Kost Putri

Kost Putri
62# Mulai Akrab


__ADS_3

"Cempakaaaa!" Seru Sri dan Butet, saat melihat Cempaka datang ke paviliun.


"Tet, Sri, saya teh kangen." Ucap Cempaka.


"Samaaaaa." Seru Sri dan Butet.


"Ini, saya bawakan oleh-oleh untuk kalian berdua."


Cempaka menyodorkan seplastik besar buah tangan yang ia bawa dari Bali. Dengan semringah, Butet meraih plastik tersebut dari tangan Cempaka.


"Makasih ya, memang baek kali kau jadi orang Cem. Gak lupa kau sama kami rakyat jelata ini." Ucap Butet sambil membongkar plastik tersebut.


Siti yang baru saja dari kamar mandi menatap Cempaka. Saat itu juga Cempaka melihat gadis itu.


"Eh, dia teh siapa?" Tanya Cempaka sambil menunjuk Siti.


Butet dan Sri menoleh dan menatap Siti.


"Oh, dia anak kost baru." Ucap Butet sambil mengunyah snack buah tangan yang Cempaka bawa.


"Hah? jadi teh kamar saya sudah ada yang mengisi?" Ucap Cempaka dengan raut wajah kecewa.


"Iya Cem." Sahut Sri.


"Manga kalian? indak suko den disiko?" Tanya Siti. ( Red- ngapain kalian? gak suka aku disini?)


"Mangga," Sahut Cempaka.


Butet dan Sri saling bertatapan.


"Kok mangga pulo ang kecek an?" (Red- kok mangga pula yang kamu bilang?) Ucap Siti.


"Teteh teh bilang mangga tadi kan teh?" Tanya Cempaka.


"Teh? ambo indak bawa teh doh." Ucap Siti.


"Ealahhhh... mulai pening aku! Eh, sini kau, kenalkan ini menantu yang punyak kost. Sopan kau sikit ya." Ucap Butet sambil memanggil Siti.


Dengan ragu, Siti menghampiri ketiga gadis itu.


"Dia Cempaka, nah Cem, ini Siti namanya. Dia dari Padang."


Butet memperkenalkan Siti kepada Cempaka.


"Saya Cempaka,"


"Ambo Siti."


"Oh, nama panjangnya Ambo siti."


"Eh, bukan, nama aku Siti, Ambo itu saya artinya." Jelas Siti.


"Ohh...."


Cempaka tergelak sambil menatap Siti.


"Sini teh gabung dengan kita-kita teh. Saya bawa oleh-oleh dari Bali." Ucap Cempaka.


"Oh buliah-buliah." Ucap Siti dengan bersemangat. (Red- buliah-boleh)

__ADS_1


"Eh, jangan kau panggil teh, dia itu sebayanya sama kita." Ucap Butet.


"Oh, begitu." Ucap Cempaka sambil tersenyum dan menatap Siti dengan seksama.


Mereka pun mulai berbincang-bincang tentang daerah mereka masing-masing. Tak bisa di hindari, kadang mereka tertawa terbahak-bahak saat menceritakan perbedaan Adat Istiadat dari daerah mereka masing-masing. Dan suasana akrab pun, mulai terjalin di antara empat wanita cantik itu.


..


Halomoan yang sedang di kamarnya terlihat gelisah. Ia benar-benar bingung memikirkan jalan keluar dari masalah yang Risa hadapi. Halomoan merasa khawatir bila Agus benar-benar menghilang.


Halomoan pun beranjak dari ranjangnya. Lalu, ia memakai kaosnya dan menyambar kunci motornya.


"Aku harus nyarik si Agus." Gumam Halomoan.


Halomoan turun dan beranjak ke parkiran motor. Lalu, ia membuka pagar rumah Nyak Komariah dan menyalakan sepeda motornya.


Saat Halomoan tiba di depan komplek. Ia bertemu dengan Rozi yang baru saja hendak pulang setelah ia membeli nasi goreng untuk Cempaka.


Halomoan menyapa Rozi dengan mengangguk sopan. Sedangkan Rozi membalasnya hanya dengan senyuman tipis di wajahnya. Lalu, Rozi naik ke sepeda motornya.


Halomoan menepikan sepeda motornya dan menoleh kembali ke arah Rozi yang sedang menstarter sepeda motornya.


"Apa aku bilang aja sama Abang nya si Risa ya? Dari pada si Risa sembunyi-sembunyi teros. Lagi pulak nampaknya Abang nya si Risa curiga nengok aku. Kalo gak aku bilang sama dia, takotnya dia nuduh aku pulak." Gumam Halomoan.


Halomoan melihat Rozi sudah mulai memacukan sepeda motornya. Tanpa pikir panjang, Halomoan pun mengejar Rozi dengan sepeda motornya.


Rozi melihat Halomoan dari kaca spionnya. Lalu, dengan sengaja ia memelankan laju sepeda motornya.


"Bang, aku mau bicara." Ucap Halomoan.


Rozi menoleh ke Halomoan yang kini sudah berjalan disampingnya.


Rozi menepikan sepeda motornya dan menatap Halomoan yang berhenti di depannya.


"Ada apa?" Tanya Rozi, saat Halomoan sudah berdiri di depannya.


"Abang siap beli nasi goreng ya?" Tanya Halomoan mencoba berbasa-basi.


"Iya. Kenapa?" Tanya Rozi.


"Aku ganggu gak Bang? Aku mau cakap serius sama Abang."


Rozi menatap Halomoan dengan tatapan yang datar.


"Mau bicara apa?" Tanya Rozi.


"Pokok nya serius Bang. Tapi, kalau Abang mau makan dulu ya gak papa, biar aku tunggu abang di depan Kost-kost-an ku aja." Ucap Halomoan.


"Gini, jangan muter-muter deh. Lu mau bicara apa dan tentang apa?" Tanya Rozi.


Halomoan menghela napasnya dan menatap Rozi dengan serius.


"Ini tentang Risa Bang." Ucap Halomoan.


Rozi terlihat sedikit bereaksi tak suka. Lalu, ia mencoba bisa saja dan terus menatap Halomoan sambil mengukur lelaki itu.


"Kenapa, lu suka sama Adek gue?" Tanya Rozi.


"Ah, enggak lah Bang. Aku gak ada niat sama Adek Abang." Ucap Halomoan.

__ADS_1


"Lah, terus lu mau mainin Adek gue aja!"


"Bu-bu-bukan kek gitu Bang. Yodahlah, abang makan dulu ya Bang. Biar gak emosi cakapnya. Biasanya orang lapar sukak emosi Bang." Ucap Halomoan.


"Gue kagak emosi kok." Ucap Rozi.


"Tapi barusan Abang bentak aku lah. Takot pulak aku." Ucap Halomoan.


"Iya itu karena lu muter-muter ngomong nya. Lu bilang kaga suka ama Adek gue, tapi lu mau ngomong tentang Adek gue. Maksud lu apa?" Tanya Rozi.


"Gini aja lah Bang. Aku tunggu Abang disini. Abang balek dulu, makan, baru kita bicara." Ucap Halomoan.


Rozi menatap Halomoan dengan kesal. Lalu, ia kembali menyalakan sepeda motornya.


"Jangan kemana-mana lu ye." Ucap Rozi sebelum ia memacukan sepeda motornya.


Halomoan hanya terdiam. Lalu, ia duduk di atas jok sepeda motornya untuk menunggu Rozi.


Rozi tiba di rumahnya. Ia langsung menyerahkan nasi goreng itu kepada Cempaka.


"A', A'a teh mau kemana?" Tanya Cempaka yang terheran-heran saat melihat Rozi kembali bersiap-siap untuk pergi.


"Saya ada urusan sebentar. Kamu makan saja dulu." Ucap Rozi sambil tersenyum dan mengecup kening Cempaka.


"Urusan apa A'?" Tanya Cempaka.


"Bukan apa-apa, hanya ingin berjumpa dengan teman di ujung jalan itu. Sebentar ya..." Ucap Rozi.


Cempaka hanya bisa mengangguk dan menatap Rozi yang berjalan menuju sepeda motornya.


"A', hati-hati!" Seru Cempaka.


"Iya sayang. Cuma sebentar kok." Ucap Rozi sambil memacu sepeda motornya.


Dari teras rumah, Nyak Komariah tampak mencibir mendengar kemesraan Rozi dan Cempaka.


"Dasar, pendosa!" Gumamnya.


Rozi menghentikan sepeda motornya di depan Halomoan yang sedang duduk di atas motornya sambil membaca pesan dari beberapa temannya yang ia mintai informasi tentang keberadaan Agus.


"Eh Bang, kok cepat kali?" Tanya Halomoan saat ia menyadari Rozi sudah berdiri di depannya.


"Lu mau ngomong apa tentang Adek gue?" Tanya Rozi.


"Kalok disini gak enak cakapnya Bang. Dudok lah dulu kita dimana yok, biar aku yang jajankan Abang limun." (Red- limun- es sirup)


"Emang nya penting banget ya?" Tanya Rozi.


"Jauh lebih penting Bang dari pada gosip artes. Ikot aja lah Abang, biar cakap-cakap santai kita Bang. Pokoknya hal ini Abang harus tau." Terang Halomoan.


Rozi mengeryitkan dahinya dan menatap Halomoan dengan wajah yang serius.


"Jangan bilang Adek gue hamil sama elu," Ucap Rozi sambil menarik tangan Halomoan yang baru saja hendak menaiki sepeda motornya.


"Amangoiiiiiiii...! Bukan kek gitu Bang. Perjaka nya aku. Asal nudoh aja pon!" Ucap Halomoan.


Rozi menghembuskan nafas lega.


"Terus apa?" Tanya Rozi.

__ADS_1


"Abang cerewet kali pon kek Nyak Komariah. Ikot aja lah, biar gak pening kali aku jelasinnya." Ucap Halomoan.


Rozi bersungut-sungut sambil beranjak ke sepeda motornya. Lalu, ia pun mengikuti Halomoan dari belakang dengan berjuta pertanyaan di hatinya.


__ADS_2