
Halomoan menatap langit-langit kamarnya. Meski lelah, ia tidak dapat memejamkan matanya. Bayangan Butet selalu bermain di kedua matanya.
"Ku carik kau Butet." Gumam nya sambil tersenyum.
Halomoan mengingat awal pertama kali ia berjumpa dengan Butet hingga terakhir kali di Bus tadi sore.
"Adoohh Butetttt.. kok makin kek gini perasaan aku sama mu ya. Semakin ada-ada aja kerja mu, semakin aku gila sama mu." Ucapnya.
Halomoan menatap pembalut yang Butet tempelkan di bibirnya saat di Bus. Pembalut itu Halomoan bawa pulang dan ditempelkan di atas bantalnya. Lalu, Halomoan bergumam tidak jelas dengan pembalut itu sambil tersenyum dan kadang tertawa sendiri.
Mamak Halomoan yang terbangun hendak ke kamar mandi pun mendengar Halomoan yang sedang berbicara tak jelas di dalam kamarnya. Mamak pun curiga.
"Eh, cakap sama siapa pulak si Moan?" Gumam Mamak sambil menempelkan telinganya di balik pintu kamar Halomoan.
"Tet, cinta kali aku sama kau, saking cinta nya, soptek mu pun yang kawanin aku tidor pun tak apa." Ucap Halomoan.
Mamak mengernyitkan dahinya.
"Ih, kenapa nya si Moan ini. Kok soptek yang dia sebot." Ucap Mamak. (Red-sebot-sebut)
Pelan-pelan Mamak pun membuka pintu kamar Halomoan. Terlihat Halomoan yang sedang menciumi pembalut di atas bantalnya.
"Amangoiiiiiiii...!" Pekik Mamak dengan histeris.
Halomoan terkejut dan langsung menutupi benda yang tak seharusnya berada di kamarnya itu.
"Amangggggg..!" Panggil Mamak.
Amang yang sedang tertidur setengah teler pun terbangun dan menghampiri Mamak yang berteriak-teriak di kamar Halomoan.
"Adong aha on!" ( Red- Ada apa ini) Ucap Amang.
"Tengok lah si Moan. Apa itu di balek bantal nya!" Ucap Mamak yang masih terlihat shock.
"Dang adong manang aha Mamak!" (Red- gak ada apa-apa Mamak!) Ucap Halomoan.
"Margabus!" (Red- Bohong!) Ucap Mamak sambil menghampiri Halomoan.
Halomoan tampak ketakutan dan tak mau beranjak dari ranjangnya.
"Awas kau!" Ucap Mamak.
Akhirnya selimut pun tersingkap, terlihat benda putih yang akrab bagi wanita.
"Tengok! ha... ko tengok ini apa!" Tanya Mamak.
"Sala antus Mamak." (Red- Mamak salah paham.) Ucap Halomoan.
"Aneh kali kau Moan. Ku kuliah kan kau jauh-jauh, tapi kelakuan mu semakin aneh!" Ucap Mamak sambil melibas Halomoan dengan kemoceng yang tergantung di dinding kamar Halomoan.
"Ampun Mak..! Ampunnnn Makkkkkkk...!" Teriak Halomoan di tengah malam.
__ADS_1
...
Dringggggg! Dringggggg!
Bunyi telepon di ruang tengah rumah Cempaka berbunyi berkali-kali. Ambu yang sedang tertidur, terbangun karena suara dering telepon itu.
Ambu beranjak dari ranjangnya dan merapikan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan.
"Mau kemana Ambu?" Tanya Abah yang ikut terbangun karena istrinya yang beranjak dari ranjang.
"Itu Abah, ada telepon. Berdering berkali-kali. Mungkin teh ada sesuatu yang penting." Ucap Ambu. Lalu, wanita paruh baya itu pun beranjak keluar kamarnya.
Telepon itu masih berdering saat Ambu tiba di ruang tengah. Dengan cepat, Ambu mengangkat telepon itu.
"Halo, selamat malam." Sapa Ambu.
"Halo Ibu, ini orangtuanya Cempaka?" Tanya suara dari seberang sana.
"Iya betul, saya teh Ambu nya." Ucap Ambu.
"Saya dari Rt Kost-kost-an nya Cempaka. Dimohon Ibu segera ke sini untuk ikut dalam musyawarah." Ucap Pak Rt.
"Aya naon Pak?" (Red-Ada apa Pak) Tanya Ambu yang tampak sangat khawatir.
"Begini Ibu. Cempaka di grebek massa sedang akan melakukan tindak tak senonoh dengan putra pemilik Kost-kost-an nya." Ucap Pak Rt.
"Astaghfirullah! Nenggggggggg..!" Teriak Ambu dengan histeris.
"Aya naon teh Ambu?" Tanya Abah dan Dewa.
"Cempaka!" Ucap Ambu tanpa mampu melanjutkan kata-katanya sambil menangis tersedu-sedu.
Ambu di tenangkan oleh Dewa dan Abah. Setelah tenang, Ambu pun bercerita apa yang baru saja ia dengar dari Pak Rt tempat Cempaka tinggal di Jakarta.
"Astaghfirullah..!" Ucap Abah sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.
Dewa hanya terdiam dan menyesali tingkah adik satu-satunya itu.
"Cempaka teh gak bener di Jakarta Dewa. Masa kamu teh gak ngerti?" Tanya Abah.
Dewa tetap terdiam membisu. Selama ini, kost-kost-an Cempaka memang sangat ketat dan Dewa sangat percaya dengan keamanan nya. Tetapi, dewa tidak menyangka, ternyata anak pemilik kost lah yang menjadi masalah dari ini semua.
"Selama ini teh aman-aman saja. Biar besok kita kesana, biar tahu duduk masalahnya Abah, Ambu." Ucap Dewa yang masih berusaha untuk tenang.
"Sekarang kita tenang dulu ya." Ucap Dewa.
"Ambu teh gak bisa tenang Dewa. Lebih baik, kita teh berangkat saja malam ini." Ucap Ambu. Abah pun setuju dengan Ambu. Abah terlihat juga tidak tenang dengan berita itu.
Dewa mengangguk dan mereka pun bersiap-siap untuk berangkat ke Jakarta.
..
__ADS_1
Cempaka masih menangis dan menundukkan wajahnya. Pak Rt dan beberapa warga masih di rumah Nyak Tatik.
Rozi yang merasa bersalah hanya bisa menenangkan Nyak Tatik dan Cempaka.
"Pak, saya yang bersalah. Cempaka tidak bersalah. Saya yang tidak bisa menahan diri." Ucap Rozi.
"Jadi lu ngaku ya?" Tanya Pak Rt.
"Iya, saya mengaku, saya sudah mencium Cempaka di depan paviliun. Tetapi, saya tidak ada niat lebih dari itu." Ucap Rozi.
"Nah, jadi bener kan...! Kita kaga salah liat!" Ucap Warga.
Nyak Tatik hanya mengurut dadanya saat mendengar pengakuan Rozi.
"Nyak sudah bilang Ji, kalo lu mau kawin ye kawin. Tapi, kagak begini Ji." Ucap Nyak Tatik.
"Tik, pilihan hanya dua. Lu kawinin anak lu, ato ini kost-kost-an kaga boleh lagi di isi." Ucap Pak Rt.
Nyak Tatik terkejut dan menatap Pak Rt.
"Kejem amat sih Pak." Ucap Nyak Tatik.
"Lah, ini demi kebaikan lu dan nama baik keluarga elu Tik." Ucap Pak Rt yang merupakan sahabat karib Babe Rojali semasa hidup.
"Kalo gue mau ambil tengah nih, besok pan keluarga nih cewek dateng. Nah mending di nikahin dah." Ucap Pak Rt.
Cempaka dan Rozi terperanjat dan saling bertatapan tak percaya.
"Nikah?" Tanya Cempaka.
Rozi terdiam, sedang Nyak Tatik tampak sedang berpikir.
"Eh iya, gue demen sama ini anak (Cempaka), kenapa kagak gue jebak jadi mantu aje ye. Biar si Rozi cepetan nikah. Si Rozi demen ini ama si Cempaka. Kalo mereka nikah pan selese masalah nye. Gue juga bakal cepet punya cucu nih ceritenye." Batin nyak Tatik.
Air muka Nyak Tatik berubah, ia terlihat bersemangat.
"Iyak, mending di kawinin dah!" Seru Nyak Tatik.
"Nyak!" Ucap Rozi.
"Elu sih Ji..! makanya jangan aneh-aneh. pokok nye lu kudu nikahin si Cempaka!" Ucap Nyak Tatik dengan bersemangat.
Cempaka mengernyitkan dahinya dan menatap Nyak Tatik dengan bingung.
"Cem, besok lu jadi mantu Nyak." Ucap Nyak Tatik.
Cempaka pun terdiam dan merasa pusing. Lalu, ia terkulai lemah di atas sofa.
"Cempakaaaa...!" Panggil Rozi.
Namun gadis itu sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1