
"Permisi, bisa bantu saya?" Ucap seorang lelaki yang berbahasa Indonesia dengan terbata-bata.
"I-iya." Sahut Risa.
"Saya mau tambah sugar." Ucap lelaki itu.
"Ah, iya. Sebentar." Ucap Risa.
Risa berjalan menuju dapur cafe dan mengambil gula tambahan untuk lelaki itu. Lalu, ia kembali dan memberikannya kepada lelaki itu.
"Ini gulanya." Ucap Risa.
"Thank you so much." Ucap lelaki tampan bermata biru itu.
"Sama-sama." Sahut Risa.
"Tunggu."
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Risa.
"Siapa namamu?" Tanya lelaki itu.
"Risa."
"Ri.......?
"Risa, nama saya Risa."
"Nama yang bagus." Ucap lelaki keturunan Eropa itu.
"Terima kasih." Ucap Risa yang terlihat salah tingkah.
"Nama saya Matt." Ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.
Dengan ragu, Risa menyambut tangan lelaki itu.
Lelaki itu tersenyum dan menatap risa dengan seksama.
Risa tampak semakin grogi dan menundukkan pandangannya.
"It’s nice meeting you. Can I have your phone number?”
Risa menatap Matt dan tersenyum tipis.
"Saya kerja dulu." Ucap Risa.
Lelaki itu hanya menatap Risa dengan tatapan kecewa.
Sudah beberapa hari, Matt, lelaki berusia tiga puluh tahun itu menjadi pelanggan tetap cafe Halomoan. Sudah beberapa hari juga ia memperhatikan Risa. Tetapi, ia tidak mempunyai keberanian untuk berbicara dengan Risa.
Baru kali ini ia berani memanggil dan berbicara dengan Risa dengan alasan meminta gula. Sayangnya, saat ia memberanikan diri meminta nomor ponsel Risa, Risa mengabaikan dirinya yang membuat Matt sedikit kecewa.
"Manga paja tu?" Tanya Siti kepada Risa yang berdiri di samping etalase donat.
"Minta gula." Sahut Risa.
"Sudah beberapa hari, nampak jo den inyo kasiko." Ucap Siti.
Risa yang sudah paham bahasa Minang, karena sehari-hari bergaul dengan Siti di cafe pun, tersenyum menanggapi ucapan kakak iparnya itu.
"Nampak nyo inyo suko jo ang Ris." Ucap Siti lagi.
__ADS_1
"Ngawur aje." Ucap Risa sambil tersipu malu.
"Indak apo-apo Ris. Ma tau jodoh ang." Ucap Siti.
"Apaan sih lu." Ucap Risa.
Siti tersenyum melihat Adik iparnya yang tersipu malu.
Lelaki itu beranjak dari duduk setelah menghabiskan kopi nya. Lalu, ia berjalan menuju kasir.
Siti yang menggantikan Butet menjadi kasir pun, menyambut lelaki itu.
"Ya, can i help you?" Tanya Siti.
"Saya bisa berbahasa Indonesia." Ucap lelaki itu dengan bangga.
"Oh, ok." Sahut Siti sambil menahan tawanya.
Siti sudah berusaha berbahasa Inggris. Tetapi, ternyata lawan bicaranya lancar berbahasa Indonesia.
"Saya boleh minta nomor ponsel teman kamu?" Tanya Matt.
"Oh, boleh." Ucap Siti sambil tersenyum.
Lalu, ia mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor ponsel Risa.
"Ini." Ucap Siti sambil memberikan ponselnya kepada Matt.
Matt menatap deretan angka di layar ponsel milik Siti. Lalu, ia menyalin nomor ponsel Risa ke ponselnya.
"Thank you." Ucap Matt, setelah ia menyalin nomor ponsel Risa.
"You're welcome." Sahut Siti.
..
"Tet...! Tunggu dulu, biar ku jelaskan dulu." Ucap Halomoan sambil menarik tangan Butet.
Butet melepaskan tangan Halomoan dan menatap lelaki itu dengan tajam.
"Apa!" Bentak Butet.
"Jangan lah kek gitu hasian ku." Ucap Halomoan.
"Cepat kau bicara, sebelum melayang ini selop ke mukak mu..!" (Red-Selop- sendal)
"Jangan lah kek gitu hasian ku. Aku minta maaf ya." Ucap Halomoan.
"Kau ya Moan. Senang nya kau di ciom cewek cantik iya?" Tanya Butet.
"Siapa yang cantik? Dia cantik? masih cantik boru Aritonang lah." Ucap Halomoan.
"Gombal mu itu Moan..!"
"Serius nya aku hasian ku. Kan bukan aku yang ciom dia Tet, tapi dia nya yang ciom aku. Masak kau marahnya sama aku." Ucap Halomoan bersungut-sungut.
"Heh Moan..! Kalau aku di ciom si Batra kek mana? sukak nya kau?" Tanya Butet.
"Kalau kau di ciom si Batra. Di jambak si Siti lah kau Tet." Ucap Halomoan.
"Jadi, haros nya kau jambak lah si Risma, jangan marahnya sama aku Tet." Sambung Halomoan.
__ADS_1
Butet mengerutkan keningnya dan menatap Halomoan dengan tajam.
"Gitu kau ya Moan. Gak mau kau ngaku salah." Ucap Butet.
Air mata mulai menetes di pipinya.
"Aku mati-matian bantu kau bangun usaha, udah agak naek idop mu, kau berani salah-salah kan aku..! Batu tau aku sifat mu itu Moan..!" Ucap Butet dengan geram.
"Tet, bukan kek gitu. Aku gak nyalah-nyalahin kau Tet. Adooohhh... salah lagi aku." Ucap Halomoan.
"Mau kau gak salah? Pakek rok kau..!" Ucap Butet sambil berlalu dari hadapan Halomoan.
Halomoan terdiam dan memandangi Butet yang menjauh darinya.
"Tet, kek mana lagi aku mau bilang sama mu. Kalau hanya kau yang ada di hati ku." Ucap Halomoan.
Butet menghentikan langkahnya dan terdiam.
"Terserah kau aja lah Tet, kalau kata-kata gak cukop buat mu. Gak papa Tet.. Yang penting aku tetap buktikan sama mu. Kalau uang ku tekumpol, aku akan melamar mu Tet." Ucap Halomoan.
Lalu, Halomoan membalikkan badannya dan pergi ke arah yang berbeda.
Butet terdiam dan menghapus air matanya yang terus mengalir di pipinya.
"Aku benci sama orang yang gak tegas Moan. Inang ku sempat makan hati nengok Amang ku dulu. Amang ku di dekati pelakor, tapi Amang ku gak bisa apa-apa. Dia gak tegas, dia gak bisa menolak cewek itu. Sampek akhirnya dia pun, tergoda. Inang sampek jatoh sakit berbulan-bulan. Aku gak mau kau gak tegas Moan." Gumam Butet di dalam hati.
Lalu, Butet pun kembali melangkahkan kakinya.
Dua insan itu pun, berjalan saling menjauh.
..
Risa baru saja menidurkan Arkha. Lalu, ia beranjak dari ranjangnya dan berjalan ke luar dari kamarnya.
Risa duduk di teras rumahnya untuk mencari udara segar pada malam ini. Risa memandangi bintang-bintang di angkasa yang bersinar terang.
Tiba-tiba saja ia melihat Agus dengan sepeda motornya berhenti di depan rumahnya. Agus tersenyum kepadanya. Lalu, membuka pagar. Seakan-akan, Agus masih seperti dulu, saat agus tinggal di kost-kost-an milik Enyak nya.
"Bang.." Panggil Risa.
"Ya Ris."
"Abang pulang." Ucap Risa.
"Iya, kenapa Ris?"
Risa mulai menangis, bibirnya bergetar, dengkulnya terasa lemas.
"Bang..."
"Bang....Kamu sudah pulang..!" Panggil Rita.
"Iya sayang, Abang sudah pulang." Ucap Bambang.
Sontak saja Risa menggelengkan kepalanya dan menatap lelaki itu dengan seksama. Risa pun tersadar, bila yang pulang bukanlah Agus, melainkan Bambang, kekasih Rita.
Rita berlari menghampiri Bambang. Rita tersenyum manja kepada kekasihnya itu.
"Ma-ma-maaf." Ucap Risa sambil mengusap air matanya.
Malam ini Risa benar-benar sedang merindukan Agus. Hingga di penglihatan nya Bambang seperti Agus.
__ADS_1
Rita dan Bambang pun, menjadi bingung saat melihat Risa menangis.