Kost Putri

Kost Putri
57# Teman Kost Baru


__ADS_3

Samar, terdengar lantunan musik yang terdengar aneh di telinga Sri, dari arah paviliun rumah Nyak Tatik. Suara musik itu mendayu-dayu dengan bahasa yang tidak di pahami oleh Sri.


"Tet, kok kedengeran suara musik di paviliun?" Ucap Sri, sambil mencolek lengan Butet yang sedang mengunci pagar.


"Opo si Cempaka sudah pulang yo?" Tanya Sri lagi.


"Musik apa?" Tanya Butet yang baru saja selesai menggembok pagar.


"Iku loh, coba denger." Ucap Sri.


Lalu, Butet diam sejenak dan mendengarkan suara alunan musik itu.


"Ohhh.., itu lagu Padang, setau aku." Ucap Butet sambil melangkah menuju paviliun.


"Si Cempaka kan orang Sunda toh Tet, mosok nyetel lagu Padang?" Tanya Sri.


Mereka berdua saling bertatapan. Merasa ada yang tidak beres, mereka mempercepat langkah menuju paviliun.


Dengan cepat, bagaikan seseorang yang akan memergoki targetnya, Butet membuka pintu dan memasuki bangunan paviliun itu.


Suara musik itu berasal dari bekas kamar Cempaka. Butet pun, langsung membuka pintu kamar itu.


Brakkkkkkkkk!


"Onde mande tusdey wetnesdey!" Jerit seorang wanita yang berada di bekas kamar Cempaka.


"Takajuik den! Sia waang!" ( Red- Terkejut saya, siapa lu?) Tanya gadis itu.


Butet dan Sri saling berpandangan, lalu mereka kembali menatap gadis yang sedang memakai masker kecantikan di wajahnya.


"Eh, siapa kau? Kok di kamar kawan aku kau?" Tanya Butet.


Gadis itu mengernyitkan dahinya. Lalu, beranjak dari duduknya.


"Aden nan kau tanyo? Aden nan tingga di siko kini." (Red- saya yang kamu tanya? saya yang tinggal di sini sekarang)


"Mbok yo boso Indonesia wae toh. Ora ngerti aku." Ucap Sri.


"Cok kau bahasa Indonesia, ko kira semua orang ngerti bahasa planet mu itu?" Ucap Butet.


Gadis itu beranjak mendekati Butet dan Sri yang berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Kamu anak kost disini? kenalkan, Saya Siti Nurhasanah. Anak kost yang baru." Ucap gadis itu dengan logat Padang nya.


Butet dan Sri kembali saling bertatapan.


"Akhirnya, kamar si Cempaka di isi sama Nyak Tatik. Ah, gak seru yo Tet." Bisik Sri.


"Tah, lumayan di isi sama orang kek Cempaka. Ini di isi sama orang aneh pulak." Balas Butet.

__ADS_1


"Aku sedikit-sedikit sudah mulai mengerti bahasa Sunda Tet. Tapi, sekarang adaptasi bahasa lagi toh." Ucap Sri lagi.


"Iya sama lah." Sahut Butet.


"Ado apo? bagunjiang pulo waang baduo?" ( Red- Ada apa? ghibah pula kalian berdua?)


Butet malas meladeni gadis itu. Lalu, Butet beranjak ke kamarnya. Sedangkan Sri pun mengikuti Butet ke kamarnya.


"Gilo paja-paja tu." ( Red- gila orang-orang itu) Gumam gadis itu.


Lalu, ia menutup pintu kamarnya.


Sri menatap Butet yang duduk di tepi ranjangnya. Lalu, Sri menghampiri Butet yang terlihat bersedih.


"Tet, kamu knopo toh?" Tanya Sri.


"Sedih aja aku. Tah apa di masok kan orang baru sama Nyak Tatik." Ucap Butet.


"Yo gimana toh? Wong iki kost-kost-an nya Nyak Tatik. Kita cuma penyewa Tet. Jadi gak ada hak untuk protes toh." Ucap Sri.


"Iya, tau nya aku. Tapi, ah.....! Tah apa nya Cempaka ini. Pakek nikah pulak cepat-cepat." Ucap Butet.


"Tau kau? Aku pernah punya angan-angan, kita bersama teros bertiga kan. Kita kuliah sama-sama, suka duka di kost-kost-an ini sama-sama. Gak pindah-pindah kost kita. Teros, kita lulus sama-sama dan pindah dari kost ini sama-sama Sri." Sambung Butet yang memang belakangan ini sangat sensitif.


"Cempaka kan masih disini toh Tet. Kita masih bisa sering-sering bareng Cempaka." Ucap Sri.


"Yo wes toh, kita mengenali dulu teman kost baru kita iku Tet. Ojok ngunu lah Tet." Ucap Sri.


"Kau lagi! Sempat kau kawen cepat-cepat ninggalin aku, aku ngamok di pernikahan kau nantik!" Ucap Butet.


"Astaghfirullah Butet...." Sri menatap Butet tak percaya.


"Palak aku palak!" Ucap Butet lagi. ( Red- palak- kesal)


Maghrib mengumandang, terlihat gadis penghuni kost yang baru, keluar dari kamarnya. Butet dan Sri yang sedang duduk di ruang tamu, menatap gadis itu.


"Tet iku kan cewek sing turun dari angkot tadi pagi toh?" Ucap Sri.


Butet memperhatikan gadis penghuni kost baru itu.


"Iya nya?" Tanya Butet.


"Iya, aku ingat kok Tet." Bisik Sri.


Gadis itu menatap Butet dan Sri. Lalu, dengan cuek ia beranjak ke kamar mandi.


"Sombong banget yo Tet." Ucap Sri lagi.


"Minta ku remok kan ginjal nya memang." Ucap Butet.

__ADS_1


Tak lama kemudian, gadis itu kembali dan hendak menuju ke kamarnya. Gadis itu menghentikan langkah kakinya di depan Butet dan Sri.


"Indak sholat kalian? iko sadang Maghrib mah." Tanya gadis itu. ( Red- tidak sholat kalian? ini sedang Maghrib.)


Butet dan Sri kembali saling bertatapan.


"I-iya, ini mau sholat." Ucap Sri. Sri langsung beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


"Ha, kau indak sholat?" Tanya gadis itu kepada Butet.


"Nantik aku sholat di Gereja." Sahut Butet.


"Astaghfirullah, manga kau sholat di Gereja?" Tanya gadis itu dengan mimik wajah yang serius. (Red- manga- ngapain)


"Itu tandanya rumah ibadah ku disanan! kek mana lah kau ini!" Ucap Butet.


"Oooo.." Ucap gadis itu sambil beranjak ke dalam kamarnya.


Butet menatap Sri yang baru saja muncul di ruang tamu.


"Bisa kenak ceramah kau nantik sama Ibu ustadzah tiap hari Sri." Seloroh Butet.


Sri hanya bersungut-sungut, dan masuk kedalam kamarnya untuk menunaikan sholat Maghrib.


...


Sebuah taksi berhenti di depan pagar rumah Nyak Komariah. Terlihat Bambang dan Halomoan turun dari taksi itu. Bambang mengeluarkan barang bawaan mereka dari dalam bagasi. Sedangkan Halomoan celingukan melihat ke arah paviliun rumah Nyak Tatik.


"Owalahhh Moan.., bantu dulu ini loh." Ucap Bambang.


"Kau kan bisa sendiri. Aku mau nengok bidadari ku dulu." Ucap Halomoan.


Dengan kesal, Bambang mengeluarkan tas milik Halomoan dan menaruhnya di atas aspal.


Risa keluar dari dalam rumah nya sambil menatap taksi itu penuh harap. Ia keluar rumah karena mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah nya. Eisa berharap, taksi itu membawa Agus pulang. Setelah taksi itu pergi, Risa hanya melihat Halomoan dan Bambang saja yang berdiri di luar pagar rumahnya. Mendadak, wajah Risa berubah menjadi sedih.


"Ris." Sapa Halomoan.


Risa menahan tangisnya dan kembali masuk kedalam rumahnya.


Halomoan dan Bambang hanya bisa saling bertatapan. Mereka sangat bingung melihat Risa yang terlihat sangat kacau.


"Si Risa knopo yo Moan?" Tanya Bambang.


"Mana lah aku tau. Rindu mungkin dia sama si Agus." Ucap Halomoan.


Walaupun Halomoan curiga akan sesuatu, tetapi ia tetap berusaha berpikiran positif.


"Semoga si Risa cuman rindu sama si Agus. Semoga gadak terjadi apa-apa lah sama dia. Kasian juga aku sama anak lugu kek gitu." Batin Halomoan..

__ADS_1


__ADS_2