
Butet berdiam diri saat berada di dalam mobil Halomoan. Butet sama sekali tidak menatap bahkan melirik Halomoan. Mata Butet hanya memandang lurus kedepan.
Butet sangat membenci Halomoan. Tetapi, bila saat bersama dengan lelaki itu, jantung Butet berdebar kencang.
"Ish kenapa jantong ku ini? Apa aku saket jantong gara-gara dekat dengan kuda laot ini." Gumam Butet.
Malam ini Halomoan terlihat sangat tampan. Lelaki itu benar-benar bergaya untuk bermalam minggu bersama Butet. Halomoan memakai kemeja hitam ala milenial hingga terlihat pinggang rampingnya, serta celana jeans panjang dan sepatu sneaker. Halomoan benar-benar tampan. Siapa pun akan mengakuinya, bila Halomoan memang tampan.
"Kemana kita Tet?"
"Kau yang ngajak, kau yang nanyak?" Tanya Butet.
Halomoan melirik Butet yang terlihat sangat mempesona malam ini.
"A...kita ke atas bukit sanan ya tet. Sambil makan jagong bakar sama sate kita Tet."
Butet melengos dan menatap keluar jendela mobil di sampingnya.
"Kok kau tau rumahku?" Tanya Butet.
"Kita satu kampong ya gampang lah carik rumahmu Tet." Jawab Halomoan sambil melirik pujaan hatinya itu.
Butet diam saja dan terus menatap keluar jendela.
"Cantik kali malam ini kau Tet. Sampek disko-disko jantong ku nengok wajah cantik mu Tet."
Butet melirik Halomoan yang mengatakan hal terdengar lucu bagi Butet.
"Kok disko-disko pulak jantong mu?" Tanya Butet.
"Iya, setiap aku memandang wajah mu, jantong ku langsung disko-disko Tet." Ucap Halomoan.
Butet menahan tawanya. Halomoan memang lelaki terkonyol yang pernah ia kenal.
"Kalok aku perasaan ku nengok kau kek balonku ada lima." Ucap Butet.
"Iyah, bewarna jadinya Tet?" Ucap Halomoan dengan bersemangat.
"Bukan, meletos semua balon nya. Jadi hati ku sangat kacau, marah dan pen jambak kau!" Ucap Butet.
Halomoan tertawa terbahak-bahak. Saat Butet mengatakan hal yang paling lucu menurutnya.
Melihat Halomoan tertawa terbahak-bahak, Butet pun mengeryitkan dahinya.
"Ih, antara sabar sama gak ada hotak nya si Moan ini." (Red- hotak-otak) Gumam Butet.
"Kok ketawa pulak kau?" Tanya Butet.
"Kau lucu kali Tet, saking lucunya pen kali aku jadikan kau ibu dari anak-anak ku nantik." Ucap Halomoan.
"Ih, memanglah kau gadak hotak." Ucap Butet yang merasa sebal.
Halomoan kembali tertawa dan melirik Butet.
"Sebelum kenal sama mu, adanya hotak ku. Tapi, setelah kenal sama mu, hotak ku ilang." Ucap Halomoan.
Butet diam-diam tersenyum sambil menatap keluar jendela.
Beberapa menit kemudian tibalah mereka di atas bukit dengan pemandangan Danau Toba yang indah.
Cuaca cerah malam itu, membuat lampu yang terhampar di sekeliling danau terlihat dengan jelas. Serta Pulau Samosir yang terhampar di tengah-tengah Danau itu menambah indahnya pemandangan dari atas bukit itu.
"Turun yok Tet." Ucap Halomoan.
__ADS_1
Tanpa bicara, Butet pun turun dan menatap indahnya malam di atas bukit itu.
"Indah kali, seumur-umur belom pernah aku kesini. Walaupun aku orang asli sini." Gumam Butet.
Halomoan dan Butet memasuki warung makan yang berada disana. Lalu, mereka berdua pun duduk menghadap pemandangan alam yang sangat luar biasa indahnya itu.
Raut wajah Butet mencerminkan suasana hatinya yang merasa bahagia. Halomoan pun merasa bahagia melihat Butet bahagia.
"Suka disini Tet?" Tanya Halomoan.
Butet menatap Halomoan dengan mata yang berbinar-binar sambil mengangguk.
"Sukurlah kalau kau suka." Ucap Halomoan.
Mereka berdua menikmati pemandangan alam sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Kapan kau balek ke Jakarta Tet?" Tanya Halomoan.
"Tanggal 15." Ucap Butet.
"Yah, gak bisa sama lagi kita Tet."
Butet langsung menatap Halomoan dengan wajah yang kecewa.
"Kenapa rupanya?" Tanya Butet.
Halomoan tersenyum melihat ekspresi Butet yang kecewa.
"Aku kan semester 6 sekarang. Aku mau KKN. Jadi kami mahasiswa semester 6, harus cepat ke kampus buat ngurus KKN kami." Terang Halomoan.
Butet bersungut-sungut sambil membuang pandangannya ke hamparan lampu-lampu yang terang benderang dari rumah-rumah warga di bawah bukit itu.
"Kita jumpa lagi di Jakarta ya Tet. Jangan sedih." Ucap Halomoan.
"Eh, siapa pulak yang sedih? jan geer pulak kau!" Ucap Butet.
Butet menatap Halomoan dengan tatapan kesal. Tanpa mampu membantah ucapan lelaki itu.
"Aaaaaa, pesanan kita datang." Ucap Halomoan sambil menyambut menu yang ia pesan di hidangkan di atas meja nya.
"Tet, makan. Nanti kalau gak makan bisa mati Tet." Ucap Halomoan sambil tersenyum.
"Ih, romantis kali kata-kata mu ya Moan." Ucap Butet sambil meraih piring sate nya.
Halomoan tertawa sambil menatap Butet.
Tidak bisa Butet pungkiri, malam ini ia benar-benar merasa bahagia.
..
Agus sedang memilih-milih pakaian yang akan ia bawa naik gunung. Tanpa ia sadari, Risa sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
Saat Agus menutup pintu lemarinya, ia baru menyadari Risa yang sedang diam menatapnya.
"Eh, Risa." Ucap Agus, salah tingkah.
"Bang, Risa mau bicara." Ucap Risa sambil beranjak masuk kedalam kamar Agus.
Agus diam saja sambil melangkah menuju pintu kamarnya dan menutup pintu tersebut.
Risa duduk di atas ranjang dan menatap Agus yang terlihat salah tingkah.
"Mau bicara apa?" Tanya Agus.
__ADS_1
Risa terdiam, mata sembab nya masih terlihat. Ia menatap seprai Agus yang terlihat teronggok di keranjang baju kotor Agus.
Agus menyadari Risa menatap seprainya yang berada di keranjang baju kotor. Lalu, ia duduk di samping Risa.
"Ada apa Ris?" Tanya Agus.
Risa menatap Agus dengan hati yang kacau. Lalu, ia menangis dan menundukkan kepalanya.
Ini bukanlah yang pertama kalinya bagi Agus, melihat wanita yang baru saja kehilangan kesucian nya menangis di hadapannya.
Agus memeluk Risa yang terlihat kacau dengan apa yang sudah terjadi.
Agus mengusap punggung Risa dan mencoba menenangkan gadis itu.
"Sudah, jangan menangis." Ucap nya.
"Risa sekarang sudah tidak suci lagi, Risa harus apa Bang?" Tanya Risa di sela tangisannya.
Agus diam saja, tanpa sepatah katapun.
"Bang jangan tinggalkan Risa ya." Ucap Risa dengan memohon.
"Iya, Abang janji." Ucap Agus.
Risa mengangkat wajahnya dan menatap lelaki yang sudah merenggut kesuciannya itu.
"Bener Bang?" Tanya Risa.
Agus mengangguk dan menatap Risa dengan seksama.
"Kalau Risa hamil bagaimana?" Tanya Risa.
Agus melepaskan pelukannya dan meraih kotak rokoknya. Lalu, Agus mengambil sebatang rokok, menyalakan dan menghisap nya dalam-dalam.
"Kamu gak bakalan hamil, tenang aja." Ucap Agus.
"Tapi Abang kan gak pakai pengaman." Ucap Risa.
"Ya kalau begitu, mulai sekarang, Risa ke Bidan ya. Suntik KB. " Ucap Agus dengan entengnya.
Risa kembali menangis kencang. Agus pun takut bila ada yang mendengar Risa menangis di kamarnya.
"Ssstttt, jangan nangis. Iya, iya, Abang akan tanggung jawab kalau Risa hamil." Ucap Agus, mencoba menenangkan Risa.
Risa mengusap air matanya dan menatap Agus dengan penuh harap.
"Beneran Bang?" Tanya Risa.
Dengan ragu, Agus pun mengangguk.
Risa tersenyum lega dan memeluk Agus dengan erat.
"Terima kasih Bang." Ucap Risa.
Saat Risa memeluknya, pikiran kotor Agus pun mulai menghampiri. Agus melepaskan pelukan Risa dan menatap gadis itu dengan seksama. Lalu, Agus beranjak dari ranjang dan mengunci pintu kamarnya.
Risa terdiam saat melihat Agus mengunci kamarnya.
Agus kembali menghampiri Risa. Ia membantu Risa untuk berdiri di hadapannya.
"Abang janji akan tanggung jawab." Janji Agus.
Lalu, Agus mengecup bibir Risa dan mulai meluncurkan aksinya.
__ADS_1
"Bang..kita mau ngapain?" Ucap Risa.
Agus tidak memperdulikan pertanyaan Risa. Hingga merekapun kembali melakukannya. Risa yang awalnya menolak, kini mulai menikmatinya. Karena Risa percaya, Agus akan bertanggung jawab atas apapun yang akan terjadi.