
Suara dengkuran membangunkan Butet dari tidurnya di dalam Bus yang sudah separuh jalan menuju Parapat. Butet menoleh kesamping nya. Terlihat Halomoan yang sedang tertidur pulas dengan bibir yang menganga.
Air liur keluar dari sudut bibir Halomoan. Yang sudah menetes di jaket lelaki itu. Sontak saja Butet merasa mual dan mendorong kepala Halomoan ke arah berlawanan dari dirinya.
"Katanya gak ngences lagi. Ih... jijik kali.. netes-netes pulak!" Keluh Butet, sambil berkali-kali bereaksi akan muntah.
Butet terdiam sejenak, lalu ia pun tersenyum jahil.
Butet mengeluarkan pembalut datang bulan dan perekat luka dari dalam tas nya. Lalu, gadis itu membuka pelastik pembalut itu dan menempelkan pembalut itu di bibir Halomoan yang sedang menganga.
Butet juga merekatkan pembalut itu dengan perekat luka, agar pembalut itu bisa terpasang di wajah Halomoan dengan baik.
Kini, Butet tidak melihat adanya air liur yang menetes. Begitupun dengan suara-suara dengkuran dari Halomoan. Butet tertawa geli saat pembalut menutupi bibir Halomoan.
"Ko rasakan lah itu tukang ngeces!" Gumam Butet sambil memegangi perut nya yang keram karena menahan agar tawanya tidak membangunkan Halomoan.
..
Film romantis sedang di putar di layar bioskop. Tampak Cempaka begitu menikmati alur dari cerita Film tersebut. Cempaka yang memegangi sebungkus popcorn terus mengunyah popcorn itu. Sedangkan Rozi terlihat lebih tertarik menatap Cempaka yang terlihat sangat serius menatap layar.
Tiba-tiba saja terlihat adegan dimana tokoh utama sedang bermesraan dengan lawan main nya. Saat itu juga Cempaka mulai kikuk dan menoleh kepada Rozi yang terlihat sedang asik menatap dirinya.
Cempaka tersenyum kikuk saat bertemu pandang dengan Rozi.
"A'a teh gak nonton?" Tanya Cempaka.
"Ah, nonton kok." Ucap Rozi sambil membetulkan posisi duduk nya.
"Kok A'a malah nonton saya?" Tanya Cempaka sambil tersenyum malu.
"Kamu lebih menarik dari pada Film nya." Celetuk Rozi.
Cempaka tertawa dan kembali menatap layar bioskop itu.
Film pun berakhir. Mereka berdua keluar dari bioskop itu dengan bergandengan tangan.
"Kita kesana yuk." Ucap Rozi sambil menunjuk Kids zone.
"Ngapain atuh A'a?" Tanya Cempaka.
"Main capit boneka. Seru tau.." Ucap Rozi sambil menggandeng tangan Cempaka yang sedikit merasa malu bermain di arena anak-anak.
Tetapi, karena Rozi begitu bersemangat, akhirnya Cempaka mengalah.
Awalnya Cempaka tidak begitu tertarik dengan permainan-permainan disana. Tetapi, lama-lama Cempaka lah yang begitu bernafsu saat bermain di sana.
__ADS_1
Cempaka dan Rozi terlihat tertawa bahagia. Mereka bermain capit boneka, basket dan permainan lain nya. Cempaka tampak begitu girang, saat Rozi berhasil mendapatkan boneka beruang berwarna cokelat untuk Cempaka. Gadis itu terlihat bertepuk tangan sambil meloncat-loncat girang. Persis seperti anak kecil yang sedang bermain di area itu.
Rozi juga tampak senang karena dirinya mampu membuat Cempaka bahagia. Membahagiakan Cempaka begitu mudah. Gadis itu sangat gampang tersenyum dan mengekspresikan rasa bahagianya. Maka, tidak sulit bagi Rozi untuk menghibur dan membuat Cempaka merasa senang.
Rozi melirik jam tangannya. Lalu, ia mengajak cempaka untuk pulang. Cempaka pun setuju dan mereka segera beranjak meninggalkan mall itu.
"Mau pulang, atau kita kemana dulu?" Tanya Rozi sambil mengendarai mobil nya.
Cempaka yang sedang memeluk boneka beruang pun menatap Rozi.
"Saya teh terserah A' Rozi saja." Ucap Cempaka.
Rozi menepikan mobilnya ke bahu jalan dan berpikir sejenak.
"Hmmmm, kita keliling Kota Jakarta mau?" Tanya Rozi.
Cempaka tersenyum manis. Lalu, mengangguk dengan cepat.
"Ok, let's go..!" Seru Rozi.
Cempaka baru menyadari. Selama ini Rozi yang ia kenal adalah Rozi yang pendiam dan tidak banyak bicara. Tetapi, setelah keluar bersama, Rozi ternyata tidak sependiam itu. Lelaki itu sangat asik di ajak bercanda dan tertawa bersama. Cempaka pun semakin kagum dengan Rozi.
Rozi juga sangat dewasa dan mengalah. Ia sangat menunjukan bila dirinya adalah laki-laki yang menyenangkan untuk Cempaka.
Rozi melirik Cempaka yang sedang menciumi boneka beruang itu.
"Loh, kok bonekanya diciumin kayak gitu?" Tanya Rozi.
Cempaka pun tersadar dan menutup mulutnya dengan tangan nya.
"Astaga..!" Gumam Cempaka.
"Maaf A', saya teh terlalu girang. Jadi gak bisa mengontrol perasaan." Ucap Cempaka dengan polos.
Rozi tertawa geli mendengar pengakuan Cempaka.
"Oh... begitu ya kalau kamu lagi girang." Ucap Rozi sambil di selingi tawanya.
Cempaka mengangguk dan tertunduk malu.
"Sayang ciuman nya, mending cium saya." Ucap Rozi.
Cempaka semakin malu dan tersenyum geli.
"Ih, A'a teh ada-ada saja." Ucap Cempaka.
__ADS_1
"Lagian boneka diciumin." Ucap Rozi sambil mengacak-acak rambut Cempaka.
Akhirnya mereka tertawa cekikikan bersama di dalam mobil itu.
..
"Parapat! Parapat! Terminal abeeeesssss!" ( Red- abes-habis) Teriak kernet Bus yang di tumpangi Butet dan Halomoan.
Butet yang sedang terkantuk-kantuk pun langsung mengusap kedua matanya. Sedangkan Halomoan tampak masih tertidur di sebelahnya.
Satu persatu penumpang pun turun. Termasuk sepasang suami istri yang duduk di jejeran bangku Butet dan Halomoan.
Sepasang suami istri itu tertawa geli saat melihat bibir Halomoan yang tertutup pembalut. Butet dengan berhati-hati melangkah keluar melewati Halomoan. Gadis itu pun dengan cepat menurunkan Kopernya dari bagasi dan beranjak turun meninggalkan Halomoan yang masih tertidur dengan lelap.
Butet yang sudah hafal kampung halaman nya pun dengan cepat menyetop sebuah kendaraan umum yang akan ia tumpangi untuk menuju rumah nya. Butet pun tersenyum sendiri saat membayangkan Halomoan yang akan terkejut saat mendapatkan pembalut di bibirnya.
"Oi...! lay, bangun kau lay.!" Ucap Kernet Bus sambil mengguncang-guncang tubuh Halomoan dan menahan tawanya.
Halomoan terbangun dan melihat bangku sebelahnya. Ia tidak melihat Butet disana. Lalu ia berdiri dan melihat kesekeliling nya. Bus itu sudah terlihat kosong tanpa satupun penumpang.
"Wuwuwuwuwuwuwuw?" Ucap Halomoan.
"Apa? cakap yang betol lah, gak ngerti aku. Ko lepas dulu soptek di bibirmu itu." Ucap Kernet Bus itu.
"Hah?" Gumam Halomoan sambil memegangi bibirnya.
Halomoan pun tersadar ada benda aneh yang menempel dan menutupi bibir, dagu hingga kedua pipinya. Dengan cepat, Halomoan pun melepaskan benda itu dari wajahnya.
"Ha, harus kali soptek kau tempeli di bibirmu itu lay? biar indah mimpimu ya?" Tanya kernet Bus itu sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Eh, apa nya ini?" Tanya Halomoan sambil memperhatikan benda yang kini ada di tangannya.
"Eh kok ada di mukak ku ini Bang?" Tanya Halomoan kepada kernet Bus itu.
"Manalah ku tau, mungkin cewek yang di sampingmu itu yang punyak kerja." Ucap kernet itu.
"Omakjanggggg...! Jahat kali memang si Butet itu ya." Ucap Halomoan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
"Mana orangnya Bang?" Tanya Halomoan lagi.
"Mana ku tau, udah turon dia tadi. Naek trapel." (Red- turon-turun | Trapel- travel)
"Awas ko ya Buteeeeeettttttttt...! Ku cium kau nantik kalau jumpa..! Kurang ajar kali pon!" Batin Halomoan.
Lalu, ia mengambil kopernya dan beranjak turun dari Bus itu.
__ADS_1