Kost Putri

Kost Putri
87# Risma


__ADS_3

"Ada yang mencari mu." Ucap Sri yang baru saja membuka pintu kamar Butet.


"Hah?"


Butet yang sedang mendengarkan musik lewat headset pun, langsung melepaskan headset nya.


"Apa?" Tanya Butet lagi.


"Ada yang nyari kamu Tet. Dia nunggu di ruang tamu. Sudah ah, aku sudah di jemput sama Mas Dewa. Aku ke kampus dulu yo Tet." Ucap Sri. Lalu, ia kembali menutup pintu kamar Butet.


"Siapa yang nyarik aku ya. Kok tumben kali." Ucap Butet.


Butet pun bergegas turun dari ranjangnya dan bersiap-siap untuk menemui tamu nya.


Butet terperangah saat melihat Risma duduk di ruang tamu kost-kost-an nya. Dengan tatapan tidak suka, Butet pun berjalan menghampiri gadis itu.


"Ngapain kau nyarik aku, berani kau ke sini ya." Ucap Butet saat gadis itu mengulurkan tangannya kepada Butet.


Gadis itu tersenyum dan menurunkan tangannya. Lalu, ia menatap Butet dengan tatapan bersahabat.


"Aku mau bicara." Ucap Risma.


Butet pun duduk di bangku ruang tamu itu, di susul oleh Risma.


"Mau bicara apa kau? Mau nyuruh aku menjauhi Halomoan? Gak usah kau suruh. Udah putus nya kami." Ucap Butet.


Risma menghela napasnya dan kembali menatap Butet dengan seksama.


"Tet,"


"Eh, dari mana kau tau nama sama alamat ku?" Potong Butet.


Gadis itu kembali tersenyum kepada Butet.


"Dari si Moan." Ucap nya.


Butet terbelalak dan menatap Risma dengan tak percaya.


"Kurang ajar memang si moan Moan itu ya." Ucap Butet.


"Bukan kurang ajar Tet, tapi dia berusaha untuk meyakinkan mu lewat aku." Ucap Risma.


Butet pun terdiam.


"Tet, si Moan menemui aku. Dan dia mintak aku untuk mendatangi mu." Sambung Risma.


Risma pun mulai bercerita tentang pertemuan dirinya dengan Halomoan, hingga bagaimana Risma memutuskan untuk mendatangi Butet.


Flashback on

__ADS_1


"Moan, tumben kali kau ngajak aku jumpa." Ucap Risma sambil akan mengecup pipi Halomoan.


Dengan cepat, Halomoan pun menghindari kecupan Risma.


Risma sempat tertegun sejenak, lalu ia tersenyum kepada Halomoan dan duduk di depan Halomoan. Halomoan pun membalas senyuman Risma dengan senyuman tipisnya.


"Ada apa Moan?" Tanya Risma kepada Halomoan yang terlihat kusut.


"Ris, aku mau membicarakan masalah di cafe waktu itu." Ucap Halomoan.


"Oh, iya. Ada apa? Sudah kau pecat pegawai mu itu kan?" Tanya Risma.


"Dia bukan pegawai ku Ris. Tapi, calon istriku." Ucap Halomoan.


Risma menatap Halomoan dengan tak percaya.


"Calon istri?" Tanya Risma.


Halomoan pun mengangguk dan tersenyum kecil.


"Ohhh... pantas lah dia kek gitu sama aku." Ucap Risma yang mengingat sikap Butet kepadanya.


"Ris, sekarang aku dan dia salah paham karena kau mencium pipi ku." Ucap Halomoan dengan raut wajah yang sedih.


Risma menghela napasnya dan mulai merasa bersalah.


Risma masih terdiam dan menatap Halomoan dengan iba.


"Ris, kalok aku bisa cerita sikit tentang Butet. Dia itu wanita hebat, dia mendukung aku merintis usaha dari nol. Dia menyemangati aku dalam suka dan duka. Dia wanita berhati sempurna dan luar biasa. Aku gak mau kehilangan dia Ris. Jadi aku mintak tolong kali sama mu." Ucap Halomoan.


"Minta tolong apa Moan?" Tanya Risma.


Halomoan menatap Risma lekat-lekat. Lalu, ia menggenggam tangan Risma yang berada di atas meja.


"Ris, tolong temui dia ya." Ucap Halomoan.


Risma pun, terperanjat dan menatap Halomoan dengan tak percaya.


"Aku mohon Ris, kalau sempat aku kehilangan perempuan kayak dia. Aku gak tau lagi lah Ris, kek mana hidup ku. Ini aja aku udah setengah gilak rasanya Ris." Ucap Halomoan.


Risma tertegun mendengar kata-kata Halomoan.


"Tolong bilang sama dia, aku gak bisa kehilangan dia. Cuma dia wanita yang mau sama aku dari bawah. Gak mungkin aku sia-siakan dia Ris. Hanya dia satu-satunya yang buat aku jatuh cinta dalam kali." Ucap Halomoan lagi.


Risma pun merasa iba, lalu ia membalas genggaman tangan Halomoan.


"Maafkan aku ya, aku masih bersikap seperti dulu. Harusnya aku gak kek gitu." Ucap Risma yang merasa malu dengan aksinya mencium Halomoan di depan umum.


Halomoan tersenyum kecil, lalu ia menatap Risma dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Santai aja lah, asal lain kali kalok jumpa, kita biasa aja. Aku gak mau ada yang salah paham kayak gini." Ucap Halomoan.


Risma mengangguk paham, lalu ia tersenyum menatap Halomoan.


"Dimana alamat rumahnya?" Tanya Risma.


Flashback off


Butet tertegun mendengar cerita Risma. Ia pun menatap Risma dengan tatapan bersalah.


"Tet, Halomoan itu setia. Gak hanya pacaran sama kau. Waktu sama aku pun dia setia. Halomoan, Walaupun kek gitu, kalok dia cinta, dia setia kali." Ucap Risma.


Butet membuang pandangannya ke luar jendela.


"Tet, aku belom pernah nengok si Moan kek gitu cinta nya sama orang. Sama aku pun gak kek gitu kali dia loh." Ucap Risma.


Butet masih terdiam.


"Aku bisa nengok dari sorot matanya. Jumpa sama aku pun semalam dia gak mau dekat-dekat kali sama aku. Aku cakap kek gini bukan mau bela si Moan. Tapi itu kenyataan Tet." Ucap Risma lagi.


"Aku Tet, atas nama pribadi. Aku malu, aku minta maaf atas kejadian di cafe. Ini semua salah ku. Bukan salah Moan." Ucap Risma.


"Ya sudah, kek gitu aja. Aku permisi dulu." Ucap Risma sambil beranjak dari duduk nya.


"Betol nya yang kau cakap itu?" Tanya Butet.


Risma menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Butet.


"Kalau gak betol, aku gak akan kesini Tet." Ucap Risma sambil tersenyum dan melangkah keluar dari Kost-kost-an itu.


Butet tercenung dan mulai memikirkan kata-kata Risma. Ia pun mulai mengingat semua usaha dan upaya Halomoan untuk dapat memiliki dirinya. Semua upaya telah Halomoan lakukan. Termasuk merintis usaha agar bisa meminang Butet dengan uang nya sendiri.


Butet mulai teringat saat Halomoan mengemis maaf kepadanya. Butet pun mulai menyadari, bila dirinya sudah terlalu keras dengan lelaki itu.


Butet pun beranjak dari duduknya dan berlari ke rumah Nyak Komariah.


Nyak Komariah yang sedang menyapu terasnya pun, menatap Butet yang celingukan di depan pagar rumahnya.


"Eh, kenape lu Tet?" Tanya Nyak Komariah.


"Nyak, si Moan ada?" Tanya Butet.


"Dia kan wisuda hari ini, gak dateng lu dampingi dia. Bapak sama Mamak nya kan datang dari Toba. Jadi si Moan gak tidur di kost-kost-an, dia tidur di hotel sama orangtuanye. Pamit nye sih begitu." Ucap Nyak Komariah.


Butet pun menepuk dahinya.


"Tuhan..! Sampek lupa aku di wisuda hari ini. Kek mana lah aku ini." Ucap Butet yang langsung berlari menuju kost-kost-an nya.


"Et dah, anak jaman sekarang kagak tau sopan santun. Bilang "makasih Nyak", gitu kek, Ini mah kagak." Ucap Nyak Komariah.

__ADS_1


__ADS_2