
Sudah sejak kemarin, Risa merasa tidak enak badan. Tubuhnya lemas tak berdaya, perutnya terasa mual dan pusing saat di pagi hari. Risa hanya tidur-tiduran dan merasa tak sanggup untuk ke kampus.
Nyak Komariah yang merasa kesal, melongok ke kamar anak gadisnya itu.
"Ya Allah Risa! lu tuh ye, kebangetan. Sodara kembaran lu udeh berangkat dari pagi, lu sesiang ini masih aje rebahan!" Ucap Nyak Komariah sambil membuka gordin jendela kamar Risa.
"Apaan sih Nyak, silau tau Nyak!" Ucap Risa.
"Lu itu ye, buruan mandi! sono ke kampus!" Nyak Komariah terlihat gemas dengan Risa.
"Duh Nyak, Risa lagi gak enak badan." Ucap Risa.
"Lu belakangan ini kok sering kaga enak badan gue liat!"
"Udaranye jelek Nyak, bentar panas bentar hujan." Ucap Risa.
"Ah suseh, emang lu aje yang males!" Ucap Nyak Komariah sambil beranjak ke dapur.
Dengan malas, Risa beranjak dari ranjangnya dan duduk di tepi ranjang. Kepalanya terasa berat dan perutnya mendadak mual.
"Hoeeekkkkkk!"
Risa berlari menuju ke kamar mandi. Nyak Komariah yang sedang berada di dapur mengeryitkan dahinya saat melihat Risa yang memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi.
"Kek orang bunting aje lu Rissss... Rissss.." Ucap Nyak Komariah.
Risa yang berada di kamar mandi langsung terdiam dan mendadak berkeringat saat mendengar ucapan Nyak Komariah.
"Hamil?" Gumamnya.
"Sono lu minum obat ape kek. Ntar lu muntah-muntah begitu kedengeran ama tetangga, di kira hamil lagi anak perawan gue." Ucap Nyak Komariah lagi.
Risa keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat. Risa baru saja teringat, bila bulan ini ia belum mendapatkan menstruasi.
"Apa iya gue hamil?" Batinnya.
"Eh malah bengong. Sono, beli obat!" Ucap Nyak Komariah.
"I-iye Nyak." Ucap Risa. Lalu, ia jalan terhuyung-huyung menuju kamar untuk mengambil kunci motornya.
Beberapa saat kemudian, Risa sudah berada di Apotek. Ia berdiri mematung di depan Apotek tersebut. Antara ingin masuk atau tidak, yang jelas Risa merasa jantungnya berdebar kencang dan merasa takut.
Setelah mengumpulkan kekuatan, Risa pun melangkah masuk kedalam Apotek tersebut.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang pegawai Apotek.
"Si-siang, sa-saya ma-mau membeli obat masuk angin." Ucap Risa terbata-bata.
__ADS_1
"Sebentar ya Mbak." Ucap pegawai Apotek tersebut.
Lalu sesaat kemudian, pegawai Apotek itu kembali membawa beberapa obat cair yang biasa di jual bebas untuk orang yang masuk angin.
"Ini saja Mbak?" Tanya pegawai Apotek.
"Hmmmm..." Risa terdiam sesaat, lalu ia melirik alat test kehamilan yang berada di rak di samping kasir.
"Sa-sama ini Mbak." Ucapnya. Lalu, dengan cepat ia menyambar alat test kehamilan itu dan menyerahkannya ke pegawai Apotek itu.
Setelah membayar belanjaannya, Risa pun mengantongi alat test kehamilan itu. Lalu, ia memacu sepeda motornya menuju rumah.
Risa masuk kedalam rumahnya dengan hati yang risau. Lalu ia langsung menuju kamarnya.
"Udeh lu beli itu obat?"
Pertanyaan Nyak Komariah yang sedang duduk bersantai di depan televisi, hampir saja membuat jantung Risa copot.
"Astaghfirullah! Enyak, kirain siape." Ucap nya.
"Lah, nape lu kagetan begitu? lah, siape lagi yang di rumah selain gue ame elu. Ada-ada aje nih bocah." Ucap Nyak Komariah.
"Udeh nih, udeh beli." Ucap Risa sambil mengangkat pelastik bungkusan obat.
"Oh ya udeh, lu makan dulu. Terus lu minum obat." Ucap Nyak Komariah.
Lalu gadis itu beranjak ke kamar mandi.
Sedangkan Nyak Komariah kembali asik dengan acara gosip artis yang di putar di stasiun televisi favoritnya.
Risa yang berpura-pura buang air besar, menampung urine nya di mangkuk kecil yang tersedia di dalam kemasan alat uji kehamilan itu.
Lalu, ia memberanikan diri membuka bungkus alat uji kehamilan itu dan dengan tangan yang gemetar, Risa membaca cara pemakaian alat tersebut di brosur yang terdapat di bungkus alat test kehamilan itu.
Setelah paham, Risa pun mencelupkan ujung alat itu ke dalam urine nya. Lalu, ia menunggu beberapa saat.
Sambil menunggu, Risa membuang sisa urine nya dan menaruh bungkusan alat itu di dalam pelastik hitam yang dia ambil di dapur sesaat sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Risa kembali menatap alat uji kehamilan itu dengan jantung yang berdebar-debar. Samar, terlihat dua garis merah muda di tubuh alat tersebut. Risa terdiam dengan tubuh yang mengigil.
"Gue hamil?" Batinnya.
Saat itu juga segala cita-cita dan harapan Risa hancur berkeping-keping. Apa yang ada di pikirannya kini mendadak penuh dan mendesak hingga air matanya meleleh tanpa ia sadari.
"Bagaimana ini?" Gumamnya.
"Apakah Bang Agus mau bertanggung jawab?" Gumamnya lagi.
__ADS_1
Risa benar-benar tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Ia benar-benar bingung dengan langkah yang akan ia ambil untuk saat ini. Sedangkan Agus, lelaki itu berpamitan dengan nya tiga minggu yang lalu untuk KKN. Dan kini, Risa tidak bisa menghubungi Agus, karena kendala sinyal.
...
"Nyak, kite berangkat ye." Ucap Rozi kepada Nyak Tatik.
"Iyak, hati-hati ye lu pada." Ucap Nyak Tatik yang melepas Rozi dan Cempaka yang akan berbulan madu ke Bali.
"Iye Nyak." Ucap Rozi.
Rozi dan Cempaka menyalami tangan Nyak Tatik. Lalu, mereka berdua naik ke dalam taksi yang sudah menunggu mereka berdua di depan gerbang rumah itu.
Nyak Tatik melambaikan tangannya saat taksi bergerak meninggalkan gerbang rumahnya.
Terlihat Nyak Komariah yang sedang duduk di beranda rumahnya mencibir ke arah Nyak Tatik.
"Astaghfirullah..., Sabar kudu sabar liat tuh orang." Gumam Nyak Tatik.
"Pasangan zina kemana tuh?" Gumam Nyak Komariah. Sambil menatap taksi yang bergerak maju meninggalkan rumah Nyak Tatik.
"Hhhhh...! kagak malu, udeh anak nya ketangkep basah ama warga. Eh, nikahan pake acara di rayain. Hahahaha, kaga punya otak!" Gumamnya.
Terlihat Nyak Tatik melengos dan beranjak masuk kedalam rumahnya saat mereka bertemu pandang.
"Hhhh.. sok banget nyuekin gue. Kaga ada sopan-sopan nye emang, jadi madu doang belagu." Batin Nyak Komariah lagi.
"Ngedidik anak tuh kayak gue. Gue walaupun jande, gue bisa mendidik anak gue dengan baek. Si Rita ama si Risa berprestasi di sekolah ampe kuliah. Sekarang mereka juga kaga kenal pacaran. Karena gue selalu awasin anak gue dengan baek." Ucap Nyak Komariah lagi.
..
Nyak Tatik duduk di ruang tamunya. Lalu, ia terdiam mengingat segala perlakuan Nyak Komariah kepadanya. Selama menjadi madu Nyak Komariah, Nyak Tatik tidak pernah diperlakukan dengan baik.
Nyak Komariah selalu berusaha membuat dirinya terhina.
Tetapi, segala sesuatu yang terjadi, pasti selalu ada hikmahnya. Nyak Tatik selalu mendekatkan diri dan mengadu kepada Allah, untuk melewati segala hinaan yang di berikan oleh Nyak Komariah. Hal itu membuat Nyak Tatik menjadi orang yang sangat sabar dan semakin dekat kepada sang pencipta.
Karena kesabaran nya dan keikhlasan nya, Nyak Tatik mempunyai nilai lebih di mata suami nya, Babe Rojali. Sedangkan Nyak Komariah yang selalu berusaha menjatuhkan Nyak Tatik, malah membuat Babe Rojali menjadi jengkel dan bahkan sempat akan di ceraikan oleh Babe Rojali.
Diam-diam, Nyak Tatik lah yang melarang Babe Rojali untuk menceraikan Nyak Komariah. Dengan alasan, Nyak Tatik sudah memaafkan dan ikhlas dengan perlakuan Nyak Komariah.
Nyak Tatik menghela napasnya dalam-dalam. Lalu menghembuskan nya dengan perlahan.
"Bismillahirrahmanirrahim, ikhlasss ikhlasss. Buang perasaan kesal ini.., Semoga elu sadar suatu saat ye Komariah." Batin Nyak Tatik.
...
"Terkadang, kita membenci orang yang menghina kita. Padahal orang yang menghina kita sedang menempa diri kita untuk lebih baik. Jadi untuk apa membenci?
__ADS_1
Maafkan, ikhlaskan, do'akan." -De'rini-