Kost Putri

Kost Putri
38# Kenalan dengan Mamak


__ADS_3

Kini, setiap hari Halomoan ke pasar untuk membantu Butet berjualan ikan hasil tangkapan Amang nya. Halomoan tidak segan-segan memanggil para pelanggan. Tentu saja kedekatan Butet dan Halomoan menjadi berita besar di kampungnya.


Butet si anak jenius, dan Halomoan lelaki tertampan di kampung nya kini sering berdua-duaan di pasar. Tampak Mamak nya Halomoan pun sengaja berbelanja ikan di lapak Butet, karena Mamak ingin mencari tahu tentang gadis yang di sukai Halomoan, anaknya, yang sudah sampai di telinganya.


Mamak tampak sedang memilih-milih ikan yang akan ia beli. Sedangkan Halomoan tampak salah tingkah saat Mamak datang ke lapak Butet.


"Kau yang namanya Butet? Biru Aritonang?" Tanya Mamak.


Butet menatap Mamak dan tersenyum. Lalu, gadis itu mengangguk.


"Iya Inang." Ucap Butet dengan sopan. Butet belum tahu bila itu adalah Mamak nya Halomoan.


"Oh, cantek kau ya Boru." Ucap Mamak.


"Mauliate Inang." (Red- mauliate- Terima kasih).


"Pantas lah anak ku sekarang rajin kali ke pajak." Ucap Mamak sambil melirik Halomoan yang pura-pura sedang sibuk dengan gawainya.


Butet mengeryitkan dahinya dan menatap Halomoan.


"Ini anak Inang?"


"Iya lah, yang mana lagi anak ku. Ganteng kan anak ku?" Tanya Mamak.


Butet tersenyum dan mengangguk pelan.


"Dia sukak sama kau, jan kau kecewakan anak ku ya Boru." Ucap Mamak.


Butet tersenyum ragu. Lalu, menundukkan kepalanya.


"Ya udah lah, Mamak ambil yang ini aja. Berapa sekilo?" Tanya Mamak.


"Buat Inang 20.000 aja Inang." Ucap Butet.


"Gak rugi kau Boru ku? Nanti marah pulak Mamak mu. Nah, ambek lah ini buat mu." Mamak mengeluarkan uang pecahan 30.000 rupiah. Lalu, menaruhnya di tumpukan ikan-ikan segar dagangan Butet.


"20.000 aja Inang." Ucap Butet.


"Ambek lah ambek." Ucap Mamak sambil berlalu dari hadapan Butet.


"Eh Moan. Mamak sukak sama Boru Aritonang ini. Kapan kau mau Marhori-hori dinding? Mamak siapkan." Ucap Mamak. (Red- Marhori-hori dinding- meminta secara resmi kepada orang tua gadis dalam adat Batak)


"Apa nya Mamak ni, masih kuliah aku." Ucap Halomoan dengan malu-malu.


Terlihat Butet pun tertunduk malu saat mendengar ucapan Mamak yang begitu berterus terang.


Mamak hanya tertawa dan pergi begitu saja.


"Maaf ya Tet, Mamak ku memang kek gitu orang nya." Ucap Halomoan.


"Gak papa Bang." Ucap Butet.


"Apa? Cok kau sebotkan lagi." Ucap Halomoan.


"Gak papa." Ucap Butet.


"Bukan, lanjutan nya itu apa?" Tanya Halomoan.


"Gak papa Bang." Ucap Butet dengan ragu.


"Ish, berbunga-bunga hati aku lah."


"Kenapa rupanya?" Tanya Butet.


"Ko panggel aku Abang. Senang kali hati ku." Ucap Halomoan.

__ADS_1


Butet tersadar, selama ini ia memanggil Halomoan hanya dengan sebutan "Kau" dan "Moan". Tetapi, entah mengapa saat ini ia keceplosan memanggil Halomoan dengan sebutan Abang.


"Makjanggggg, lampu ijo ini." Ucap Halomoan sambil tersenyum bahagia.


Butet mengernyitkan dahinya dan memercikan air cucian ikan ke wajah Halomoan.


"Gosah geer kau! gak sengaja nya aku manggel kau dengan sebutan Abang!" Ucap Butet.


"Alah, sukak kali kau kek gitu Butet. Udah mulai cinta bilang aja." Seloroh Halomoan.


Butet hanya bersungut-sungut sambil menatap Halomoan dengan kesal.


"Eh Tet, besok aku gak bisa kawanin kau di pajak ya." Ucap Halomoan.


"Iyah! kenapa rupanya?" Tanya Butet.


"Balek aku besok ke Jakarta. Ada urusan kampus. Kau baek-baek disini ya. Jumpa kita di Jakarta ya Tet." Ucap Halomoan.


Butet tertunduk lesu. Tanpa ia sadari ia merasa sedih karena Halomoan akan kembali ke Jakarta.


"Kau juga hati-hati ya. Jangan kau ngences di baju cewek laen." Ucap Butet.


"Ih kenapa? Gak rela kau aku ngences di baju orang laen. Mau mu cuma di baju mu ya Tet." Goda Halomoan.


"Apa nya ini!" Ucap Butet sambil menahan senyumnya.


"Kalok mau senyum, senyum aja lah, jan malu-malu Tet." Goda Halomoan lagi.


Butet pun tersenyum sambil melempar Halomoan dengan serbet untuk mengelap tangan yang terletak di meja dagangan nya.


"Banyak cakap mu." Ucap Butet sambil tersipu malu.


...


"Eh, mantu Nyak." Ucap Nyak sambil memandangi Cempaka.


Nyak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Cempaka.


"Kagak usah. Mending lu bangunin lakik lu, lu layani dah sono." Ucap Nyak Tatik sambil tersenyum bahagia. Di pikiran Nyak Tatik, Cempaka pagi-pagi sekali mandi karena semalam Rozi dan Cempaka sudah bertempur beberapa ronde. Tanpa ia ketahui bahwa Cempaka tidur di kamar kost-kost-an nya.


"Oh iya Nyak." Ucap Cempaka. Lalu, gadis itu beranjak ke kamar Rozi.


Cempaka masuk ke kamar Rozi dan menyingkap gordin kamar itu. Rozi yang sedang tertidur nyenyak pun, terbangun karena silaunya sinar matahari yang menerpa wajahnya.


"Cempaka." Ucap Rozi.


Cempaka tersenyum dan melipat karpet yang terbentang di lantai kamar itu. Rozi yang sedang terbaring di ranjang, langsung beranjak membantu istrinya.


"Tidak usah A', biar saya saja. A'a mandi ya." Ucap Cempaka.


Rozi menatap istrinya yang tampak sangat cantik pada pagi ini.


"I-iya." Ucap Rozi sambil beranjak keluar kamarnya.


Nyak Tatik menoleh kepada Rozi yang berjalan ke kamar mandi.


"Gimane semalam?" Tanya Nyak Tatik.


Rozi hanya menghela napasnya dan beranjak masuk ke kamar mandi.


"Semalam, sabun menjadi saksi Nyak!" Batin Rozi sambil melihat sabun mandi yang tergeletak di tempat sabun.


"Pegel pegel dah tangan gue." Ucap Rozi sambil mengguyur tubuhnya dengan air.


Setelah mandi, seperti biasa Rozi melihat pakaian nya sudah di sediakan oleh Cempaka. Rozi tersenyum senang dan langsung memakai pakaian pilihan istrinya itu.

__ADS_1


Setelah itu, Rozi beranjak ke ruang makan untuk sarapan bersama dengan Nyak Tatik, Adik-Adik nya dan Cempaka.


Terlihat Batra sedang berbicara dengan Cempaka tentang Butet. Cempaka tampak semakin akrab dengan keluarga Rozi.


Rozi pun duduk di samping Cempaka. Lalu, tanpa diminta, Cempaka pun langsung mengambilkan sarapan Rozi. Rozi terpana menatap istrinya yang sangat luar biasa melayani dirinya.


"Lu berdua kaga bulan madu ape?" Tanya Nyak Tatik.


Rozi yang baru saja menyendokkan nasi gorengnya pun tersedak dan terbatuk-batuk. Dengan sigap Cempaka langsung menuangkan air minum untuk Rozi.


"Maksudnya Nyak?" Tanya Rozi.


"Masa lu kaga ngarti Ji, orang habis nikah mah bulan madu. Bukan malah sibuk kerja ama kuliah." Ucap Nyak Tatik.


Cempaka hanya diam sambil menundukkan wajahnya.


"Nanti Nyak, kalau sudah dapat surat nikah. Kalau bulan madu sekarang, ngeri di grebek lagi. Bikin trauma." Ucap Rozi dengan datar.


"Eh Cem, babe lu kapan mau kirim surat nya?" Tanya Nyak Tatik.


"Ng... ng... Saya teh gak tahu Nyak." Ucap Cempaka dengan polos.


"Buruan di resmiin. Nanti keburu hamil di kira anak di luar nikah lagi." Ucap Nyak Tatik.


Cempaka menatap Rozi. Mereka berdua tampak salah tingkah dengan ucapan Nyak Tatik.


Setelah sarapan, Cempaka dan Rozi pun masuk ke kamar mereka.


Cempaka duduk di atas ranjang sambil berdiam diri tanpa kata. Sedangkan Rozi duduk samping istrinya itu.


"Kamu siap kita menikah resmi?" Tanya Rozi.


Cempaka menatap Rozi dan kembali menundukkan wajahnya.


"Kalau belum siap tidak apa-apa." Ucap Rozi.


"Tapi, Abah teh sedang mengurus surat numpang menikah." Ucap Cempaka dengan cepat.


Rozi mengangkat kedua alisnya dan menatap Cempaka dengan seksama.


"Berarti kita menikah resmi?" Tanya Rozi lagi.


Dengan ragu, Cempaka menganggukkan kepalanya.


Rozi tersenyum lega.


"Kamu beneran mau jadi istri saya?" Tanya Rozi lagi.


Cempaka kembali menatap Rozi dengan lekat. Lalu, ia tersenyum malu.


"Tetapi teh, kalau bisa...."


"Sssttttt..."


Rozi menempelkan jari telunjuknya di bibir Cempaka.


"Iya, aku bisa menahan nafsu hingga kamu siap." Ucap Rozi yang sudah hafal dengan permohonan istrinya yang sering kali di ulang-ulang untuk disampaikan kepada dirinya.


Cempaka tersenyum malu. Lalu, ia mencium pipi Rozi.


"Terima kasih A'." Ucap Cempaka. Lalu gadis itu beranjak keluar dari kamar Rozi.


Rozi terdiam, jantungnya berdebar-debar saat mendapatkan ciuman dari cempaka di pipinya.


"Ya Allah, di cium bidadari begini banget rasanya." Batin Rozi sambil tersenyum dan berguling-guling di atas ranjangnya.

__ADS_1


__ADS_2