
Bunyi gamelan mengiringi langkah kaki Sri yang berjalan menuju meja dimana Bapak dan Dewa menunggunya di sana.
Sri tampak gugup saat semua mata memandang dirinya yang terlihat cantik dengan kebaya berwarna broken white dan kain batik. Riasan wajah yang membuat Sri tampak semakin cantik membuat siapa saja berdecak kagum. Tak terkecuali Dewa yang sejak seminggu yang lalu belum bertemu lagi dengan Sri.
Sri di pingit, sedangkan Dewa dan keluarganya baru menyusul pada hari Jum'at kemarin. Dewa tampak sangat bersemangat saat melihat calon istrinya berdiri di depannya.
Ijab kabul pun di mulai. Dengan Basmallah, Bapak mengucapkan Ijab, sedangkan Dewa menyambut nya dengan Kabul.
Dewa mengucapkan janji setianya tanpa kesalahan dan keraguan. Dewa menahan nafasnya saat menunggu jawaban dari para saksi di pernikahan mereka. Yang menjadi saksi dalam pernikahan mereka adalah Rozi dan sepupu Dewa.
"Sah?" Tanya penghulu.
"Sah..!"
"Alhamdulillah."
Semua orang bersorak bahagia.
Sri tampak terharu dengan menahan tangis nya. Acara di lanjutkan dengan berdo'a bersama dan sungkem kepada kedua orang tua mempelai.
Semua anak kost Nyak Tatik menghadiri acara pernikahan itu. Tanpa terkecuali Butet yang tampak bersedih dengan pernikahan Sri.
Sri adalah satu-satunya teman kost Butet saat ini. Dan sekarang, Sri sudah menikah dengan Dewa. Sudah dipastikan Sri juga akan pindah dari Kost-kost-an Nyak Tatik.
"Nanti aku sendirian lah ya weee." Ucap Butet sambil menangis.
Siti dan Cempaka berusaha untuk menenangkan Butet. Butet menangis tersedu-sedu.
Kost Putri Nyak Tatik. Begitu banyak kenangan disana, dan kini Butet adalah penghuni terakhir yang tersisa disana.
"Iku sopo? mantan ne mempelai pria yo?" Tanya para tamu saat melihat Butet menangis tersedu-sedu.
"Sudah Tet, sabar." Ucap Siti.
"Sekarang aku sendirian, mau cepat-cepat nikah aku belom lulus weeee.. masih setahun lagi." Ucap Butet sambil menangis kencang.
"Hust Tet..! malu atuh." Ucap Cempaka.
Acara pernikahan Sri dan Dewa berjalan dengan lancar. Sri tampak sangat bahagia dengan lelaki pilihannya itu. Begitupun dengan Dewa yang akhirnya berhasil duduk di pelaminan dengan gadis terbaik di dalam hidupnya.
Halomoan ikut menenangkan Butet dan mengajaknya keluar gedung. Butet masih terus menangis. Ia benar-benar tidak rela dan merasa di tinggalkan oleh sahabat-sahabatnya.
"Kita nikah aja lah cepat." Ucap Butet kepada Halomoan.
"Sabar hasian ku. Masih banyak yang harus kita lalui. Kita baru saja Martumpol. Masih ada banyak acara Adat yang harus kita lalui Tet, sabar ya." Ucap Halomoan.
"Nanti aku pindah Kost Bang. Gak mau aku tinggal di sana sendirian." Ucap Butet.
"Pindah ke rumah Abang aja Tet." Ucap Halomoan dengan bersemangat.
"Ish..! apa nya ini..!" Ucap Butet.
"Kan enak kita tinggal sama Tet, lingkungan rumah Abang gak recok orang nya." Ucap Halomoan.
"Mau modus kau ya Moan! Gak ada akhlak mu memang, ngajak anak gades tinggal sama mu..!" Ucap Butet.
__ADS_1
"Tapi kau kan tunangan ku Tet." Ucap Halomoan.
"Modus mu Moan. Ku kasi tau Mamak mu nantik, baru tau rasa kau. Di libas kau pakek sapu lidih nantik." Ucap Butet sambil melotot kesal.
Butet tertawa lebar sambil merangkul pundak Butet. Mereka duduk di tangga gedung itu.
"Tet, justru kau yang kayak gini aku semakin cinta sama mu." Ucap Halomoan.
"Kenapa kek gitu?" Tanya Butet penasaran.
"Banyak cewek yang mau sama aku. Bahkan menyerah-nyerahkan badan nya sana aku."
"Teros? kau makan semuanya? sama kau kek si Agus itu..!" Ucap Butet.
Halomoan menatap Butet sambil tertawa.
"Enggak lah Dek. Masih kuat iman ku. Semua tergantung iman masing-masing, mau itu orang mana, agama apa.Kalau dia mau menjaga iman nya, baik lah jalan hidup nya. Akhirnya aku dapat perempuan yang terbaik, yaitu, kau Dek. Itu karena aku bisa nahan nafsu ku, aku berpiker ribuan kali kalau mau merusak orang laen." Ucap Halomoan.
Butet terpesona mendengar ucapan Halomoan.
"Tapi, kalau sekarang kau mau ku rusak, aku mau kali lah Tet. Gak bisa aku nahan mau ngerusak kau." Ucap Halomoan sambil menjulurkan lidahnya.
Plokkkkkk..!
"Abes kau cakap kayak orang alim, niat mesum mu muncol ya Moan..!" Ucap Butet sambil memukul pipi Halomoan pelan.
Halomoan tertawa dan mencium pipi Butet yang tampak cantik dengan dress nya yang berwarna putih.
"Dapat salam dari guling kau Moan." Ucap Bambang yang sedang merangkul Rita menuruni anak tangga.
"Eh, apa nya kau..!" Ucap Halomoan sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.
Bambang tersenyum penuh arti.
"Ada apa sih?" Tanya Rita yang juga tampak penasaran.
"Ada lah......" Ucap Bambang penuh dengan misteri.
"Kasi tau lah Bang." Desak Butet.
"Iya kasih tau, ada apa sayang?" Tanya Rita.
"Jadi begini......."
Humpppfffffff....!
Dengan cepat Halomoan menutup mulut Bambang dan menyeret lelaki itu menjauh dari para gadis.
"Eh, hati-hati kau bicara, malu aku." Ucap Halomoan sambil terus membekap mulut Bambang.
"Jadi begini woiiiii...!" Teriak Bambang sambil berusaha melepaskan diri dari Halomoan.
"Kau ya Bambang...! Ku benamkan kau di Danau Toba nantik ya..!" Seru Halomoan saat bambang berhasil melepaskan diri dari nya.
"Cerita Bang." Ucap Rita dan Butet sambil berusaha membantu Bambang. Dengan menghalang-halangi Halomoan yang hendak mengejar Bambang.
__ADS_1
"Jadi kan, guling Kost-kost-an menjadi saksi bisu betapa bejat nya Halomoan...!" Teriak Bambang.
"Kau ya.." Ucap Halomoan dengan gemas sambil mengejar Bambang.
"Mereka teh ngapain? kayak anak-anak sekali." Ucap Cempaka yang baru saja keluar dari gedung itu bersama Rozi.
"Biarin aja lah, masa kecil mereka kurang bahagia." Celetuk Rozi sambil tersenyum melihat kelakuan Halomoan, Bambang, Butet, dan Rita yang seperti sedang bermain kejar-kejaran di dalam halaman gedung pernikahan itu.
"A'a,"
"Ya." Sahut Rozi.
Cempaka mengeluarkan kotak kecil dari dalam tas nya.
"Ini untuk A'a. Selamat ulang tahun ya A'." Ucap Cempaka.
"Astaga, aku ulang tahun ya hari ini?" Ucap Rozi, sambil menepuk dahinya.
Cempaka tersenyum saat melihat suami nya yang baru tersadar bila hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Apa ini?" Tanya Rozi sambil menerima kotak kecil itu.
"Buka saja atuh A'." Ucap Cempaka.
Rozi membuka kotak itu dan melihat kedalam isi kotak itu.
Rozi terbelalak dan menatap Cempaka dengan tak percaya.
"Kamu hamil?" Tanya Rozi sambil terperanjat saat memegang testpack yang ia ambil dari dalam kotak itu.
Cempaka tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah, ini kado terindah ya Allah...!" Seru Rozi yang tampak sangat bahagia. Lalu, ia menggendong tubuh Cempaka dan mencium istrinya itu di depan umum.
Butet, Halomoan, Bambang dan Rita pun berhenti kejar-kejaran. Mereka terpana melihat Rozi dan Cempaka yang sedang berciuman di depan gedung.
"Gak tau malu kali si Rozi ini lah. Gak di pikernya perasaan orang yang belom nikah..!" Ucap Halomoan.
Diam-diam, Bambang, Rita dan Butet berbisik-bisik di belakang Halomoan.
"Ohhhh... jadi kek gitu ceritanya." Ucap Butet.
"Cerita apa Tet?" Tanya Halomoan.
Bambang dan Rita tergelak lalu berlari menjauhi Halomoan.
"Kata si Bambang, Abang pernah perkosa bantal guleng, jadi Abang gak mau rusak perempuan, tapi bantal guleng yang abang rusak ya? selain kau ilerkan itu guleng, abang ilerkan juga dia pake iler yang laen." Ucap Butet.
"Hah...!" Halomoan mendelik menatap Butet. Lalu, ia mencari Bambang yang tampak sudah lari bersama Rita menuju ke dalam gedung.
"Bambanggggggg....! Kimb*kkkk nya kauuuuuuu..!" Seru Halomoan sambil berlari mengejar Bambang.
Butet tertawa terbahak-bahak.
"Ngeri kau Halomoan. Kelainan kau ya...!" Teriak nya sambil mengejar Halomoan.
__ADS_1
Cempaka dan Rozi kembali terpaku saat melihat aksi kejar-kejaran di lanjutkan sampai ke dalam gedung.
"Hancur ini pernikahan si Sri." Keluh Cempaka sambil menepuk dahinya.