Kost Putri

Kost Putri
65# Baku hantam


__ADS_3

Pintu kelas Agus terbuka, menandakan jam kelas nya sudah berakhir. Terlihat Agus sedang bercanda dengan teman-temannya saat keluar dari ruang kelasnya.


"Gus," Panggil Halomoan.


Agus menatap Halomoan, lalu ia terlihat salah tingkah.


"Eh, Moan." Sapa nya.


"Sini dulu, aku mau bicara." Ucap Halomoan.


Dengan malas, Agus pun mengikuti Halomoan ke pojok lorong itu.


"Kau kemana aja? apa betol kau udah pindah? kok gak cakap-cakap kau sama kami?" Tanya Halomoan.


Agus semakin salah tingkah, matanya pun terlihat sibuk melirik-lirik entah kemana.


"Gus, ada yang mau aku bilang serius sama kau." Ucap Halomoan lagi.


"Apa Moan?" Tanya Agus.


"Kau sama si Risa udah putus nya?"


Agus menatap Halomoan dengan penuh arti.


"Gue menjauh aja, apa yang lu bilang ada benarnya. Dari pada terjadi apa-apa mendingan gue cabut dan gak ada hubungan lagi sama dia." Terang Agus.


Halomoan menghela napasnya dan menatap Agus dengan kesal.


"Berarti kau cuma maen-maen sama dia kan?" Tanya Halomoan.


"Ya gak mungkin lah gue serius sama dia, cewek gue banyak yang lebih cakep dari dia."


Halomoan mendadak emosi saat Agus mengucapkan kata-kata itu. Lalu, tanpa basa basi, Halomoan melayangkan pukulannya ke wajah Agus.


"Tanga Ho..!" (Red-bangs*t kau!) Seru Halomoan.


"Kok lu mukul gue..!" Tanya Agus sambil memegangi pipinya.


"Kau memang pantas di pukol..!" Seru Halomoan.


Baku hantam pun tak terelakkan. Agus membalas pukulan Halomoan. Begitupun Halomoan yang menjadi membabi-buta karena emosi.


Mendengar keributan, para mahasiswa berlarian ke arah mereka untuk mencoba melerai dua sahabat yang sedang berseteru tersebut.


Begitupun Dosen dan para mahasiswa dan mahasiswi dari kelas Butet, mereka keluar mencari tahu apa yang sedang terjadi.


Walaupun di lerai, tampaknya tenaga Halomoan lebih kuat dari pada beberapa orang yang sedang memegangi dirinya. Ia terus menendang dan melayangkan pukulannya ke arah Agus. Agus babak belur di tangan Halomoan.


Security kampus hingga para dosen pun turun tangan untuk melerai mereka berdua. Tanpa sadar, Butet pun berlari menghampiri Halomoan dan mencoba menenangkan lelaki itu.


"Moan!" Teriak Butet.

__ADS_1


Halomoan pun terdiam, ia menghentikan aksinya.


"Ngapain kelen berantam! Udah gilak kau ya Moan!" Ucap Butet.


Moan menatap Butet dengan napas yang terengah-engah. Lalu, ia mengusap darah yang keluar dari bibirnya.


Agus sempat beberapa kali membalas, dan balasan Agus cukup telak hingga bibir Halomoan pun berdarah.


"Ada apa ini?" Tanya Dosen yang menyaksikan pertengkaran antara Agus dan Halomoan.


Tetapi, tidak ada satupun yang berbicara.


"Kalian berdua, ikut saya ke kantor..!" Perintah Dosen itu.


Di iringi scurity kampus, Halomoan dan Agus pun di bawa ke kantor.


Butet tak mau ketinggalan, ia mengikuti Halomoan dan Agus dan menunggunya di luar ruangan kantor tersebut.


Lebih satu jam Halomoan dan Agus di interogasi. Dosen mencoba menggali pokok masalah yang sedang dihadapi oleh kedua mahasiswa nya tersebut.


Karena Agus dan Halomoan tidak mau berbicara, mereka pun, terkena sangsi skorsing selama satu minggu dan mereka juga menandatangani surat pernyataan agar tidak membuat keributan lagi di lingkungan kampus. Serta, mereka wajib menyelesaikan masalah mereka secara dewasa di luar kampus hingga tidak akan ada pemicu keributan lagi di lingkungan kampus itu.


Butet tampak sangat gelisah menunggu Halomoan. Ia benar-benar tak mengerti mengapa Halomoan yang terkenal ramah dan bersahabat dengan banyak orang, kali ini bisa melakukan keributan di dalam kampus mereka.


Tak lama kemudian, Halomoan dan Agus keluar dari ruangan itu. Lalu, Butet pun menghampiri Halomoan dengan sangat khawatir.


"Bang, kau gak papa?" Tanya Butet.


Agus pun buru-buru beranjak pergi dari hadapan Halomoan.


"Tet, kau disini dulu ya. Nanti aku jelaskan." Ucap Halomoan kepada Butet. Lalu, Halomoan pun bergegas mengejar Agus.


"Gus..!"


Agus menoleh kebelakang dan menatap Halomoan dengan malas.


"Apa lagi?" Tanya Agus sambil terus melangkahkan kakinya dengan cepat.


"Gus, aku mau bicara baek-baek sama kau." Ucap Halomoan.


"Udahlah Moan, gue udah males sama lu..!" Ucap Agus.


Tak hilang akal, Halomoan pun mengatakan langsung apa yang akan dia sampaikan kepada Agus.


"Risa hamil,"


Langkah kaki Agus terhenti. Ia kembali menoleh kebelakang dan menatap Halomoan dengan tak percaya.


"Hamil?" Tanyanya.


Halomoan melangkah mendekati Agus yang terdiam terpaku di depan tangga.

__ADS_1


"Ayo kita bicara baek-baek tanpa adanya kekerasan." Ucap Halomoan.


Agus menghela napasnya dan mengangguk pelan. Lalu, mereka berdua pun berjalan menuju tempat yang sepi.


Mereka berdua duduk berdampingan di bangku taman di area kampus. Agus terlihat sangat gelisah. Sedangkan Halomoan terlihat berusaha menahan amarahnya.


"Lu tau dari mana dia hamil?" Tanya Agus.


"Risa itu nunggu kau beberapa hari yang lalu di sini. Saking lamanya dia nunggu kau, sampek pingsan dia. Untuk aku nengok, jadi ku bawak dia ke ruang kesehatan. Disitulah dia cerita sama aku." Terang Halomoan.


Agus terdiam membisu.


Selama ini, Agus selalu melakukannya dengan aman. Ia selalu memakai alat kontrasepsi untuk mencegah hal-hal yang tidak ia inginkan.


Tetapi, ia ingat betul saat pertama kali melakukannya dengan Risa. Karena sedikit mabuk dan sudah tak tahan lagi, ia lupa memakai alat kontrasepsi. Hingga ia pun tidak bisa berkata apa-apa lagi saat mendengar Risa sedang hamil darah dagingnya.


"Temui si Risa. Bilang kau mau tanggung jawab sama dia." Ucap Halomoan.


Agus menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia benar-benar tidak siap untuk bertanggung jawab dengan apa yang telah ia lakukan.


"Gus,"


Agus tetap diam membisu.


"Aku tau kau gak mau tanggung jawab kan? Tapi aku mintak tolong kali lah sama kau Gus. Kasihan Risa, kasihan Nyak Komariah, Gus..!"


Agus masih diam dengan pikirannya sendiri.


"Minimal kau nikahi dia, biar jelas status anak kau. Apa gak kasian kau sama anak kau?"


"Kau temui si Risa ya." Bujuk Halomoan.


Agus mengusap bibirnya yang pecah karena kepalan tangan Halomoan. Lalu, ia mengangguk pasrah dan menatap Halomoan dengan seksama.


"Nanti dia gue hubungi, gue pasti menemui dia. Lu gak usah khawatir. Biar kami yang berunding." Janji Agus.


Halomoan menghela napasnya dengan lega.


"Tapi kau janji ya, aku percaya sama kau. Kau sebenarnya baek, kau pasti gak akan tega sama anak mu." Ucap Halomoan.


Agus hanya mengangguk dan beranjak dari duduknya.


"Eh, mau kemana kau?" Tanya Halomoan.


"Ke Dokter." Sahut Agus sambil berjalan gontai meninggal Halomoan di bangku taman itu.


Halomoan baru menyadari, wajah Agus nyaris tak berbentuk karena pukulan-pukulannya yang membabi-buta.


Halomoan tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan tak percaya.


"Ngeri juga aku kalok lagi emosi, bah!" Ucapnya. Lalu, ia beranjak dari duduk nya dan mulai mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Butet..! ku suruh dia nunggu, takot nya ngamuk lagi pulak, gak jadi aku jadian sama dia.. Aaaa... cemana ini.." Ucap nya sambil berlari ke arah gedung untuk mencari Butet.


__ADS_2