Kost Putri

Kost Putri
97# Kamu sudah terlambat


__ADS_3

Matt pulang dengan wajah yang berseri-seri. Ia memasuki halaman rumahnya dan memarkirkan mobilnya di dalam garasi.


Agus yang menunggu Matt di depan teras sambil menikmati segelas kopi, menatap sahabat barunya itu dengan seksama saat Matt berjalan menghampiri dirinya.


"Bagaimana?" Tanya Agus.


"Alhamdulillah...! Aku akan menikah..!" Seru Matt.


"Alhamdulillah, wanita itu pasti sangat beruntung mendapatkan kamu. Selamat ya.." Ucap Agus sambil memeluk Matt dengan erat.


Matt dan Agus pun duduk di teras rumah itu. Matt pun bercerita tentang ujiannya dirumah wanita yang ia cintai itu.


"Perjuanganmu tidak sia-sia." Ucap Agus.


"Alhamdulillah." Ucap Matt sambil tersenyum lebar.


"Sekarang, tinggal kamu yang menemui Ibu dari anak mu. Aku do'akan, semoga kamu mendapatkan maaf dan cinta mereka lagi." Ucap Matt dengan tulus.


"Aamiin." Sahut Agus.


"Dari kemarin, kenapa kamu tidak jadi ke rumah anak mu?" Tanya Matt.


Sudah dua hari, setelah Matt menyuruh Agus untuk mendatangi rumah anaknya. Tetapi, Agus masih belum punya keberanian. Sudah berkali-kali ia bersiap-siap untuk berangkat. Tetapi, keberanian nya kembali sirna saat mengingat betapa kejamnya dirinya terhadap Risa.


Agus hanya tersenyum, lalu ia menatap Matt dengan seksama.


"Aku belum punya keberanian." Ucap Agus.


Matt menghela napasnya dan menepuk pundak Agus.


"Kamu harus berani. Minimal, meminta maaf saja dulu. Masalah di maafkan atau tidak, setidaknya kamu sudah tunjukan niat baikmu." Ucap Matt.


Agus menundukkan pandangannya. Lalu, ia mengusap wajahnya dengan gelisah.


"Terima kasih, sudah selalu mendukung ku." Ucap Agus.


Matt tersenyum dan mengajak Agus untuk masuk ke dalam rumah.


..


"Si Mamat bawa apaan?" Tanya Nyak Komariah dengan bersemangat saat melihat tumpukan hadiah yang di berikan Matt.


"Matt Nyak, masa nama calon lakik Risa di ganti-ganti." Ucap Risa sambil bersungut-sungut.


"Alah, same aje. Mat Mat juga ujung nye." Ucap Nyak Komariah.


"Banyak bener yang die bawa. Eh, die orang kaya ye Ris?" Tanya Nyak Komariah.


Risa hanya tersenyum menanggapi ucapan Nyak Komariah.

__ADS_1


"Alhamdulillah ye Ris, nasib lu baek. Setelah badai yang lu jalani. Allah kasih lu hadiah yang kagak kaleng-kaleng." Ucap Nyak Komariah.


"Alhamdulillah Nyak." Ucap Risa.


Nyak Komariah membuka salah satu bungkusan. Ia mendapati beberapa pasang baju untuk Arkha.


"Ya Allah Ris, anak lu aje di perhatiin ame die. Apa lagi elu yang bakal bininya...!" Nyak Komariah benar-benar merasa bersyukur akan mendapatkan menantu seperti Matt.


"Terus apa lagi yang die bawa?" Tanya Nyak Komariah.


"Nyak buka semua dah, Risa mau lanjut ngetik skripsi. Biar cepet ye Nyak." Ucap Risa.


"Gi dah, moga-moga di lancarkan. Lu bisa lulus dengan sempurna ye." Ucap Nyak Komariah.


"Aamiin Nyak."


Nyak Komariah kembali membuka bungkusan yang tertumpuk di ranjang Risa.


"Ya Allah, ada sepatu nih ame gamis buat elu. Ini juga kerudung nye bagus banget. Pasti mahal Ris." Ucap Nyak Komariah sambil memamerkan gamis dan kerudung itu di hadapan Risa.


Risa tersenyum dan kembali fokus dengan laptopnya.


"Risa..! Ada buat Nyak dan Abang lu juga..!" Pekik Nyak Komariah.


"Husssttt Nyakkkkkkkk. Nanti Arkha bangun. Risa kaga selesai-selesai ini skripsi." Ucap Risa.


Nyak Komariah menutup mulut dengan telapak tangannya. Lalu, ia kembali tersenyum dan menimang-nimang hadiah dari Matt.


"Mamat, emang mantu idaman Nyak." Ucap nya.


Risa hanya mencebikkan bibirnya saat melihat Nyak Komariah yang begitu girang dengan hadiah daei Matt.


"Moga-moga ini yang terbaik dan yang terakhir ye Ris."


"Iyeeee Nyak iyeeee , Aamiin. Ya udeh Nyak keluar ye. Nanti anak Risa bangun." Ucap Risa.


"Ya udeh, gue bawa ye." Ucap Nyak Komariah sambil mengangkat tinggi-tinggi hadiah untuknya.


"Iyeeeee." Sahut Risa dengan wajah yang kesal.


Nyak Komariah pun keluar dari kamar Risa dan berjalan menuju kamarnya.


..


Hari berlalu, Risa yang sudah selesai dengan Skripsi. Hari ini Risa sidang di kampusnya. Semua berjalan dengan baik. Risa sangat bersyukur saat dia keluar dari ruang sidang di kampusnya.


Risa tersenyum dengan bahagia dan memeluk teman-teman seperjuangannya. Wisuda akan segera ia raih, tinggal selangkah lagi ia mendapatkan gelar dari pendidikan yang ia tempuh.


Setelah selesai sidang, Risa berjalan ke parkiran kampusnya. Lagi-lagi ia melihat Agus yang sedang menunggu dirinya di parkiran. Kali ini Agus terlihat lebih bersih dan terawat dari pada terakhir kali ia bertemu dengan Risa.

__ADS_1


Risa menghela napasnya dan mencoba untuk tidak perduli dengan Agus. Risa tetap berjalan menuju motornya. Saat itulah Agus menghadang dirinya.


"Risa aku mau bicara." Ucap Agus sambil menahan lengan Risa.


"Lepas, jangan mentang-mentang kamu pernah tidur dengan ku, lalu sesuka hati mu memegang tangan ku." Ucap Risa sambil menghempaskan tangan agus dari lengannya.


Agus pun tertunduk malu. Lalu, ia menghadang Risa dengan tumbuhnya.


"Ris, maafkan aku. Aku mohon maafkan aku. Aku mau bertanggung jawab, aku akan menemui keluargamu. Ayo kita menikah Ris, demi Arkha."


Risa menatap Agus dengan seksama.


"Menikah demi Arkha?" Tanya Risa dengan tak percaya.


"Iya Ris." Ucap Agus.


Risa pun tertawa dengan sinis.


"Sudahlah, semua sudah terlambat." Ucap Risa sambil berusaha menghindari Agus.


"Ris," Agus kembali memegang tangan Risa.


"Lepaskan atau aku akan berteriak..!" Bentak Risa.


Agus terdiam, lalu ia melepaskan tangan Risa.


"Aku akan menikah dengan lelaki yang memang memperjuangkan aku. Dan aku sudah menemuinya. Kamu sudah terlambat. Aku sudah ikhlas dan memaafkan kamu. Jadi, tidak usah repot-repot untuk menikahi aku hanya demi Arkha." Ucap Risa sambil menatap Agus dengan tajam.


"Me-me- menikah?" Tanya Agus.


"Ya, kenapa? apa kamu pikir aku tidak mampu mencari pengganti kamu?" Tanya Risa.


"Bu-bukan begitu Ris. Tapi, aku adalah Bapak kandung Arkha..!" Ucap Agus.


"Hah? Bapak kandung?" Tanya Risa sambil tertawa.


"Secara biologis kamu memang Bapak kandung Arkha. Tetapi, dalam hukum apa saja, kamu tidak berhak atas Arkha. Lupakan kami, seperti awal kamu yang tidak menginginkan kami." Ucap Risa sambil beranjak naik ke sepeda motornya.


"Risa aku mohon.." Ucap Agus sambil bertekuk lutut di atas tanah.


Risa menatap mata Agus dengan tajam.


Agus tampak benar-benar menyesal. Ia menangis dan tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang sedang lalu lalang, kepadanya.


"Risa.."


Risa tidak memperdulikan Agus. Ia pun langsung menyalakan sepeda motornya dan berlalu begitu saja. Risa tidak mengacuhkan Agus. Apa yang dulu terjadi kepada Risa yang memohon akan pertanggung jawaban Agus dan bertekuk lutut di hadapan Agus, kini terjadi dengan Agus.


Lelaki itu menangis bertekuk lutut di atas tanah tanpa harga diri. Penyesalan itu begitu mendalam. Ia terus menangis tersedu-sedu penuh penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2