Kost Putri

Kost Putri
64# Butet vs Halomoan


__ADS_3

"A'a, kok dari tadi diam saja? A'a teh dari mana saja?" Tanya Cempaka.


Rozi tersenyum getir saat Cempaka bertanya kepadanya.


"A'a teh kenapa? apa saya berbuat salah?" Tanya Cempaka yang mulai merasa suasana yang tidak enak karena Rozi yang diam saja dari saat ia pulang ke rumah.


"Enggak, kamu gak salah. Saya cuma lagi capek aja." Ucap Rozi.


"A'a teh dari mana saja tadi? katanya sebentar saja, tetapi sampai larut malam baru pulang." Tanya Cempaka lagi.


"Sini." Rozi menyuruh Cempaka mendekat.


Cempaka mendekat dan duduk di pangkuan Rozi.


"Saya tidak apa-apa. Maaf ya, saya lama di luar dan membuat kamu menunggu saya terlalu lama." Ucap Rozi.


"Tidak apa-apa atuh A', hanya saja saya teh penasaran, A'a kemana gitu. A'a teh tidak jalan dengan cewek lain kan?" Tanya Cempaka dengan wajah cemberut manjanya.


"Ya enggak lah." Ucap Rozi sambil tersenyum geli saat melihat ekspresi wajah istrinya.


"Beneran A'?" Tanya Cempaka tak percaya.


"Demi Allah sayang, aku tidak macam-macam diluar. Tadi, hanya ada urusan sedikit. Eh, teman mengajak saya untuk membahas pekerjaan di warung kopi." Terang Rozi.


"Oh, begitu." Ucap Cempaka sambil tersenyum lega.


"Sejak kapan istriku cemburuan ya?"


Rozi pura-pura seperti orang yang sedang berpikir.


Cempaka tersipu malu saat menyadari dirinya mulai posesif kepada Rozi.


"Tetapi Alhamdulillah sih kamu cemburuan. Jadinya aku merasa dicintai." Bisik Rozi.


Cempaka yang masih duduk di pangkuan Rozi, lantas memeluk suaminya itu dengan manja.


"Saya teh takut kehilangan A'a. Saya teh cinta dengan A'a." Ucap Cempaka.


Hati Rozi berbunga-bunga saat mendengar pengakuan istrinya.


"Beneran?" Tanya Rozi.


Cempaka mengangguk.


"Alhamdulillah...." Ucap Rozi.

__ADS_1


Cempaka hanya tersenyum malu.


"Ya sudah, besok kamu ke kampus pagi-pagi kan? Istirahat yuk."


"Iya A'a." Sahut Cempaka.


..


Halomoan yang baru saja sampai di kampus, langsung mencari Agus di kelas lelaki itu. Sayang sekali, ternyata jadwal Agus tidak pada jam yang tepat saat Halomoan mencarinya di kelas Agus.


Halomoan mulai bertanya kepada beberapa kenalan, tetapi tetap hasilnya nihil. Halomoan mulai merasa emosi dengan Agus.


Halomoan melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Yang tandanya ia harus segera masuk ke kelasnya.


Sepanjang mengikuti pelajaran di kelas, pikiran Halomoan hanya tertuju kepada Agus dan Risa. Ia turut prihatin dengan nasib Risa yang masih terkatung-katung tanpa kejelasan dari Agus.


"Kemana lah anak itu ya." Gumam Halomoan.


Waktu belajar pun berakhir. Halomoan segera keluar dari kelasnya dan langsung menuju kelas Agus. Halomoan mengintip dari kaca pintu kelas Agus.


Terlihat lelaki itu sedang duduk sambil bercanda dengan dengan temannya di bangku paling belakang.


"Dapat kau Agus..! Ku tunggu kau sampek jam pulang mu." Gumam Halomoan.


Sambil menunggu Agus, Halomoan membuka gawainya dan bermain game untuk membunuh waktu.


Dari arah tangga, terdengar suara Butet yang sedang bercanda dengan teman-temannya. Kelas Butet memang satu lantai dengan kelas Agus. Maka, Halomoan pun langsung yakin bila itu adalah Butet.


Halomoan semakin pura-pura sibuk dengan gawainya.


"Iya ih lucu kali anak itu. Hahahahahha..! masak kan, di kelas dia tidor, hahahaha..! kenak repet lah sama Bu dosen killer. Hahhaahaa..!" Cerita Butet kepada teman-temannya dan disambut tawa geli dari teman-teman perempuannya yang sedang berjalan bersama Butet menuju kelas.


Mendadak tawa Butet pun, terhenti saat melihat Halomoan yang sedang duduk di lantai di depan kelas Agus.


"Moan." Gumam Butet.


Rasa rindu, kesal, marah dan cinta Butet bercampur aduk saat melihat lelaki itu.


Butet sengaja berjalan di depan Halomoan. Sedangkan teman-temannya masuk kedalam kelas.


Saat Butet berjalan di depan Halomoan, lelaki itu pura-pura tidak melihat Butet.


Rasa kesal Butet memuncak, ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap diam Halomoan.


"Heh! buta kau ya..!" Ucap Butet kepada Halomoan.

__ADS_1


Tetapi, lelaki itu tidak bergeming. Malah Halomoan sengaja memasang headset nya.


Butet semakin gemas. Lalu, ia menghampiri Halomoan dan menarik headset Halomoan.


"Heh! aku cakap sama kau ya. Jangan purak-purak pekak kau! Betol-betol pekak m*mpus kau!" Ucap Butet dengan emosi.


"Eh, apa nya ini." Ucap Halomoan sambil menatap Butet dengan terheran-heran.


"Puas kau acuh sama aku? mau kau buat aku gila iya?" Tanya Butet.


"Kok bisa gila kau gara-gara aku acuhkan?" Tanya Halomoan.


"Gilak lah aku..! Kau ngasi aku harapan teros kau acuh sama aku. Apa gak pen kali ku pijak-pijak kau!"


Halomoan terdiam, antara geli, bingung dan heran melihat sikap Butet kepadanya.


"Kenapa kau diam ha? cok kau jawab dulu, kenapa kau diam aja sama aku semenjak balek dari Toba..! Becewek kau ya sama si Risa gatal itu?" Tanya Butet.


"Ee... eee... eee.. Asal nudoh aja kau Butet, mana ada aku becewek sama si Risa."


"Tapi kenapa kau pelok-pelok pinggang dia semalam? Mesra kali ku tengok kau sama dia..! Gosah nokoh kau Moan, memang lah kau idong belang..!" Tuduh Butet.


Halomoan kembali terdiam, ia terus menatap mata Butet yang tampak benar-benar emosi.


"Iyah, kau cemburu Tet? Kenapa kau cemburu? aku aja biasa aja nengok kau jalan naek mobil sama si Batra!"


Kali ini Butet yang terdiam. Pertengkaran mereka dengan suara yang keras pun, mengundang perhatian para mahasiswa dan mahasiswi yang kebetulan lewat di lorong itu.


"Jadi gara-gara si Batra kau acuh sama aku?" Tanya Butet.


"Ish, enggak lah. Ngapain pulak aku Cemburu sama si Batra." Ucap Halomoan.


"Gengsi pulak kau ngakuin? bukan nya kau cinta mati sama aku?" Tanya Butet.


Halomoan terdiam. Lalu, ia tertunduk menahan perasaannya yang tak jelas.


Butet pun terdiam, ia merasa bersalah dengan ucapannya yang terlalu sombong. Belum tentu Halomoan benar-benar mencintai dia. Belum tentu apa yang dikatakan Halomoan itu benar adanya, bahwa Halomoan sangat mencintai dirinya. Bukankah semua orang dapat berubah dalam sekejap?


Butet merasa malu, lalu ia berlari dan masuk kedalam kelasnya. Sedangkan Halomoan hanya bisa menatap punggung wanita yang ia cintai itu.


Halomoan terdiam dan mulai berpikir. Apa yang sebenarnya ada di hati Butet, apakah Butet mulai mencintai dirinya atau Butet hanya marah karena dirinya mengacuhkan gadis itu.


Halomoan mengingat semua ucapan dan keluhan yang Butet katakan tadi. Ia pun mulai menyadari, sebenarnya Butet mulai mencintai dirinya. Hingga Butet marah-marah kepadanya. Lalu, Halomoan mengacak-acak rambutnya dengan gusar.


"Eeeeee.. kenapa aku lambat kali bepiker...! Suka nya si Butet sama aku? Kalok gak sukak, ngapain pulak dia marah-marah aku acuhkan? Ngapain dia marah aku dekat sama si Risa. Adoooohhhhhh... Moaaannn...! Kok paok kali lah kauuu...! Sekarang si Butet maken marah kan sama aku jadinya. Alaaahhhh!" Keluh Halomoan sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2