Kost Putri

Kost Putri
74# Ipar beripar


__ADS_3

Sudah seharian Rozi dan Halomoan menunggu Agus. Tetapi, lelaki itu tak kunjung terlihat. Halomoan dan Rozi pun beranggapan bahwa Agus sengaja tidak datang ke kampus hanya demi menghindari kemungkinan Risa atau Halomoan dan Rozi mencari dirinya.


Rozi terlihat tertunduk pasrah saat hari sudah menjelang maghrib. Di temani Halomoan, Rozi pun singgah ke warung makan untuk makan siang mereka yang tertunda.


"Jadi kek mana Bang? Kalok si Agus gak jumpa-jumpa atau dia gak datang-datang lagi ke kampus?" Tanya Halomoan.


"Gak ape-ape dah." Ucap Rozi.


Halomoan tertegun dan menatap Rozi yang sudah mulai menyantap makanannya.


"Jadi si Risa kek mana Bang? Di gugurkan kandungnya?" Tanya Halomoan lagi.


Rozi menatap Halomoan dan kembali melanjutkan makannya.


"Ya udahlah Bang, makan dulu kita, biar bisa bepikir kita Bang." Ucap Halomoan sambil menyendokkan nasi nya.


"Gue sudah punya rencana, lu tenang aja. Lagian kalau kita dengar dari pengakuan si Risa udeh jelas banget kalau itu begundal kagak mau tanggung jawab. Sebenarnya percuma juga gue nyariin die." Ucap Rozi.


Halomoan terdiam, ia tidak tahu rencana Rozi. Yang jelas ia membenarkan bahwa Agus tidak akan pernah mau bertanggung jawab. Kini, Halomoan hanya bisa memasrahkan semua masalah ini kepada Rozi yang lebih berhak, sebagai pengganti Ayahanda dari Risa.


Setelah makan, ngobrol-ngobrol sebentar, lalu mereka pun beranjak pulang.


...


"Sri..!"


Sri menoleh ke arah pintu kamarnya dan menatap Cempaka yang sedang berdiri di ambang pintu dengan melipat kedua tangannya.


"Kamu teh dari mana hayo?" Tanya Cempaka.


Sri terlihat gelisah dan bingung akan menjawab pertanyaan dari Cempaka.


"Aku... Aku.. Aku menginap di rumah konco ku Cem." Ucap Sri.


"Kamu teh berbohong atuh. Kamu teh ke rumah ku dengan A' Dewa kan? Hayo jujur atuh Sri. Kamu Teh pacaran sama A'a saya kan? Kata Ambu saya kamu teh pacaran sama A'a saya." Ucap Cempaka dengan tatapan menyelidik.


"Hhmmm anu.. anu.. Cem. Aku...."


"Jujur atuh Sri, saya teh tidak apa-apa. Asal kamu teh jangan mempermainkan A'a saya." Ucap Cempaka.


Sri tertunduk malu, lalu ia mengangguk pelan.


"Ada apa ini wee..." Tanya Butet yang sedang melintas di depan kamar Sri.


"Ndak ada apa-apa Tet."


Cempaka menatap Butet yang terlihat uring-uringan.


"Kamu teh kenapa Tet?" Tanya Cempaka.


"Aku lagi palak, ngerti kau kan palak?"


Sri dan Cempaka mengangguk dengan ragu.

__ADS_1


"Ha, itu.. aku lagi palak. Rasanya pen kali aku makan orang." Ucap Butet.


Sri melangkah keluar kamarnya dan mereka bertiga pun duduk di kursi ruang tamu.


"Kamu teh di palak sama siapa Tet?" Tanya Cempaka.


"Omakjanggggg, ada preman yang berani palak aku rupanya...! ku buat dia jadi sambal tuktuk. Bukan di palak Cempaka...! Palak..! kesal aku kesallll." Ucap Butet.


"Memangnya kamu kenapa kesal toh?" Tanya Sri.


"Si Moan, tah apa kerjanya seharian ini. Gal di balas-balasnya pesan ku. Ih... geram kali..!" Ucap Butet.


"Loh, kok kamu kesal, memangnya dia harus membalas pesan mu Tet?" Tanya Sri.


"Iya lah, haros dia balas pesan ku. Kalok gak putos kami."


Cempaka dan Sri saling bertatapan, lalu sejurus kemudian mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal.


"Eh, kenapa kelen?" Tanya Butet.


"Kamu teh sama A'a Moan pacaran?" Tanya Cempaka.


"Hah..! Memangnya aku tadi bilang apa?" Tanya Butet.


"Kamu teh kesal karena A'a Moan tidak balas pesan kamu Tet. Berarti kamu teh pacaran sama A' Moan." Ucap Cempaka.


Butet terdiam dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Cieeeeee.....!" Seru Sri dan Cempaka.


"Kapan kamu jadian sama Bang Moan Tet?" Tanya Sri.


"Gadak, gak jadian aku." Ucap Butet.


"Kamu teh berbohong. Kalau tidak, gak mungkin atuh kamu uring-uringan kayak begitu." Ucap Cempaka sambil menyolek pinggang Butet.


"Eh, enggak loh." Ucap Butet.


"Cieeee, bohong cieeee..." Goda Sri dan Cempaka.


"Terima kasih Uda."


Terdengar suara Siti dari luar paviliun.


"Iya sama-sama, selamat istirahat ya."


Sri, Cempaka dan Butet pun saling bertatapan. Lalu, mereka pun merasa ingin tahu dan mengintip dari balik jendela.


"Hahhhh..!"


Mereka terkejut saat melihat Batra mengantar Siti sampai di depan teras paviliun.


"Eh, jadian dia?" Tanya Butet.

__ADS_1


"Ya Ndak mungkin lah." Sahut Sri.


"Apa atuh yang tidak mungkin. Kamu saja sama A'a saya berpacaran." Sindir Cempaka.


Butet menatap Sri dengan mata yang membulat.


"Eh, pacaran kau sama Dewa. Ish... betol kan tebakan aku Cem?" Ucap Butet sambil tertawa geli.


Sri hanya bisa bersungut-sungut sambil kembali menatap Siti dan Batra.


"Malam minggu jangan lupa, kita jalan-jalan." Ucap Batra.


Siti tersenyum dan mengangguk.


"Ughhh so sweet nya'.." Ucap Cempaka.


Tiba-tiba Butet terkekeh sambil memegangi perutnya yang kaku.


"Kowe knopo toh Tet?" Tanya Sri.


"Lucu aja aku, Cempaka nikah sama si Rozi, Batra Adeknya Rozi, berarti si Siti Adek ipar si Cempaka. Cempaka punyak Abang, namanya Dewa. Dewa pacar kau Sri. Berarti kau Kakak ipar si Cempaka. Hahahahahhaa...! Kek gitu aja kelen ya. Beputar disitu-situ aja. Wakakaka.. Lucu kali..!" Ucap Butet.


Sri dan Cempaka terlihat manyun. Sedangkan Siti yang baru saja masuk kedalam, langsung menatap mereka.


"Ado apo kalian?" Tanya Siti dengan wajah polosnya.


Melihat Siti yang terlihat tidak mengerti apa-apa, Butet kembali tertawa terbahak-bahak.


"Kelen bertiga macam judul sinetron ku tengok. Wkwkwkwkwk...!"


"Dari pada kamu Tet, nanti kamu kalau menikah dengan Halomoan, pasti kamu kena iler setiap hari." Ucap Cempaka.


Butet pun berhenti tertawa dan menatap Cempaka dengan seksama.


"Hahahahaha..! Kamu nanti bakalan kena iler setiap hari. Bangun tidur kamar mu pasti mambu..!" (Red- Mambu-Bau) Ucap Sri.


"Weee.. Kok kek gitu kelen?"


"Lah, kowe duluan sing menertawakan kami toh Tet." Ucap Sri.


"Iya tapi gak kek gitu juga loh. Sensitip kali lah masalah iler, kelen itu matahkan semangat aku kalok kek gitu." Ucap Butet sambil cemberut.


"Hiiii... sia nan ba iler? Uda nyo si Butet?" Tanya Sri.


"Iya," Ucap Cempaka dan Sri sambil tertawa geli.


"Onde mandeeeee....! Hahahahhaa..! Aden indak sanggup doh jo baun iler." (Red- Aku gak sanggup sama bau iler.) Ucap Siti.


"Eh, memang kalian bersekutu buat ngetawain aku..! Jahat kali kelen. Payah lawan kelen ipar be ipar kelen. Gak sanggop aku." Ucap Butet yang ngambek sambil beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamarnya.


"Hahahahaha.... !" Terdengar tawa geli para gadis di ruang tamu. Sedangkan Butet terlihat semakin kesal karenanya.


"Natik ku jait biber si moan kalok dia jadi lakik ku, puas kelen..!" Teriak Butet dari dalam kamarnya.

__ADS_1


"Hahahahahahahahhaha..!" Tawa semakin pecah dari ruang tamu.


__ADS_2