juga sudah kepengen punya cucu Ji." Ucap Nyak Tatik lagi.


Flashback off


Cempaka terkejut dengan ucapan Rozi.


"Tetapi A', Saya teh belum siap begituan." Ucap Cempaka.


"Tidak apa-apa Cem. Saya terima semuanya. Ini salah saya. Yang terpenting saat ini perasaan Nyak. Kamu mau kan membantu saya untuk menyenangkan hati Nyak?" Tanya Rozi.


Cempaka mengigit bibirnya dan berpikir dengan hati yang kacau.


"Saya mohon. Saya janji tidak menyentuh kamu hingga kamu siap. Kita baru berpacaran, anggap saja ini tahap kita semakin mengenal." Ucap Rozi lagi.


Dengan ragu, Cempaka mengangguk. Rozi pun tersenyum bahagia.


"Terima kasih Cem. Kamu baik sekali." Ucap Rozi.

__ADS_1


Cempaka hanya diam tanpa mampu berkata-kata.


__ADS_2